
Dengan segala cara wanita itu mengambil perhatian Malvin hingga fokus pria terbagi dan kecolongan dengan keberadaan sang tuan. Saat menoleh tak lagi terlihat Aldric di sana, mejanya telah kosong. Sontak pria itu berdiri dan segera berlalu mencari.
...
Di tempat lain, pria yang sedang dicari sedang tertidur di sebuah kamar. Di sisi tempat tidur, terdapat seorang gadis seksi dengan tubuh bak gitar spanyol sedang menatap pria itu penuh damba. Jari lentiknya meraba pelan wajah tampan Aldric.
Terlihat bibirnya menarik senyuman miring. Perlahan ia menunduk, mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir merah terangnya, kemudian menyesapnya dengan penuh semangat.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aldric membalasnya, tidak mau kalah. Keduanya saling berpaut cukup lama hingga gadis itu hampir kehilangan napas. "Alice ...," gumam Aldric sembari menatap sayu wajah di hadapannya.
Tampak kedua tangan gadis itu mengerat.
Alice ...
Alice ...
Alice ...
Kenapa selalu nama itu yang mengisi harinya, bukan hanya bersama Aldric tapi bersama kekasih yang ia manfaatkan pun nama Alice selalu terucap.
"Jaalang!" geramnya ketika mengingat sosok Alice dengan senyuman yang manis.
"Alice ..."
Rasanya gadis itu ingin sekali berteriak bahwa ia bukan Alice, tapi mengingat kesempatan ini susah didapat mau tidak mau ia akan memanfaatkan khayalan pria ini.
.
.
.
Sudah satu jam Malvin masih tidak menemukan keberadaan sang tuan. "Huh, kecolongan lagi," umpatnya kesal.
Ini adalah ketiga kalinya sahabat sekaligus bosnya bermalam di tempat seperti ini. Bukan berarti ia sengaja membiarkan pria itu terjerumus, tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk menggeledah kamar satu per satu.
Melapor pada Bastian dan Valerie? Mana ia berani. Yang ada bukan hanya Aldric yang dihukum, justru ia sendiri yang akan menerima lebih parah. Malvin hanya bisa menghela napasnya kasar.
Akhirnya ia juga ikut bermalam di sana, memesan sebuah kamar tanpa ditemani siapapun. Ia masih ingin menjaga diri untuk Lucy pikirnya, bukan seperti bosnya yang ditolak malah frustasi dan merusak diri.
"Kalau nona Alice tau, kau akan semakin ditolak bos," gumam Malvin sembari menatap langit-langit kamar tempat ia menginap.
Entah bagaimana ceritanya sang majikan bisa berakhir seperti ini. Apalagi di usia yang masih terbilang belia, meski mereka telah cukup umur untuk keluar masuk tempat seperti ini di Kota Lotus. Tapi tetap saja kelakuan sang tuan telah melampaui umur.
"Huh, sudah lah. Pasti anak itu sedang enak enak sekarang," gumamnya lagi kemudian menutup kedua netranya, berharap hari esok sang tuan akan kembali seperti biasanya tanpa membuat masalah.
.
.
.
Namun harapan Malvin tinggallah harapan, esoknya tersebar foto-foto mesra Aldric dengan seorang wanita. Meski wajah wanita itu disamarkan, tampak sekali itu bukan lah Alice. Warna rambutnya yang berwarna hitam pekat dan alisnya yang tipis sangat berbeda dari Alice yang memiliki rambut cokelat gelap dan alis yang tebal.
Sontak berita ini menjadi perbincangan hangat terutama di Kota Lotus.
"Baru saja seminggu yang lalu mengumumkan pernikahan, sekarang sudah ketangkap selingkuh."
"Iya, walau Alice dulunya nyebelin tapi aku tetap enggak membenarkan perbuatan Aldric ini."
"Menurut aku sih wajar, salah sendiri Alice pura-pura cuek sama Aldric."
Para mahasiswi Blue Light University berbincang, mereka bahkan sampai bertemu di kafe secara langsung hanya untuk membahas berita hangat ini.
Di sisi lain Bastian sedang kewalahan menghadapi berbagai telepon entah itu dari dewan direksi, investor, dan rekan bisnisnya. Pria ini berusaha menjelaskan bahwa foto-foto yang beredar hanyalah kesalahpahaman.
Namun baru satu tarikan napas, ponselnya kembali berdering. Ternyata panggilan dari asistennya.
"Bagaimana cara kau menekan berita ini? Kenapa semakin lama semakin banyak foto yang beredar?" Baru mengangkat telepon Bastian langsung membentak.
Ia bangkit berdiri dan mondar mandir. Kepalanya sangat pusing dengan kelakuan sang anak, terlebih lagi baik itu Aldric maupun Malvin sama-sama tidak bisa dihubungi.
"Maaf, Tuan. Saya sudah meminta perusahaan yang mempublikasikan berita ini untuk menghapusnya. Namun kekuatan netizen tidak bisa ditekan, Tuan. Semakin lama semakin banyak orang yang memposting foto-foto tuan muda. Sangat tidak mungkin untuk menghapusnya satu per satu, Tuan."
"Shiittt!" Bastian membanting ponselnya ke arah pintu yang baru saja akan dibuka oleh Valerie. Untung saja pintu itu belum terbuka sempurna hingga ponsel yang Bastian lempar tidak mengenai wanita itu.
"Astaga, Dad. Kenapa membanting ponsel seperti itu?"
"Ini semua karena putramu, Mom. Selain itu juga karena Mommy. Mommy yang sudah terlalu memanjakan anak itu. Jadilah sekarang dia berbuat masalah sesuka hati."
"Kenapa jadi menyalahkan Mommy? Daddy juga melakukan hal yang sama. Bahkan Dad lebih menyayangi Aldric dibanding anak Dad dari wanita miskin itu."
Bastian terdiam, sekarang ia menyadari bahwa ia telah menjadi seorang ayah yang gagal. Bukan hanya tentang kasih sayang, tapi juga tentang tanggung jawab.
Valerie memutuskan keluar agar sang suami bisa tenang. Jika ia terus berada di ruangan ini, ia takut mereka akan menghabiskan waktu hanya untuk bertengkar.
Bastian lalu jatuh terduduk kembali ke kursi kerjanya, kemudian meremas rambutnya frustasi. Harga saham Nelson Group kian menurun karena skandal dari anak pemilik perusahaan, sementara skandal itu sendiri tidak dapat dihentikan penyebarannya.
.
.
.
.
Di mansion keluarga Lawrence.
Alice sedang berbaring sembari memakai masker wajah. Tangannya tidak berhenti untuk menggulir layar ponsel di hadapannya.
"Lice, ini sarapanmu."
"Bawa kembali saja, Cy. Aku akan langsung makan di bawah."
"Baik lah." Meski merasa sedikit bingung, Lucy hanya bisa menurut. Tidak seperti biasanya, hari ini Alice tidak menghindar lagi dari sarapan bersama kedua orangtuanya.
Gadis itu membuka masker yang ia kenakan kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah. Bibirnya menarik senyuman manis. "Sampah memang harus dibuang!" gumamnya sebelum beranjak keluar kamar.
Sampai di meja makan, ia melihat wajah tegang kedua orangtuanya. Alice tersenyum simpul, dapat ia pastikan daddy nya yang haus kekayaan itu seribu persen akan membatalkan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
Dengan tenang gadis itu mengisi piringnya dengan nasi goreng tanpa mau dilayani Lucy. "Lice," panggil Barnett sembari menatap putrinya.
Alice membalas tatapan itu, tidak ada ekspresi yang bisa Barnett tangkap dari wajah sang putri. Yang ada hanya ekspresi datar, namun kedua netra biru safir tampak berseri-seri.
Alice menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya ada apa memanggilnya.
"Dengan sangat terpaksa, pernikahanmu akan dibatalkan," ucap Barnett sembari tetap menatap putri semata wayangnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
Halo semuanya, berhubung novel ini juga termasuk novel pertama othor. Dan konfliknya juga lumayan ruwet, mohon masukan dan sarannya apabila ada kesalahan penulisan atau yang lainnya. Terima kasih untuk kalian.
Salam Cinta dari si Somplak Darier 💙💙💙
🌼🌼🌼🌼🌼