Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 66 ~ Akhir



Melihat ada cahaya yang menyorot padanya, wanita itu segera beranjak dan ingin kabur. Dengan kasar ia menghapus air mata di pipinya.


Sembari terseok-seok, ia kembali ke jalan raya. Pikirannya masih belum jernih, di belakang para polisi pun masih mengejar.


"Auhh."


Wanita itu mengaduh ketika kedua lututnya harus tersungkur ke tanah pegunungan yang berkerikil. Air matanya terus meleleh, menyatu dengan air-air hujan.


Di sisi lain Aldric memandangnya dengan tajam dari dalam mobil. Pria itu datang karena diberitahu oleh anak buahnya. "Berani sekali dia berencana untuk membunuh Alice," gumamnya sembari berseringai iblis.


Kau anak durhaka.


Kau yang sudah membuat mamamu sendiri celaka.


Kau lah penyebab mamamu meninggal.


Entah suara siapa itu. Semuanya menyatu dalam kepala Oliv.


"AKHHH," teriaknya kacau.


"Berhenti di sana!" teriak seorang polisi dari jarak yang lumayan jauh.


Mendengar itu, Oliv kembali sadar. Wanita itu mendongak, samar-samar ia melihat sang ibu berdiri di jalan raya sembari tersenyum hangat. Kedua tangannya terangkat seakan meminta sang putri untuk kembali kepelukannya.


"Mama," gumamnya sembari tersenyum.


Wanita itu kemudian beranjak, berlari sekuat tenaga untuk menggapai sang ibu. Di sisi lain Aldric mulai melajukan mobilnya. Ia akan lenyap kan wanita pembangkang ini.


"Sudah ku bilang kan. Patuh maka aku tidak akan membuang mu dalam waktu dekat. Tapi kau tidak mau dengar, ini adalah kesalahanmu sendiri."


Mobil itu melaju dengan kencang. Sengaja pria itu menggunakan mobil illegal yang tidak akan dapat diidentifikasi siapa pemiliknya, terlebih ia telah mengganti plat nomornya.


Oliv telah sampai di tengah jalan, wanita itu berusaha menggapai tubuh sang ibu yang lenyap entah kemana. "Mama, mama," gumamnya lirih.


Hahaha, anak durhaka.


Mamamu tidak akan bisa kembali lagi.


Semuanya karena kau.


"Akhhhh," gadis itu kembali berteriak.


Tiba-tiba dari samping sebuah cahaya silau menyorot padanya. Wanita itu menoleh, menatap sejenak, kemudian tersenyum getir.


"Sebentar lagi kita akan berkumpul, ma," gumamnya dengan putus asa.


Sementara Aldric yang berada di dalam mobil dibuat terkejut ketika wanita di hadapannya menoleh. "Alice," gumamnya dengan panik.


Alice berdiri ringkih di sana, seakan tak berdaya dan pasrah untuk ia tabrak.


Cittt.


Aldric membanting setir ke kanan. Laju mobil yang terlalu cepat membuatnya tak dapat menyeimbangkan diri dan terpelanting karena jalanan yang juga licin karena air hujan.


BRAKKK.


BRAKKK.


BRAKKK.


Para polisi yang melihat pun tampak terperangah. Kejadian itu terlalu cepat hingga tak bisa mereka cegah.


Alice dan teman-temannya yang dilarang keluar dari mobil oleh Edric hanya bisa menganga dan membulatkan kedua mata mereka.


Refleks saja Alice ingin turun. "Nona." Salah satu anak buah Edric memperingati. Pria itu bahkan langsung mengemudikan mobilnya menjauh dari tempat kejadian.


"Hey, kami mau lihat keadaan Oliv," protes Lucy dengan gaya khasnya.


"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah Tuan."


"Huft."


...


Oliv telah diringkus oleh polisi. Wanita itu tak lagi melawan, tatapannya kosong. Kadang menangis dengan keras, tiba-tiba juga bisa tertawa bersamaan.


Sementara beberapa anggota polisi yang lain sedang berusaha mengeluarkan Aldric dari dalam mobil.


"Al," gumam Edric ketika melihat wajah pria yang telah berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.


Dengan kecepatan penuh pria itu berlari menuju sang adik. "Aldric," panggilnya ketika berhasil memangku sang adik.


"K-ak, ma-maaf kan a-aku," ujar Aldric dengan terbata-bata.


Edric mengangguk, kedua matanya memerah menahan air mata, tak kuasa untuk menjawab perkataan sang adik. Bagaimanapun mereka awalnya saling menyayangi.


"Maafkan kakak juga." Akhirnya sebuah kalimat tercetus kala Aldric mulai merasa sesak.


Mendengar itu, Aldric menggeleng. "Ka-kak ti-dak salah. A-aku yang sa-lah."


Pria itu memaksakan senyum di antara sakit di sekujur tubuhnya. Ia sangat bersyukur, sebelum maut menjemput ia masih bisa mengakui kesalahan dan meminta maaf pada sang kakak.


"Bos, dia sudah tiada," ujar Veen berusaha menyadarkan sang tuan.


"Tidak, Al. Bangun!" Pria itu berteriak dengan garang sembari menepuk kasar pipi sang adik, namun Aldric tetap bergeming.


Dalam hujan malam itu banyak kepedihan yang dirasa, kenangan demi kenangan muncul dalam benak Edric.


Bagaimana dulu saat Aldric mencuri makanan untuknya saat Valerie menghukumnya tidak boleh makan.


Bagaimana saat Aldric bersikap menyebalkan dan merebut apa yang ia miliki.


Bagaimana keduanya yang saling menyayangi meski pada akhirnya Aldric memilih jalan yang salah.


"Maafkan kakak juga," lirihnya sembari mengusap pipi Aldric yang basah karena darah, hujan dan air mata.


Oliv masih terus menggila hingga polisi kesulitan membawanya ke mobil. Mendengar suara Edric yang berteriak ia pun menoleh.


"ALDRIC," teriak Oliv ketika menyadari orang yang berbaring di sana adalah pria yang ia cintai.


Hancur sudah hidupnya. Untuk apa lagi ia bertahan, mama dan pria yang ia cintai telah tiada.


"Hahaha, mama pergi, Aldric juga. Aku ditinggal sendiri."


"Hahaha."


"ARGHHHH."


"Hiks, hiks."


Sementara di sisi lain, Alice berdiri di tepi jalan dengan wajah pucat. Gadis itu mengembangkan senyum yang sangat menyeramkan. "Akhirnya semua terbalaskan," gumamnya sembari menggenggam setangkai bunga dandelion dengan erat.


"Nona Alice," gumam Veen ketika melihat Alice berdiri di sana.


'Tidak mungkin, nona Alice kan ada di mobil.' Pria itu mengucek matanya kemudian melihat lagi.


'Loh, kemana dia?' batinnya sembari menggeleng, entah kenapa tiba-tiba bulu kuduk nya berdiri dan ia merasa merinding.


.


.


.


Hari demi hari terlewati. Satu bulan sudah sejak kejadian kelam malam itu.


"Kak, apa Kakak masih bersedih?" tanya Alice yang sekarang menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih.


"Dia adalah adikku, tapi aku merasa tidak pantas untuk bersedih untuknya."


"Kenapa berbicara seperti itu?" Alice mengangkat kepalanya, ia tatap wajah sang kekasih yang terlihat banyak menyimpan luka.


"Aku yang salah. Seharusnya aku tidak membiarkan dia mengambil jalan yang salah. Seharusnya aku bisa mencegah semuanya."


"Kak, ini bukan salah mu. Dia lah yang memilih jalannya sendiri, jangan menyalahkan diri Kakak. Aku yakin Aldric pasti bahagia jika melihat Kakak juga hidup dengan baik."


Edric menatap gadisnya lekat. "Kenapa kau memilihku daripada Aldric?"


"Emm, itu aku punya alasan tersendiri."


"Jadi kau punya tujuan?"


Alice mengangguk ragu.


"Baiklah, aku tidak mau mendengar alasanmu itu," ujar Edric, pria itu merasa alasan Alice memilihnya mungkin akan menyakitkan hati.


"Eh, Kakak yakin tidak mau mendengar alasan aku memilih Kakak?"


"Tidak mau."


"Ayolah Kak. Kakak harus tahu."


"Tidak, aku tidak mau dengar."


"Aku memilih Kakak karena ...."


"Lanjutkan maka aku akan mencium mu!"


"Karena ... hmm,"


Edric benar-benar merealisasikan ucapannya, pria itu menahan tengkuk Alice dan tidak membiarkan gadis itu melepaskan diri.


Alice yang awalnya memberontak pun akhirnya terlena. Gadis itu perlahan menutup matanya dan membalas ciuman memabukkan itu. Tangannya terangkat dan mengalung di leher Edric.


'Aku memilihmu bukan semata untuk menghindari Aldric. Aku memilihmu karena dari awal melihatmu aku yakin bahwa kamu adalah pelindungku, dan orang yang akan mencintaiku sebagai Ayla yang tidak pernah dicintai oleh siapapun.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


The End.


🌼🌼🌼🌼🌼