Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 53 ~ Menemukannya



"Hey, kemana dia? Tidak mungkin dia terjun ke bawah kan?" tanya salah satu pria setelah berhasil sampai di tempat Alice berdiri tadi.


"Lihat! Bukankah itu kaos yang gadis itu pakai?" ujar yang lain sembari menyorot sebuah sobekan kaos yang tersangkut di besi lantai empat.


"Benar, apa dia terjun bebas? Benar-benar tidak takut mati."


"Ayo kita periksa saja!"


.


.


.


Sekelompok manusia itu kemudian berlari turun ke bawah. Saat mereka melewati lantai empat, Alice mengeratkan tubuhnya di balik pilar. Untung saja tidak ada yang curiga. Mereka hanya numpang lewat begitu saja.


Akhirnya gadis itu dapat bernapas lega.


"Auu," gumamnya tanpa sadar. Ia lalu menyalakan senter yang sempat ia matikan tadi. Melihat tangannya yang terluka dan berdarah-darah akibat terkikis semen pilar, gadis itu sedikit bergidik.


Flashback On.


Alice mengedarkan pandangannya kemudian melihat sepotong kain yang memiliki warna sama persis dengan warna baju yang ia pakai.


Tidak ingin membuang waktu, ia meraih potongan kain itu kemudian memeluk pilar dan turun ke bawah. Lalu menggantung kain yang telah ia tepuk-tepuk tersebut ke salah satu besi yang menonjol di sudut lain pilar. Sementara ia sendiri segera melompat ke atas lantai dan bersembunyi di balik pilar lain.


Flashback Off.


"Melysa," gumamnya marah.


.


.


.


"Ayo cari sampai dapat! Jika tidak kita yang akan menerima akibatnya."


"Tidak ada, bahkan tanda-tanda orang jatuh saja tidak tampak," sahut satunya sembari memperhatikan semak belukar di depannya.


"Sial, sepertinya kita telah tertipu ... Kembali ke atas sekarang!"


Mereka pun memutuskan kembali, namun saat berbalik sudah ada beberapa orang yang menghadang.


"Siapa kalian?"


"Tidak perlu banyak bicara! Dimana kalian menyekap nona kami?"


"Hahaha, kami hanya penghuni di bangunan tua ini. Dan kami tidak tahu ada penyekapan disini."


"Terlalu berbasa-basi, haajar mereka!"


Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. "Kalian cepat ikuti mereka!" titah salah satu penjahat setelah melihat ada orang lain yang sudah naik ke lantai dua.


"Sial, terlalu banyak lantai. Kita berpencar saja. Kalian periksa lantai bawah dan aku ke atas! Ingat, jangan gegabah, mereka adalah penjahat ulung!" Setelah berkata seperti itu Edric dan Veen langsung berlalu dari sana. Meninggalkan Darier, Kiara, Lucy dan Yosua.


"Ayo!" pinta Darier dengan serius, pria yang selalu menampilkan wajah jenaka itu kini telah berubah.


"Hey, berhenti di sana!" pekik seorang penjahat yang mengejutkan keempat orang itu.


Mereka pun refleks berlari menghindari kejaran penjahat hingga terpisah saat Darier menarik tangan Kiara untuk bersembunyi di balik pilar.


"Sstt." Darier menekan bibir Kiara dengan jari telunjuk, membuat gadis itu seakan menjadi kutu mati yang tidak bisa bergerak.


"Sudah aman," bisiknya ketika melihat dua orang penjahat berlalu ke lantai berikutnya mengejar Lucy dan Yosua. Pria itu lalu mengalihkan pandangan pada gadis di depannya.


Deg.


Detak jantungnya berpacu ketika menyadari posisi mereka yang begitu dekat, terlebih kini keduanya saling menatap dalam. "Em, a-ayo kita keluar!" bisik Kiara terbata-bata yang dibalas anggukan kaku seorang Darier.


Perlahan mereka keluar dari persembunyian dengan mengendap-endap.


"Huft." Keduanya menarik napas lega.


"Hem, hem."


Mendengar suara deheman Darier dan Kiara saling memandang. Keduanya lalu menoleh dengan perlahan sembari tersenyum lebar.


Dalam keremangan dapat mereka lihat seorang pria berbadan besar sedang berdiri kokoh sembari membalas senyum mereka tak kalah lebar.


Darier menarik tangan Kiara dan menyembunyikan gadis itu di belakang punggungnya.


"Aku akan melindungi mu," bisiknya membuat Kiara terpanah. Gadis itu sampai tersenyum-senyum sendiri.


Darier lalu kembali menghadap pria sangar itu, dan kembali juga ia memulas senyumnya yang kaku.


"Aaa, a-aku panggil abang saja ya," lanjut Darier membuat Kiara mengerutkan kening.


"Boleh, saya memang masih muda walau wajah terlihat tua. Panggil saja abang!" balas pria itu dengan suara serak yang menyeramkan.


Darier kembali merasa terintimidasi, sementara tangannya menggenggam tangan Kiara dengan erat. "Ba-bang, kenapa berkeliaran di sini malam-malam?"


"Seharusnya saya yang bertanya pada kalian. Untuk apa kalian kesini malam-malam?"


"Kami ... kami adalah sepasang kekasih, tadinya mau melakukan sesuatu di sini. Tapi karena melihat ada keributan di bawah, kami takut dan tersesat kesini," jelas Darier dengan ekspresi malu-malu, membuat Kiara mencubit pinggang pria itu kesal.


"Sstt, ini adalah jalan satu-satunya. Aku sama sekali tidak bisa berkelahi," bisiknya membuat Kiara tercengang.


"Dasar anak muda zaman sekarang. Seperti tidak ada tempat yang lebih layak saja. Sudah, sana pergi! Dua kilometer dari sini ada hotel yang lumayan layak untuk kalian bermain."


"Hehe, te-terima kasih, Om. Eh, Bang."


"Ayo!" Darier menarik tangan Kiara sementara gadis itu hanya dapat memasang senyuman kaku ketika melewati pria sangar itu.


"Permisi, Bang," pamit Darier sembari menganggukkan sedikit kepalanya.


Bugh bugh.


Suara perkelahian terdengar jelas ketika mereka tak lagi berbicara. Tiba-tiba di depan pria itu berdiri, seseorang yang merupakan anggota kelompok mereka terjun bebas ke bawah.


"Sial, aku dibodohi," umpat pria itu setelah sadar bahwa sepasang anak muda tadi adalah incaran mereka.


"Jangan kabur kalian!" pekiknya namun Darier dan Kiara telah naik ke lantai atas.


.


.


.


Di sisi lain, Alice kembali naik ke lantai lima. Ia sadar setelah ketahuan maka kelompok penjahat itu akan kembali mencarinya. "Hebat juga kau," ujar Melysa yang masih menunggu di sana.


Alice tersenyum kecil. "Kenapa? Kakak kecewa ya karena Kakak lagi-lagi tidak berhasil mencelakai ku?"


"A-apa maksudmu. Aku kabur dari mu itu karena kau terlihat sangat menakutkan."


Alice berjalan maju, sementara Melysa berjalan mundur. "Ja-jangan mendekat!"


"Kenapa Kakak terlihat takut sekali padaku? Padahal aku hanya ingin mengajak Kakak keluar bersa ...."


Bugh.


"Argh." Alice memegang tengkuknya yang terasa sakit dan perih. Gadis itu terkulai namun tidak pingsan.


Melysa tersenyum sinis. "Sudah aku bilang kan? Jangan mendekat! Salahmu sendiri yang tidak mendengar."


"Sekarang kita apakan dia, Nona?" tanya seorang pria yang merupakan kawanan penjahat.


Tadi sebelum mereka turun, keberadaan Melysa diketahui namun pimpinan kelompok itu malah meminta salah satu dari mereka untuk menemani dan menjaga gadis itu.


"Apalagi? Jatuhkan saja dia dari sini!" titah gadis itu dengan sombong.


"Tidak bisa, Nona. Bos akan marah besar pada kami. Dia meminta kami untuk menjaga gadis ini dengan baik bukan mencelakainya."


"Memangnya bos kalian itu siapa sih? Takut sekali kalian padanya."


"Bos kami itu ...."


"Ada orang!"


Pria itu pun berbalik dan langsung dihadiahi sebuah bogem mentah.


Bugh.


"Berani sekali kau menyakiti kekasihku!" ujar Edric sembari memukul pria itu dengan membabi buta tanpa memberi kesempatan untuk pria itu bisa membalas.


"Pak Ed," gumam Melysa takjub melihat betapa kerennya Edric saat bertarung.


Namun merasa kondisi akan merugikannya, gadis itu perlahan mundur dan berniat kabur.


"Mau kemana kau?" bisik Veen yang telah berdiri di sampingnya, membuat gadis itu seketika bergidik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼