Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 22. Persiapan menuju panggilan



Tapi kalau aku lihat lebih teliti tentang wajahnya memang terlihat bahwa dia seorang perempuan, bagaimana bisa aku kira dia adalah laki-laki.


Argh, memalukan sekali, aku tidak bisa membedakan seseorang.


"Tuan muda, anda mendapat panggilan," kata satu pelayan pada Nobu.


"Dari siapa?" tanya Nobu.


"Dari perdana Menteri," jawabnya.


"Pas sekali waktunya," kata Nobu.


Nobu kemudian mengambil telepon tersebut dari pelayan dan pergi menjauh dari kami untuk menjawab telepon itu.


"Sepertinya kita akan dipanggil lagi hari ini," kata Ibnu.


"Ya itu sudah pasti, tapi kali ini ada masalah apa ya," kata Yui.


Aku masih penasaran siapa Nobu ini sebenarnya sampai semua anak buahnya berkata bahwa tidak ada yang setara dengannya untuk menjadi wakilnya. Apa mungkin dia juga psycho? tapi dia berada di pihak Assasin dan tidak membunuh, mungkin saja.


Tiba-tiba dari jauh Nobu mengangkat tanganya dan membunyikan jarinya kemudian keempat orang tersebut langsung berdiri.


Wow, hebat, pasti mereka sangat terlatih.


"Hey, kau! jangan sombong hanya karena ketua tertarik sedikit padamu," kata Masaki sambil menunjuk ke dadaku.


Karena aku merasa dia berbuat seenaknya pada atasannya seperti aku, jadi aku menendang perutnya sampai terjatuh.


"Sudah kubilang jaga sikapmu terhadapku," kataku dengan tatapan tajam.


Wah, tatapan tajamnya sangat mempesona, sepertinya dia sedikit membuatku tertarik juga, gumam Yui.


"Kau! aku tidak peduli kau siapa, tapi aku akan menghajar wajahmu," kata masaki kemudian berdiri dan mendekatiku.


"Hey, hentikan tindakan bodohmu itu, tidak ada gunanya kau melakukan itu," kata Ibnu sambil menghalangi Masaki agar tidak mendekatiku dengan tangannya.


"Hah? kau mencari masalah denganku Ibnu? hah!?" kata Masaki dengan marah.


"Maafkan sifatnya, dia memang selalu seperti ini jadi tolong maafkan dia wakil ketua," kata Ibnu sambil menundukkan kepala.


"Eeee, kau tidak perlu sampai menundukkan kepala seperti itu," kataku.


"Baiklah wakil ketua," kata Ibnu.


Aneh sekali sifatnya seperti robot saja.


"Dan juga tolong jangan memangilku dengan sebutan itu, agak aneh mendengarnya jadi panggil saja aku Kira," kataku.


"Baiklah tuan Kira," kata Ibnu.


"Eeee, terserah lah," kataku.


"Cih, aku bahkan tidak sudi menyebutkan namamu dengan mulutku," kata Masaki.


"Siapa yang memintamu menyebut atau memanggil namaku?" tanyaku pada Masaki.


"Ok, baiklah tuan Kira," kata Yui.


Hadeh, dia juga jadi ikut-ikutan.


Tanpa disadari kami berlima dipantau oleh Nobu dari jauh saat dia masih menerima telepon.


Aku yakin dia adalah orang yang tepat dan juga sepertinya mereka mulai akrab hahahahah, mereka juga sangat cocok, gumam Nobu.


Saat itu Nobu mengira bahwa kami bersenda gurau tetapi sebenarnya kami sedang ada konflik kecil antara aku dan Masaki.


"Ok, kami akan segera ke sana," kata Nobu dan kemudian menutup teleponnya.


Nobu kemudian datang menghampiri kami sehabis dia selesai menerima teleponnya.


"Hari ini semuanya akan di panggil sebaiknya kita kalian bersiap," kata Nobu.


"Baiklah," kata mereka berempat dengan serentak.


"Di panggil kemana?" tanyaku.


"Kita akan ke Tokyo," jawab Nobu.


"Ngapain?" tanyaku dengan bingung.


"Kau akan melihatnya sendiri," Nobu padaku.


"Aku tidak menyangka akan dipanggil lagi setalah lama tidak dipanggil," kata Asada.


Wow, akhirnya dia bicara juga selain perkenalan tadi.


"Sepertinya kita akan berada di sana selama kurang lebih 1 minggu, jadi persiapkan diri kalian," kata Nobu.


"Wah, kalau begitu aku akan pulang untuk menyiapkannya," kata Masaki.


"Aku juga, sampai jumpa tuan Kira," kata Yui.


"Apa kau juga Asada?" tanya Nobu.


"Ya," jawabnya.


"Bagaimana denganmu?" tanya Nobu pada Ibnu.


"Aku tidak perlu, saya punya keluarga yang tinggal di sana dan juga saya pernah tinggal di sana, jadi beberapa perlengkapan saya ada di sana termasuk pakaian," kata Ibnu.


"Oh iya, aku lupa, hahahahah," kata Nobu dengan tawa kecilnya.


"Kamu gimana Kira?" tanya Nobu.


"Ha? aku?" tanyaku.


"Yap, kamu," jawab Nobu.


"Aku ikut?" tanyaku.


"Tentu saja, kau kan wakil pemimpin sekarang," jawab Nobu.


"Oh begitu, kalau begitu apa boleh aku pulang ke rumahku untuk mengambil beberapa barang sebelum aku meninggalkan tempat itu sepenuhnya?" tanyaku.


"Tentu saja, selama tidak ketahuan orang yang kau kenal," kata Nobu.


Nobu terlalu percaya padaku bahkan sampai membiarkan aku pulang ke rumahku, apa dia tidak takut aku kabur? tu-tunggu, ini sedikit aneh, tidak mungkin dia membiarkan seseorang yang sudah mengetahui psychokinesis sejauh itu dibiarkan saja, pasti ada alat pelacak di tubuhku tapi dimana agar aku bisa ditemukan kalau aku kabur?


Aku kemudian masuk ke kamarku dan mengambil sebuah kertas menulis di kertas tersebut.


Selang beberapa waktu, aku keluar dari kamar dan pergi berjalan keluar dari rumah Nobu.


Tidak ada gunanya aku kabur, ini semua demi Rei agar dia tidak terlibat.


"Ngomong-ngomong ini dimana? aku tidak tau arah rumahku, handphone milikku juga ada di rumahku jadi aku tidak tau kemana arah rumahku," kataku saat baru keluar dari rumah Nobu.


"Sialan, bagaimana aku PERGI!!" kataku dengan teriak.


"Permisi tuan Kira."


"Oh Ibnu, ada apa?" tanyaku.


"Sepertinya tuan kesulitan, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Ibnu.


"Eeeee, tidak ada," kataku.


"Tidak usah berbohong tuan, aku tau kalau anda kesulitan," kata Ibnu.


"Baiklah kalau kau memaksa," kataku.


"Tidak aku sangka wakil pemimpin Assasin mempunyai sifat tsundere," kata Ibnu.


"Ha?!"


"Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Ibnu.


"Ak-"


"Baiklah, akan saya antarkan," kata Ibnu.


"Ha!?"


"Saya sudah tau kalau tuan ingin diantar pulang," kata Ibnu.


Baguslah kalau kau tau.


Ibnu kemudian mengambil mobil yang ada di garasi dengan persetujuan dari Nobu untuk mengantarku.


"Silahkan masuk tuan," kata Ibnu.


"Apa kau bisa mengendarai mobil?" tanyaku.


"Tentu saja," jawab Ibnu.


"Aku ragu tentang itu."


Setelah meratapi langit aku perlahan memegang pintu mobil dan membukanya dan duduk di kursi belakang.


"Bisa beritahu saya dimana rumah anda tuan?" tanya Ibnu.


"Di .........., apa kau tau tempat itu?" tanyaku.


"Tentu saja, sekarang percayakan nyawa anda pada saya," kata Ibnu.


"Ha!? hey, tolong hati-hati," kataku.


"Tentu saja tuan," kata Ibnu.


Aku tidak ketinggalan suratku kan, oh ada untung nggak kelupaan.


Dalam perjalanan karena aku merasa sedikit canggung dengan dirinya aku memberanikan diri berbicara padanya.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyaku.


"Apa itu tuan?" tanya Ibnu.


"Apa kau berasal dari indonesia?" tanyaku.


"Wah, anda hebat bisa tau," kata Ibnu.


"Aku tau dari namamu, karena aku pernah membaca nama itu di internet dan berasal dari indonesia," kataku.


"Hahahahah, jadi kau tau berita itu ya," kata Ibnu.


"Tunggu! yang ada di internet itu kau?" tanyaku.


"Ya itu aku, aku ini terkenal loh di indonesia," kata Ibnu.


"Seingatku di internet itu tertulis berita tentang seseorang yang bernama Ibnu Rahman mati dengan sangat mengenaskan," kataku.


"Hahahahaha, itu semua bohongan, nyonya Nobu membantuku melakukan pemalsuan kematianku agar bisa pergi ke jepang dan membantu dalam kasus KN ini," kata Ibnu.


"Kenapa kau memalsukan kematian? bukannya bisa pergi ke luar negeri dengan aman," kataku.


"Sepertinya kau tidak membaca sepenuhnya tentang berita itu di internet," kata Ibnu.


...****************...


"Kita sudah sampai, sepertinya kita harus berjalan kaki sampai depan rumahmu karena mobil tidak bisa masuk," kata Ibnu.


"Wuaaahhh,"


"Bagaimana tuan?" tanya Ibnu.


"Oh maaf, kau melihatku menguap," kataku.


"Tidak perlu dipikirkan tuan," kata Ibnu


Orang ini berbahaya, dari berita tentang masa lalunya saja aku langsung tau kalau orang ini berbahaya karena tidak mungkin harus sampai memalsukan kematian hanya untuk pergi ke luar negari. Aku tadi sengaja menguap saat dia menatapku untuk mengetahui betapa berbahayanya dirinya. Rata-rata orang akan ikut menguap ketika melihat orang menguap tapi dia tidak, dari yang aku tau kalau itu bisa sedikit membuktikan kalau orang itu adalah psikopat. Jadi ada kemungkinan dia berbuat kriminal sampai harus memalsukan kematiannya hanya untuk pergi ke luar negeri.


Saat aku sudah ingin keluar dan membuka pintu mobil aku melihat ada kak Hato dan Aki yang sedang jalan berdua, entah itu mencariku atau tidak.


"Ada apa tuan? tidak jadi turun?" tanya Ibnu.


"Tidak sekarang karena masih ada dua orang tersebut, mereka kenalanku bisa bahaya kalau melihatku," kataku.


"Sepertinya mereka akan diam di sini terus tuan," kata Ibnu.


"Ya, kemungkinan seperti itu," kataku.


"Apa perlu aku bunuh mereka untuk mempercepat kita?" tanya Ibnu dengan senyumnya.


Orang ini memang berbahaya.