Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 27. Balas dendam?



"Hey Ibnu! kapan kita sampai ke rumah Nobu? aku sudah mabuk banget naik mobil," kataku.


"Lah, saya tidak tau kalau tuan tidak tahan naik mobil dan bisa mabuk," kata Ibnu.


"Tentu saja, karena aku juga manusia," kataku.


"Masih lama, mau mampir dulu?" tanya Ibnu.


"Kemana?" tanyaku.


"Kemanapun yang tuan mau," jawab Ibnu.


"Kalau begitu aku mau ke rumah Nobu," kataku.


"Hahahaha, kalau begitu aku akan sedikit mempercepat kita," kata Ibnu.


"Kenapa perjalanan pergi lebih cepat daripada pulang? ini terbalik kalau menurut ilmu pengetahuan," kataku.


"Tunggu! kenapa kita tidak teleport saja?" tanyaku pada Ibnu.


"Saya juga mau begitu tapi dalam kemacetan seperti ini tidak mungkin kita teleport tiba-tiba, pasti akan membuat kekacauan," jawab Ibnu.


"Macet?" –Aku kemudian melihat keluar jendela– "Astaga, aku tidak tau kalau macet, bagaimana bisa aku tidak melihat," kataku.


"Ibnu!" panggilku.


"Ya tuan?"


"Apa kau ada kantong plastik? aku mau muntah," kataku sambil menahan muntah.


"Oh ya ya, ini," kata Ibnu sambil memberikan kantong plastik padaku.


"Maaf tuan, saya tidak tau bahwa tuan tidak tahan naik mobil, seharusnya kita naik motor saja," kata Ibnu.


Uegh!!!


"Sial, ini merepotkan," kataku setelah muntah di kantong plastik yang diberi Ibnu.


"Bertahanlah sebentar lagi tuan," kata Ibnu.


"Aku buka kaca jendelanya boleh kan?" tanyaku.


"Tentu saja boleh tuan, kenapa tidak membuka dari tadi?" tanya Ibnu.


"Aku kira kau tidak memperbolehkan," jawabku.


"Ah~, ini lebih baik," kataku setelah membuka kaca jendela mobil.


"Syukurlah."


"Hey! boleh aku bertanya sesuatu?" tanyaku.


"Tentu tuan, apa saja," jawab Ibnu.


"Kalau orang terpercaya seperti kalian berempat membuat kontrak dengan iblis apa artinya aku juga harus membuat kontrak dengannya karena aku wakil pemimpin?" tanyaku.


"Itu terserah pada diri tuan sendiri, apa tuan bisa melawan psycho tanpa bantuan dari iblis," jawab Ibnu.


"Kami berempat membuat kontrak karena kami tidak bisa melawan psycho dengan tangan kosong maka dari itu untuk bisa melawannya kami bersekutu dengan iblis," kata Ibnu.


"Jadi, apa Nobu juga membuat kontrak dengan iblis?" tanyaku.


"Tidak," jawab Ibnu.


Kalau seperti itu, artinya kekuatan Nobu sangat hebat sampai membuat dia menjadi pemimpin Assasin tanpa kontrak dengan iblis.


"Kalau boleh tau apa yang membuat Nobu menjadi pemimpin Assasin? aku tidak memaksamu untuk menjawab kalau kau keberatan," kataku.


"Akan tidak seru kalau aku yang memberitahu, jadi lebih baik tuan melihat sendiri tentang diri Nobu yang sebenarnya secara perlahan-lahan," kata Ibnu.


"Baiklah kalau begitu," kataku.


Dari semua yang aku dapatkan hal yang paling aku pikirkan adalah tentang sebutan 'Assasin', kenapa Assasin? bukannya harusnya ada empat huruf 'S' dalam kata itu? entah itu tidak diketahui atau memang sengaja dibuat namanya seperti itu.


Ah~ bodohnya aku memikirkan hal sepele seperti itu.


"Tuan sudah tau kan bahwa kita akan pergi ke Tokyo setelah ini?" tanya Ibnu.


"Ya, aku tau," jawabku.


"Kita akan naik pesawat, sebenarnya kita ingin menaiki jet pribadi tapi karena pilot kami sakit jadi kita akan naik pesawat," kata Ibnu.


"Tuan tidak mabuk kan kalau naik pesawat?" tanya Ibnu.


"Tidak, kalau pesawat aku bisa," jawabku.


"Untunglah, sebenarnya aku ingin meminta pada Nobu kalau tuan tidak tahan naik pesawat dan akan menggunakan transportasi laut, tapi karena tuan kuat naik pesawat jadi aku tidak jadi memintanya pada Nobu," kata Ibnu.


"Aku nggak ngerti kamu bicara apa," kataku.


"Jangan-jangan! tidak perlu," kataku.


"Baiklah tuan," jawab Ibnu.


"Aneh ya," kataku.


"Apa itu tuan?" tanya Ibnu.


"Kau memanggilku tuan, padahal aku hanya wakil pemimpin sedangkan kau memanggil Nobu yang merupakan pemimpin dengan namanya, apa kau tidak menganggap Nobu sebagai pemimpin?" tanyaku.


"Hebat juga pemikiran tuan bisa sampai ke sana, tapi itu tidak benar karena Nobu meminta kami berempat untuk memanggilnya dengan namanya, tapi mereka tetap bersikeras memanggil Nobu dengan agung karena bagi mereka memanggil nama Nobu saja tidaklah cocok untuk sosok agungnya," jawab Ibnu.


Heeeeh, ini semakin membuatku menjadi penasaran siapa Nobu sebenarnya.


"'Mereka' yang kau maksud itu ketiga temanmu itu kan?" tanyaku.


"Ya," jawab Ibnu.


"Terus kalau kau mau memanggil Nobu dengan namanya kenapa kau memanggilku dengan sebutan 'Tuan' kenapa? padahal sudah aku bilang tidak perlu memanggilku seperti itu," kataku.


"Aku merasa bahwa ada sesuatu yang istimewa di dalam dirimu dan kau lebih kuat dari Nobu," kata Ibnu.


"Oh begitu, apa hal istimewa itu?" tanyaku.


"Aku masih belum tau, tapi aku bisa merasakannya dan sangat yakin itu ada dalam diri tuan," jawab Ibnu.


"Jujur aku tidak suka dipanggil 'Tuan' karena itu membuat telingaku geli," kataku.


"Jadi tuan mau dipanggil apa?" tanya Ibnu.


"Terserah kau, aku ikut aja sekarang," jawabku.


"Maaf jika aku kurang sopan tuan dengan pertanyaan ini, apa tuan menerima tawaran masuk Assasin dari Nobu agar bisa balas dendam kepada psycho yang membunuh sahabat tuan?" tanya Ibnu.


"Balas dendam? itu semua tidak ada artinya bagiku, itu hanya omong-kosong. Apa balas dendam akan membuat sahabatku hidup kembali? tidak kan, jadi untuk apa aku balas dendam," jawabku.


Di saat itu terlintas di pikiranku tentang kesempatan aku bisa menyelamatkan Tomo dengan memutar waktu.


Aku jadi teringat hal yang dikatakan Nobu kalau psycho mengambil jiwa manusia akan membuat kekuatannya bertambah kuat dan itu juga berlaku untuk aku yang merupakan psycho ke 7 artinya kalau aku mengambil jiwa manusia aku juga bisa bertambah kuat dan aku pasti bisa kembali ke masa lalu untuk mencegah diriku lahir agar tidak ke dunia ini.


Singkat cerita kami berdua akhirnya sampai di rumah Nobu.


"Akhirnya, akhirnya, AKHIRNYA!!! SAMPAI, YEAH," teriakku yang baru saja keluar dari mobil.


Aku kemudian masuk ke rumah meninggalkan Ibnu yang memarkirkan mobil tadi ke garasi.


"Yang lain belum datang? sepertinya aku kecepatan, ya tentu saja kami pergi dan pulang tanpa membawa apa-apa," kataku.


Saat dalam perjalanan ke dalam kamarku sebelum menaiki tangga ternyata ada kak Yui yang datang menghampiriku dan sepertinya dia datang sebelum aku.


"Yo, hai Kira!" sapa kak Yui dengan senyumnya yang hangat.


"Eeee, hai juga kak," kataku.


"Kenapa memanggilku kak?" tanya Yui.


"Yaaa, itu kare-"


"Shuuut! jangan katakan, aku cukup menyukai panggilan itu lagian di sini tidak ada yang memanggilku dengan sebutan 'kak'," kata kak Yui dengan menaruh satu jarinya di mulutku untuk membuatku diam.


Tiba-tiba Nobu turun dari tangga dengan menggunakan pakaian wanita yang sangat menawan sampai membuatku sedikit terpana, Hanya sedikit. Menggunakan pakaian hitam dan rok sepanjang lutut berwarna putih serta bando berwarna putih di kepalanya. Yui yang terkejut melihat hal itu langsung mendatangi Nobu.


Apa aku harus mendatanginya juga ya? sepertinya tak ada pilihan lain.


"Nyonya Nobu? ada apa? ini pertama kalinya nyonya menggunakan pakaian perempuan," kata Yui.


Apa? pertama kali? pantas saja saat bertemu dengan Nobu pertama kali aku berpikir bahwa dia seorang pria karena dia memang terlihat seperti pria dengan pakaiannya saat bertemu denganku pertama kalinya.


"I-ini semua karena Kira," kata Nobu pada Yui karena aku dekat ya jadi aku juga mendengarnya.


"Ha?! aku? kok aku?" tanyaku.


"Karena kamu berpikir aku ini seorang pria jadi aku mencoba berpakaian seperti perempuan pada umumnya dan mengurai rambutku," kata Nobu dengan malu-malu.


Oy, oy, apaan ini? aku jadi nggak paham.


Terima kasih Kira, terima kasih, berkatmu aku bisa melihat sifat lucu dari nyonya Nobu sebagai wanita, gumam Yui.


"Nyonya sangat cantik sekali dengan pakaian itu," kata kak Yui sambil menggenggam tangan Nobu.


"Terima kasih," jawab Nobu.


Nobu kemudian berjalan ke arahku dan bertanya padaku sambil memalingkan wajahnya.


"Gi-gi-gimana menurutmu Ki-Kira?" tanya Nobu dengan malu sambil memalingkan wajahnya.


Oy, oy, oy, ini Nobu? sifatnya sangat berbeda dengan saat aku bertemu dengannya pertama kali. Tapi jujur, dia sangat cantik dengan penampilan dan sifatnya yang seperti ini.