
"Saya sebagai Daddy yang tidak berguna ini mohon maaf atas kelakuan putri saya. Tapi saya harap kerjasama kita akan tetap terjalin meski pernikahan anak-anak kita dibatalkan," ujar Barnett yang mendapat lirikan sinis dari Valerie.
Sementara Alice ingin sekali berteriak girang jika tidak mengingat ia harus berakting sebagai wanita yang akan ditinggal pergi.
...
Valerie tertawa keras, membuat senyum yang sejak tadi terpampang di wajah Alice seketika lenyap. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres. Dan benar saja, harapannya yang sudah setinggi awan kini jatuh melesat dengan cepat ke dasar bumi hanya karena satu kalimat yang Valerie ucapkan.
"Siapa yang bilang pernikahan ini akan batal?" ujar Valerie membuat semua orang terkejut kecuali Aldric. Pria itu masih tetap diam sembari menatap perubahan wajah sang tunangan. Kini ia semakin yakin bahwa kelakuan gadis itu hanyalah sandiwara belaka.
"Anak gadis kalian itu hanya berpura-pura, dia tidak seburuk itu," lanjut Valerie sembari tersenyum meski tampak sekali senyum itu dipaksakan.
"Maksud kamu gimana, Jeng?" tanya Evelyn yang merasa penasaran.
"Putri kalian ternyata hanya menggertak saja, dia ingin membuatku benci padanya. Haha, putri kalian memang aneh ya? Kebanyakan gadis di luar sana pasti berlomba-lomba untuk mendapatkan hati calon mertua, sedangkan putri kalian malah sebaliknya. Tapi aku senang, justru kamu unik Alice. Sepertinya Mom akan sangat menyukaimu."
Hah?
Rasanya Alice sudah jatuh, kini tertimpa pula dengan tangga. "Dari mana Anda tahu saya berpura-pura? Saya tidak berpura-pura, saya serius. Saya memang jahat, boros dan suka main sama ...."
"Alice Lawrence! Perhatikan caramu berbicara di depan orang tua!" sanggah Barnett dengan nada tinggi, berhasil membuat Alice terlonjak dan diam seketika.
'Siapa yang sudah membeberkan bahwa aku hanya berpura-pura? Padahal semuanya sudah terencana dan dapat dipastikan tidak ada yang tahu. Apa salah satu dari kami?' batin Alice sembari menatap Lucy tajam.
Lucy yang ditatap menjadi ciut dan menggeleng cepat, bukan ia yang mengatakan. Meski ia memiliki hubungan yang baik dengan Malvin, tapi kesetiaannya pada sang nona tidak akan luntur oleh siapapun.
Barnett yang melihat kode-kode antara sang putri dengan pelayannya seperti memikirkan sesuatu. Ia kemudian sedikit menarik senyum dan kembali fokus pada tamu di hadapannya.
"Valerie, maafkan putriku ini. Dia memang terkadang agak berbeda daripada putri keluarga lain."
"Haha, tidak masalah. Justru putrimu ini imut dan unik, aku menyukainya," balas Valerie sembari tertawa renyah, memberanikan diri untuk menatap pada malaikat pencabut nyawa jadi-jadian di hadapannya, namun segera menoleh ke arah lain ketika tidak sengaja bersitatap pada netra biru tajam itu.
"Aku juga sangat menyukai Alice yang sekarang, Dad. Dan tidak sabar untuk segera mengikatnya menjadi milikku." Aldric menambahkan, ia berbicara sembari menatap pada gadis pujaannya walau dibalas dengan tatapan tajam tapi pria itu tak gentar sama sekali.
"Kalau begitu kita majukan lagi saja tanggal pernikahan kalian," usul Barnett merasa semakin cepat ia menyerahkan sang putri maka semakin minim juga waktu untuk Alice berbuat ulah. Karena ia tahu setelah ini pasti putri pembangkangnya akan kembali membuat masalah.
"Saya sih bo ...."
"Tidak boleh! Saya tidak mau terburu-buru, apa kata orang nanti? Pernikahan yang tiba-tiba dan masih dipercepat, apa kalian mau saya dikira hamil di luar nikah dan membuat dua keluarga besar kita malu?" sanggah Alice kesal, kini ia tidak mau berpura-pura lagi. Ia akan menunjukkan secara terang-terangan sifatnya yang pembangkang.
Dan keberanian itu membuat Barnett semakin menghela napas panjang. Berusaha untuk menetralisir rasa emosi yang rasanya akan membludak.
Melihat aura yang sudah tidak nyaman akhirnya Bastian menjadi penengah. "Baiklah, perkataan Alice ada benarnya. Tanggal pernikahan akan tetap sama seperti rencana di awal."
"Om."
"Ya." Bastian menatap Alice, meski ia enggan mengingat penampilan absurd sang calon menantu.
"Tentu saja."
"Bagaimana jika saya menikah dengan orang lain."
"Alice, kau bicara apa?"
"Tenang, Nett ... Alice, penanaman modal hanya akan dilakukan jika kamu menjadi menantu di keluarga kami."
"Aku akan tetap menjadi menantu, Om. Menantu dari putra pertama Nelson." Alice tersenyum.
"Tidak bisa!" Kali ini Valerie yang angkat bicara.
"Kamu tidak boleh menikah selain dengan Aldric jika ingin penambahan modal dari kami. Jika kamu menikah dengan orang lain maka saham milik kami di perusahaan Lawrence juga akan kami tarik," ancamnya bersungguh-sungguh.
Berani sekali gadis ini menolak putranya berkali-kali, pikirnya. Sementara Aldric tersenyum miring, ia harus berterima kasih pada orang yang telah mengirimkannya bukti bahwa Alice hanya berpura-pura jahat.
Dengan bukti-bukti itu dan sedikit drama bahwa Alice telah berkali-kali menolaknya, Valerie langsung mendukung sang putra untuk mendapatkan gadis sombong ini. Mungkin ego inilah yang menurun pada sang putra, Aldric.
Akhirnya keluarga Nelson pulang setelah perdebatan singkat yang menekan Alice untuk tidak macam-macam jika ingin perusahaan keluarganya selamat.
Setelah kepulangan mereka, Barnett meminta Alice ke ruangannya. Di sana ia memarahi sang putri habis-habisan.
"Dasar anak tidak berguna! Jadi kau menghabiskan uang daddy hanya untuk hal seperti itu? Dan ini apa? Hah? Pakaian apa ini? Daddy benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu," marah Barnett sembari menunjuk-nunjuk dahi Alice. Ia luapkan semua kemarahannya yang sejak tadi terpendam. Terasa darahnya sudah naik dan mendidih.
Alice tertawa miris, matanya berkaca-kaca. Kata tidak berguna sudah lama tidak ia dengar sejak nenek renta yang mengadopsinya tiada. Dahulu dua kata itu selalu menjadi santapan di tiap harinya Ayla, saat melakukan sedikit kesalahan, belum membersihkan rumah bahkan saat sakit dua kata itu seakan menjadi obat penyembuhnya.
Memberanikan diri ia menatap sang ayah, matanya yang berkaca-kaca kini membawa cahaya kelam dalam bola mata safirnya. Barnett yang merasakan aura sang putri seketika berubah merasa sedikit terintimidasi, terlebih dandanan Alice memang agak menyeramkan.
"Aku memang anak tidak berguna, Dad. Karena itulah aku tidak mau menuruti ambisi Daddy. Aku tahu dengan pasti bahwa perusahaan Lawrence akan baik-baik saja walau keluarga Nelson menarik saham sepuluh persennya. Mungkin memang akan sedikit terguncang dan aku yakin Daddy bisa mengatasinya. Tapi apa? Daddy lebih memilih menjual putri Daddy sendiri hanya untuk memuaskan dahaga Daddy, untuk apa? Untuk semakin kaya? Dad, yang aku butuh tidak semata harta. Aku juga butuh kasih sayang kalian, Dad. Aku butuh perhatian yang tidak kalian berikan sejak kecil, meski kalian membalutku dengan kemewahan tapi semua itu hampa, Dad. Hampaaa ...."
Alice mulai menangis tersedu, mungkin ini bukan lagi luapan amarah Ayla, tapi ini sungguhlah luapan Alice yang sebenar-benarnya. Bahkan jiwa Ayla ikut merasa sakit ketika refleks mengatakan hal ini.
Barnett tergugu, melihat sang putri yang sebelumnya selalu menampilkan wajah dingin dan dilapisi dinding yang kuat kini menangis tersedu, entah kenapa membuat hatinya ikut berdenyut nyeri.
Sementara Evelyn yang berada di luar ruangan hanya bisa ikut menangis mendengar curahan hati sang anak yang begitu menyakitkan. Ia merasa gagal, tidak, sangat gagal menjadi seorang ibu yang baik.
Alice keluar dan melewati ibunya begitu saja. "Lice, Alice!" pekik Evelyn namun Alice sungguh menulikan sejenak telinganya. Sekuat apapun dirinya, ia tetap butuh sandaran sekarang. Dan sandaran yang ia butuhkan bukan bahu kedua orangtuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼