
"Karena dia aku jadi tidak bisa keluar kemanapun dengan penampilan seperti ini." Gadis itu merobek perban di wajahnya dengan kasar.
Tampak luka bakar yang menyeramkan. "Aku Sylvia Foster tidak akan melepas mu, Alice Lawrence!"
.
.
.
Flashback On.
"Akh, lepas! Siapa kau?" tanya Sylvia was-was. Tadi baru saja ia pulang dari bersenang-senang bersama teman-temannya, namun di tengah jalan di cegat oleh beberapa orang.
Dan sekarang ia berakhir di sini. Di sebuah gudang tak terawat nan gelap gulita. Hanya ada sebuah perapian tua yang membuat ruangan itu ada sedikit cahaya remang-remang.
"Siapa kalian? Kenapa menculik ku? Apa salah ku?"
"Kau serius bertanya apa salah mu? ... Salah mu adalah telah menganggu ketenangan tuan kami."
"What? Jangan main-main ya! Aku sama sekali tidak mengenali kalian apalagi tuan kalian itu."
"Bagaimana?" tanya Edric yang baru masuk.
"Itu dia, Tuan."
"Siapa kau? Kenapa menculik ku?" tanya Sylvia karena tidak dapat melihat jelas wajah orang-orang di hadapannya ini.
"Tidak perlu tahu siapa saya. Yang pasti kau telah melakukan sesuatu yang fatal."
"Hei, aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Kalian yang salah orang!" sahut Sylvia dengan suara bergetar, gadis ini sudah mulai takut.
"Hahaha ...."
"Kau hampir melenyapkan nyawa wanitaku dan masih mengatakan tidak melakukan apapun?"
"Wanita mu? ... Hei, A-apa itu?" Tubuh Sylvia bergetar hebat ketika melihat pria yang disebut tuan itu mengambil sebuah besi panas dari perapian.
"Ka-kau mau apa?"
"Merubah penampilan cantik yang selalu kau agungkan."
Flashback Off.
"ARGHHH!" Sylvia melempar semua barang yang ada di meja riasnya. Melempar bantal, spray, lalu beralih ke meja nakas hingga membuat kamar yang semula rapi kini berantakan bak kapal pecah.
Seorang pelayan yang mendengar keributan dari kamar sang nona hanya bisa menghela napas kasar, dalam keadaan ini ia tidak boleh mendekati nonanya itu atau ia sendiri yang akan menjadi imbas. Pikirnya sembari menatap tangan yang penuh luka cakaran Sylvia.
.
.
.
Beberapa hari kemudian.
Olivia sedang bersiap-siap di depan kamera seorang wartawan. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan sendu. Wartawan itu pun menatap prihatin.
Sedikit banyak ia sudah tahu apa yang akan gadis itu bicarakan nanti di depan kamera. Dan wanita ini pun geram, bagaimana bisa seorang putri dari keluarga terpandang bisa melakukan hal menjijikan seperti itu.
Sedangkan wanita di hadapannya ini, meski tidak berasal dari keluarga terpandang tapi mempunyai hati bak malaikat tak bersayap. Bahkan wanita ini rela menunjukkan diri dan menjelaskan semuanya di depan publik agar dampak skandal terhadap perusahaan Nelson akan berkurang.
Klik.
Kamera telah di nyalakan, mereka melakukan siaran langsung dengan topik Aldric Nelson Yang Dijebak. Sontak hal itu menarik perhatian publik.
Di luar apartemen, Haven sedang berdiri dengan tatapan kosong. Apartemen ini adalah miliknya yang ia berikan pada sang kekasih. Setelah mengetahui rencana Oliv yang akan membuka semuanya pada publik, Haven hanya bisa menerima keputusan itu.
Ia bahkan menyiapkan seorang wartawan untuk menemani Oliv dalam klarifikasi ini.
"Aku pergi," gumamnya lirih sembari menatap gedung tinggi menjulang itu.
Ia akan pergi sejenak karena ia yakin setelah siaran langsung ini, Olivia akan menikah dengan Aldric. Mengingat keluarga Nelson yang sangat menjaga nama baik, apalagi Oliv telah rela mengorbankan diri untuk membuat klarifikasi.
Dan pria ini tidak akan sanggup menerima kekasih yang sangat dicintainya menikah dengan orang lain di hadapannya sendiri. Maka dari itu ia akan pergi, menenangkan hati dan pikirannya sejenak. Walau entah kapan luka itu akan sembuh.
.
.
.
"Kau yakin tidak mau aku hentikan siaran langsung ini?" tanya Edric sembari menoleh ke samping menatap Alice.
"Tidak perlu, aku ke sini pagi-pagi karena merindukan Kakak. Bukan ingin Kakak lakukan sesuatu."
Edric tersenyum, semenjak hubungan mereka diterima gadis ini dan orangtuanya, Alice berubah menjadi gadis yang lebih manis dan sedikit manja. Hal ini tentu membuat Edric merasa senang, karena kini ia bisa lebih banyak melihat senyuman gadis itu.
"Aku juga merindukan mu, meski kemarin kita baru bertemu." Edric mendekap bahu Alice membuat gadis itu ikut tersenyum, ia peluk erat-erat lengan sang kekasih. Merasakan kehangatan yang langsung menjalar ke hatinya.
...
Kembali ke siaran langsung. Olivia telah bersiap untuk bicara.
"A-aku ... Namaku Olivia Bayle, mungkin kebanyakan orang masih tidak tahu siapa aku. Aku adalah seorang wanita miskin yang hanya mengandalkan beasiswa untuk kuliah di Blue Light University. Karena itulah aku mudah dimanfaatkan."
Wanita itu berhenti sejenak, terlihat air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Sungguh pandai bersandiwara.
Di saat yang sama, sebuah perusahaan penyiar terkemuka merilis sebuah berita yang jauh menggemparkan.
Siaran langsung masih berlangsung namun berita ini sudah muncul sebagai bantahan dari pihak lawan.
Dalam pelukan Edric, Alice tersenyum samar ketika ponselnya berbunyi tanda notifikasi masuk. Tatapannya masih menusuk pada layar televisi di hadapannya.
'Kita lihat apa julukan Queen Of Antagonist masih ada dalam genggaman ku atau tidak.'
...
Kembali ke apartemen, ponsel wartawan wanita itu terus bergetar namun tidak ia gubris. Ia tetap fokus pada siaran sembari sesekali bertanya pada Oliv. Begitu juga ponsel tersembunyi Oliv, dalam laci benda persegi panjang itu terus bergetar dan menyala.
"Lalu bagaimana skandal itu dapat terjadi?" tanya wartawan membuat air mata buaya itu semakin meleleh saja.
"I-ini semua karena aku dan Aldric dijebak oleh salah satu teman kami."
"Siapa itu?"
"Alice ... Alice Lawrence."
Seketika tangan Edric mengepal dan ingin mengambil ponsel agar siaran langsung ini dihentikan.
"Mau kemana?" tanya Alice sembari mencekal tangan sang kekasih.
"Menghentikan tayangan tidak berguna ini."
"Tidak perlu, justru semakin dia memojokkan ku akan semakin memuaskan hasilnya." Kening Edric mengerut, kenapa gadisnya sangat tenang ketika dituduh di depan publik seperti itu.
"Apa yang sudah kau lakukan sebelumnya?" tanya Edric dengan tatapan menyelidik.
"Lihat saja ponselku."
Edric mengambil ponsel Alice dan melihat notifikasi yang tertera di sana. Pria itu pun membukanya dan membaca isi berita itu.
Berita yang tentu membuat skandal semakin memanas dengan menampilkan foto-foto Aldric yang memang sudah sering berkunjung dan bermalam di tempat terlarang itu.
Terlebih ada juga foto Olivia yang berpakaian seksii sedang memapah Aldric ke sebuah kamar.
Melihat wajah Edric yang berubah membuat Alice sedikit tegang. Apa Edric marah padanya? Walau bagaimanapun Aldric adalah adik pria ini.
"A-apa Kakak marah?"
"Ya, aku marah!" Alice sedikit memundurkan tubuhnya. Dapat ia lihat dengan jelas kemarahan Edric dari kedua matanya yang tajam.
Edric semakin mendekat, menempelkan tubuhnya pada Alice yang sudah mundur hingga ke ujung sofa. Keduanya saling menatap dalam, hingga wajah keduanya nyaris tak berjarak.
"Aku marah karena kau tidak pernah mau meminta bantuanku dan selalu melakukannya segalanya sendiri."
Alice bernapas lega, ia mendorong kepala Edric hingga rambutnya sedikit tersibak dan menampakkan sebuah tanda kecil yang membuatnya penasaran sejak kemarin.
"Aku bukan tidak ingin mengandalkan Kakak. Tapi apabila masalah itu masih bisa ku atasi sendiri maka akan aku lakukan," jelas Alice sembari duduk normal kembali.
Sementara Edric menampilkan wajah cemberut. Alice pun mengecup pipinya agar pria itu tak marah lagi. Dan benar saja, pria itu langsung menoleh ke arah lain sembari menyembunyikan senyuman tertahannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼