
"Hey! Anak buangan! Kau tidak mendengar apa kataku? Hahaha, baguslah. Sepertinya kau sadar diri tidak tepat berdiri di mansion ini. Pergilah, sana pergi sejauh mungkin!" Wanita itu berteriak sekuat tenaga. Bahkan setelah keluar mansion pun Edric masih dapat mendengar tawa menggema Valerie yang seperti orang gila.
"Bagaimana? Alice ada di dalam?" tanya Darier yang memang tidak Edric izinkan masuk.
Edric menggeleng, membuat Darier menghela napasnya kasar.
"Apa benar bukan kau yang menyembunyikan Alice?" tanya Darier dengan tatapan curiga.
Meski Edric telah menjelaskan asal usul tanda di dahi nya tersebut, tapi Darier masih belum bisa percaya sepenuhnya.
Sementara Edric tidak menjawab, pria itu hanya menunjukkan raut wajah malas untuk menjawab lagi.
"Bos, kami menemukan rekaman CCTV salah satu rumah di depan gang kejadian."
"Hanya ada dua mobil yang masuk ke sana pada waktu yang sama."
"Mobil yang pertama masuk ke salah satu rumah dan tidak keluar lagi sampai sekarang. Sementara mobil satunya keluar dari gang setelah dua puluh menit masuk."
"Lacak keberadaan mobil itu!"
"Siap, Bos."
.
.
.
Di tempat lain, yakni di desa yang Haven jadikan sebagai tempat menyembuhkan hati.
Terlihat pria itu sedang duduk di teras ditemani oleh Jack. Keduanya sedang mengobrol ringan sembari sesekali terkekeh.
"Jack, kenapa bibi Bella menjadi lebih pendiam. Bukankah dulu dia sangat perhatian dan banyak bicara?" tanya Haven, rasa penasarannya selama beberapa hari belakangan tak dapat ia belenggu lagi.
Jack menarik napasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan itu. "Ini semua karena putrinya, kau ingat kan putri bibi Bella yang pernah mengganggu temanmu dulu?"
Samar-samar Haven mengangguk, ia juga tidak begitu ingat dengan kejadian di masa kecilnya itu.
"Gadis itu terobsesi dengan seorang pria, dia melakukan apapun untuk bisa mendapatkan pria itu. Bahkan sampai harus pindah dari sini. Pada awalnya kami memang tidak tahu, tapi beberapa hari yang lalu gadis itu berbuat onar dan menjadi viral. Hei, bukankah kalian satu kampus? Dia juga kuliah di Blue Light University."
"Aku juga tidak tahu. Memangnya kau kira aku mengenal semua orang di kampus? Yang benar saja," protes Haven membuat Jack terkekeh.
"Tapi siapa namanya? Siapa tau aku kenal."
"Oliv ... Sebentar, aku ingat-ingat dulu nama lengkapnya."
'Tidak mungkin Oliv yang sama. Nama Oliv itu banyak yang punya,' batin Haven.
"Olivia Bayle. Ya, itu nama lengkapnya. Kau kenal?"
Deg.
"Kau tidak sedang berbohong kan?"
"Hey, untuk apa aku berbohong? Namanya memang Olivia Bayle."
'Sepertinya bibi Bella salah paham pada Oliv. Aku harus menjelaskannya.'
"Hey, kau mau kemana?"
"Aku mau jelaskan sesuatu pada bibi Bella, aku mengenal baik Olivia Bayle. Mungkin dengan aku berbicara pada bibi Bella dia bisa sedikit tenang."
"Oh, baiklah kalau begitu."
...
"Kau gila, Nak," pekik Bella yang langsung memenuhi gendang telinga Haven. Pria itu lantas memilih berdiri dulu di depan pintu kamar bibi Bella yang tidak tertutup rapat.
"Aku tidak gila, Ma. Aku hanya sedang memperjuangkan cintaku," sahut Oliv di sebrang sana.
"Kau lupa janjimu pada mama sebelum pergi, Oliv. Mama tidak pernah mengajarimu berambisi sampai seperti ini," ucap Bella sembari memegang sebuah handphone, air matanya mengalir deras.
"Oliv," panggil seseorang membuat Oliv menaruh ponselnya asal tanpa mematikan sambungan panggilan sang mama.
"Halo ... halo, Oliv!"
"Bagaimana? Apa akan kita lakukan malam ini juga?" tanya Melysa sembari duduk disebelah gadis itu.
"Tentu saja. Sylvia yang akan masuk duluan, jika tidak berhasil maka kita yang akan bertindak."
"Bagus, aku tidak sabar untuk menghabisi jaalang sialan itu. Berani sekali dia merebut pak Edric dariku."
"Kau benar, setiap kali mengingat tatapan penuh damba Aldric juga selalu berhasil memantik api iblisku untuk menghabisinya."
"Halo, Oliv."
Tut...
"Liv. Oliv. Mama belum selesai bicara!"
Wanita itu seketika oleng, handphone yang ia pegang seketika jatuh terbentur lantai. Sementara ia sendiri terduduk di samping ranjang.
"Bi, bibi tidak papa?" tanya Haven sembari masuk ke kamar bibi Bella.
Sementara Bella tidak menjawab, air mata terus mengalir membuat Haven sigap membantu wanita itu untuk bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Tuan ... tuan Haven satu kampus dengan putri saya kan?" tanya Bella setelah kesadarannya kembali.
"Benar, Bibi."
"Apa Tuan bisa membawa saya ke sana? Saya ingin menghentikan perbuatan gila putri saya," mohon Bella sembari menangis.
Sebenarnya wanita paruh baya itu sejak lama ingin mengunjungi dan menghentikan kegilaan sang putri. Namun apa daya ia tidak tahu menahu dan asing dengan kota Lotus, disini ia juga tidak memiliki sanak saudara yang bisa membantu.
Sementara meminta bantuan majikan tentu enggan ia lakukan, terlebih majikannya itu sangat sibuk. Sekarang ia berani meminta pada Haven pun karena tidak tahan lagi dengan sikap sang putri.
"Bibi ... mungkin Bibi salah paham pada Oliv. Aku mengenal Oliv, dia gadis yang baik. Tidak mungkin melakukan hal yang jahat."
"Tidak, Tuan! Putri saya telah berubah, dia bahkan ingin mencelakai seseorang sekarang."
.
.
.
Gelapnya malam membuat Alice tidak dapat melihat apa-apa. Gadis itu merasa tubuhnya sedikit bergetar ketika semilir angin malam datang berhembus melewati permukaan kulitnya yang memang hanya memakai pakaian santai berlengan pendek.
Kriet.
Suara pintu terbuka disertai setitik cahaya senter yang langsung mengarah pada wajahnya. Refleks gadis itu menutup kedua kelopak mata yang tidak mampu menyesuaikan cahaya itu.
"Halo, Alice Lawrence. Sudah lama ya kita tidak berjumpa."
"Sylvia."
"Haha, rupanya kau masih mengenali suara ku."
"Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya disekap dalam ruangan kumuh nan gelap seperti ini? Bagaimana rasanya menjadi diriku?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan berpura-pura Alice Lawrence! Kau tahu pasti bagaimana aku bisa mendapatkan ini." Sylvia menarik kasar masker yang ia gunakan kemudian menyorot wajahnya dengan lampu senter.
Alice tidak memberi tanggapan, gadis itu menunjukkan raut wajah yang biasa saja.
"Lihatlah, bahkan dalam keadaan tidak berdaya seperti ini kau masih bisa menunjukkan wajah angkuh itu?"
"Aku tidak tahu darimana kamu mendapat luka seperti itu. Tapi aku rasa luka itu membuat rupa wajahmu menjadi sangat cocok dengan hati yang kamu miliki," sarkas Alice sembari tersenyum tipis.
"Kau!" Sylvia mengepalkan kedua tangannya erat, gadis itu lalu merogoh sebuah pisau kecil runcing dari sakunya.
"Mari kita lihat apa kau masih bisa omong besar jika benda ini telah menancap di wajah cantik mu itu," ujarnya dengan seringai menyeramkan.
"Hahaha, aku tidak takut Sylvia. Lakukan saja! Setelah kamu melukaiku maka kamu tidak akan lepas dari orang yang merusak wajah cantikmu ini. Yah, walau kamu berhasil kabur tapi dia pasti akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun. Paling-paling hal paling ringan yang kamu terima adalah peluru yang bersarang di kepalamu. Kalau berat ya kamu akan ...."
"STOP!" pekik Sylvia. Gadis itu kembali mengepal kedua tangannya erat. Alice sungguh pandai bersilat lidah, membuat dirinya yang sebelumnya telah kukuh untuk membalas dendam kini muncul sedikit ragu di dalam hati.
"Awas kau!" ucapnya setelah itu bangkit dan pergi, meninggalkan ruangan yang kembali gelap gulita. Ia memilih menyerah, lagian nanti akan datang Oliv dan Melysa yang menangani gadis tidak tahu diri itu.
'Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau,' batinnya sembari tersenyum sinis.
"Huft." Alice bernapas lega. 'Kali ini selamat lagi.'
Gadis itu lalu berusaha bangkit dengan bertumpu pada tangan. Sulit tapi ia tidak boleh menyerah. Hingga entah usaha yang keberapa kali, baru ia berhasil mengambil posisi duduk.
Masih mengandalkan tangan yang terikat, Alice menyeret tubuhnya ke arah sebuah tiang yang tadi sempat ia lihat sebelum malam berkuasa.
Setelah kedatangan Sylvia ia yakin tidak akan ada orang yang akan berkunjung lagi hingga esok. Terlebih tadi ia mendengar sendiri Aldric harus pulang karena dihubungi seseorang.
"Hah ... Hah ...." Alice menarik napas panjang, lelah sekali rasanya. Sakit pun bersarang di tangan dan kakinya yang terikat. "Akhirnya," gumamnya setelah berhasil bersandar di sebuah tiang.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, gadis itu segera menggesek tali yang membelenggu tangannya di sudut tiang yang belum terbentuk sempurna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼