Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 61 ~ Drama Kecil



"Totalnya 58 juta, Nona. Silakan melakukan pembayaran di kasir."


Melysa hanya dapat menelan ludahnya kasar ketika mendengar harga dua pakaian itu.


'Mahal sekali, aku pasti akan dimarahi habis-habisan oleh ayah,' batin gadis itu sejenak ragu.


Namun saat menoleh dan mendapati Kiara sedang memandang dirinya berhasil memantik kembali api arogan dan angkuh gadis itu.


"Aku bayar pakai ini," ujarnya masih ketus, hingga sang kasir yang sudah memberi senyuman manis itu sedikit merasa kesal. Namun tetap ia tidak boleh menampakkannya.


...


"Huh, bagaimana ini?" gumamnya menyesal. Jika pulang sekarang pasti sudah ditunggu oleh sang ayah. Belum belum, ponselnya saja sudah berdering beberapa kali.


"Huft."


Di sisi lain, seorang pria baru saja keluar dari outlet perhiasan ternama sembari menggenggam sebuah kotak cincin. Tanpa sengaja kotak itu terjatuh saat ia ingin menaruhnya dalam saku jas.


Melysa yang melihat, mengambil dan ingin mengembalikannya. Gadis itu pun berteriak namun sang pria sama sekali tidak sadar. Pria itu terus berjalan hingga masuk ke sebuah cafe.


Melihat gadis yang tidak asing membuat Melysa urung mendekati mereka. Pria itu duduk tepat di depan gadis yang membuatnya menghabiskan uang puluhan juta tadi.


"Gadis itu," geramnya.


Ia pun memilih duduk di sebelah mereka untuk memantau. Entah kenapa gadis itu mendadak menjadi kepo.


Tiba-tiba cafe menjadi gelap, para tamu sudah kasak-kusuk. Namun tiba-tiba lampu di panggung cafe itu menyala. Perlahan namun pasti, penyanyi cafe mulai melantunkan sebuah lagu dengan suara merdunya.


Janji Suci - Yovie and Nuno


Lagu romantis yang mampu membuat suasana berubah. Dengan percaya diri Darier menggandeng tangan Kiara untuk naik ke atas panggung, menatap dalam gadis itu hingga membuat Kiara gugup sendiri, dan tentunya membuat mereka menjadi pusat perhatian.


'Enak sekali dia,' batin Melysa cemburu, terlebih pria itu tampak tampan dengan setelan jasnya.


Perlahan pria itu berlutut dengan kaki kanannya. Lalu mulai merogoh cincin yang sebelumnya telah ia persiapkan.


"Eh, kemana cincin nya?" gumam pria itu sembari terus memeriksa saku nya bergantian, bahkan pria itu mulai berdiri dan memeriksa saku celana juga.


Sontak penghuni cafe mulai kasak-kusuk lagi, melihat itu Kiara merasa malu.


"Kenapa?" tanyanya dengan berbisik.


"Cincinnya hilang."


"What? Yang benar dong, jangan buat kita malu, Sayang."


Deg.


Kata sayang berhasil membuat Darier merasa terbang. Meski ini pura-pura, tapi perasaan tidak bisa berbohong. Rasanya ia benar-benar ingin melamar dan mengikat gadis ini.


"Aku tidak berbohong," lirihnya setelah mendapat kode lirikan dari gadis itu.


"Huft, kamu udah buat aku malu. Mulai sekarang kita putus!"


"What? Tunggu dulu, Sayang."


Kiara tidak mau mendengar, gadis itu terus berjalan meninggalkan cafe dengan cepat, lengkap dengan wajah kecewanya.


Sementara Melysa tersenyum senang. "Inilah balasan untuk orang yang membuatku menghabiskan uang puluhan juta. Aah, senang sekali rasanya."


"Dengan cincin ini aku tidak perlu takut dimarahi papa lagi. Tapi aku kembalikan tidak, ya?"


"Aku ikuti saja dulu deh."


...


"Sayang, dengarkan aku dulu! Sayang," teriak Darier dengan frustasi, namun Kiara tetap tidak berhenti. Gadis itu tetap berjalan dan bergabung dalam kerumunan orang.


"Argh," teriak Darier hingga berhasil menarik perhatian orang-orang.


"Tuan," panggil Melysa sembari menarik ujung jas yang dikenakan Darier.


"Ini kotak perhiasan Tuan kan? Tadi terjatuh."


Pria itu menghela napasnya kasar, lalu melirik kesana-kemari mencari keberadaan sang kekasih.


"Untukmu sajalah. Lagian tidak berguna lagi, kekasihku sudah ngambek."


"Sungguh?" tanya Melysa dengan berbinar.


"Tidak mau kah? Kalau tidak mau buang saja! Karena cincin itu, saya jadi putus dengan kekasih saya."


"Mau, mau. Terima kasih, Tuan."


Darier mengangguk sekilas, lalu pergi begitu saja meninggalkan Melysa yang masih kegirangan. Dari kejauhan ia melihat pria itu tetap mencari keberadaan sang kekasih.


"Seharusnya seperti inilah seorang gadis, yaitu dikejar. Bukan seperti ku yang mengharapkan cinta dari orang yang tidak mencintaiku," gumam Melysa sedikit sadar.


'Pria yang tadi tampan juga,' batinnya sembari tersenyum-senyum.


...


Di tempat lain, di sebuah apartemen bertingkat 20. Yosua tengah menunggu kepulangan sang tetangga yang seharian ini entah pergi kemana.


Sejak ia datang dan mengetuk pintu gadis itu, sama sekali tidak ada jawaban sama sekali.


Kata tetangga yang lain, Oliv memang seperti itu. Biasanya sore pulang sebentar, lalu malamnya keluar lagi.


Tok, tok, tok.


Pria itu mencoba lagi, ini sudah jam lima sore, mungkin wanita itu sudah pulang.


"Halo, aku tetangga barumu. Namaku Zean, dan namamu siapa?" sapa Yosua dengan ramah.


"Aku Olivia, panggil saja Oliv," balas Oliv sembari tersenyum.


"Baiklah, Olivia. Salam kenal. Oh iya, aku punya sebuah bingkisan sebagai hadiah perkenalan. Yang lain juga sudah kuberikan, tersisa kamu yang tadi tidak di tempat."


"Terima kasih, seharusnya tidak perlu repot-repot. Aku memang bekerja sampai sore baru pulang."


'Ramah,' batin Yosua.


"Baiklah, Oliv. Aku pamit dulu ya."


Oliv mengangguk. Keduanya kembali ke apartemen masing-masing.


"Humidifier," gumam gadis itu setelah membuka kotak bingkisan Yosua.


Humidifier merupakan alat pelembap udara yang bekerja dengan cara menyemprotkan uap air ke udara. Penggunaan humidifier tidak hanya membuat kelembapan udara terjaga, tapi juga dapat membantu mengatasi iritasi yang dipicu oleh udara kering, seperti kulit kering, bibir pecah-pecah, pilek, hingga sakit tenggorokan. (Sumber: Alodokter).


"Lumayan," gumamnya lagi lalu menaruh alat itu di atas nakas.


.


.


.


Pagi dan siang berlalu. Kini matahari telah bersiap terlelap, cahaya oranye menyeruak ketika empat orang remaja menatap pada jendela ruang kerja Lucy. Ruang kerja yang kini lebih bisa dikatakan sebagai basecamp para anak remaja itu.


Srettt.


Dalam satu tarikan, Alice menutup gorden ruangan itu. Cahaya senja ini terlalu menyilaukan mata dari kaca jendela, lebih baik menggunakan lampu.


"Yosua kemana?" tanya Alice setelah ikut duduk di sofa bersama yang lainnya.


Yang lain hanya bisa mengedikkan bahu, semua sibuk dengan tugas masing-masing. Tidak ada waktu untuk saling bertanya, apalagi Darier dan Kiara yang bahkan sempat membuat drama kecil.


BRAKKK.


Yosua mendorong pintu ruangan itu dengan kasar. "Ada apa?" tanya yang lain dengan ekspresi kaget.


"Tidak ada kenapa-napa," balas Yosua dengan bingung.


"Huft, aku kira kamu ketahuan," ujar Lucy lega yang diangguki oleh yang lain.


"Oh, haha. Tentu saja tidak, aku bahkan menyamar walau kami belum pernah berinteraksi sebelumnya."


"Lalu kenapa kau terburu-buru seperti itu?"


"Oh, ya ampun. Aku hampir lupa. Tadi aku melihat Aldric berkunjung ke apartemen Oliv."


"Benarkah?" tanya Alice penasaran.


Yosua mengangguk.


"Kita langsung lihat saja, semoga saja belum pergi."


Drttt, drttt, drttt.


Alice mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Terlihat nama Pria Tua Kaku terukir disana. Ya, meskipun telah berpacaran, tapi gadis itu tetap menggunakan nama ini. Menurutnya nama ini sangat lucu.


"Halo," sapa Alice ketika menjawab panggilan itu.


"Halo, halo. Kenapa seharian tidak menghubungiku, kau tahu betapa rindunya aku?"


Alice tersenyum, baru ingin membuka mulut untuk menjawab.


Shhh, Al.


Sebuah jeritan berhasil membuat kedua mata Alice membulat penuh, terlebih ketika di sebrang sana Edric mulai menginterogasi.


"Suara apa itu?"


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Dimana kau?"


Pertanyaan bertubi itu berhasil membuat Alice kembali sadar.


Tap.


Alice menutup laptop Yosua dengan keras. Sementara yang lain juga hanya bisa menganga. Otak mereka sedang loading dan lemot di saat bersamaan.


'Menjijikan,' batin semuanya.


"Alice, jawab aku!"


"A-aku di butik."


Tut.


"Ha-halo."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼