
Alice pun menatap Darier penuh tanya, sementara Kiara semakin kesal saja. "Ya itu memang foto kakak sepupu ku. Seseorang saja yang terlalu percaya diri hingga mengira foto itu adalah dia."
"Kau!" geram Kiara.
...
"Aku punya alasan untuk curiga sama dia," lanjutnya sembari mengambil foto dan menempelnya di papan tulis sebagai tersangka kelima.
"Iya, tapi apa alasannya?" tanya Lucy.
Darier menatap Alice. Menyadari Darier tidak dapat mengatakan alasannya di depan semua orang, Alice pun berkilah.
"Menurutku, kak Edric memang sedikit aneh," ujarnya membuat yang lain akhirnya setuju, terlebih Edric adalah bagian keluarga Nelson yang menjadi musuh mereka.
"Tapi kamu kan kekasihnya."
"Ya, karena itulah aku merasa sikapnya sedikit aneh. Untuk lebih jelasnya kita harus mencari tahu siapa di antara mereka yang menjadi tersangka utama kita."
"Tunggu-tunggu, ini kita lagi main apa sih?" tanya Yosua yang tidak paham.
PLAKKK.
Kembali Darier menempeleng kepala pria itu.
"Rier," pekiknya tidak terima.
"Kita sedang mencari siapa musuh Alice yang paling berbahaya." Lucy yang menjawab.
"Wah, asik nih. Kenapa kalian tidak mengajakku dari awal?"
"Karena kau bodoh," sahut Darier yang dihadiahi tatapan tajam pria itu.
.
.
.
"Tuan, Anda kedatangan tamu," ujar sekretaris Bastian.
"Tolak siapapun itu!" Bastian yang sekarang sedang sangat-sangat pusing memilih untuk tidak menerima tamu manapun. Palingan itu adalah istri atau putranya yang tidak berguna.
"Tapi Tuan, yang mau bertemu adalah tuan Edric."
"Edric? Putraku?"
"Benar Tuan."
"Minta dia langsung masuk ke ruangan ku!"
"Baik, Tuan."
Sekretaris Bastian menutup telepon dan kembali menatap anak bosnya yang tampan mempesona.
"Hmm. Tuan, Anda sudah ditunggu di ruangan Tuan Bastian," ujarnya sembari tersenyum manis.
Edric hanya mengangguk, tidak membalas sapa atau sekedar tersenyum tipis sama sekali.
"Apa perlu saya antar, Tuan?"
"Tidak," balas Edric kemudian langsung berlalu menuju ruangan yang tidak jauh dari meja sang sekretaris.
"Dingin sekali," gumam sang sekretaris sembari menatap punggung pria itu.
Sementara di dalam ruangan Presdir, Bastian sedang menunjukkan senyuman terbaiknya untuk sang putra.
Tok. Tok. Tok.
"Masuklah, Ed!" ujarnya merasa sang putra terlalu sungkan.
"Ayo duduk!" pinta Bastian setelah Edric masuk dan menghampiri dirinya.
Edric pun menurut, pria itu duduk sembari memperhatikan sang daddy yang terlihat tidak terawat dan semakin kurus.
Dalam lubuk hati yang terdalam pria ini merasa sedikit teremas, namun rasa itu tidak bisa mengalahkan kekecewaan untuk sikap acuh tak acuh sang ayah selama bertahun-tahun.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Bastian memulai pembicaraan.
"Hem, aku baik. Bagaimana dengan Daddy?" tanya balik Edric.
"Seperti yang kau lihat, daddy baik-baik saja." Bastian tersenyum, berusaha untuk menyembunyikan semua lara di hatinya.
"Daddy semakin kurus," ujar Edric menatap sang ayah lekat.
"Benarkah? Daddy tidak merasa demikian."
Edric tersenyum, bagaimanapun hebatnya pria itu menyembunyikan keresahan. Hal itu terlihat jelas dari wajahnya yang kini tumbuh semakin banyak garis-garis halus.
"Aku tidak akan lama, Dad. Aku harus kembali."
"Kenapa cepat sekali? Daddy bahkan belum menyajikan apapun padamu."
Pria itu kembali tersenyum namun hanya sesaat, karena kini ia telah memasang wajah serius. Bastian bisa merasakannya, putranya ini memang memiliki aura yang luar biasa. Sedetik bisa tersenyum hangat, sedetik kemudian bisa menatap tajam seakan ingin memakan orang.
"Sebenarnya aku kemari ingin menawarkan sebuah kesepakatan," ujarnya tanpa basa-basi lagi.
Bastian menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu?"
"Aku bisa membantu Nelson Group untuk selamat dari ambang kehancuran."
Bastian menatap penuh tanya, pria paruh baya ini sadar bahwa Edric pasti tidak akan memberikan pertolongan secara cuma-cuma.
"Maksudmu Alice?" Edric mengangguk.
Bastian tersenyum penuh haru. Meski Edric melakukan ini ada maunya, tapi tetap saja ini merupakan pertolongan besar yang sama sekali tidak ia dapatkan dari orang lain.
"Terima kasih, Ed," ujar Bastian dengan mata berkaca-kaca.
"Aku anggap Daddy sudah setuju dengan persyaratan ku. Jika Daddy tidak menepatinya dan anak itu masih mengganggu kekasihku maka Nelson Group akan menjadi taruhannya."
"Tentu, Nak. Tentu."
"Kalau begitu aku permisi."
Edric bangkit dan berlalu dari sana, sementara Bastian masih termenung. Tidak menyangka bahwa perusahaanya masih bisa terselamatkan.
.
.
.
"Katakan, kenapa kau mencurigai kak Edric!" ketik Alice dalam sebuah pesan singkat kemudian mengirimkannya.
"Apa kau pernah lihat tanda di dahi kanannya?"
"Ya."
"Aku mendapat sepenggal ingatanku kembali bahwa orang yang melecehkan Alice asli hingga memutuskan bunuh diri adalah orang memiliki tanda seperti itu."
Alice tidak membalas lagi, gadis itu meletakkan ponsel di meja kerja sembari memejamkan kedua mata untuk mengingat-ingat tentang cerita yang Darier maksud.
Deg.
"Kenapa aku baru ingat?" gumamnya dengan hati terasa teriris. Bagaimana tidak? Baru saja ia merasakan cinta dan ternyata cinta itulah yang akan menghancurkannya nanti.
"Tidak, alur sudah banyak berubah. Tentang hal itu pasti juga berubah kan," gumamnya lagi sembari memberi kepercayaan pada diri sendiri bahwa kakak Edric nya tidak mungkin melakukan hal yang sama.
Deg. Deg.
Hatinya kembali terenyuh ketika mengingat tentang mimpinya semalam. Tentang Alice yang mengatakan bahwa ia terlalu larut dengan perasaan bodoh yang namanya cinta.
Apa ini yang Alice maksud? Apa ia telah bodoh dengan membuka hati untuk orang yang menjadi penyebab kehancurannya?
"Aku harus mencari tahu ini," tekadnya tidak ingin berasumsi sendiri begitu saja.
Dan pada sore harinya Alice pun berangkat ke rumah sang kekasih. Ia yakin pria itu belum pulang kerja dan ini menjadi kesempatan untuk dirinya mencari tahu secara diam-diam.
"Nona Lawrence," sapa salah seorang pengawal yang dulu pernah mengejar dirinya.
Alice mengangguk sembari tersenyum. "Apa kak Edric sudah pulang?"
"Belum, Nona. Biasanya bos pulang jam lima sore."
"Kalau begitu apa aku boleh menunggu di dalam?"
Para pengawal itu terdiam, selama ini siapapun tidak diizinkan masuk ke dalam rumah sang pimpinan jika pria itu sedang tidak di tempat.
"Aku ini kekasih bos kalian loh," tambah Alice ketika melihat keraguan di wajah para pria itu.
"Maafkan kami, Nona. Silakan masuk!" ujar mereka akhirnya setelah berpikir Edric pasti tidak akan marah.
Alice pun melajukan mobilnya setelah gerbang tinggi itu dibuka.
Gadis itu keluar dari mobil dan menatap bangunan megah di hadapannya. Dengan langkah gamang ia masuk ke dalam dan mengedarkan pandangan ke segala arah.
'Tidak terlihat CCTV,' batinnya waspada.
Semula ia duduk sebentar di sofa, setelah beberapa menit ia mulai beranjak dan berjalan-jalan sembari berpura-pura memperhatikan pajangan ruangan.
'Itu ruang kerja.'
Gadis itu pun memasang wajah penasaran, sebelah tangannya memegang gagang pintu ruangan itu.
Setelah terbuka ia melongok ke dalam. Berusaha terlihat sealami mungkin bahwa ia murni hanya penasaran saja. Meski tidak terlihat ada CCTV yang terpasang, tapi Alice yakin bahwa Edric yang memiliki kekuasaan di dunia gelap memiliki keamanan yang tidak biasa.
Ia mengedarkan pandangannya, kemudian merasa kagum dengan desain ruang kerja sang kekasih. Ngomong-ngomong meski sering kemari tapi ia sama sekali belum pernah masuk kesini.
Langkah kaki membawa gadis itu ke meja kerja Edric, di sana lagi-lagi Alice menunjukkan rasa penasaran dengan memperhatikan berbagai pajangan yang terletak manis di sana. Dengan perlahan ia menarik sedikit handle laci meja kerja.
'Tidak dikunci,' batinnya senang.
Laci pertama hanya ada dokumen kerja.
Laci kedua sama saja, tidak ada yang istimewa.
Gadis itu terus menunduk, ini laci paling terakhir.
'Apa ini?'
"Sayang."
Deg.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼