
"Habislah aku," gumam Alice miris. Gadis itu menarik napas berat hingga kembali mengalihkan pandangan pada teman-temannya.
Dan melihat pemandangan di depannya Alice merasa jauh lebih baik, bahkan gadis itu tak kuasa untuk menahan tawanya.
"Haha, Kalian kenapa?" tanyanya sembari tertawa.
Semuanya langsung menggeleng dengan wajah pucat. "Tadi kita dengar apa ya?" tanya Lucy dengan polos.
Sementara Kiara memberikan respon menggelengkan kepala. Darier terlihat lebih santai daripada Yosua. Pria itu hanya lebih diam, mungkin efek mendengar suara itu yang membuatnya malu sendiri jika berbicara.
Sementara Yosua, pria itu masih belum berani membuka laptopnya lagi. "Laptopku sudah tidak suci lagi," gumamnya sedih.
Mendengar itu kini bukan hanya Alice yang tertawa, tapi semua yang ada di sana. "Hey, kenapa kalian tertawa? Seharusnya kalian ikut merasa sedih karena laptopku telah ternodai."
"HAHAHA," tawa semuanya, tapi tentu didominasi suara menggema Darier.
"Hey!" pekik Yosua tidak terima, pria itu lalu melempar bantal sofa pada Darier yang duduk di depannya.
Perang lempar melempar pun terjadi, diselingi oleh tawa menggema para anak muda itu. Terlihat sangat bahagia. Hingga ruangan itu kini telah kacau.
"Berhenti!" pekik Lucy.
"Lihatlah kerja kalian! Ruangan ku sudah tidak berbentuk," lanjutnya dengan kesal sembari memungut kertas-kertas desainnya.
Namun itu hanya sesaat, karena Kiara telah melempar kembali bantal sofa ke arahnya.
Bukkk.
Lemparan bantal tepat mengenai wajah gadis itu. "Kiara," geramnya membalas perbuatan gadis berkacamata itu.
Hingga perperangan kecil kembali terjadi.
BRAKKK.
"Astaga," kaget semua orang ketika pintu tiba-tiba dibanting seperti itu.
"Lama-lama rusak juga pintu ruangan ku," gumam Lucy kesal.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Edric ketika melihat ruangan di depannya yang seperti kapal pecah. Kini pikiran negatifnya semakin mendominasi.
Dengan langkah lebarnya pria itu masuk ke dalam ruangan. Pria itu menatap para remaja yang ada di depannya. Satu per satu hingga berakhir pada Alice yang berdiri kaku dengan rambut yang berantakan.
Hening.
Tidak ada lagi suara yang terdengar. Kelima remaja itu seperti sedang tertangkap basah berbuat mesum. Semuanya berdiri bagai patung, kicep.
Alice yang ditatap tajam hanya bisa menunduk. Gadis yang biasanya pemberani dan keras kepala itu sekarang bagai menjelma menjadi gadis kecil yang penurut di depan sang kekasih.
"Alice, sini!" Dan dengan patuh, gadis itu berjalan pelan menghampiri Edric.
Perlahan tangan Edric terangkat, membenahi rambut Alice yang berantakan. Lalu tanpa aba-aba pria itu meraih dagu Alice, menunduk dan melahap bibir gadis itu dengan sedikit kasar dan menuntut.
"Oh, astaga. Mataku," pekik Lucy namun tetap melihat dengan mata bulatnya.
Sementara Darier langsung menutup kedua mata Kiara. "Hey, aku mau lihat," ujar Kiara kesal sembari menarik tangan Darier.
"Kau belum cukup umur untuk melihat adegan ini."
"Oh, astaga. Kita hanya berbeda satu tahun."
"Sstt, diamlah atau kalau kau mau aku bisa praktekkan langsung padamu."
Pada akhirnya ancaman itu berhasil membuat Kiara terdiam dengan wajah tertekuk.
Di sisi lain Yosua menutup sendiri matanya, namun pria itu tetap menyisakan celah di jari tengah untuk mengintip. 'Dilihat dosa, enggak dilihat barang bagus.'
"Hmmp." Alice memukul pelan dad* sang kekasih. Gadis itu sudah kehabisan napas, wajahnya kini memerah. Edric perlahan melepas tautan itu, dengan lekat ia tatap wajah merah gadisnya.
Alice yang salah tingkah menjadi gelagapan dan ingin pergi dari sana. Terlebih ia tentu malu pada teman-temannya.
"Lice, kita belum dengar hasilnya loh," pekik Darier saat melihat Alice yang sudah melangkah melewati pintu.
"Ka-kalian saja yang dengar!"
"Eh, tidak bisa begitu dong. Kita harus dengar sama-sama." Kiara mendekati Alice lalu menarik lengan gadis itu untuk ia bawa kembali duduk di sofa yang kini sudah tak berbantal. Sungguh Alice tak dapat mendongakkan wajahnya, gadis itu terlalu malu sekarang.
"Apa yang mau kalian dengarkan?" tanya Edric menarik tangan Yosua dan mengambil tempat duduk pria itu yang memang berada di samping Alice.
"Ck, pria tua memang posesif."
"Saya mendengarnya."
"Eh, ma-maaf, Pak. Hehe," balas Yosua sembari cengengesan.
"Kira-kira sudah selesai belum?" tanya Yosua yang dijawab gedikan bahu teman-temannya.
"Itu loh, Pak. Kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang yang telah menikah."
"Apanya? Memasak?"
"Astaga, sepertinya bapak bahkan lebih polos dari kami."
"Kamu yang bilangnya tidak jelas."
"Anu loh Pak, kalau anu itu lama tidak?"
"Anu?"
"Itu, jeritan yang Bapak dengar waktu telepon tadi."
Blush.
Wajah Edric terasa memanas. Bagaimana para remaja ini bisa membicarakan hal seperti itu dengan kata-kata ambigu itu.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan disini? Seharusnya kalian ini belajar, apa jangan-jangan kalian nobar film seperti itu?" ujar Edric dengan tatapan tajam, terlebih tajam saat matanya terpatri pada sang kekasih.
"Eh, tidak, Pak." Kali ini Lucy yang berteriak, disusul semua yang langsung menggelengkan kepala dengan cepat termasuk Alice.
"Lalu?"
Kelima remaja itu pun saling memandang, melihat semua temannya yang menganggukkan kepala, Darier pun menceritakan semuanya. Tentang mereka yang menjadi detektif dadakan dan memulai penyelidikan hari ini.
"Kalian berani sekali ya. Bagaimana kalau ketahuan apa maksud kalian dan kalian kenapa-napa? Terutama kau, sudah aku bilang berulang kali untuk mengandalkan ku tapi tidak pernah mau kau dengar. Apa jangan-jangan kau belum menerimaku sebagai kekasihmu?" marah Edric dengan tatapan kecewa.
Alice menggeleng, gadis itu lantas meraih lengan sang kekasih untuk membujuknya. Malunya pun sudah menguap entah kemana.
"Bukan begitu, Kak. Aku hanya tidak ingin merepotkan Kakak," lirih Alice dengan wajah memelas, entah kenapa ia merasa takut jika sang kekasih ngambek.
"Apa lebih baik untuk merepotkan temanmu, begitu?"
"Bukan."
"Huh, baiklah. Mulai sekarang aku akan mengandalkan Kakak," ujar Alice tak lantas membuat Edric merasa senang. Pria itu masih memasang wajah masamnya.
"Kak ...," rengeknya namun Edric tetap bergeming.
Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi pria itu hingga membuat yang lain jadi senyum-senyum sendiri, tanpa kecuali objek kecupan itu.
Pria itu memang tidak sulit untuk dibujuk, cukup satu kecupan di pipi dan Alice tahu pasti itu.
"Kak."
"Hmm."
Alice tersenyum senang, sedangkan semua temannya memberi penghargaan. Ada yang memberi jempol, ada yang juga mengedipkan sebelah mata.
"Kau berani jeling-jeling pada kekasihku?" tanya Edric marah pada Darier.
"Astaga Kak."
"Sudah-sudah. Karena aku sudah memutuskan untuk mengandalkan Kakak. Jadi aku akan meminta Kakak untuk melakukan tugas pertama. Berikan earbuds nya!"
Yosua pun menghubungkan hasil suara sadapan mereka pada earbuds itu.
Akh, sedikit lagi, Al.
Sontak kedua kelopak mata Edric terbuka lebar. Pria itu bahkan langsung melepas dan membuang earbuds itu hingga terpelanting entah kemana.
Alice dan yang lainnya hanya bisa menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah Edric yang memerah begitu juga telinganya yang memakai earbuds.
"Jadi mereka belum selesai, Pak?" tanya Yosua dengan sengaja. Padahal dilihat dari ekspresi Edric tentu jawabannya adalah tidak.
Edric menarik napasnya berulang kali, pria itu merasa wajahnya semakin memanas. Meski merupakan seorang pria dewasa, tapi Edric masih awam dalam persoalan itu.
Setelah di rasa lebih baik, pria itu hanya bisa menjawab satu kata.
"Hampir."
Pecah sudah tawa kelima remaja itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼