Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 63 ~ Berhasil



"Al," panggil Oliv lirih.


Namun tidak ada suara sahutan dari pria yang sedang mendekapnya saat ini.


"Tidak bisakah kamu melupakan Alice dan belajar menerimaku?" tanya Oliv memberanikan diri. Jika Aldric menjawab satu kata saja 'bisa' maka Oliv berjanji tidak akan mengganggu Alice lagi dan akan melupakan semua dendamnya.


"Apa karena aku menyentuhmu kau jadi besar kepala?"


"Bu-bukan begitu, Al. Maaf."


"Bagus, jadilah wanita patuh seperti biasanya. Dengan begitu aku juga tidak akan membuang mu dalam waktu dekat."


Deg.


Perih, hati Oliv terasa tersayat-sayat ketika mendengar ucapan itu. Jadi selama ini ia hanya dijadikan mainan. Sama halnya anak kecil, bila sudah bosan maka akan dibuang?


'Semua ini karena Alice,' geramnya di dalam hati.


Namun yang wajahnya tunjukkan hanyalah senyuman palsu. Di hadapan Aldric ia akan tetap menjadi wanita baik nan penurut yang selalu memenuhi apapun yang pria ini inginkan. Hingga ia bisa membuat pria ini bertekuk lutut.


"Mau kemana?" tanyanya ketika Aldric beranjak.


Pria itu tidak menjawab, hanya melirik sekilas kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Oliv mengepalkan tangannya, tanpa bisa dicegah setetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Mendengar suara gemercik air, wanita itu lantas meraih ponselnya yang berada di dalam laci.


"Aku sungguh tidak tahan lagi. Aku benar-benar ingin membunuh jaalang itu sekarang juga," ujarnya geram setelah orang yang ia hubungi mengangkat teleponnya.


"Aku juga. Kau tahu? Tadi siang dia bahkan datang dan mengejekku," balas Sylvia tak kalah geram. Kebencian telah membuat hati keduanya menjadi hitam.


"Besok, besok kita lakukan eksekusi saat dia pulang dari butiknya. Aku sudah sangat muak mendengar Aldric yang selalu menyebut namanya dengan berbinar. Jika dia mati, Aldric pasti akan menjadi milikku seutuhnya."


Mendengar itu, Sylvia memasang wajah sinis. Tapi malah menjawab dengan manis. "Ya, Aldric memang bisa menjadi milikmu seutuhnya jika dia lenyap."


Oliv tersenyum senang, sepertinya gadis ini sudah sadar diri. Wajahnya yang jelek menyadarkannya bahwa Aldric memang hanya tercipta untuk dirinya seorang, Olivia Bayle.


Dan walaupun mereka saling mendukung untuk menghancurkan Alice, tapi keduanya tetap saja saling merendahkan di dalam hati.


"Katakan pada Melysa, minta dia bersiap-siap!"


Tut.


"Apa aku sedang disuruh-suruh lagi?" gumam marah Sylvia tidak percaya.


Tanpa mereka tahu, suara keduanya terdengar sangat jelas oleh enam orang yang saling memandang sekarang.


"Besok kau tidak perlu ke butik, di rumah saja," titah Edric tegas.


"Tidak bisa, aku akan melihat sendiri apa yang mau mereka lakukan."


"Tidak boleh."


"Oh, ayolah Kak. Kalau aku terus menghindar, kapan ini akan berakhir? Mereka akan terus mengincar ku."


"Kalau begitu aku yang akan membunuhnya terlebih dahulu."


"Kak."


Pekikan Alice membuat Edric sadar bahwa ia telah kelepasan bicara. Pria itu terlalu marah karena ada yang berani berniat jahat pada gadisnya. Terutama gadis bernama Sylvia itu. 'Kalau tahu dia akan kembali berulah, aku tidak akan membiarkannya hidup saat itu.'


"Kak, aku tidak mau ya kalau sampai Kakak bertindak lebih dulu," ujar Alice dengan tegas yang ditanggapi Edric dengan wajah datarnya.


.


.


.


Note :


Sebelum lanjut kita kenali dulu yuk target para detektif dadakan kita ini.


- Aldric : Target 1


- Olivia : Target 2


- Sylvia : Target 3


- Melysa : Target 4


.


.


.


Alice dan semua temannya menjalani hari seperti biasa. Gadis itu tetap berangkat ke butik bersama Lucy dan paman Yos.


"Paman, nanti Paman pulang pakai taksi ya. Aku mau mampir ke rumah kak Edric saat pulang nanti. Oh iya, ini ongkos untuk Paman."


Kedua gadis itu pun keluar dari mobil, masing-masing memakai earbuds di telinga.


"Bagaimana pergerakan Target 4, Rier?"


"Masih di tempat. Belum ada perubahan, titiknya masih berada di kediamannya."


"Pantau terus!"


"Ya, dan bagaimana dengan Target 1?"


"Sama, masih di mansion nya," jawab Lucy.


Semuanya mengangguk, walau berada di tempat yang berbeda-beda.


Setengah hari terlewati, belum ada yang ganjal dari pergerakan target. Melysa, Aldric maupun Malvin masih anteng di tempat.


Malvin memang sempat keluar, tapi titiknya tidak jauh dari mansion Nelson kemudian kembali lagi.


Sementara obrolan Sylvia dan Olivia juga bukan informasi yang berarti. Keduanya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Kadang terdengar teriakan Sylvia yang memarahi pelayannya, sedangkan Oliv tadi terdengar mengobrol dengan ibunya dan mengalami sedikit percekcokan.


'Sepertinya mereka memang sedang bersiap," batin Yosua yang sejak tadi memastikan bahwa Oliv sama sekali tidak keluar dari apartemen nya.


"Meski belum bergerak, tapi kau tetap harus berhati-hati!" pinta Edric yang di dengar Alice melalui earbuds hingga gadis itu mengangguk walau Edric tak dapat melihatnya.


...


"Syl, kau sudah siap?" tanya Oliv yang membuat Alice menajamkan pendengarannya.


"Hem, tapi Melysa menolak untuk membantu. Penghianat itu memang tidak bisa dipercaya."


"Ck, kalau begitu kita berdua saja. Setelah Alice kita lenyap kan, maka akan ada gilirannya untuk penghianat itu," balas Oliv tersenyum kecil.


"Oh iya, bagaimana dengan orang suruhan mu. Apa telah berada di posisi?"


"Tentu, mereka bahkan telah memantau sejak pagi."


"Bagus. Sebentar lagi adalah jam pulang wanita itu. Minta mereka untuk bersiap-siap!"


Seperti biasa Sylvia mulai tersenyum sinis. 'Wanita ini benar-benar merasa bahwa ia telah menjadi ratu.'


"Target 2 telah keluar dari apartemen," ujar Yosua dengan berbisik, pria itu memang sengaja duduk di dekat pintu yang tak ia tutup rapat. Sehingga jika Oliv keluar, ia akan tahu.


.


.


.


Jam 4 sore adalah jam pulang kerja Alice dan Lucy seperti biasanya. Kedua gadis itu keluar bersama dan masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati," ujar Edric yang tak henti-henti untuk mengingatkan sang kekasih. Alice sampai bosan mendengarnya.


"Iya-iya," jawab gadis itu dengan malas hingga membuat semua yang mendengar dari earbuds masing-masing tersenyum-senyum sendiri. Interaksi Alice dan pria tua kaku itu memang sangat manis bagi mereka.


Melihat Lucy yang tertawa kecil, Alice pun menoleh dan menatapnya dengan kesal.


Perlahan Lucy mengangkat kedua tangannya. "Ampun." Begitu yang Alice tangkap dari pergerakan bibir gadis itu.


Sementara orang suruhan Sylvia terus mengikuti mobil Alice dari belakang. Mereka hanya tinggal menunggu waktu yang pas untuk menyergap.


Sesuai informasi yang di dapat dari orang yang menyuruh mereka, mobil yang mereka ikuti memang berbelok ke sebuah jalan yang lebih sepi, jalan menuju rumah Edric.


"Sergap!" titah orang yang berada di samping kemudi. Mobil yang sebelumnya setia mengekor di belakangnya pun mulai bergerak, melaju dengan kecepatan di atas normal.


Sedangkan di depan, mobil Alice juga telah meningkatkan kecepatannya. Kejar dikejar pun terjadi. Jalan pegunungan yang sepi pun menjadi kemudahan sekaligus tantangan untuk mereka, karena jalan yang memiliki banyak tanjakan.


Setelah berhasil melewati tanjakan, salah satu mobil orang suruhan Sylvia mempercepat lajunya. Dan berhasil, mereka kini berhasil mengapit mobil Alice di tengah-tengah mereka.


BRAKKK.


Mobil Alice ditabrak dari belakang.


BRAKKK.


Mobil di depan sengaja mengerem dan membuat mobil Alice menabraknya. Kini mobil gadis itu benar-benar tidak bisa kemana-mana. Ditabrak dan menabrak berulang kali, kini kap depan dan kap belakang mobil itu sudah tak berbentuk lagi.


Sementara tidak jauh dari sana, Sylvia dan Olivia sedang tertawa bahagia ketika mengawasi apa yang terjadi secara langsung.


"Pastikan dia masih hidup walau sudah sekarat. Aku perlu membalas sesuatu pada gadis itu," pinta Sylvia melalui ponselnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼