
"Kak, aku tidak mau ya kalau sampai Kakak bertindak lebih dulu," ujar Alice dengan tegas yang ditanggapi Edric dengan wajah datarnya.
"Kau punya rencana, Lice?" tanya Darier.
Alice mengangguk. "Kak, sepertinya aku perlu bantuanmu," ujar Alice yang membuat Edric berbinar. Ini adalah pertama kali gadisnya meminta bantuan, tentu akan ia turuti apapun itu.
"Apa?" tanyanya antusias.
"Besok akan ku sampaikan, aku harus memantau apa rencana mereka terlebih dahulu," ujarnya sembari kembali fokus pada suara sadapan mereka.
.
.
.
Esoknya, saat Alice pulang kerja.
"Hati-hati!" pesan Edric yang tak pernah bosan. "Iya-iya" jawab Alice dengan malas.
Gadis itu pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Lice, mereka mulai bergerak. Sejak tadi mengikuti kita dari belakang."
Alice mengangguk. "Kak, minta anak buah Kakak untuk bersiap-siap. Aku sudah hampir sampai di persimpangan."
Di mobilnya Edric mengangguk, seakan Alice dapat melihatnya.
Tiba-tiba di sisi kanan mereka terjadi keributan ketika sebuah mobil tidak sengaja menyerempet sebuah sepeda motor. Tidak parah, tetapi orang yang terserempet itu marah-marah dan meminta ganti rugi motornya yang rusak.
Hal itu berhasil menyita perhatian orang-orang, termasuk anak buah Sylvia yang sedari tadi terus mengikuti mobil Alice dari belakang.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil yang memiliki jenis, warna, dan merek yang sama dengan mobil Alice menyalip ke depan mereka tanpa mereka sadari. Sementara mobil yang dikendarai Alice berbelok kiri saat di persimpangan.
"Berhasil Lice," pekik Lucy ketika melihat mobil yang mengikuti mereka tetap berjalan lurus mengikuti mobil anak buah Edric.
Alice tersenyum kecil, gadis itu lalu memutar setir dan kembali mengikuti mereka dalam jarak aman.
"Itu mobil Sylvia."
"Iya."
Alice tetap mengikuti mereka, hingga mobil milik anak buah Edric dikurung di tengah dan diserang dari depan dan belakang.
"Kak, apa anak buahmu tidak akan apa-apa?" tanya Alice khawatir, bagaimanapun nyawa adalah hal yang sangat penting. Ia tidak mau selamat dengan mengorbankan orang lain.
"Mereka tidak akan kenapa-napa. Mereka adalah anggota terlatih, percayalah!"
Alice mengangguk ragu, terlebih ketika ia melihat sendiri kala mobil itu jatuh terguling ke dalam jurang. "Argh," pekik Lucy kaget.
Semua yang mengikuti diam-diam dari belakang pun tampak shock, terkecuali Edric. Pria itu tetap yakin akan kemampuan anak buahnya.
Tit.
Suara ponselnya bergetar tanda anak buahnya selamat dan baik-baik saja. "Tenanglah, mereka baik-baik saja. Barusan mereka mengirim sinyal padaku."
Alice pun bernapas lega, kini tinggal menunggu polisi datang dan membekuk mereka.
"Polisi dalam perjalanan, katanya sekitar 15 menit lagi sampai," kata Yosua.
"Target 2 dan 3 masih dalam mobil, kalau mereka kabur gimana?" timpal Kiara.
Alice pun menyambar sebuah topi, ia menutupi sebagian wajahnya dengan visor.
"Aku akan menahan mereka, kamu tetaplah di mobil!" pintanya pada Lucy yang ingin ikut keluar.
"Tapi."
"Tetaplah disini, kalian semua juga tetaplah di tempat!" pinta Alice pada semuanya, kemudian berlalu ke arah mobil Sylvia.
"Kau mau ngapain?" tanya Edric.
"Membuat mereka bertahan sampai polisi datang."
"Tidak boleh, biar aku dan anggotaku saja."
"Jangan, Kak. Jangan buat rencana kita menjadi berantakan karena kehadiranmu yang tiba-tiba."
"Jika bahaya datang, ada Kakak yang menjadi pawangku kan?" balas Alice sedikit merayu. Kini ia telah sampai di samping mobil Sylvia dan siap mengetuk.
Tok, tok, tok.
Tak berapa lama Sylvia membuka jendela mobilnya. Kedua wanita itu tampak shock kala melihat Alice yang berdiri di samping mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Alice pun berbicara, merangkai kata demi kata hingga berhasil membuat kedua wanita itu saling beradu argumen. Kemudian keduanya terdiam ketika sebuah telepon masuk.
Entah siapa yang menelepon, tapi Alice dapat melihat wajah Oliv yang tiba-tiba memucat. Oliv larut dalam panggilan itu sementara Sylvia berusaha mengupingnya.
Diam-diam Darier dan Yosua datang, Alice memberi kode dan keduanya berjongkok. Satu menabur paku di belakang mobil, satunya menabur di depan. Setelahnya mereka pergi termasuk Alice, karena polisi sudah datang.
"Target 1 dalam perjalanan kemari," ujar Lucy sembari memperhatikan lokasi terkini Aldric, sedangkan Malvin masih tetap di mansion.
...
Sementara di depan sana, orang suruhan Sylvia yang turun ke dalam jurang untuk mencari keberadaan Alice tidak menemukan apapun. Melihat bahan bakar mobil yang terus menetes, mereka takut mobil itu akan meledak dan memutuskan untuk kembali ke atas. Namun baru sampai di atas, mereka langsung dihadiahi todongan senjata dari polisi.
Sial sekali.
Setelah membekuk empat orang itu, dan mereka mengakui bahwa orang menyuruh tidak jauh dari sana. Para polisi menuntun mereka hingga melihat Sylvia yang mau kabur.
"Diam di tempat!" seru salah satu dari mereka. Pria itu mengangkat pistol yang berhasil membuat Sylvia menyerah, gadis itu mengangkat kedua tangannya dengan wajah tidak ikhlas.
"Ada satu temanku lagi, dia kabur! Kalian harus menangkapnya juga." Itu yang gadis itu katakan setelah berhasil dibekuk. Ia tentu tidak rela jika Oliv bisa kabur dan bebas, sementara ia harus mendekam di penjara.
Di sisi lain, Oliv berhasil kabur dan bersembunyi di bawah pohon besar. Wanita menghela napas lega ketika menyadari jaraknya dari tempat kejadian tadi sudah lumayan jauh. Apalagi hari sudah mulai malam, sehingga ia lebih mudah bersembunyi.
Namun sialnya, langit mulai bergemuruh. Tanda bahwa hujan akan segera turun.
Tidak jauh dari sana, Edric dan para anak buahnya sudah mengintai. Mereka tidak akan membiarkan wanita itu kabur begitu saja.
Namun kata Alice biar polisi yang mengurus semuanya, maka Edric hanya akan mengawasi dari jauh. Jika mengikuti caranya, maka sudah dari tadi Edric membunuh dua wanita jahat itu. Berani sekali sudah berniat mencelakai gadisnya.
Tes.
Hujan mulai turun malam itu, awalnya gerimis lama-lama menjadi deras. Dalam kegelapan wanita itu berusaha duduk beringsut agar tidak terkena air-air hujan.
DUARRR.
Oliv semakin beringsut, suara petir membuat tubuhnya gemetar. Ia memang paling takut pada petir, dulu di saat seperti ini mamanya yang selalu memeluknya penuh kasih untuk menenangkannya.
"Mama," gumamnya teringat pada sang ibu yang katanya sedang tidak baik-baik saja.
Entah kenapa hatinya merasa gundah. Dengan tangan bergetar ia meraih ponselnya, terlihat banyak sekali panggilan tak terjawab di sana tapi ia tidak peduli. Sekarang ia hanya ingin menghubungi sang ibu.
Tuttt.
Dalam satu kali kali bunyi, panggilan itu telah tersambung. 'Sudah ku duga, mama pasti akan baik-baik saja,' batinnya sembari mengembangkan senyum.
"Halo." Suara seorang pria yang menjawab, membuat Oliv mengerutkan keningnya.
"Darimana saja kau, hah? Kami menghubungi mu dari tadi sama sekali tidak diangkat," marah Haven di sebrang sana.
"Kenapa kau yang mengangkat ponsel mamaku?"
"Mamamu? Kau masih menganggapnya mama rupanya. Sudah terlambat, mamamu sudah meninggal."
DUARRR.
"AKHHH."
Oliv membuang ponselnya begitu saja, suara guntur memang yang paling ia takuti. Tapi apa yang dikatakan Haven tadi jauh lebih menakutkan.
"Hav. Katakan dengan benar! Tidak mungkin mama sudah tiada." Wanita itu berteriak, namun ponselnya telah mati. Entah karena kehujanan atau karena guntur.
"Argh. Tidak mungkin, tidak mungkin. MAMAAA," teriaknya dengan histeris. Hingga polisi yang memang sedang mencarinya mulai menyenter kearah sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼