Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 49 ~ Dibius



Laci pertama hanya ada dokumen kerja.


Laci kedua sama saja, tidak ada yang istimewa.


Gadis itu terus menunduk, ini laci paling terakhir.


'Apa ini?'


"Sayang."


Deg.


Bukkk.


"Akh," pekik Alice ketika kepalanya terbentur meja.


"Sayang, kau ngapain di kolong meja?" tanya Edric dengan khawatir.


"Ti-tidak ada, tadi aku hanya melihat-lihat saja. Terus tidak sengaja menjatuhkan dokumen mu," jawab Alice sembari satu tangan menunjukkan dokumen, dan satu tangan lagi mengelus-elus kepala.


"Sini aku lihat!" Edric menarik tangan sang kekasih kemudian mendudukkan gadis itu di sofa ruangan.


"Seharusnya kau hati-hati!" ujarnya sembari meniup pelan kepala Alice yang terbentur.


Alice tidak menjawab, gadis itu hanya menatap lekat pada sang kekasih yang terlihat semakin tampan. Namun keraguan muncul lekat di wajah cantik itu, terlebih setelah melihat apa isi laci ke-3.


"Masih sakit?" tanya Edric lembut, Alice mengangguk.


Cup.


"Sekarang pasti sudah tidak sakit lagi, bukankah itu adalah obat paling ampuh sejagat pernoveltoonan. Kalau tidak pelukan pasti ciuman."


Alice merona mendengarnya, gadis itu tersenyum malu namun jadi lebih pendiam. Dan hal ini tentu mengganggu bagi Edric.


"Kau kenapa? Apa sakit?" tanya nya sembari memegang dahi sang gadis.


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa. Mungkin karena kecapean aja Kak."


"Ya udah, istirahat di kamar tamu aja ya."


Alice mengangguk, tidak menolak saat Edric menggendongnya ala bridal style. "Sekarang istirahat ya! Nanti aku kembali lagi." Edric menarik selimut untuk menutupi tubuh sang kekasih.


Benar-benar kelembutan yang membuat Alice semakin gamang.


'Kenapa semua jadi begini?' batinnya.


Gadis itu merasa tak tenang, ia pun bangkit dan beranjak keluar. Saking kalutnya ia bahkan sampai lupa pamit pada tuan rumah.


Sementara Edric kembali ke ruang kerja. Tanpa perlu ditebak, Edric tahu pasti gadisnya telah melihat isi laci ke-3.


'Ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa menyelidiki ku?' batinnya sembari membuka kembali laci yang tidak tertutup rapat.


Brummm.


Edric menoleh kearah jendela, dapat ia lihat Alice pulang tanpa memberitahu nya. Tangan pria seketika terkepal erat.


.


.


.


"Apa yang kau dapat?" tanya Darier melalui aplikasi hijau khas chatting.


"Aku melihat banyak sekali foto-foto ku bersama Aldric, bahkan foto sejak SMA ada di laci kak Edric."


"What? Apa dia psyco?"


"Jangan asal bicara!"


"Masih membelanya? Kau harus berhati-hati meski kalian adalah sepasang kekasih!"


"Lalu, apa yang akan kita rencanakan selanjutnya?"


"Kiara bilang dia siap jadi umpan."


"Tidak boleh! Itu terlalu berbahaya."


"Mau gimana lagi, harus ada setidaknya satu orang untuk menyelinap kesana. Karena kita harus memasang alat penyadap."


"Biar aku saja!"


"Kau mau pakai alasan apa untuk masuk?"


"Kita harus mencari tahu, ada celah apa yang bisa membuatku masuk."


"Baiklah, aku akan tetap mendukungmu. Sekarang kau dimana?"


"Dalam perjalanan ke butik."


...


Seperti biasanya, Alice akan pergi ke suatu tempat saat ia benar-benar gundah. Sore itu ditemani sang surya yang telah menunjukkan warna oranye, gadis cantik itu berjalan kaki sembari menenteng sebuah kantong kresek.


"Sudah beberapa hari aku tidak kemari," gumamnya.


Senyum langsung menghiasi wajah gadis itu ketika melihat segerombol kucing telah berlari menyapa.


"Hi ... Argh." Alice menatap nyalang pada seseorang yang baru saja menancapkan suntikan pada lengannya. Dalam sekejap pandangannya memburam, kantong kresek yang ia genggam langsung terhempas ke tanah.


Miauuu. Miauuu.


Beberapa kucing langsung melompat ke badan pria itu hingga dia oleng. "Kucing sialan!" umpatnya sembari menyingkirkan dan menendang kucing yang semakin menjadi menyerangnya.


"ARGHH," pekiknya ketika salah seekor kucing melompat ke kepalanya dan mencakar rambutnya. Pria itu lalu berusaha menghempas kucing dengan satu tangan, sementara satu tangan lagi tetap menopang tubuh Alice.


Miau...


"Sialan! Menjauh lah dari tubuhku!" pekiknya sembari menggerakkan seluruh badan agar kucing-kucing itu menghindar. Hingga rambutnya sedikit tersibak dan nampak sebuah tanda yang mirip dengan tanda di dahi Edric.


Salah seorang yang menunggu di dalam mobil pun turun untuk membantu. Namun kucing-kucing itu tidak menyerah. Hingga matanya menangkap makanan kucing yang dibawa Alice.


Perempuan itu meraihnya dan langsung merobek kasar bungkusan itu. Hingga makanan kucing berceceran dan berhasil menarik perhatian meong-meong itu.


"Huft, akhirnya." Pria itu menghembuskan napasnya kasar.


Setelah berhasil menyingkirkan kucing yang melompat ke kepalanya dengan kasar, lantas pria itu langsung menggendong Alice dan membawanya ke mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.


Setelahnya mobil itu melaju meninggalkan kucing yang tadi terhempas dalam keadaan lunglai. Kucing itu menatap sayu, mungkin sedih karena tidak dapat menyelamatkan tuannya.


.


.


.


"Cy, Alice dimana? Aku keruangannya tapi kosong," ujar Darier sembari masuk ke ruangan Lucy.


"Alice? Terakhir kali dia bilang mau ke rumah pak Edric."


"Tapi aku sempat bertukar pesan dengannya tadi. Katanya dalam perjalanan ke butik. Mobilnya juga di luar."


"What? Aku tidak tahu karena aku dari tadi dalam ruangan. Dia juga tidak menghampiri ku."


"Kita tanya pegawai lain saja!" Lucy pun beranjak dan keluar ruangan diikuti Darier.


"Rin, apa kamu lihat nona Alice?" tanya Lucy pada salah seorang pegawai.


"Nona Alice tadi sempat kembali ke sini sebentar, tapi setelah itu katanya mau pergi lagi. Tadi nona lewat pintu belakang dan tidak membawa mobil."


"Pintu belakang?" gumam Darier.


"Kenapa Alice lewat pintu belakang?"


"Aku juga tidak tahu, coba hubungi teleponnya!"


"Tidak aktif," ujar Darier setelah panggilan nya diangkat oleh suara operator.


"Ya ampun Alice. Ayo kita cari!"


Mereka berdua lalu keluar dari pintu belakang juga. Berjalan menyusuri sebuah gang kecil hingga keluar gang langsung disuguhi sebuah minimarket.


"Minimarket? Apa Alice kesini?"


"Kita tanyakan saja!"


Keduanya mempercepat langkah, jujur saja Lucy sudah deg-degan karena sebelumnya Alice tidak pernah tidak bisa dihubungi.


"Kak, apa tadi gadis ini ada berkunjung?" tanya Lucy sembari memperlihatkan foto Alice pada kasir minimarket.


"Oh, Alice? Ya, tadi dia kesini untuk membeli makanan kucing."


"Makanan kucing?" gumam Darier.


"Aku tahu dimana dia," ujar Darier setelah mengingat tempat itu.


Pria itu bahkan langsung berlari keluar. "Hey, tunggu!"


"Terima kasih ya, Kak."


Lucy pun ikut berlari mengikuti langkah Darier. Hingga mereka sampai di sudut gang dengan segerombol kucing yang sedang melahap makanan.


Deg.


Hati Darier dan Lucy berdetak tidak tenang setelah melihat makanan yang berserakan. Tidak mungkin Alice memberi makan dengan melempar asal seperti itu.


"Catty," pekik Darier setelah melihat seekor kucing berbaring lemas di atas batu besar tempat biasa Alice duduk sembari mengelus kucing-kucing itu.


Catty adalah kucing kesayangan Alice di antara semua kucing, dan kucing inilah yang pria itu hempas dengan kasar karena telah berani melompat dan mencakar kepalanya.


Darier menghampiri Catty yang memberi tatapan sayu. Seketika tangan pria itu mengepal erat.


"Cy, bawa Catty ke dokter hewan! Aku yang akan mencari Alice."


"Baiklah, nanti aku akan menyusul." Lucy menggendong Catty, sementara Darier menganggukkan kepalanya.


Kini hanya ada satu nama yang berada di pikirannya.


EDRIC.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼