Fate 7 Psychokinesis

Fate 7 Psychokinesis
Ch 4. Pembuktian 1



Niiing!!....Nuuung!!.....Niiing!!......Nuuung!!..


Bunyi suara bel.


"Bukain tuh ada orang di luar," kata Rei.


"Iya iya,"


Kemudian aku berjalan tetapi saat aku baru sampai di depan pintu kamarku aku berhenti dan bertanya kepada Rei.


"Rei!!! apa menurutmu jika seseorang menyukai orang yang sudah mati, ah tidak mungkin tepatnya seorang roh apa itu wajar?"


"Tentu saja itu tidak wajar, coba kau pikirkan apa yang di dapat ketika menyukai seseorang yang sudah mati," kata Rei sambil memainkan tangannya.


"Pertanyaan yang bodoh, itu seakan kau menyatakan cinta pandangan pertamamu," gumam Rei.


Setelah mendengar ucapannya aku langsung pergi ke bawah dan membuka pintu. Saat aku membuka pintu depan rumahku ternyata ada Tomo yang datang ke rumah ku.


"Kir, mana anu ku."


Tomo mengatakan itu dengan nafas yang terengah-engah dan mengulurkan tangannya.


"Anu anu apaan dah?" tanyaku.


"Cincin ku, mana?"


"Ku buang!!" kataku.


"Ah di dalam tas? Oke."


"Hebat! bagaimana kau tau hal itu," kataku.


"Btw aku baru pulang dari sekolah," kata Tomo.


"Lihat wajah ku!" kataku sambil menunjuk wajahku.


"Ada apa dengan wajah mu," tanya Tomo.


"Apa terlihat peduli akan hal itu," kataku.


Seketika Tomo langsung melepas salah satu sepatunya.


"Dasar Anj*ng!!"


Tomo mengatakan itu sambil mencoba memukul ku dengan sepatunya tapi sayang serangan sepatu itu masih bisa ku tangkis dengan tanganku.


"KONOYARO!!!"


Teriak Tomo yang lumayan nyaring sampai membuat orang yang sedang berjalan di depan rumah ku melihat kami.


"Lu ngapa sih, ngajak tawuran?" tanyaku.


Tomo kemudian memasang sepatunya kembali dan bertanya pertanyaan yang sangat tidak masuk di akal sekali pun.


"Jam berapa sekarang?" kata Tomo seolah dia bod*h atau apalah.


"Hmmm, benda yang kau titipkan tadi siang kan cincin bukan jam tangan." kataku.


"Hmm, konspirasi yang bagus tapi jam tangan yang ku gunakan sudah lama mati."


"Ganteng doang pake jam tangan mati," kataku."


"KONOYARO!!!"


Ini teriakan Tomo yang kedua kalinya sampai membuat tetangga baru tepatnya Geovani yang merupakan murid baru melihat kami dari jendela lantai 2 rumahnya.


Tomo melihat Geovani yang keluar dari jendela, kemudian dia berbisik padaku.


"Kir, kenapa tidak kasih tau aku kalau dia tinggal di sebelah rumah mu," bisik Tomo.


"Aku juga baru tau."


"KONOYARO!!!"


Teriakan Tomo yang ketiga kalinya.


Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintu karena kalau tidak pasti Tomo bisa menginap di rumahku.


"Kir, kenapa kau tutup pintunya? Malam ini aku menginap di rumahmu oke?"


"Nggak," kataku.


"KONOYA—"


"Woi jangan berisik senja begini," teriak seorang paman yang tinggal di sebelah rumah ku.


"Tunggu aku besok kir!!!" kata tomo dengan mendekatkan mulutnya dengan kunci pintu.


"Hadeh, akhirnya selesai," kataku sambil bersandar di pintu.


Aku bersandar di pintu dan berpikir tentang Rei bagiku, kenapa aku bisa malu menyapanya saat aku kembali ke masa lalu.


Aku tidak pernah merasakan perasaan malu menyapa seseorang, semasa hidup aku hanya merasakan rasa sakit dan rasa marah. Semenjak orang tuaku tahu bahwa aku mempunyai keabadian mereka sering tidak peduli lagi padaku kalau aku terluka, sejak saat itu pula aku tidak pernah lagi merasakan kasih sayang dari orang tuaku dan cinta dari mereka.


Atau bisa saja alasan aku malu karena mimpi itu terhubung denganku dan aku lupa tentang semua mimpi itu.


Dulu Tomo pernah berkata padaku bahwa dia juga pernah merasa malu saat menyapa seseorang tertentu, saat aku bertanya kenapa dia malu menyapa orang tertentu dia berkata 'Aku malu menyapanya karena aku menyukai dia, kamu yang tidak pernah merasakan menyukai seseorang mungkin tidak paham tentang itu, Kir.'


"Yosh!! Sudah ku putuskan, akan ku katakan pada Rei walaupun tidak berarti apa-apa baginya."


Aku mengunci pintu dan pergi menuju kamar.


"Rei!! Aku menyu—" saat sampai di depan kamar dan ingin mengatakannya mulutku berhenti secara tiba-tiba karena aku tidak melihat siapapun di dalam kamarku.


"Mungkin dia pergi sebentar menemui keluarganya sebelum dia benar-benar pulang,"


Aku berjalan dan berbaring di kasurku sambil memikirkan apa yang akan terjadi padaku setelah memiliki kekuatan ini, mungkin kehidupan yang sangat dark sedang menunggu ku.


Bagaimana jika aku di kejar-kejar oleh psycho lain seperti psycho ke7 gen 2, dia sampai bunuh diri karena di kejar terus menerus.


3 jam berlalu Rei belum juga kembali.


Hmmmm, kemana saja Rei pergi dia berkata akan menghilang ketika tengah malam tapi ini baru jam sembilan malam, Aku bahkan belum sempat mengatakan 'Aku menyukaimu.' Bagaimana jika Rei sudah pulang beneran? Kalau memang begitu mau bagaimana lagi.


...****************...


"Kira, kami percaya padamu, pergilah dan ubah segalanya,"


"Tapi... Aku tidak mau kalau caranya harus dengan membunuh kalian,"


"Jangan naif!!! Sebentar lagi kau akan bebas dan kau hanya harus membunuh kami setelah itu selesaikanlah semuanya. Jika kau tidak sanggup, aku akan datang menemui mu dan membantumu.


Aku kemudian terbangun dan membuka mata.


"Ah, ternyata mimpi," kataku sambil mengusap mata.


Aku melihat ke arah jam dan terkejut karena aku kesiangan.


"Astaga, parah bisa kesiangan. Hp Ku habis baterai ternyata pantas nggak ada suara alarm," kata ku sambil berlari menuju ke kamar mandi.


Karena sudah hampir terlambat pergi ke sekolah aku memutuskan untuk membeli sarapan di sekolah daripada sarapan di rumah karena tidak akan sempat.


Setelah selesai bersiap-siap aku berjalan menuju pintu rumah.


BRUAAKK!!!


Setelah membuka pintu aku terkejut karena melihat tomo yang sedang bersandar di sisi luar pintu jadi terjatuh ke dalam.


"Tomo? Kukira kau sudah berangkat duluan ke sekolah," kataku.


"Parah sih, jam segini baru bangun," kata Tomo.


"Terlambat sudah kita," kataku sambil mengunci pintu dan kami berlari menuju sekolah.


...****************...


Saat di perjalanan


"Hey Tomo!!! Kenapa kau tidak membangunkan ku? tanyaku.


"Bel rumahmu rusak," jawab Tomo


"Kenapa tidak menelpon hp ku," tanyaku.


"Aku nggak bawa hp, aku niatnya ingin melempar batu ke kamarmu tapi jendelanya di tutup," kata Tomo.


"Jadi, tumben kamu kesiangan biasanya berangkat pagi betul?" tanya Tomo.


"Hp Ku habis baterai. Trus, kenapa nggak berangkat duluan,"


"Mana mungkin ku tinggalkan temanku~" kata Tomo dengan lirik lagu selimut tetangga.


"Hmmm, Bagus kali suara kau sampai pecah kaca," kataku.


"Menurutmu hukuman untuk kita nanti apa ya?" kata Tomo.


"Menurutku..... paling bagus bersihin toilet sama keliling lapangan 10 kali," kata ku.


"Benar juga, aku kangen bersihin toilet sekolah," kata Tomo.


"kau stress sumpah," kataku.


...****************...


Sesampainya kami di dekat daerah sekolah kami melihat satpam yang berjaga di depan gerbang sekolah menunggu para murid yang terlambat. Aku dan Tomo yang bersembunyi di belakang mobil yang terparkir di jalan melihat 3 murid yang dimarahi pak satpam dan menanti hukuman mereka.


"Supaya tidak ketahuan," jawab Tomo.


"susah bicara sama makhluk purba," kataku.


Aku hendak berjalan menuju gerbang sekolah namun Tomo menarik bajuku.


"Apa yang kau lakukan!?" kata Tomo.


"pergi ke sekolah lah, ngapain lagi sembunyi di belakang mobil, percuma sembunyi kalau akhirnya kena hukuman juga."


"Kita sembunyi supaya nggak ketahuan sama pak satpam kalau kita terlambat," kata Tomo.


"kalau nggak ketahuan sama pak satpam tetap juga ketahuan sama guru BK."


Kami tidak tahu bahwa pak satpam melihat kaki kita melalui bawah mobil dan dia berteriak ke pada kami.


"Yang di belakang mobil cepat kesini!" teriak pak satpam.


"Dia manggil kita kah?" tanya Tomo padaku.


"Iya."


"KONOYARO!!!" teriak Tomo.


"Cepat!!!" teriak marah pak satpam.


"Udah ... nyerah aja, kataku sambil menepuk bahu Tomo.


Kami berdua berjalan pergi ke arah pak satpam sambil saling menyenggol satu sama lain.


"Kalian ini, mentang-mentang hari ini pulang cepat kalian sengaja terlambat," kata pak satpam.


"Nyenyenyenyenyenye," olok Tomo pada pak satpam.


"Kamu melawan saya!?" saut pak satpam.


"Nggak pak," kata Tomo.


"kamu berdua sama kalian bertiga bersihkan toilet sampai bersih, kalau sudah panggil saya!" kata pak satpam yang menyuruh kami dan 3 orang lainnya untuk membersihkan toilet.


Saat kami berjalan menuju ke toilet, salah satu anak dari ketiga anak yang terlambat bertanya ke pada Tomo.


"Hey, apa benar yang di katakan pak satpam kalau kita pulang cepat?"


"Ap ... apa!!!" kaget Tomo dan langsung menatapku.


"Apaan liat-liat," tanyaku pada Tomo.


"Pak satpam ada ngomong gitu?" tanya Tomo.


"Loh, kamu nggak dengar pak satpam ngomong," kata salah satu dari ketiga anak yang terlambat.


"Makanya telinga jangan cuma dijadikan pajangan," kataku pada Tomo


...****************...


Saat kami sedang membersihkan WC, seorang dari kelas datang ke toilet dan Tomo bertanya padanya.


"Hey kamu, apa hari ini pulang cepat?" tanya Tomo pada murid yang baru datang dari kelas.


"Nggak tuh," katanya dengan heran.


"Berarti pak satpam bohong?" tanya Tomo.


"Tumben nggak teriak," kataku


"Teriak itu nggak baik untuk suara kir, suara itu harus di jaga baik-baik," kata Tomo


Setelah semuanya sudah bersih, Tomo berkata padaku bahwa dia akan pergi ke gudang untuk mengambil gayung yang kurang.


"Kir, aku mau ke gudang ngambil gayung,"


Aku hanya mengangguk dan Tomo pergi begitu saja.


Waaak...!!!!


Selang berapa waktu terdengar suara teriakan Tomo dari gudang. Setelah mendengar teriakan histeris temanku aku langsung berlari menuju ke tempatnya. Saat aku sampai di gudang aku hanya bisa terdiam sambil melihat mayat seseorang tanpa kepala di gudang. Tomo yang tidak biasa melihatnya langsung muntah di tempat itu juga.


"Ada apa ini teriak-teriak?" kata pak satpam yang baru sampai.


Pak satpam yang baru melihatnya langsung menutup pintu gudang dan menyuruhku untuk membawa Tomo ke UKS untuk menenangkannya.


"Kira, bawa Tomo ke UKS dan beritahu kepada guru soal ini jangan sampai membuat kegaduhan," kata pak satpam.


Aku kemudian merangkul Tomo dan membawanya ke UKS. Singkat cerita sampai kami sampai di UKS Tomo bertanya padaku.


"Kir, Apa kau melihatnya?" tanya Tomo.


"Kamu tunggu di sini, aku mau ke ruang guru," kataku.


Aku berjalan meninggalkan Tomo dan pergi ke ruang guru, sesampainya aku di sana aku berkata pada guru bahwa ada mayat tanpa kepala di gudang tapi mereka tidak percaya dan menganggap aku berbohong soal mayat tersebut. Salah satu guru yang yang mendengar ceritaku percaya dan pergi bersamaku ke gudang, setelah dia melihatnya dia hanya sedikit terkejut dan langsung menelpon polisi.


"Kamu, iya kamu jangan sampai ada murid yang tahu soal ini," Kata guru padaku.


"Tapi saya tau, jadi gimana?" kataku.


"Ya udah, cukup kamu aja yang tau," kata guru.


"Tapi teman saya juga tau, jadi gimana?" kataku.


"Susah punya murid akhlaknya minus," kata guru sambil berjalan keruang guru.


Saat aku dalam perjalanan pergi ke UKS aku mendengar pengumuman dari sekolah.


"Cek cek 1 ... 2. Pengumuman kepada seluruh murid bahwa kalian hari ini di pulangkan lebih awal karena satu hal yang mendesak, sekian terima kasih.


Niat ngasih pengumuman nggak sih, awikwok banget.


Saat sampai di UKS aku melihat Tomo yang masih syok karena melihat mayat tersebut.


"Mau minum?" tanyaku sambil memberinya gelas.


"Makasih. Kir, menurutmu apa itu sakit?" tanya Tomo.


"Kalau menurut manusia biasa mungkin sedikit sakit karena mereka langsung mati sedangkan menurutku itu sakit banget karena harus nahan sakit sampai regenerasi kembali seluruhnya, bayangkan aja hidup tanpa kepala selama kurang lebih 1 jam untuk nunggu regenerasi.


Tomo tiba-tiba berlari menuju toilet dan dia muntah di sana, aku yang melihatnya langsung mengambil minyak kayu putih dan memberikan padanya.


Di sekolah kami UKS mempunyai toiletnya sendiri.


"Parah kau Kir, malah di kasih gambaran paling parah," kata Tomo.


"Pulang kah?" tanyaku.


"Emang sudah boleh?" tanya Tomo.


Tiba-tiba pak satpam datang ke UKS dan memberitahu padaku bahwa aku belum boleh pulang.


"Wah, kok begitu pak?" tanyaku pada pak satpam.


"kamu jadi tersangka, mungkin. Karena kamu yang menemukan duluan," kata pak satpam.


Aku memasang wajah bingung kepada pak satpam seolah bertanya kenapa bisa begitu.


"Saat saya menelpon polisi dia berkata 'Tolong amankan orang yang pertama kali menemukannya,'" kata pak satpam.


"Maaf pak, yang menemukan mayatnya bukan Kira tapi saya," kata Tomo yang baru keluar dari toilet.


"Kalau begitu kamu Kira boleh pulang sedangkan Tomo tetap di sini,"


"Ok pak. Kamu duluan aja kir," kata Tomo.


"Ingat kir jangan kasih tau murid yang lain," kata pak satpam.


"Kita pulang bareng, berani nantang ku potong jari kau," kataku pada Tomo.


singkat cerita sambil menunggu polisi datang aku berjalan jalan di lantai 2 sekolah sambil memikirkan sesuatu.


JLEB....


Saat aku sampai di depan salah satu kelas seseorang menusukku dari belakang menggunakan benda tajam.


AAARRGGH....


teriakku dengan kecil.


"Sakit, aduh," jeritku dengan kecil.


"Punya masalah hidup apa kau denganku," kataku.


"Tidak ada sama sekali."


"A-apa kamu yang membunuh orang yang berada di gudang?" tanyaku.


"Itu tidak ada hubungannya denganku, jika kau ingin tau seseorang yang membunuhnya adalah orang yang paling banyak di benci di sekolah ini."


Dia kemudian mencabut benda tajamnya dan aku seketika langsung terbaring di lantai.


Kemudian dia berkata "Aku akan melepaskan mu untuk hari ini Akihiro Akira atau bisa disebut psycho 7."


Bagaimana dia bisa tau? apa dia juga psycho?


"Siapa kau ini?" tanyaku.