Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 12. Refreshing



Cukup lama aku terbaring di paha Geovani sampai aku berhenti mengeluarkan air dari mataku.


"Kir? kamu tidur?" tanya Geovani.


"Enggak, oh maaf, sepertinya aku terlalu lama," kataku.


Saat aku ingin bangun Geovani menahan kepalaku agar tetap berbaring di pahanya.


"Udah, baring aja enggak apa-apa, mungkin ini bisa membuat suasana hatimu sedikit membaik," kata Geovani.


Aku tidak bisa pergi ke masa lalu, argh apa mungkin kekuatan psychoku hanya tinggal dua kali dan aku menggunakan itu dan tidak bisa digunakan lagi?


Kalau begitu berarti tidak ada kesempatan aku bisa merubah masa lalu dan itu artinya Tomo tidak bisa di selamatkan.


Mungkin aku harus menerimanya, aku tidak tau harus bersifat seperti apa sekarang, kalau sesuatu yang berharga telah pergi apa yang harus aku lakukan? argh aku enggak paham sama sekali. Apa mungkin aku harus menangis di makam Tomo agar terlihat seperti orang normal. Tidak ada gunanya menangisinya tapi kenapa aku menangis?


"Aku sudah ok kok," kataku.


"Beneran?" tanya Geovani.


"Iya, sudah lumayan lah," kataku dan langsung beranjak dari paha Geovani dan berdiri meregangkan badanku.


"Syukurlah kalau begitu."


Geovani tiba-tiba terbaring lemas dan wajahnya pucat sekali.


"Hey! ada apa denganmu? tanyaku yang duduk di depannya.


"Kamu ini nggak peka banget ya Kir," kata Geovani.


"Apaan? apanya? enggak ngerti aku," kataku.


Geovani kemudian memegang bahuku dan langsung menggigit leherku.


"Aw! oh tentang ini, ya maaf aku enggak tau. Btw tajam banget gigimu," kataku.


"kalau enggak tajam ya enggak bakal bisa nembus daging," kata Geovani.


"Hari ini sekolah libur kan?" tanya Geovani.


"Iya, kenapa emangnya?" tanyaku.


"Kita jalan mau?" ajak Geovani.


"Ha? jalan?" kataku.


"Kalau kamu enggak mau ya gapapa," kata Geovani.


"Kemana?" tanyaku.


"Hmmm, ke taman aja gimana? cuaca hari ini enggak terlalu panas," kata Geovani.


"Ngapain?" tanyaku.


"Ya, cari udara segar lah, refreshing, ademin hati, segerin otak, supaya suasana hatimu bagus," kata Geovani.


"Sebenernya lagi males banget sih," kataku.


"Dengar berita buruk pagi-pagi mungkin kamu shock, jadi ya kita jalan aja ya biar kamu apa namanya itu itu nah, argh! ga tau lah, yang penting kita jalan oke. Aku siap-siap dulu nanti kupanggil kalau aku sudah selesai, hey! kamu juga siap-siap awas kalau aku panggil kamu belum siap-siap," kata Geovani dan langsung pergi kerumahnya untuk bersiap-siap.


"Huh, padahal aku mau diam di rumah aja hari ni," kataku.


Baik banget Geovani, aku ga tau caranya berterima kasih sama dia.


"Geovani ada benarnya juga, dengan pergi melihat dunia mungkin bisa membuatku lebih baik," kataku.


Aku kemudian bersiap-siap dan dalam beberapa saat juga aku tetap mencoba pergi ke masa lalu tetapi aku tetap tidak pergi ke masa lalu juga.


"Ayolah Kir, ikhlaskan saja dia pasti sudah tenang di sana," kataku di depan kaca sambil melihat wajahku sendiri.


Kekuatan psycho ini tidak ada gunanya, lagipula kenapa harus aku yang mendapatkannya?


"Kiraaaa!!!" terdengar suara Geovani memanggilku dari depan rumahku.


"Hmmm, kenapa dia tidak menekan bel ku saja?" kataku.


Oh ya, aku baru ingat bel ku rusak dan Tomo yang memberitahuku.Tomo ya....


"Sudahlah Kir, ga ada gunanya kamu jika mencoba murung lagi," kataku sambil memukul pipiku agar aku tersadar.


Aku kemudian berjalan keluar rumahku untuk menemui Geovani di luar.


"Wow," kagum Geovani.


"Apaan?" tanyaku.


"Aku suka style mu, simpel tapi keren," kata Geovani dengan senyumnya.


"Ga ada gunanya kamu puji aku, ga bakal ku puji balik maaf aja ya," kataku.


"Ha? apa? aku enggak denger," kata Geovani.


"Daripada ngomongin yang ga jelas mending langsung pergi," kata Geovani.


"Kamu tau dimana taman?" tanyaku.


"Tau, dekat aja kok," kata Geovani.


Bagiku Geovani adalah orang yang mencurigakan, dia baru saja pindah bagaimana dia tau ada taman di daerah sini? dan juga saat aku bertemu dengannya dirumahnya saat aku bangun dari pingsan dia berkata 'Semua toko sudah tutup, kalaupun masih ada yang buka itu jauh dari sini' mungkin seperti itu yang dia katakan kalau tidak salah. Bagaimana dia tau betul ada toko yang masih buka walaupun itu jauh padahal dia baru saja pindah?


"Ya, tentu aku tau," kataku.


"Ini indah banget sih, mana luas banget lagi ada 4 pondok di setiapnya ada pohon dengan ayunan. Bunganya juga cantik-cantik, yang merawat bunga ini aku yakin pasti dia orang yang hebat."


"Untung kita sempat, kalau tadi terlambat mungkin pondoknya udah di ambil sama orang pacaran seperti dua pondok lainnya," kataku.


Kami kemudian duduk di salah satu pondok dan Geovani mengeluarkan bawaannya yang ternya dia membawa bekal.


"Ya ampun, sampai bawa bekal emangnya kita lama disini?" tanyaku.


"Aku tau kamu belum makan dari pagi kan, yaudah aku bawa bekal aja," kata Geovani dengan senyumnya.


Karena kami dari pagi belum makan kami memutuskan untuk memakannya.


"Kalau kamu bisa hidup tanpa makan kenapa kamu masih makan-makanan manusia?" tanyaku pada Geovani.


"Aku juga butuh tau makan yang bisa manjain lidahku, biar ga darah terus," kata Geovani.


Saat selesai Geovani membawa tempat bekal ke tempat cuci tangan yang berada di pinggir taman untuk mencucinya.


Saat aku sendirian di pondok, aku melihat dari kejauhan kepala polisi dan dia berjalan ke arahku.


Perasaanku ga enak. Mungkin aku harus sembunyi di toilet, keknya ga usah, nanti jadi rumit kalau Geovani sendirian.


"Permisi Kira, maaf mengganggu," kata kepala polisi.


"Tumben kamu sopan begitu, ada apa hah? kataku.


"Saya turut berduka cita, tentang sahabatmu dan saya ingin menyampaikan sesuatu," kata kepala polisi.


"Jadi?" tanyaku.


"Saya tau, kamu sangat tertekan dengan hal itu dan kami tau kamu ingin balas dendam kepada pelakunya. Jika kamu mau membantu kami menangkapnya maka hukuman akan kami serahkan padamu, terserah apa yang akan kau lakukan padanya," kata kepala polisi.


"Kalau tidak salah, kau juga pernah menawarkan hal yang sama kan? saat kapan itu ya, ahh aku lupa saking tidak bergunanya itu," kataku.


"Bagaimana?" tanya kepala polisi.


"Jika kau mau menjilat kakiku maka akan kupertimbangkan permintaanmu itu," kataku sambil mangangkat kakiku.


"Sepertinya memang mustahil meminta bantuanmu," kata kepala polisi dan langsung pergi meninggalkanku.


Dengan seperti ini mungkin dia ga bakan ganggu aku lagi, mungkin.


"Kira... itu tadi... " kata Geovani.


"Oh, Vani kau mendengarnya ya? bagimu itu tadi kejam ga sih?" tanyaku.


"Ada apa sih emangnya? sampai kamu nyuruh polisi menjilat kakimu?" tanya Geovani


"Yakin mau denger?" tanyaku.


"Humph, mungkin aku bisa bantu," kata Geovani.


Aku kemudian menceritakan semua kejadian tentang pembunuhan di sekolah dan tentang kepala polisi yang terus menerus memaksaku untuk membantunya.


"Menurutmu dari yang ku ceritakan aku jadi seperti penjahat bukan?" tanyaku.


"Enggak kok, itu kan pilihanmu dan kamu yang tentukan sendiri," kata Geovani.


"Ternyata kamu hebat juga, pantas bisa nebak aku ini vampir saat pertama kali bertemu," kata Geovani.


"Maaf ya, aku ajak kamu kesini niatnya mau bikin suasana hati kamu jadi lebih mood. Eh, tapi malah sebaliknya," kata Geovani.


"Gapapa, sebenarnya ini udah lumayan," kataku.


Meow.... meow.... meow....


"Hey! ada anak kucing, lihat Kir anak kucing ini lucu kan," kata Geovani Yang menggendong anak kucing tersebut dan melihatkannya padaku.


"Aku mau ke toilet," kataku dan langsung pergi menuju toilet umum.


"Hati-hati Kir," kata Geovani.


Saat selesai dari toilet aku di sapa oleh seseorang yang tidak ku kenal, tapi dia mengenalku dan menyebut namaku.


"Kamu Kira kan?" tanya orang tersebut.


"Eeee, iya saya Kira, ada apa ya?" tanyaku.


"Akhirnya aku bertemu denganmu, wajar kalau aku telat beberapa hari, karena aku tidak tau dimana kau tinggal," kata orang tersebut.


"Eee, sebelumnya maaf, anda siapa ya? saya merasa tidak pernah bertemu dengan anda," kataku dengan sesopan mungkin.


"Ga usah banyak tanya kir, ayo ikut denganku sekarang," kata orang tersebut dan langsung menarikku untuk mengikutinya.


"Maaf, saya tidak mengenal anda," kataku.


"Aku akan memberikan kata kuncinya 'Kamu psycho 7' " kata orang tersebut.


"Hah!? aku sudah muak dengan mainan psycho-psychoan kalian itu," kataku.


"Apa maksudm-"


Aku langsung memukul tengkuk orang tersebut dari belakang untuk membuatnya pingsan.


"Aku tidak mau lagi berurusan dengan psycho lain manapun, anggap saja bukan aku Yang menerima kekuatan psycho ke 7," kataku.