Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 57 ~ Memilih Untuk Kembali



"Ara ... Alice," gumam seorang pria tampan yang duduk disebuah kursi aneh. Tubuhnya terpasang banyak alat yang entah apa fungsinya itu.


"ALICE!" teriak pria itu terbangun, tangannya refleks menarik penutup yang mengganggu penglihatannya.


"Sudah sadar?"


"Kau?"


"Kenapa? Kau seperti melihat hantu saja?"


"Alice, Ara. Dimana mereka?" tanya pria itu sembari mengedarkan pandangannya.


"Alice maupun Ara, keduanya telah mati."


"Tidak! Kau bohong kan?"


"Untuk apa aku berbohong? Bukankah kau sendiri yang melihat bagaimana cara mereka bisa mati?"


Pria itu terdiam, perlahan air mata mengalir dari sudut matanya yang sembab.


"So, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Sebelum masuk dalam 'Virtual Life' kau memiliki tiga nyawa. Dan sekarang satu nyawamu menghilang karena kau tidak bisa menyelesaikan misi," jelas pria itu.


Sementara pria yang adalah Darier di dunia novel 'Belenggu Cinta' itu, hanya dapat termangu diam, pikirannya sedang kacau saat ini.


"Hey ... Genio Asher, dengarkan aku!" bentak pria itu, membuat pria yang bernama Genio itu menoleh dan menatapnya nanar.


"Jadi ... kau masih memiliki dua nyawa untuk memperbaiki misi mu," lanjut pria itu membuat wajah Genio menjadi lebih cerah.


"Kau memiliki dua pilihan, kembali dan mengulang dari awal. Atau kembali dan memulai dari 10 menit sebelum Alice Lawrence diculik."


"Tapi sebagai teman yang baik, aku tidak menyarankan mu untuk kembali. Dan meski kau tidak kembali, bayaran mu akan tetap sama."


Genio terlihat bingung. Hatinya terasa nyeri ketika mengingat bagaimana Alice dan Kiara berakhir mati.


"Ingat! Bukankah adik-adikmu masih menunggu pulang?"


"Adik?" gumam Genio.


"Aku akan memberimu waktu 24 jam. Kau boleh memilih, akan kembali memperbaiki semuanya atau menerima apa yang terjadi dan menjalani kehidupan nyata mu lagi."


"Sekarang pulanglah!"


.


.


.


Butuh waktu tiga puluh menit untuk Genio sampai di panti asuhan Hieronymus.


"Teman-teman, itu kakak Gen! Kakak Gen datang," pekik seorang anak kecil pada teman-temannya.


Dalam sekejap Genio telah dikerumuni oleh segerombol anak kecil itu. "Oh, astaga. Apa kalian ingin membunuh kakak? Kakak tidak bisa bernapas ini."


Seketika anak-anak itu merenggangkan pelukan mereka. Semua wajah mereka tampak berseri-seri karena sudah lama tidak bertemu sang kakak.


"Genio," panggil seorang suster sembari tersenyum teduh.


"Suster," pekik Genio sembari membalas senyum sang suster.


Namun ia tidak bisa menghampirinya karena dua tangannya telah ditarik oleh anak-anak yang sekarang menuntunnya entah kemana.


Dua jam lamanya Genio menemani adik-adiknya bermain. Dua jam itu pula pikirannya kacau. Antara kembali memperbaiki semua atau menikmati hidupnya sekarang bersama adik-adik tercintanya ini.


Di sisi lain, suster bisa melihat Genio yang sedang melamun sembari bermain bersama anak-anak.


"Ih, Kakak. Cara main nya bukan seperti ini," ketus anak di sampingnya. Dari tadi ia merasa geram karena kakak Genio nya tidak pandai-pandai diajari permainan ini, padahal sudah ia contohkan dan praktekkan berkali-kali.


"Sini biar aku ajari lagi!" ujarnya sembari mengambil mainan dengan dua benda berbentuk bola yang dihubungkan seutas tali dari tangan kakak Genio nya yang lemot.


Anak itu lalu mempraktekkan cara main yang benar.


Genio tertawa. 'Ya, aku tidak akan kembali. Lagian mereka itu bukan manusia nyata. Ayla juga pasti telah kembali ke tubuhnya. Cukup sampai disini saja, aku masih memiliki mereka yang akan menjadi penyemangat ku," batin Genio berusaha meyakinkan diri.


Namun hingga malam tiba, pria itu tetap merasa gundah. Hatinya telah terlanjur dibawa mati di dunia itu. Hingga kini ia merasa hampa, tidak tenang.


"Anak-anak, sudah mainnya! Sekarang adalah waktunya istirahat," ujar suster sembari berjalan masuk ke ruang tengah tempat bermain anak-anak.


"Baik, Suster," jawab mereka serentak.


Semuanya bangkit berdiri, masing-masing membereskan apa yang mereka lakukan. Mainan, gambar, peralatan menulis, dan buku-buku.


Genio terlihat senang karena adik-adiknya jauh lebih mandiri dari terakhir kali ia berkunjung.


"Gen, dari mana saja kamu? Hah?" tanya suster sembari menjewer telinga manusia yang sudah ia anggap anak itu.


"Ampun, ampun, Sus," pekik Genio membuat anak-anak yang mengintip meledakkan tawanya.


"Kalian kalau nakal dan tidak mau tidur juga akan suster jewer seperti ini!" ancam suster sembari memandang ke arah anak-anak itu galak.


Sontak semuanya berlari masuk ke kamar masing-masing sembari tertawa gembira.


"Hah, kamu ini. Kemana saja kamu?" tanya suster sembari melepaskan jewerlan dan duduk di samping sang anak.


"Mencari uang lah, akhir-akhir aku lumayan sibuk. Jadi kadang tidak sempat untuk berkunjung."


"Kamu ini! Jangan terlalu keras, Nak. Uang yang kamu kirimkan seminggu yang lalu sudah cukup untuk kita menebus panti asuhan ini. Jadi panti asuhan ini sudah aman."


"Apa mereka tidak kekeh mau menggusur lagi?" tanya Genio yang diangguki oleh suster.


"Beberapa hari yang lalu ada orang baik yang datang kemari, mereka mengatakan panti asuhan tidak akan digusur dan meminta kita membayar kompensasi seadanya saja. Tapi setelah suster memberikan uang yang kamu kirim, dia malah mengembalikan uang itu sebagai donasi. Bahkan dia mengatakan akan menjadi donatur tetap di panti asuhan kita."


"Siapa dia?" Suster menggeleng, ia juga tidak tahu siapa orang baik itu.


"Suster tidak menyangka akan ada orang lain yang sebaik Ayla."


"Ayla?"


"Ya, Ayla Navala, gadis malang itulah yang menyokong panti asuhan kita selama ini. Kamu tahu sendiri tahun itu kita sangat terpuruk, tapi gadis itu memberikan uluran tangannya dan menyokong kita hingga bisa bertahan sampai sekarang." Suster menghela napasnya seraya menampakkan raut wajah sedih.


"Sayang sekali ia harus mengalami hal mengerikan hingga koma sampai sekarang."


"Ayla belum sadar?"


Suster menggeleng. "Bahkan tadi siang ada berita bahwa keadaannya memburuk sampai mendatangkan lima dokter ternama dari luar negeri."


'Memburuk?'


Hening sejenak tercipta.


"Sus, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, Nak."


"Aku ingin melakukan sesuatu, tapi aku ragu."


Suster tersenyum, tangannya terulur untuk mengelus kepala sang putra.


"Lakukan sesuatu bukan karena kamu ingin, Nak. Tapi lakukan sesuatu sesuai dari lubuk hatimu."


.


.


.


Malam semakin larut namun Genio tidak bisa tidur. Pria itu membolak-balikkan tubuhnya demi mengurai rasa kesalnya.


"Huh, kenapa tidak bisa tidur?" gerutunya seorang diri. Saat ini ia sudah pulang ke rumahnya sendiri. Sebuah rumah sederhana yang menjadi tempatnya menaung selama ini.


Terpikir sesuatu pria itu lantas meraih ponselnya, masuk ke mesin pencarian dan mengetikkan sebuah nama.


Ayla Navala.


Seketika layar ponselnya penuh dengan wajah gadis itu, lengkap pula dengan berbagai berita yang memang sedang hangat di perbincangkan.


Berita terbaru adalah dua jam yang lalu. Dan saat itu, Ayla masih dikatakan kritis.


"Aku sudah sadar, kenapa dia belum?" gumam pria itu, kembali merasakan denyut di lubuk hatinya. Terlebih ia kembali dibayangi oleh wajah Kiara yang sedang tersenyum padanya.


"Lakukan sesuatu bukan karena kamu ingin, Nak. Tapi lakukan sesuatu sesuai dari lubuk hatimu."


Teringat kembali perkataan suster yang membuatnya refleks memegang dadanya.


Dengan kecepatan kilat pria itu beranjak dan berlari keluar.


.


.


.


"Astaga, kenapa kau di tengah malam datang kemari?" tanya pria pemilik virtual life sembari menguap.


"Kembalikan aku ke dunia itu. Aku mau mengubah semuanya."


Sontak kedua mata pria yang tadi mengantuk kini terbuka lebar. "Kau yakin?"


Genio mengangguk.


"Besok saja, ya. Aku ngantuk sekarang."


"Tidak! Aku mau sekarang juga."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼