Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 44 ~ Hukuman Untuk Kiara



Sementara Edric menampilkan wajah cemberut. Alice pun mengecup pipinya agar pria itu tak marah lagi. Dan benar saja, pria itu langsung menoleh ke arah lain sembari menyembunyikan senyuman tertahannya.


.


.


.


Ding dong ...


Ding dong ...


Bel apartemen terus berbunyi, membuat kedua orang yang sedang melakukan siaran langsung itu sedikit terusik. Mereka pun mencoba untuk abai dan melanjutkan pekerjaan.


"Alice memintaku untuk datang ke klub malam itu dan ...."


BRAKKK.


Pintu apartemen terbuka secara paksa. Tampak sebuah wajah penuh amarah di depan sana. Tanpa basa-basi Aldric berjalan masuk dan menghampiri keduanya.


Oliv mengembangkan senyum di wajah sendunya, seakan ingin mendapat simpati dari pria itu. Namun Aldric sedikitpun tidak memandang, pria itu masuk dan langsung merebut kamera dari wartawan kemudian membantingnya dengan keras.


Wartawan itu tampak speechless, begitu juga dengan Oliv yang memandang tidak percaya dengan pemandangan di depannya.


"Apa yang kau lakukan, hah?" teriak Aldric setelah menghancurkan kamera dan menginjak-injaknya.


Oliv menatap bingung, bukan kah ia sedang melakukan klarifikasi. Ia sedang membuat sebuah pernyataan yang bisa menyelamatkan perusahaan Nelson nantinya.


"Wanita bodoh!" pekik Aldric emosi, pria itu mencekik Oliv. Jika saja tidak ada wartawan wanita yang membantu, mungkin Aldric akan menjadi seorang pembunuh.


"Kalian sama bodohnya!" Aldric beralih ingin melampiaskan kemarahan pada wartawan itu, namun Malvin datang di saat yang tepat dan mencegahnya.


"Bos! Bos ... tenang, Bos. Tenang!" ucap Malvin sembari memeluk tubuh besar temannya itu.


"Lepas! Aku akan mengajarkan wanita ini bagaimana cara menjadi pintar."


"Bos, jika kau membunuhnya masalahmu akan semakin bertambah. Tuan juga akan semakin marah. Dan Nelson Group pastinya akan semakin terpuruk," teriak Malvin sembari tetap menahan tubuh yang seperti sedang kerasukan itu.


Perlahan Aldric tak lagi memberontak, terlihat pria itu sudah lebih tenang.


Sementara Oliv dan wartawan itu sedang duduk meringkuk, keduanya terlihat ketakutan. "Kalian tolong pergi dulu dari sini! Aldric sedang butuh ketenangan sekarang," ujar Malvin sembari mengendurkan pelukannya.


Tanpa bertanya lagi, Oliv dan wartawan itu bangkit dan berlari dari sana. Wanita itu bahkan tidak berpikir lagi bahwa ia sendirilah pemilik apartemen, namun malah diusir oleh tamu.


"Huft ...." Keduanya menarik napas berat, saat ini mereka sedang berada di lift.


"Kalau tahu akan jadi seperti ini, saya tidak akan menerima pekerjaan dari Anda," ujar wartawan itu kesal.


"Hey, saya juga tidak tahu kenapa Aldric bisa tiba-tiba mengamuk seperti itu. Lagian Anda kan sudah dibayar mahal oleh teman saya," balas Oliv sinis. Dan wartawan itu dapat melihat jelas ekspresi itu, sinis dan memandang rendah dirinya. Sangat berbeda dengan wajah sendu saat melakukan siaran langsung tadi.


"Jangan bilang kau memang seorang jaalang?" tebak wartawan sembari memandang Oliv dari bawah ke atas.


"Hei, berani sekali kau mengatai ku. Akan ku adukan pada kekasih ku dan kau akan dipecat!" pekik Oliv tanpa sadar membuka kedoknya sendiri, wanita itu bahkan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ternyata benar jaalang!" balas sang wartawan sembari tertawa remeh.


"Kau!" geram Oliv namun tak bisa berbuat apa-apa karena wartawan itu telah berlalu dan keluar dari lift.


"Huft, aku memang bodoh. Menghabiskan setengah hari dengan hasil minus. Kamera hancur, dapat berita hancur, karir pun terancam hancur," gumam wartawan seorang diri setelah masuk ke mobilnya dan membuka ponsel yang sejak tadi ia abaikan.


.


.


.


Di sisi lain, Darier sedang berada di butik bersama Lucy. Keduanya berdiri bersilang dada sembari menatap Kiara Bell yang sedang duduk menunduk didepan mereka.


"Cy, kita apakan anak ini?" tanya Darier memecah keheningan, wajahnya terlihat angkuh dan marah.


"Kita apakan ya?" balas Lucy sembari bertopang dagu.


"Kita potong-potong saja, habis itu ditusuk-tusuk, kemudian kita panggang jadikan sate," usul Darier sembari membayangkan enaknya makanan khas Indonesia itu, pria itu bahkan sampai menjilat bibirnya sendiri. Lucy mengangguk setuju sembari menampilkan wajah penuh ambisi.


Sementara Kiara yang mendengarnya bergidik ngeri. "Kalian setega itu padaku?" tanya Kiara dengan kedua mata berkaca-kaca.


Darier dan Lucy hanya mengangkat kedua bahunya. "Kamu juga tega pada kami. Padahal kami sudah anggap kamu adalah teman baik kami, tapi ternyata semuanya palsu."


"Ta-tapi kan aku sudah jujur sama kalian," jawab Kiara sembari menahan tangis.


"Ck, itu pun kau baru jujur semalam." Darier berdecak, tangannya kini beralih berkacak pinggang.


"Hoi!" pekik seseorang dari belakang Darier dan Lucy.


Yosua teman Darier menyembulkan kepalanya dari tengah. "Kalian tidak bertanya pendapatku mengenai ini?"


"Kamu punya pendapat apa?" tanya Lucy.


"Tidak ada."


Senyap.


Hening.


Krik ... Krik ...


PLAKKK ...


"Ouch!" pekik Yosua ketika Darier menempeleng kepalanya menggunakan sebuah map.


Kiara yang melihat pun tidak dapat menahan senyumnya di antara tangis yang berderai. Jadilah ia seperti bocah yang bisa menangis dan tertawa setelah disogok permen.


Di antara kehebohan itu, tidak ada yang sadar bahwa sudah ada dua orang yang memperhatikan mereka. Alice berdiri sembari bersedekap di depan pintu ruangan Lucy.


Tampak juga Edric di belakangnya yang bergaya sama. Bersedekap dada, keduanya memasang wajah dingin bahkan tidak tersenyum sedikitpun ketika melihat momen lucu itu.


"Eh, Lice. Sejak kapan kamu datang?" tanya Lucy setelah melihat sahabatnya.


"Sejak kalian mengatakan akan membuat seseorang menjadi sate."


"Hah? Sudah selama itu?"


"Dan selama itu kalian tidak memberi hukuman apapun padanya?"


"Eh?"


"Memangnya kamu beneran mau melakukan sesuatu padanya?" bisik Darier di telinga Alice yang langsung di tepis oleh sang pawang.


"Ck, ini pak tua ngapain ikut sih?" dumel Darier memasang wajah cemberut.


"Kau bilang apa?" tanya Edric dengan sorot mata tajamnya.


"Ti-tidak ada, mana ada aku bilang sesuatu."


"Kau ...."


"Sudah!" potong Alice kesal. "Jangan bertengkar lagi. Itulah kenapa aku tidak mau Kakak ikut jika aku sedang berkumpul bersama teman-teman ku."


Alice menatap tajam Edric sementara Darier mundur kebelakang sembari menjulurkan lidah, mengejek sang kakak sepupu yang terlihat sangat kesal.


Gadis itu pun kembali menatap Kiara yang semakin menunduk. "Angkat kepala mu!" titah Alice sembari menatap tajam Kiara.


Dengan takut-takut Kiara mendongak, seketika air mata jatuh di kedua pipinya. Namun Alice sama sekali tidak mengubah raut wajahnya. Gadis itu tidak terlihat mengasihani Kiara sama sekali.


"Maaf," lirih Kiara dengan suara bergetar, masih berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Maaf katamu?"


"Apa pantas kamu meminta maaf setelah berpura-pura dan membohongi kami dalam waktu yang begitu lama?"


Kiara terdiam, ia sadar telah keterlaluan. Kiara adalah teman SMA Oliv, mereka berdua adalah gadis yang terasingkan. Karenanya mereka berteman dengan baik.


Tapi sejak masuk kuliah Oliv malah terkesan menjauhinya, hingga saat melihat Kiara dekat dengan Alice baru gadis itu menghubunginya. Memintanya untuk tetap berteman dengan Alice dan melaporkan semua yang Alice lakukan.


Kiara yang masih menganggap Oliv sebagai teman terbaiknya menerima hal itu. Terlebih ia merasa berteman dengan Alice terlalu monoton dan Alice adalah tipikal gadis dingin yang tidak begitu ia sukai.


Namun lambat laun, semua berubah. Bersama Alice dan lainnya ia merasakan kehangatan yang sebenarnya, tentang ketulusan dalam persahabatan yang tidak pernah ia dapatkan dari Oliv yang selalu memanfaatkan nya.


"Kenapa malah merenung?" tanya Alice membuat Kiara tersadar dari lamunannya.


"A-aku ...."


"Aku apa? Mau minta maaf lagi? Maaf mu tidak akan ku terima!"


"Aku akan menghukum mu!"


"Lice." Lucy mengelus lengan sang nona. Menurutnya mereka tidak perlu membuat dendam baru dengan membuat susah Kiara.


Sedangkan yang lainnya terdiam, melihat Alice yang sangat tegas, Edric pun berpikir bahwa kekasihnya itu tidak terlihat seperti gadis delapan belas tahun.


"Maaf mu tidak akan ku terima! Aku juga tidak akan berterima kasih karena kamu sudah mengakui semuanya sehingga kita bisa menggagalkan rencana wanita itu." Alice diam sejenak, matanya masih menatap Kiara dengan tajam.


"Lice, hiks."


"Ssttt! Dengarkan aku dulu! Kamu tahu kenapa seperti itu? Karena dalam persahabatan yang murni tidak akan ada kata maaf ataupun terima kasih yang menyertai."


Huaaa...


Pecah sudah tangis Kiara. Gadis itu langsung bangkit dan memeluk erat Alice yang ada di depannya. Yang lainnya pun menangis haru, hanya Edric yang masih datar tak berekspresi.


"Tapi kamu jangan senang dulu. Karena aku masih ada hukuman untuk kamu," ujar Alice sembari melerai pelukan gadis itu.


"Hukuman kamu adalah menjadi sahabat aku selamanya. Kamu tidak boleh menghianati kami, jika ada masalah harus berbagi dengan kami. Anggap kami bukan hanya sahabat mu tapi juga keluarga yang selalu siap mendengar semua keluh kesah mu."


Huaaaaaa...


Makin deras saja tangis Kiara. Ia kembali memeluk Alice dengan erat, diikuti Lucy, Darier dan Yosua. Sementara Edric hanya diam menonton, sebenarnya ia ingin marah karena dua anak ingusan itu telah berani memeluk gadisnya. Tapi Edric cukup tahu diri untuk tidak merusak suasana haru ini.


"Kak," panggil Darier sembari merentangkan tangannya. Pria yang dipanggil hanya diam, seperti biasa ia seperti patung yang tidak bergerak sedikitpun.


Darier yang jahil pun mendekat dan memeluknya erat. Baru saja Edric ingin protes, tapi langsung dibuat bungkam saat Alice dan yang lainnya ikut memeluknya. Kapan lagi coba bisa meluk dosen killer yang super tampan ini.


Akhirnya Edric membiarkan dirinya dipeluk bagai guling oleh lima sahabat ini. Ia pun merasa sedikit terciprat harunya hingga ia membalas pelukan mereka.


"Kak," panggil Darier.


"Hmm." Darier mendelik, ia tidak menyangka sang kakak sepupu mau menjawab panggilannya.


"Kak, kau jadi seperti induk ayam yang lagi mengerami anak-anaknya."


DUARRR ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Akhirnya End guys 🥺.


🌼🌼🌼🌼🌼