
'Segitunya kau ingin lepas dariku? Sampai menjebak ku dengan cara seperti ini? Hebat sekali kau, Alice Lawrence,' batin Aldric, kedua matanya terlihat merah menahan amarah.
.
.
.
"Bajjingan!"
Bugh ...
Haven yang baru masuk langsung menghadiahi Aldric sebuah bogem mentah yang membuat pria itu limbung. Aldric berdecih, jarinya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Kau berani padaku?"
Bugh.
Aldric berbalik menyerang, keduanya tidak ada yang mau kalah. Saling menyerang dengan membabi buta, tanpa peduli Malvin yang sedari tadi terus melerai.
"Awas!" Dengan kasar Aldric mendorong Malvin hingga pria itu harus jatuh tersungkur.
Keduanya pun kembali berbaku hantam dengan emosi yang memuncak. Aldric melampiaskan semua kemarahannya, sementara Haven juga melampiaskan emosinya pada pria yang berani menyentuh kekasih tercintanya.
Bagaimana dia bisa tahu?
Tentu saja diberitahu oleh kekasihnya sendiri. Wanita itu dengan beribu dramanya menelpon Haven dan menceritakan segalanya. Tentu bukan cerita asli, melainkan cerita yang ia rangkai sendiri.
Melihat pertengkaran di depannya, Oliv tersenyum samar. Dia seperti berada di atas awan saat ini, diperebutkan dua orang pria tampan.
Namun senyum itu hanya terbit sekilas, karena ia harus mulai bersandiwara lagi. Dengan lemah ia bangkit dan berdiri, tertatih-tatih ia menghampiri kedua pria itu.
"Jangan berkelahi lagi, aku mohon," ucapnya dengan suara bergetar dan berderai air mata.
Namun kedua pria itu tidak peduli, mereka tetap melanjutkan perkelahian walau wajah mereka sudah cukup tak berbentuk.
"Jangan!" pekik Oliv ketika melihat Aldric yang tersungkur dan Haven masih ingin menyerang. Wanita itu bahkan langsung berdiri di hadapan Aldric untuk menjadi tameng.
"Kau melindunginya?" tanya Haven tidak percaya, sementara Olivia menggeleng, air mata nya semakin luruh seakan sangat tersakiti.
"A-aku tidak tahu harus apa. Aku bingung!" teriak Oliv frustasi. Haven pun langsung memeluknya erat, mencoba memberi wanita ini sebuah kenyamanan.
Namun bukan ini yang Oliv harapkan, yang ia inginkan adalah pelukan seorang Aldric. Tapi pria itu malah tidak peduli dan keluar dari ruangan diikuti Malvin.
"Kau tenang saja, jika dia tidak mau bertanggung jawab maka aku yang akan melakukannya," ujar Haven sembari mengelus puncak kepala sang kekasih.
Oliv melerai pelukan kemudian menggeleng. "Tidak, a-aku bukan lagi gadis yang baik untuk mu. Aku sekarang adalah seorang wanita menjijikan. Ka-kau pantas mendapatkan seorang gadis yang lebih baik."
"Tidak! Aku akan menerima mu apapun yang terjadi."
Oliv kembali menggeleng pelan. "Alice ... Alice adalah gadis yang tepat untuk mu. Sepertinya dia menyukaimu."
"Apa maksudmu? Alice tidak mungkin menyukaiku." Haven mau tidak mau merasa sedikit konyol.
Pria itu mengira otak sang kekasih sudah terlalu kusut hingga membuatnya berpikir hal yang mustahil terjadi.
"Kalau dia tidak menyukaimu untuk apa dia menjebakku?" lirih Oliv sembari menatap Haven nanar.
Haven terdiam, apa ia salah dengar?
"Kau bilang apa?"
"Alice yang menjebakku, dia yang memintaku datang ke sini tanpa memberitahu mu. Ta-tapi saat aku masuk ke sini hanya ada Aldric dan ... dan ... hiks." Oliv tak dapat melanjutkan perkataannya lagi, wanita itu kembali menangis pilu.
Sementara Haven masih diam dengan pemikirannya, ia mengenal Alice sejak kecil. Bagaimana perangainya, Haven sangat tahu itu. Alice tidak mungkin melakukan hal menjijikan seperti menjebak seseorang.
Melihat Haven yang meragu, Olivia semakin mengeraskan tangisnya. Tangannya bergerak menggeser ponsel yang masih menampilkan riwayat chat dari Alice, namun gerakan itu ia lakukan dengan hati-hati seakan ia tidak sengaja.
Haven yang tidak sengaja membaca pesan itu sekilas segera mengambil ponsel tersebut kemudian membacanya. Pria itu kemudian mencocokkan nomor pengirim pesan tersebut dengan nomor Alice yang ia simpan. Dan ternyata sama.
Seketika kemarahan tampak terpancar dari kedua matanya. Pria itu tidak menyangka Alice bisa berbuat seperti ini. Ia kemudian kembali menarik Oliv kembali ke pelukannya.
"A-aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
'Meski aku harus merelakan mu menjadi milik pria lain,' lanjutnya dalam hati.
Oliv masih terisak, namun kedua sudut bibirnya tertarik. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan dalam pelukan Haven.
.
.
.
Di sisi lain, Kota Lotus kembali dikejutkan sebuah berita yang sangat hangat untuk diperbincangkan.
Keluarga Armstrong baru saja mempublikasikan siapa pewarisnya. Pria bernama Edric Armstrong sedang duduk bersama seorang kakek tua di atas panggung konferensi pers.
"Saya mengumpulkan kalian di sini untuk mengumumkan secara resmi siapa pewaris keluarga Armstrong yang selama ini selalu bekerja di balik layar. Cucu saya, Edric Armstrong adalah anak dari putri saya satu-satunya. Sebenarnya sudah sejak lama saya memintanya untuk kembali pada keluarga Armstrong, namun karena cucu saya belum siap maka tidak bisa saya paksakan. Cucu saya ini juga memiliki keluarga lain yang lumayan berada, namun mereka tidak pernah menghargai titipan saya. Hmm, saya rasa kalian bahkan belum ada yang tahu bahwa keluarga Nelson memiliki putra pertama selain Aldric Nelson, kan? Jadi ... lupakan mereka dan selamat datang kembali pada keluarga Armstrong, cucuku Edric Armstrong." Kakek Armstrong merentangkan kedua tangannya dan Edric segera menyambut pelukan sang kakek.
Kemudian setelahnya Edric berdiri dan memberi beberapa kata sambutan. Sontak Kota Lotus kembali heboh, apalagi setelah mengetahui Edric ini adalah putra keluarga Nelson yang adiknya tadi pagi terlibat skandal. Bahkan berita ini jauh lebih heboh dan membuat skandal Aldric seperti terlupakan begitu saja.
"Wah, dia tampan sekali," pekik beberapa gadis di dalam kafe yang berhasil menyita perhatian penghuni lain tanpa terkecuali Alice dan teman-temannya.
"Apa yang mereka ributkan?" tanya Lucy penasaran.
Ketiga temannya hanya mengedikkan bahu.
"Auranya sangat berbeda dari adiknya yang bajjingan itu." Kembali mereka memekik, dan sekarang bukan hanya dari satu meja saja. Pengunjung lain juga sudah mulai kasak-kusuk dan sibuk sendiri.
Tringgg.
Kiara segera mengambil ponselnya yang berbunyi. Tangannya refleks membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya sudah benar.
"Kenapa pria ini mirip sekali dengan pak Edric, ya?" tanya nya dengan polos sembari menghadapkan layar ponsel pada ketiga temannya yang lain.
Lucy langsung merebut ponsel itu dan memelototi nya. "Ini beneran pak Edric!" pekiknya heboh.
"Mana?" tanya Alice yang juga penasaran.
"Nih." Lucy menunjukkan video live itu pada Alice yang langsung melotot.
'Kenapa dia tidak bercerita padaku?' batin Alice kesal.
Darier yang ikut melihat justru terasa pusing ketika melihat sebuah tanda di dahi sebelah kanan Edric. Selama ini tanda itu memang tidak terlihat karena tertutup poni, namun hari ini Edric tampil rapi dengan rambut yang disisir ke belakang. Membuat sebuah tanda itu tampak terlihat jelas.
'I-itu, sepertinya aku mengenal tanda itu,' batin Darier sembari memegang kepalanya yang terasa sakit.
.
.
.
"Tuan," sapa Nico yang telah mengubah panggilan kepada Edric.
"Bagaimana kabarnya?"
"Kekasih mu sedang bersenang-senang."
"Dengan siapa?"
"Dar ...."
"Kirimkan posisinya!" Belum Nico menyelesaikan kalimatnya, Edric telah berjalan pergi dan masuk ke mobil.
"Dasar bos cemburuan," gerutu Nico namun sambil tersenyum lucu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc
🌼🌼🌼🌼🌼