Fake Antagonist

Fake Antagonist
Epilog



"Hey, bukankah tugas kita sudah selesai? Kenapa kita belum kembali ya?" tanya Darier sembari mengelus salah satu kucing yang berada di pangkuannya.


Alice mendadak menampilkan wajah murung. "Jujur saja, aku tidak ingin kembali."


"Sama, aku juga," jawab Darier dengan wajah yang tak kalah murung. Pria itu kini menggenggam ponsel yang menampilkan foto kenangan langkanya itu.


Saat ini keduanya duduk di batu besar, ditemani puluhan kucing yang melingkari mereka. Dari belakang Edric muncul bersama teman-teman mereka.


"Kenapa kalian berduaan disini?" tanyanya cemburu.


"Kak?"


Edric menatap tajam pada sang kekasih, lalu duduk di tengah-tengah antara Alice dan Darier.


"Ck, dasar pria cemburuan," ejek Darier tidak takut lagi meski tatapan tajam itu beralih padanya.


Alice tersenyum kecil. Gadis itu berdiri menghampiri papan tulis yang sudah cukup lama tidak ia coret.


"Apa yang kau cari, Lala?" tanya Edric yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Lala?" gumam Alice dengan bingung.


"Jangan-jangan Kakak adalah Dri?" tebak Alice, pasalnya ia hanya menggunakan nama itu ketika bertukar pesan dengan orang asing itu.


"Menurutmu?"


"Ih, Kakak curang. Pasti Kakak sengaja pura-pura tidak kenal denganku."


"Awalnya aku juga tidak tahu. Sampai saat aku menyelamatkanmu dari penculikan itu, aku baru sadar kalau kau adalah Lala."


Di sisi lain, Melysa juga dalam perjalanan ke sana. Setelah apa yang terjadi, akhirnya hari ini ia memantapkan diri untuk datang dan meminta maaf langsung pada Alice. Dan kata pegawai butik, Alice sedang berada di rumah kucing di ujung gang.


"Pria mesum." Terdengar teriakan Kiara yang sangat keras, membuat Melysa menatap lekat pria yang tengah ribut dengan gadis yang berteriak tadi. "Pria tampan itu," gumamnya sembari tersenyum.


"Kau masih menyimpan foto itu? Dasar pria mesum. Berikan padaku, aku mau menghapusnya," teriak Kiara kembali, sementara Darier malah menunjukkan wajah tidak berdosa.


"Aku jadi iri karena tidak pernah berkumpul seperti ini bersama kalian," ujar Malvin yang menggenggam erat tangan Lucy.


"Itu karena kamu terlalu sibuk dengan urusan mu."


"Aku itu kerja loh, untuk persiapan masa depan kita."


"Masa depan kita? Memangnya aku udah setuju nikah sama kamu?"


"Setuju atau enggak, tetap harus setuju dong."


"Ish, kok maksa ya?" ujar Lucy dengan bibir mengerucut, membuat Malvin tertawa lucu.


"Cing, kamu temanin aku ya. Lihatlah, mereka berpasangan semua. Dan aku tidak punya, tahu gitu aku enggak mau ikut datang tadi," gerutu Yosua seorang diri, pria itu memeluk seekor kucing yang terus memberontak.


"Akhh," teriak Melysa ketika ingin menghampiri Darier malah tiba-tiba seekor kucing melompat padanya. Hingga gadis itu refleks mundur beberapa langkah dan menginjak sebuah batu yang membuat dirinya kehilangan keseimbangan.


Brukkk.


"Aw."


"Kau baik-baik saja?" tanya Yosua dengan perhatian.


Melysa mengangguk, gadis itu mendongak untuk melihat siapa penolongnya ini.


Deg.


Wajahnya bersemu merah kala menyadari wajah Yosua yang sangat dekat dengannya. Pria itu bahkan masih memeluknya erat seperti ketika menahannya saat jatuh tadi.


Alice yang duduk bersama Edric mengembangkan senyum yang teramat manis. Gadis itu beralih, menatap pada sang kekasih yang juga tersenyum kecil ketika melihat betapa absurdnya tingkah Darier.


'Alice, bolehkah aku menjadi dirimu selamanya?'