Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 47 ~ Kenangan Langka Versi Darier



"Haha, lanjutkan bermain mobil-mobilan nya. Aku duluan ya, bye." Setelah mengatakan itu, Alice berlalu dari sana meninggalkan Aldric yang terpaku.


"Sial, seharusnya dia yang celaka. Kenapa jadi aku yang kena getahnya," gerutunya sembari menatap luka-luka lecet kemudian beralih pada mobilnya yang hancur.


.


.


.


"Bagaimana kerja kalian? Bukankah sudah kubilang untuk menjaganya 24 jam," bentak Edric ketika mendapat laporan bahwa Alice hampir saja celaka tadi.


"Ma-maaf, Tuan."


"Tidak becus!" Edric meraih sebuah senjata yang memang selalu menemaninya, kemudian mengarahkan pada beberapa orang yang langsung menunduk dengan tubuh bergetar.


"Bo-bos, kami bukannya tidak menjaga nona Alice. Kami terus mengikuti mereka dari belakang dan siap bertindak kapan saja jika Aldric berbuat lebih. Tapi nona Alice ...." Pria yang mempunyai nickname Veen itu terdiam, jujur ia ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa dengannya?"


"Nona Alice jelas terlatih, Bos. Beberapa kali saat kami siap untuk menyerang mobil yang dikendarai Aldric, tapi nona Alice selalu lebih dulu menghindar dan membuat Aldric oleng sendiri. Dan terakhir nona Alice bahkan bisa menyeimbangkan posisinya di tikungan yang sangat curam dan ...."


"Kau kagum padanya?" potong Edric dan Veen mengangguk tanpa sadar.


"Berani kau mengaguminya?" lanjut pria itu lagi dengan tatapan tajam nan kelam sembari mengelus pistol yang ada di tangan.


Veen menelan ludah kasar kemudian menggeleng dengan cepat. Sungguh pria tak berprinsip, tadi mengangguk-angguk antusias sekarang malah menggeleng-geleng waspada.


Edric menghela napas, pria itu mencoba meredam kemarahan. Inilah yang anak buahnya syukuri, semarah apapun pria ini tapi tetap bisa mengendalikan emosi.


"Keluar sebelum saya berubah pikiran!"


Dengan setengah berlari mereka keluar dari ruangan sang pimpinan dan mengelus dada setelah berada di luar pintu.


Sementara di dalam Edric masih berdiri sembari memikirkan perkataan Veen tadi. "Terlatih?" gumamnya sembari mengerutkan kening.


Sebenarnya setelah dipikir-pikir, selama ini memang banyak sekali keanehan dalam diri Alice. Alice berubah menjadi gadis dingin, Alice pandai bela diri, dan sekarang Alice bisa mengendalikan mobil bagai pembalap profesional.


Namun itu semua tidak masalah bagi Edric, ia akan menutup mata dan menerima apapun yang Alice punya. Bahkan karena perubahan Alice inilah perasaan cintanya tumbuh.


.


.


.


"Indah sekali," gumam Ayla sembari tersenyum manis.


Lautan dandelion membuatnya terpanah, terlebih mereka terbang kesana kemari membuat Ayla memejamkan matanya. Menikmati lembutnya sentuhan bunga itu.


"Ayla."


Deg ...


Sebuah suara berhasil menarik kelopak matanya untuk terbuka. "Alice?"


"Ayla, kau melupakan tugasmu."


"Hah?"


"Tugasmu adalah membalaskan dendam ku. Tapi apa? Sepertinya kau terlalu menikmati hidup menjadi aku dan kau terlalu larut dalam suatu perasaan bodoh yang namanya cinta." Alice terdiam sejenak, gadis itu menatap lekat Ayla yang terlihat ragu.


"Apa kau tidak mau kembali ke tubuh aslimu lagi?"


"Aku ...."


"Ingat Ayla, kau bukanlah Alice yang asli. Tugasmu harus tetap kau lakukan, masalah kau boleh tetap menjadi diriku atau kembali ke dunia mu semuanya adalah kehendak ku."


"Alice."


"ALICE! Hah ... Hah ...." pekik Alice sembari membuka kedua netranya.


Gadis itu menarik napas panjang, wajah kecilnya terlihat shock dan sedikit pucat. Tangannya bergerak untuk menghapus keringat dingin di dahi.


'Aku harus mencari siapa yang sebenarnya membuat Alice mengakhiri hidupnya sendiri.'


...


Keesokan harinya.


Sebuah papan tulis terpasang cantik di hadapan 5 orang remaja. Di papan tulis itu terpasang wajah tiga tersangka utama mereka.


Yang pertama Aldric.


Yang kedua Olivia.


Yang ketiga Sylvia.


Melysa.


"Melysa?" tanya Alice.


"Ya, dia termasuk dalam komplotan. Dan yang mengirim bukti bahwa kita berpura-pura jahat pada Aldric adalah dia."


Alice mengangguk paham, sepupunya itu mengirim bukti pasti karena tidak mau pernikahan nya dengan Aldric batal. Karena jika batal Alice akan berhubungan dengan Edric. Pria yang notabene adalah pria yang gadis itu sukai.


"Apa aku harus memasang fotomu juga?" canda Darier membuat Kiara cemberut.


"Baiklah, sekarang giliran aku yang memasang foto," lanjutnya sembari menatap penuh jenaka pada Kiara.


"Kamu!" pekik Kiara tidak terima, ia berusaha mengambil foto yang digenggam oleh Darier.


Jadilah keduanya saling berebut tanpa peduli yang lain pada menatap mereka aneh. Pasalnya posisi mereka sudah terlalu dekat.


"Yes, dapat!" pekik Kiara tersenyum senang.


Gadis itu tidak sadar saja jika ia sedang memeluk leher Darier erat seperti seekor anak koala yang memeluk induknya.


"Apa sudah puas memelukku?" tanya Darier, senyum jenaka tidak lepas dari wajah tampannya.


Kiara menunduk, wajah keduanya saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Kedua pasang netra mereka saling bertaut. Senyum jenaka Darier pun mulai menghilang, diganti dengan wajah terpanah yang muncul tanpa sadar.


Cekrek.


Suara jepretan foto membuat kedua tersadar, Darier bahkan langsung mendorong Kiara hingga gadis itu jatuh ke lantai.


Brukkk.


"Auuu, kamu ini gimana sih? Seharusnya turunkan aku dengan benar," protes Kiara dengan wajah cemberut.


Gadis ini sejak mengakui semua rahasianya memang berubah menjadi lebih banyak bicara. Melihat Darier yang seperti menahan malu, Kiara menoleh ke kiri dan langsung dihadiahi tatapan mengejek dari tiga orang yang sedang duduk manis di sofa.


Kedua tangan gadis itu refleks terangkat untuk menutup wajah. 'Memalukan sekali,' batinnya. Tanpa sadar Darier kembali mengulum senyum melihat tingkah imut itu.


"Hey, kau foto apa tadi?" protes Darier setelah keluar dari mode malu.


...


Othor : Ternyata kamu punya malu juga, Rier? Kirain gak punya >.<


Darier : Ya ada dong, Thor. Tega banget dah sama aku.


Othor : Haha, ya udah deh. Sana lanjut kan scene mu.


Darier : Lah, salah siapa yang tiba-tiba motong.


Othor : Iya-iya. Udah sana, punya anak asuh satu bawelnya minta ampun.


Darier : Enak aja ....


Othor : Udah sana, shu ... shu ...


...


Pria itu menghampiri Yosua yang masih tertawa mengejek.


"Menang banyak kau, Bro," ujar Yosua sembari menunjukkan foto yang dia jepret tadi.


"Astaga," pekik Darier sembari memukul tangannya. "Dasar tangan tidak tahu malu, lancang sekali kau!"


Darier bergerutu sendiri membuat yang lain semakin mengeraskan tawanya. Sementara Kiara kembali duduk di sisi Alice dengan wajah kesal. Foto yang ia rebut diletakkan di atas meja dengan kasar.


"Berikan padaku!"


"Tidak mau."


"Kau tidak mau ikut petualangan kami lagi?"


"Ck, ini!" Yosua memberikan ponselnya dengan wajah sebal.


Darier tersenyum menang, pria itu mengirim foto itu dulu ke nomornya baru ia hapus kemudian. 'Lumayan, kapan lagi punya kenangan berani megang b0kong anak gadis orang,' batinnya.


"Rier, ini foto pak Edric?" tanya Lucy setelah membalik foto yang ditaruh Kiara.


Alice pun menatap Darier penuh tanya, sementara Kiara semakin kesal saja. "Ya itu memang foto kakak sepupu ku. Seseorang saja yang terlalu percaya diri hingga mengira foto itu adalah dia."


"Kau!" geram Kiara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼