
"Dengan sangat terpaksa, pernikahanmu akan dibatalkan," ucap Barnett sembari tetap menatap putri semata wayangnya itu.
Alice tidak memberi tanggapan, gadis itu hanya tersenyum sembari terus melahap nasi goreng dari piringnya. Setelah tandas, ia baru mendongak menatap sang ayah.
"Aku tidak tahu apa alasan Daddy membatalkan pernikahan ini. Entah karena Daddy tidak ingin terseret skandal atau Daddy tidak ingin putri Daddy terjerumus pada pria seperti itu. Tapi terlepas dari alasan apapun yang menjadi dasar keputusan Daddy, jujur saja aku sangat bahagia. Karena tanpa aku berbuat apapun, jackpot malah datang padaku dengan sendirinya."
Setelah mengatakan itu, Alice beranjak dari duduknya. "Aku sudah selesai, kalian lanjut lah!"
Gadis itu melangkah, meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terdiam saling melempar pandang. Jujur saja, semenjak mereka pulang dan menetap di mansion ini, Alice bukan lagi seperti putri mereka dulu. Alice malah terlihat seperti orang lain yang sedang menyamar menjadi putri mereka.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah klub malam yang menjadi asal muasal penyebab Nelson Group kini krisis, Aldric sedang menggeliat pelan. Kepalanya terasa berat, namun tubuhnya terasa sangat segar.
Samar-samar terdengar suara percikan air yang membuat pria itu membuka kedua matanya. Ia menoleh ke samping ingin mencari sumber suara, namun tidak ada orang sama sekali. Dengan malas-malasan ia bangkit dan bersandar di kepala ranjang.
Tatapannya tidak sengaja menangkap sebuah bercak merah tepat di sampingnya. "Shiitt!" umpatnya setelah menyadari ia melakukan hal ini lagi.
Apalagi kali ini dia lakukan dengan seseorang yang memang benar-benar masih gadis. Dengan segera ia turun dari tempat tidur, meraih pakaiannya kemudian memakainya.
Dengan gaya dinginnya ia mengambil sebuah kartu dari dompet dan berjalan ke arah kamar mandi. Tempat yang ia yakini ada seseorang di dalamnya.
Kamar mandi itu tidak tertutup rapat, sehingga dapat Aldric lihat ada seorang gadis yang sedang duduk menunduk sembari membiarkan air shower terus mengalir membasahi tubuhnya yang bergetar.
Melihat gadis itu telah menggigil, Aldric menghampiri dan mematikan shower. Bukan ia peduli, ia hanya tidak ingin gadis ini membuat masalah nantinya. Apalagi ini gadis perawan yang baru saja ia jadikan wanita, Aldric takut gadis ini akan membuat drama.
Tanpa melihat rupa gadis itu Aldric menyodorkan kartu yang sejak tadi ia genggam.
"Ambil ini dan pergi dari sini! Anggap saja kita tidak pernah melakukan apapun, apalagi saling mengenal!" ketus Aldric, namun gadis itu tetap setia dengan acara menunduknya.
Melihat gadis, tidak, wanita yang tidak membalas apapun. Pria itu menaruh kartu di atas wastafel dan mulai beranjak pergi.
"Bajjingan!" gumam wanita itu lirih namun tetap dapat di dengar oleh Aldric. Bahkan pria itu merasa sedikit familiar dengan suara ini.
Dengan perasaan sedikit gugup ia menoleh. Tubuhnya mundur selangkah ketika melihat jelas siapa itu. Kekasih sahabatnya? Gadis yang ia nilai merupakan gadis baik-baik. Kenapa ia bisa menghabiskan malam dengan gadis ini?
Seketika beribu pertanyaan memenuhi otaknya yang seperti berhenti berfungsi. "O-olivia?"
Sedangkan Oliv hanya dapat menatapnya marah. Penampilan gadis itu sangat mengerikan, terlebih dengan kedua netra yang berderai air mata. "Kenapa kau ada di sini?"
"Bajjingan!" teriak Oliv dan dengan langkah sempoyongan, ia menghampiri Aldric dan memukulnya membabi buta. Kedua tangan mungilnya terus memukul dada Aldric, namun pria itu tak dapat berbuat apa-apa. Wajahnya masih tampak pias dan tidak percaya.
"Cukup!" tekan Aldric setelah menggenggam erat kedua tangan Oliv. Ia tatap tajam wanita itu, memberi sinyal intimidasi yang membuat Oliv sedikit gugup namun dengan cepat ia menyembunyikannya.
"Bersihkan dirimu, aku akan meminta orang untuk membeli pakaian untukmu. Setelah itu kita berbicara," putusnya setelah berpikir sejenak. Pria itu lalu berbalik keluar meninggalkan Olivia yang tersenyum samar.
...
"Kenapa pakai acara mati sih?" gerutu Aldric sembari menatap ponselnya yang mati kehabisan daya. Padahal ia ingin menghubungi Malvin agar membelikan pakaian untuk Oliv. Terpaksalah ia yang harus keluar dan membelinya sendiri.
Mendengar suara pintu tertutup, Oliv tersenyum lebar. Rencananya berjalan mulus sesuai rancangan.
Merasa tidak mendapat timbal balik, ia pun berniat untuk menjebak Alice dengan menceburkan diri ke dalam danau. Namun rencana itu berubah ketika menyadari Aldric memarahi Alice habis-habisan. Ia pun berubah haluan menjadi gadis baik nan jujur dan mengatakan bahwa Alice yang justru menyelamatkannya.
Namun kejujurannya membuat Aldric semakin menempel pada Alice. Membuat ia kesal setengah mati, apalagi yang memberinya napas buatan adalah Haven, pria berkacamata yang juga termasuk daftar orang yang ia benci.
Kenapa ia membenci pria yang notabene adalah kekasihnya?
Ya, mari kembali ke masa lalu Olivia.
"Lihat deh, Alice. Ngapain sih dia selalu sendirian!" tanya seorang anak kecil sembari memakan camilan di tangannya.
Oliv kecil hanya mengangkat kedua bahunya. Alice memang dikenal sebagai siswi yang penyendiri dan jarang bicara. Hanya ada dua orang anak laki-laki yang menjadi sahabatnya.
Sangat berbeda dengan ia sendiri, Olivia memiliki banyak teman. Ia pandai bergaul juga pintar, maka banyak anak lain yang menyukainya.
Meski bukan berasal dari keluarga berada, tapi ia merupakan anak dari kepala pelayan sebuah keluarga ternama. Jadi tidak heran jika ia bisa bersekolah di sekolah bergengsi meski semuanya dibiayai oleh sang majikan.
Gadis kecil itu terus menatap Alice kecil yang sedang memegang sebuah kotak makan tanpa dibuka sama sekali. Tapi ia tidak peduli, sampai dua orang anak lelaki mulai mendekati dan seketika gadis kecil itu tersenyum, manis sekali. Kemudian ketiganya makan bersama, saling berbagi makanan yang dibawa masing-masing sembari sesekali tertawa riang.
Dalam hati Oliv merasa sedikit iri, meski memiliki banyak teman tapi teman laki-laki akan memberi kesan yang berbeda. Apalagi kedua anak-anak itu terlihat tampan. Lihat saja, teman-temannya bahkan sampai tak berpaling dari ketiga anak itu.
...
Suatu hari, Oliv mendekati Alice yang seperti biasa akan memegang sebuah kotak bekal di taman sekolah. Alice yang pendiam tidak mengacuhkan Oliv yang terus berbicara padanya. Merasa kesal, Oliv kecil merebut kotak bekal Alice dan membantingnya ke tanah.
Alice seketika menangis, meski tidak kencang tapi tangisan itu membuat Oliv kecil menjadi pusat perhatian. Terlebih ketika kedua anak laki-laki yang biasa bersama Alice datang.
"Kau apakan temanku?" tanya salah satu anak lelaki yang memakai kacamata.
"A-aku tidak melakukan apapun. A-aku hanya ingin menjadi temannya, ta-tapi dia tidak mau berteman denganku. Malah menangis seperti ini," jawab Oliv membela diri.
Haven yang melihat makanan sahabatnya tercecer di tanah merasa marah, ia kenal siapa gadis ini. Anak kepala pelayan kerabat jauhnya.
"Sudah lah, kau makan makanan ku saja ya. Nanti kita makan bersama-sama lagi. Kau pintar karena tidak mau berteman dengannya, anak pelayan yang tidak sopan." Haven menghibur Alice sembari memeluknya, tanpa sadar anak lelaki itu telah membeberkan identitas Oliv yang tersimpan rapat.
Sejak saat itu, Oliv dijauhi oleh teman-temannya. Tidak ada satupun yang mendekatinya lagi. Kebanyakan malah menghindar saat ia ingin bergabung.
"Kata mama, aku tidak boleh berteman dekat dengan anak pelayan." Sebuah ucapan polos temannya yang masih ia ingat sampai sekarang.
Selama menjalani sekolah dasar, gadis kecil ini mengalami pengalaman yang buruk. Dijauhi teman-temannya, juga kadang di ejek anak pelayan.
Hingga suatu hari saat perayaan kelulusan, Aldric salah satu teman Alice mendekatinya dan memberinya sebuah kecupan di pipi. "Semangat!" ucapnya saat itu sembari tersenyum lebar.
Dari sejak itu, ia tumbuh menjadi gadis yang lebih kuat. Setiap merasa lemah, ia akan mengingat senyuman Aldric yang sembari mengucapkan kata semangat. Hingga ia terus mencari tahu tentang pria ini, tanpa ia sadari ada obsesi yang membara tumbuh di hatinya.
Padahal tanpa gadis itu ketahui, kecupan itu Aldric lakukan karena kalah taruhan dari teman-temannya, tidak lebih dari itu. Bahkan saat mereka bertemu kembali pria itu tidak mengingat Olivia sama sekali.
"Uwekk, kalian membuatku ingin muntah karena mengecup anak jelek itu!" protes Aldric pada teman-temannya setelah ia berhasil menjalani tantangan tak masuk akal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼