Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 45 ~ Jangan Harap Orang Lain Bisa Memilikimu



"Kak, kau jadi seperti induk ayam yang lagi mengerami anak-anaknya."


DUARRR ...


Sontak kelima sahabat itu melepas pelukannya dan saling memandang.


"Hahaha." Tawa menggema di ruangan itu. Kelimanya tertawa dengan riang tanpa peduli objek tertawaan mereka sedang menahan rasa kesal hingga matanya merah seperti mata banteng.


Di antara tawa itu, tawa Darier lah yang paling menggema hingga ia harus menunduk untuk menetralisir rasa sakit pada perutnya. Pria itu bahkan terus tertawa meski teman-temannya telah senyap dan terdiam.


Merasa aneh karena ruangan tiba-tiba menjadi senyap, Darier membuka kedua matanya. Seketika ia melotot ketika melihat banteng, eh tidak tapi kakak sepupunya yang sedang menatap penuh amarah padanya.


"Kabur!" pekiknya sembari berlari kearah luar ruangan. Namun sekuat apapun ia berlari rasanya sama sekali tidak berpindah tempat. Hingga ia merasa sakit di leher dan baru menyadari bahwa kerahnya tengah ditarik oleh Edric.


"Hehe, Kak ... Kakak sepupuku yang tampan dan mempesona, lepasin adik sepupu mu yang jelek, bodoh, dan tidak berguna ini ya," bujuk Darier sembari tersenyum gugup.


Sementara Edric tidak menjawab. Pria itu lantas melepas genggaman pada kerah Darier, membuat pria itu merasa lega karena sudah selamat. Ia bahkan membalik tubuhnya dan tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putih bersihnya.


Namun senyum itu tak bertahan lama, karena sedetik kemudian. "Aduhhh Kak. Lepas! Sakit Kak," pekik Darier namun Edric tidak menggubrisnya, pria itu tetap menjewer sepupu nakalnya ini. Sedangkan keempat temannya yang lain hanya saling berbisik di belakang sembari terkikik geli.


Darier menatap mereka dengan tajam, seakan memberi isyarat. 'Awas kalian!'


"Berani sekali kau melotot pada gadisku?" ujar Edric semakin mengencangkan jewerlannya.


"Argh, Kak. Lepas!" Darier berusaha memberontak, menggerakkan tangannya sembarang arah hingga tidak sengaja menyibak rambut Edric.


Seketika rasa sakit di telinganya seolah tak berarti lagi. Kini rasa sakit itu beralih pada kepalanya. "Argh, sakit."


Edric mengerutkan kening karena Darier tak lagi mengadu sakit pada telinga melainkan kini malah memegangi kepalanya. "Jangan berpura-pura," ujarnya dingin.


Namun Darier tak menjawab, pria itu tetap memegang kepalanya yang terasa sakit dan menyakitkan.


Melihat sang sepupu yang tidak berpura-pura, Edric melepas jewerlannya. Begitu juga dengan teman-temannya yang langsung mendekat dengan wajah khawatir. Namun belum mereka mendekat, Darier sudah berlari ke arah pintu. Pria itu kemudian membalikkan badannya dan menampilkan wajah tak berdosa.


"Wekk, kalian kena prank," pekik Darier sembari tertawa terbahak-bahak kemudian kabur dari sana.


Hening kembali.


Alice, Lucy, Kiara dan Yosua bahkan bisa merasakan hawa dingin yang berangsur-angsur menguasai ruangan.


"Lice, dia kekasihmu kan?" bisik Lucy membuat Alice menganggukkan kepalanya.


"Jadi dia urusan mu, ya," lanjut Yosua sembari menarik tangan Lucy dan Kiara meninggalkan Alice di sana.


"Hey ...."


Krikkk ... Krikkk ...


Alice menelan ludahnya kasar ketika melihat punggung tegap di depannya, terlebih gadis itu sangat ingat bahwa ia telah memarahi pria ini tadi.


.


.


.


"Akhh," lirih Darier seorang diri setelah masuk ke dalam mobil. Sebenarnya ia tidak sepenuhnya berpura-pura, kepalanya memang sakit walau tidak sesakit yang ia tunjukkan.


Ia memeramkan kedua matanya dan memikirkan tanda di dahi Edric tadi, sebuah tanda berbentuk huruf a menyerupai tato yang sengaja dibuat.


"Jadi kak Edric adalah orang yang sudah melecehkan Alice asli," gumamnya sembari mengacak rambutnya frustasi.


Pria ini baru mendapatkan secercah ingatan tentang penggalan cerita novel Belenggu Cinta, dimana dalam cerita itu terdapat gambaran orang yang melecehkan Alice asli hingga berakhir bunuh diri. Pria itu berbadan besar, tegap, tampan dan memiliki sebuah tato huruf a di dahi kanan atas.


Semua ciri-ciri itu benar-benar seperti diciptakan untuk seorang Edric. "Ah, aku jadi pusing."


.


.


.


Di tempat lain.


Kita diperlihatkan sebuah pemandangan yang memukau. Sebuah perkebunan teh membentang luas, warna hijau mendominasi memanjakan setiap mata yang memandang. Udara segar yang jauh dari polusi pun menjadi nilai tambah tersendiri bagi seseorang yang tengah patah hati. Walau ini adalah sore hari yang ditemani terik matahari tapi pemandangan desa ini sungguhlah indah nan mempesona mata dan hati.


Di jalan setapak yang kurang lebih hanya muat untuk dua orang pejalan kaki, Haven berdiri di sana sembari menatap lautan hijau yang indah. Walau tatapan itu terasa kosong, namun keheningan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan membuat hatinya merasa sedikit lebih nyaman.


"Jack?"


"Yes, I'm Jack." Haven memukul bahu sahabat lamanya itu.


"Sudah lama tidak bertemu, Jack."


"Benar, terakhir kau datang kita masih sama-sama mengenyam pendidikan sekolah dasar."


"Benar, dan kau tumbuh besar Jack. Aku tidak menyangka kau bisa tumbuh lebih tinggi dariku padahal dulu hanya sampai bahuku."


"Hei, apa kau sedang meremehkan ku? Aku sudah membuktikan perkataan ku yang dulu bahwa aku akan tumbuh lebih tinggi darimu."


"Baiklah-baiklah." Haven tersenyum geli.


"Jack, kau sedang berbicara pada siapa?" tanya seorang pria paruh baya.


"Orang yang tersesat, Ayah."


"What?" Haven memandang Jack kesal.


"Kau ini, sudah ayah bilang berapa kali. Jangan ikut memetik daun teh, apalagi di cuaca panas seperti ini," ujar ayahnya sembari membantu Jack melepas keranjang di punggungnya. "Sekarang bagikan minuman dan makanan ini pada para pekerja," titah sang ayah sembari memberi kode pada dua orang bawahannya yang mengikuti dari belakang.


"Baiklah, Ayah Bawel."


"Apa kau bilang?"


"Tidak ada, aku bilang baiklah Ayahku yang baik hati dan tampan. Para pekerja sangat beruntung punya bos sebaik Ayah," bohong Jack membuat ayahnya terkekeh.


Pria paruh baya itu semakin terkekeh dan menggelengkan kepalanya ketika melihat Jack bermain kejar-kejaran dengan anak salah seorang pekerja.


"Paman," sebuah panggilan membuat pria paruh baya itu menoleh. Keningnya mengerut ketika pria nyasar ini memanggilnya paman.


"Maaf, Anda siapa ya?" tanya nya bingung.


"Paman, ini aku. Haven, keponakan jauh paman."


"Haven? ... HAVEN!" pekik sang paman langsung memeluknya erat. "Sudah lama sekali kau tidak berkunjung, dulu tinggi mu masih segini dan lihat sekarang? Paman sampai tidak mengenalimu."


Ayah Jack itu terlihat antusias sembari memperagakan bagaimana tinggi Haven dulu, membuat Haven tertawa kecil. Sepertinya keputusannya untuk menyembuhkan hatinya yang terluka di desa ini adalah pilihan yang tepat.


.


.


.


"Bos," panggil Malvin melihat Aldric yang sedari tadi hanya berdiam diri menatap tajam sebuah bangunan di samping mereka.


Yang dipanggil hanya diam, matanya tidak berpindah arah. Tetap menusuk pada sebuah mobil hitam di parkiran Licy Boutique.


Tak lama berselang keluar dua orang yang langsung membuat hati Aldric bergemuruh. "Bagus sekali ya. Setelah menghancurkan ku, kalian sekarang bersenang-senang tanpa beban," gumamnya marah.


'Alice Lawrence, kalau aku tidak bisa memilikimu. Jangan harap orang lain bisa.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼


Behind the story.


"Wekk, kalian kena prank," pekik Darier sembari tertawa terbahak-bahak kemudian kabur dari sana.


Author 🤔 : Kemarin othor juga prank readers kalau kalian udah tamat 😨😨😨.


Darier : Yooo, Thor.


Author : KABURRR 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️


Sorry guys 🥺 👉👈


🌼🌼🌼🌼🌼