
Entah ia tahu atau tidak siapa gadis yang ia kirimi pesan, tapi ia terlihat senang saat membalas pesan gadis itu. Dan mengingat ia yang asal ceplos gadis itu akan cepat mati, sepertinya ia tidak tahu itu adalah Alice. Pada akhirnya benang merah telah terikat sebagai penghubung diantara keduanya.
.
.
.
Tiba di mansion, Alice disambut suara cerewet Lucy. "Kenapa meminta paman Yos untuk pulang? Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku ketika paman Yos bilang kamu entah pergi kemana dengan menyetir sendiri," omelnya dengan cepat, tampak raut kecemasan menghiasi wajah mungilnya.
"Iya-iya. Lama-lama kamu lebih pantas jadi mommy aku loh." Alice terkekeh, menggoda Lucy adalah kesenangannya di dunia asing ini.
"Aku serius, Alice."
"Lucy. Apa yang kau lakukan? Beraninya membentak nona Alice. Cepat minta maaf!" tegur Sonya, kepala pelayanan sekaligus ibu Lucy.
Lucy menunduk, sadar diri bahwa ia memang salah. Sementara Alice tersenyum, dengan tenang tangannya terangkat, mengelus lembut lengan Sonya dan berkata, "Tidak papa Bibi, Lucy dan aku adalah sahabat. lucy berbicara sedikit lebih keras juga karena mengkhawatirkan aku yang pergi sendirian."
Mendengar itu ketegangan di wajah Sonya sedikit memudar. Sebenarnya yang ia takutkan adalah anak gadisnya nanti akan dihukum berat, jadi ia bertindak lebih dulu dengan meminta Lucy agar meminta maaf.
Dan Lucy tersenyum senang, nonanya memang telah berubah dari iblis tak berhati menjadi malaikat penuh kerendahan hati.
"Saya pamit ke kamar dulu ya Bi, Cy," ujarnya kemudian beranjak setelah mendapat jawaban dari ibu dan anak itu.
.
.
.
Hari yang lelah, lelah tubuh, lelah pikiran juga lelah hati. Saat sampai di ruang ternyaman nya ia langsung ambruk di atas tempat tidur. Hingga sayup-sayup ia mendengar getaran ponsel yang sangat menganggu.
Drttt... Drttt... Drttt....
Tanpa melihat siapa yang menghubungi, ia menggeser tombol hijau dan menghidupkan pengeras suara.
"Hmm," jawabnya malas tanpa membuka mata.
"Princess mommy udah tidur ya?" Mendengar suara penuh kasih itu, kedua mata Alice segera melek. Ia kira yang menghubungi nya adalah Kiara atau Lucy yang sedang mau curhat setelah diomel sang ibu.
"Belum, Mom. Tumben Mom menghubungiku?"
"Kamu ini! Memang kalau mom tidak menghubungimu, kamu ada menghubungi mom?"
"..."
Keduanya terdiam, Alice tidak mau menjawab juga Evelyn yang tidak tahu harus berbicara apa. Entah hubungan seperti apa antara ibu dan anak itu. Tidak ada keluh dan kesah dari sang putri layaknya anak perempuan pada umumnya, juga tidak ada perhatian yang ditunjukkan oleh sang ibu seperti ibu pada umumnya.
Hubungan yang sangat dingin, layaknya dua orang asing yang baru bertemu.
"Mom," keheningan terputus ketika Alice mulai mengeluarkan suara.
"Yes, Dear."
"Mom, apa Aldric punya seorang kakak?" tanya Alice penasaran, sebenarnya ia sudah meminta orang untuk mencari tahu. Tapi bertanya pada Evelyn tentu lebih valid bukan.
"Darimana kamu dengar itu, Dear?"
"Emm, Aldric sendiri yang bilang, Mom." Alice berbohong, jika tidak mengatakan itu mungkin saja Evelyn tidak akan berkata jujur.
"Apa namanya Edric, Mom?"
"Yes, namanya Edric. Edric Nelson."
"Mom."
"Yes, Dear."
"Bagaimana jika aku mau perjodohan ini kembali ditetapkan dengan Edric sebagai pasanganku."
Evelyn terdiam, lidahnya seketika keluh untuk bergerak. Apa ia sudah salah bicara? Apa suaminya akan marah? Dipikirkan saja sudah membuat tubuh Evelyn bergidik.
"Tidak boleh!" bentaknya tanpa sadar.
Alice tersentak, "Kenapa tidak boleh, Mom?"
"Pokoknya tidak boleh, jangan membantah, Lice!"
"Apa karena Edric bukan pewaris utama?"
"Tentu saja." Bukan Evelyn yang menjawab melainkan Barnett dengan suara beratnya.
Ia merebut ponsel dari tangan sang istri begitu saja, dengan wajah muram ia berkata, "Jangan membuat hal, Alice Lawrence! Sudah Daddy bilang berkali-kali. Kau tidak akan sanggup menerima akibat jika perjodohan ini batal, begitu juga dengan perusahaan kita yang masih membutuhkan dorongan dari keluarga Nelson."
Suara dingin nan datar membuat Evelyn cemas, sementara Alice di sebrang sana tangannya sudah gemetar. Entah kenapa ia takut sekali pada sang ayah.
"Bukankah Edric juga merupakan putra Nelson?" Sebuah kalimat tanya akhirnya tercetus kala Alice berhasil mengumpulkan keberanian.
"Hahaha." Tawa Barnett menggema, meremehkan pertanyaan sang putri yang menurutnya sangat tidak penting.
"Edric hanyalah putra Bastian, bukan putra Valerie Brown. Kau tahu? Sebagian besar harta keluarga Nelson berasal dari warisan putri tunggal keluarga Brown. Edric tidak ada apa-apanya dibanding Aldric. Ingat! Pria itu tidak akan membawa keuntungan bagi perusahaan kita! Dan tugasmu sebagai anakku satu-satunya adalah menuruti apa kata-kata ku! Ini juga untuk masa depanmu yang cerah."
Alice tersenyum miris, masih adakah orangtua seegois ini di dunia? Hah, dia melupakan sesuatu, tentu saja ada yang lebih egois. Seperti orangtua kandungnya di dunia nyata.
"Orangtua seperti kalian tidak pantas menjadi orangtua." Hanya sebuah kalimat yang terucap, kalimat menusuk yang diucapkan dengan nada menahan tangis yang terasa pedih.
Barnett dan Evelyn bahkan seketika tergugu, tidak percaya bahwa sang putri yang dulunya penurut bisa berucap seperti itu.
Setelah berkata Alice menutup telepon tanpa permisi, baginya sudah cukup melakukan komunikasi searah ini. Ya searah, karena sang ayah tidak mendengar sama sekali pendapatnya.
Meski ini seharusnya ditujukan pada Alice, tapi Ayla tetap merasa sakit. Sakit di tubuh dan jiwanya serasa menyatu. Ia pun tidak menyangka akan mengatakan hal sepedas ini, tapi ia sadar ini bukan lagi reaksi alamiah Alice melain reaksi dari jiwa Ayla sendiri.
Keegoisan sang ayah mengingatkannya pada masa lalunya di dunia nyata. Sejak kecil tidak tahu siapa orang tua kandungnya, sejak kecil tinggal di panti asuhan.
Mengenal dua orang teman baik, satunya harus pergi karena menggantikan nyawanya. Satunya harus ia tinggalkan karena di adopsi seorang nenek renta dan di bawa ke Desa Alton yang jauh dari kota.
Sakit namun tak berdarah. Di adopsi hanya untuk membantunya bekerja, setiap hari menjadi seorang pesuruh. Dulu ia berpikir mungkin kembali ke panti asuhan akan lebih baik, namun sempat bersembunyi dan hidup damai tiga bulan di desa itu membuatnya sedikit lebih bersyukur pernah bertemu nenek renta dan galak itu.
Memikirkan itu sama saja membuka tabir masa lalu. Sakit yang ia rasa kembali menganga bagai luka yang tak kunjung sembuh. Sampai saat ini rasa bersalah masih menghantui, tentang temannya itu. Teman yang rela menyelamatkan nyawanya dengan nyawanya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc
🌼🌼🌼🌼🌼