
Alice keluar dan melewati ibunya begitu saja. "Lice, Alice!" pekik Evelyn namun Alice sungguh menulikan sejenak telinganya. Sekuat apapun dirinya, ia tetap butuh sandaran sekarang. Dan sandaran yang ia butuh bukanlah bahu kedua orangtuanya.
...
"Kak!" pekik Darier ketika Edric masuk ke dalam rumahnya. Pria itu menoleh dan terkejut ketika melihat sepupu anehnya itu sedang ditahan oleh beberapa bawahannya.
"Bos, anak ini diam-diam mengikuti Anda," adu salah satu anak buahnya sembari menahan Darier yang terus memberontak.
"Buang saja keluar!" titah Edric cuek, ia bahkan langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Hey, Kak. Kau tega sekali." Darier berteriak, ia merasa penasaran pada pria misterius ini dan mengikutinya. Namun nasib sial berpihak padanya ketika tiba-tiba ditahan oleh beberapa orang berpakaian hitam ini.
"Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku. Aku adalah sepupu bos kalian. Jangan macam-macam padaku atau kalian akan dipecat nanti," ancamnya pada pria-pria itu, namun mereka tidak menggubris malah menyeretnya untuk keluar dari halaman rumah.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. "Lice, Alice. Tolong aku!" pekiknya ketika mengenali kalau itu adalah mobil milik sang rekan.
Namun yang keluar bukanlah Alice melainkan hantu, tidak, iblis, bukan, ini adalah malaikat pencabut nyawa. Darier membulatkan kedua matanya ketika melihat malaikat pencabut nyawa itu melangkah ke arahnya.
Begitu juga dengan beberapa bawahan Edric yang tadinya bermuka sangar kini mulai berwajah pucat. Bagaimana tidak? Penampilan Alice saat ini jauh lebih mengerikan dibandingkan di mansion tadi. Hal ini karena make up yang ia pakai luntur terkena air mata, belum lagi kedua matanya merah dan bengkak.
"Rier," lirih Alice setelah berdiri di hadapan mereka.
Para bawahan Edric yang ketakutan segera mendorong Darier ke arah gadis itu. Lantas mereka berlari, meninggalkan Darier yang terpekik kaget.
"Astaga ... astaga. Aku mohon jangan cabut nyawaku sekarang. Aku hanya punya tiga nyawa untuk bertahan hidup di dunia ini. Satu nyawa sangat berarti bagiku," mohon Darier dengan tubuh bergetar kemudian bersimpuh. Kakinya berasa tidak tahan lagi untuk menopang berat badannya.
"Rier," panggil Alice merasa aneh, niat hati ingin mencari sandaran pada sang kekasih malah bertemu pria aneh ini.
"Ampun, ampun Nyonya, Ibu, Mama eh Mama, Kakak. Tidak-tidak ... Nenek ... Nenek moyang, aduh ... apa sih?" Darier menepuk dahinya sendiri, tubuhnya masih gemetar dan air mata sudah menggenang di kedua matanya.
"Hey, Rier. Apa yang terjadi padamu?"
"Jangan! Jangan sebut namaku! Tolong lupakan saja namaku! Kamu ... kamu pergilah, cari saja target kamu selanjutnya. Aku akan sangat ikhlas kalau kamu membiarkan aku hidup."
"Kamu ngomong apa sih, Rier?" Alice yang semula masih sedih kini dibuat kesal oleh tingkah sang rekan.
"Aku mohon jangan sebut lagi namaku! Nama ku bukan Darier, nama asliku bukan Darier. Aku mohon jangan menggangguku! Aku bu-bukan Darier yang asli. Sungguh," Darier mengatupkan kedua tangannya. Sungguh ia belum ingin mati, ia masih ingin kembali ke asal dimana ia datang. Ia masih ingin bertemu dengan adik-adiknya.
"Hey, kamu itu kenapa sih? Aku ini Alice."
"Alice? ... Huaaaaaa, jangan membawa-bawa namanya. Dia adalah temanku, jangan jadikan dia targetmu selanjutnya. Jika dia mati aku bisa ikut mati."
Alice menggeleng tak percaya, tak sengaja tangannya menyenggol jubah yang masih ia kenakan. Tanpa sadar ia tertawa, membuat Darier yang sebelumnya sudah sangat takut menjadi semakin takut. "Jangan tertawa!" pekik pria itu sembari menutup kedua telinganya.
Alice semakin menyeramkan ketika tertawa dengan penampilan penuh tangis seperti itu.
"Hahaha, Rier. Ini sungguh aku. Ini Alice. Aku hanya sedang menyamar."
"Tidak-tidak, pergi! Pergi kamu!"
"Rier, ini Alice."
"TIDAKKK!" Darier berhasil bangkit dan berlari terbirit-birit menjauh dari sana.
"Hahaha. Rier, kamu memang mood booster aku."
"Eh, apa? Apa-apaan ini? Lepas!"
"Ternyata kau hantu jadi-jadian. Sedang apa kau menyamar dan masuk ke daerah bos kami, hah?"
"Kalian yang sedang apa? Datang-datang main keroyok saja," pekik Alice memberanikan diri, sebenarnya melihat orang-orang ini ia merasa takut mengingat ia pernah dikejar sebelumnya.
"Ada apa sih ribut-ribut? Kalian aku minta untuk membereskan satu bocah saja tidak bisa. Cepat keluarkan dia dan tutup gerbang rumah!" ujar Edric setelah mendengar keributan yang tak kunjung usai dari tadi.
"Ini, Bos. Ada yang nyamar jadi hantu jadi-jadian dan ingin menerobos masuk."
Edric menggeleng cuek, namun perhatiannya teralih pada mobil yang terparkir di sebelahnya. 'Alice?'
"Emmm ... Emmm ...." Alice menggeleng, mencoba memberontak agar dilepaskan.
"AKHHH."
"KAKKK!" pekiknya setelah bekapan itu berhasil terlepas setelah ia menggigit keras telapak tangan pria itu.
"Alice?"
"Lepaskan dia!"
"Kak." Alice memeluk Edric dengan tubuh sedikit gemetar. Jujur saja ketika mengingat saat ia terbunuh membuat ia semakin takut.
Edric mengelus lembut punggung gadis itu, dengan mendengar suara saja ia yakin gadis ini adalah kekasih kecilnya. Saat ia menunduk untuk melihat wajah kecil itu, mata sedikit melotot kaget. Penampilan Alice terlalu berantakan. "Kenapa kau berpenampilan seperti ini?"
Alice tidak menjawab, ia kembali membenamkan kepalanya dalam dada bidang pria itu. "Baiklah, ayo kita masuk dulu!"
.
.
.
Alice tertidur lelap setelah membersihkan diri dan menceritakan semuanya pada sang kekasih. Sembari bercerita, sembari masih menitikkan air mata. Edric yang melihat gadis kecilnya menangis ikut merasa sesak. Namun ia tidak ingin menyanggah Alice terlebih dahulu, ia akan mendengar semua keluh kesah gadis itu hingga selesai. Karena ini adalah kali pertama Alice berbicara dan mengeluhkan sesuatu padanya secara panjang lebar.
Seraya mengelus lembut kepala sang gadis, Edric memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memecahkan masalah ini. Perhatiannya kemudian teralih pada ponselnya yang menyala.
Nomor yang tidak tersimpan tertera di sana, namun Edric tahu pasti siapa ini. Dengan tak acuh ia menggeser ponselnya dan kembali fokus untuk memperhatikan wajah gadisnya. Saat ini mereka sedang berada di kamar tamu, Edric memindahkan sang kekasih karena ia terlelap di sofa.
Ponselnya kembali menyala dan dengan malas akhirnya Edric mengambil dan membawa benda itu menuju ke balkon.
"Halo Ed." Terdengar suara serak seorang pria di sebrang sana.
"Ada apa menghubungiku?"
"Daddy ingin bertanya, apa kau dekat dengan tunangan adikmu?"
"Apa itu juga termasuk hal yang akan Anda batasi untuk saya?"
"Bukan seperti itu Ed, Daddy hanya ingin mengingatkanmu kalau gadis itu adalah tunangan adikmu. Dan sebentar lagi mereka akan menikah."
"Jika Daddy menghubungiku hanya untuk membahas itu maka akan ku tutup."
"Ed ...."
Tuttt.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼