Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 64 ~ Mengecoh



"Baik, Bos," sahut orang suruhan Sylvia di depan sana. Mereka terus mengurung mobil Alice di tengah-tengah.


Hingga tiba di tikungan, mobil Alice dengan sengaja bergerak lurus hingga kehilangan keseimbangan dan berguling jatuh ke dalam jurang.


"Bos, mobilnya jatuh ke dalam jurang."


"Apa? Pastikan dia masih hidup atau sudah mati!"


"Baik, Bos."


"Argh, sialan. Mau mati saja masih nyusahin."


"Kenapa?"


"Dia sengaja menjatuhkan mobilnya ke dalam jurang."


"Bagus dong. Minta orang suruhan mu saja yang memastikannya. Jangan sampai dia masih hidup dan membuka mulut."


"Benar juga." Sylvia mengangguk, baru saja gadis itu menghidupkan mesin mobil.


Tok, tok, tok.


Terdengar ketukan dari jendela mobil. Seorang gadis yang memakai topi berdiri di sana.


"Siapa itu?"


Sylvia hanya mengedikkan bahu.


"Buka saja, kita pura-pura sedang mengantuk dan beristirahat sebentar."


Sylvia pun menurunkan jendela mobil.


"Siapa ya?"


"Aku," sahut gadis itu sembari membuka topi yang menutupi wajahnya tadi.


Seketika mata kedua orang itu membulat penuh ketika melihat siapa yang berdiri di sana.


"Ada apa? Kenapa kalian kaget sekali melihatku?"


"Al-Alice. Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa."


"Ma-maksudku bukankah kau kecelakaan?"


"Kamu dengar dari mana? Aku baik-baik saja. Lihatlah!"


Keduanya pun menatap Alice yang berdiri dengan pakaian yang masih rapi. Tidak ada sedikitpun bekas kecelakaan atau lecet pada tubuhnya.


"Lalu yang kecelakaan di depan sana siapa kalau bukan kau?"


"Kenapa kamu bersikeras bahwa yang kecelakaan itu aku? Apa jangan-jangan kamu yang merencanakan kecelakaan itu?" tanya Alice dengan tatapan menyelidik.


"Te-tentu saja bukan. Tadi ada yang berteriak kalau ada mobil Lexus UX warna merah yang kecelakaan. Jadi aku kira itu kau."


"Memangnya semua mobil Lexus UX warna merah itu punyaku?" tanya Alice dengan wajah polos. Sungguh ratu drama, pandai bermain kata, juga pandai dalam mengatur raut wajah.


"Sepertinya dia sudah tahu dan sengaja mempermainkan kita," bisik Oliv pada Sylvia.


"Kalau begitu kita serang saja, lagian dia sendirian."


"Hey, dia itu licik. Aku tidak yakin dia hanya sendirian."


"Kalian itu lagi berbisik-bisik apa?" tanya Alice menginterupsi.


"Memangnya kenapa? Bukan urusanmu juga."


"Kok kamu gitu? Padahal aku hanya ingin mengatakan kalau dokter yang kubilang kemarin bersedia menemui mu."


"Kau!" Sylvia hendak keluar namun ditahan oleh Oliv.


"Kenapa? Aku ini ingin membantumu loh. Sebagai sahabatmu, aku juga kasihan melihat mu yang tidak berani keluar dan bertemu teman-temanmu seperti biasanya." Alice menunjukkan wajah prihatin.


Sylvia mendadak jadi sedikit terharu. Namun gadis itu dengan cepat menepis semua perasaan itu.


"Oh iya, dokter itu sudah bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu denganmu."


"Benarkah?" tanya Sylvia spontan. Keinginannya untuk kembali memiliki wajah cantik membuatnya lupa akan semua dendam.


"Lalu kapan aku bisa bertemu dengannya?"


"Syl, kau jangan terpedaya. Jaalang ini hanya sedang beromong kosong."


"Haha, katakan saja kau tidak ingin aku sembuh. Karena jika aku sembuh maka Aldric akan lebih memilihku."


"Apa? Walaupun kau sembuh dan kembali cantik, Aldric tidak akan melirik mu."


"Hah? Kau ini percaya diri sekali. Padahal selama ini juga hanya dijadikan mainan."


"Bagus, kau memang terbaik, Alice!" pekik Darier yang dapat Alice dengar dari earbudsnya. Gadis itu bahkan sempat terkejut dengan suara keras pria itu, untung saja ia pandai menguasai raut wajahnya yang masih datar.


"Hey, kalau mau teriak itu bilang-bilang. Gendang telingaku bisa rusak nanti," gerutu Yosua.


"Aku hanya menyemangati Alice. Alice saja tidak protes, kenapa kau yang repot."


Perdebatan terus berlanjut hingga Alice yang mendengar jadi pusing sendiri. Apalagi Lucy dan Kiara mulai menimpali.


'Ya Tuhan, selamatkan telinga dan pikiranku,' mohon Alice di dalam hati.


Hingga tangannya terangkat ingin mematikan earbuds, terdengar sebuah suara dingin yang menginterupsi.


"Hentikan omong kosong kalian!" Sebuah kalimat yang berhasil membuat semua bungkam.


'Terbaik,' batin Alice lagi tidak jadi mematikan earbuds.


Sementara di dalam mobil, dua manusia itu masih berdebat dengan tegang.


Drttt, drttt, drttt.


Terdengar suara getaran ponsel yang berhasil membuat perhatian keduanya teralihkan.


"Haven?" gumam Oliv. Gadis itu mengerutkan kening, pasalnya Haven sudah lama tidak menghubunginya. Namun ia lebih memilih untuk mengabaikan panggilan itu.


"Kenapa tidak diangkat? Dasar wanita jaalang, sudah punya satu kekasih masih tidak cukup," sarkas Sylvia dengan sinis.


Kini keduanya tak lagi saling berbicara manis untuk saling memanfaatkan.


"Apa kau bilang? Kau yang jaalang! Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau selama ini selalu mendekati Aldric dengan memperalat Alice."


Alice yang mendengar itu sengaja mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"


"Dasar gadis bodoh. Kau tidak tahu kalau selama ini ia hanya memanfaatkan kebodohanmu."


"Kau!"


Drttt, drttt, drttt.


Lagi suara ponsel Oliv menginterupsi. Kali ini adalah panggilan dari majikannya, tuan Liam. Mau tidak mau, wanita itu pun menggeser tombol hijau di ponselnya. Ia mengangkat tangannya pada Sylvia agar gadis itu tak mengajaknya bertengkar lagi.


"Halo, Tuan. Ada apa ya?" tanyanya dengan sopan.


"Halo, Oliv. Mama mu tadi terjatuh di dalam kamar mandi. Sekarang keadaannya sangat tidak stabil."


"Mama?" gumam Oliv sedikit panik. Soal sang ibu, gadis ini memang sangat perhatian. Walau kadang ia tidak mau mendengar nasihat Bella yang memintanya untuk tidak mengejar Aldric lagi.


"Bibi Bella terpeleset, saat ini keadaannya darurat. Dia memintamu pulang." Kali ini Haven yang angkat bicara, pria itu sudah geregetan karena sejak tadi menghubungi gadis ini sama sekali tidak diangkat.


"Mama," gumam Oliv lagi dengan mata berkaca-kaca.


Tapi saat mengingat bahwa tadi siang mereka sempat berdebat dan berpikir ini adalah akal-akalan sang ibu untuk membuatnya pulang, Oliv jadi kesal sendiri.


"Kalian semua pasti berbohong agar aku mau pulang. Katakan pada mama, aku tidak akan pulang sebelum ambisi ku tercapai."


"Kami tidak bo ...."


Tuttt.


Oliv mematikan panggilan itu dengan kesal, di saat yang bersamaan dari depan dapat ia lihat segerombol orang sedang berjalan menuju mobil mereka.


"Siapa mereka?" tanya Oliv membuat Sylvia mengikuti pandangan gadis itu. Keduanya tidak menyadari apa yang terjadi. Oliv yang serius berbicara dan Sylvia terlalu serius untuk menguping.


"I-itu orang suruhan ku. Apa mereka tertangkap?" tanya Sylvia ketika melihat orang suruhannya dibekuk oleh beberapa pria berbadan besar.


"Cepat kabur! Sialan, kemana jaalang itu? Aku yakin dia berbasa-basi hanya untuk menahan kita agar tidak pergi."


Sylvia pun menyalakan mesin mobilnya. Namun naas, saat baru maju se-meter, mobil itu tidak bisa maju lagi.


"Ada apa ini?" gumamnya dengan panik, terlebih orang-orang itu semakin dekat pada mereka.


"Kita turun saja, sepertinya mereka sengaja merusak mobilmu."


"Argh, sialan!"


Kedua gadis itu pun turun, melihat paku-paku yang berserakan di depan mobilnya, Sylvia menggeram kesal. Sementara Oliv sudah berlari entah kemana. Wanita itu lebih baik menyelamatkan diri sendiri. Persetan dengan Sylvia. Ia sama sekali tidak peduli.


"Liv? Oliv," pekik gadis itu namun tidak menemukan rekan kejahatannya itu ada dimana. "Penghianat!" geramnya.


Ia pun kelabakan sendiri, dan memutuskan untuk berlari dari sana. "Diam di tempat!" seru pria berbadan kekar yang rupanya seorang polisi. Pria itu mengangkat pistol yang berhasil membuat Sylvia menyerah, gadis itu mengangkat kedua tangannya dengan wajah tidak ikhlas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼