Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 55 ~ Mengapa Memiliki Tanda Yang Sama



"Tigle adalah ...."


"Tigle adalah aku," sahut sebuah suara yang sangat mereka kenali.


Seketika cahaya menyorot pada mereka. lantai itu kini tak lagi gelap gulita meski cahaya tak sampai menerangi hingga ke ujung lantai.


.


.


.


"Kakkk, aku menang lomba dan diberi penghargaan oleh master," pekik Aldric dengan bangga sembari memamerkan tanda penghargaan di dahi kanannya.


Sebuah tato huruf 'a' yang melambangkan simbol dari sebuah organisasi.


Andonios.


Adalah sebuah organisasi beladiri yang tidak sembarang orang bisa berguru disana.


Aldric sendiri harus melalui pelatihan panjang hingga diangkat menjadi murid resmi organisasi tersebut.


"Bagus sekali," puji Edric sembari mengacak gemas rambut sang adik.


Saat itu Aldric berusia 17 tahun, sekitar satu tahun lebih yang lalu. Dan saat itu hubungan mereka masihlah kakak adik yang saling menyayangi, meski Edric sudah tak tinggal serumah lagi dengan mereka.


"Master bilang selama masa kepemimpinannya, hanya dua orang yang dia akui sebagai murid terbaik yang berhak mendapat tanda ini. Yang pertama adalah Lidra dan yang ke-dua adalah aku, Tigle," lanjutnya masih dengan senyuman bangga sembari membusungkan dada dan menepuk-nepuknya.


Sungguh seorang pria yang ceria dan tanpa beban di depan sang kakak. "Baiklah, adik kakak memang yang paling hebat. Kalau begitu ayo makan di luar sebagai bentuk perayaaan."


"Ayo!"


Seminggu berselang.


"Kak, aku mendapat tawaran untuk bergabung dalam sebuah komunitas," cerita Aldric dengan antusias, pria ini bahkan tidak segan langsung masuk keruangan sang kakak di Blue Light University. Meski dirinya belum resmi menjadi mahasiswa.


"Komunitas apa?" tanya Edric dengan tatapan menyelidik. Pria itu tidak ingin sang adik salah langkah.


"Black Eagles, bukankah itu nama yang keren?"


Edric terdiam, mencoba untuk berpikir dimana ia pernah mendengar nama ini sebelumnya.


Deg.


"Tidak boleh! Kau tidak boleh bergabung dengan mereka!" ujar Edric dengan tegas.


Black Eagles adalah komunitas penjahat ulung di Kota Lotus. Pendiam namun licin dan licik adalah sematan untuk komunitas tersebut.


"Kenapa tidak boleh?"


"Pokoknya tidak boleh!"


"Tapi kenapa, Kak? Apa karena Kakak tidak ingin aku mengalahkan mu?" tanya Aldric yang membuat sang kakak menatapnya tajam.


"Jangan Kakak kira aku tidak tahu bahwa Kakak adalah Lidra," lanjut Aldric dengan ketus.


"Kalaupun aku Lidra, bukan itu maksudku, Al. Kakak hanya tidak ingin kau salah pergaulan. Selain itu, kau harus fokus dengan ujianmu nanti."


"Pokoknya keputusanku sudah bulat. Aku mau bergabung dengan mereka dan Kakak enggak bisa hentiin aku."


"Al. Hey."


BRAKKK.


Aldric keluar dan membanting pintu ruangan Edric dengan keras.


Sejak saat itulah hubungan keduanya menjadi renggang. Aldric tak pernah lagi datang menemuinya, terlebih keduanya harus menjaga identitas seperti tidak saling mengenal saat di kampus.


Hingga saat Ayla yang berada di dalam tubuh Alice hadir, semakin rengganglah hubungan mereka hingga kini.


Kembali ke masa sekarang.


'Jadi ini alasan Aldric memiliki dua kepribadian,' batin Alice setelah melihat penampilan Aldric yang sangat berbeda.


Jika biasanya Aldric berpenampilan kasual, kini pria itu berpakaian serba hitam yang menunjukkan sisi dewasa nan kejamnya.


"Kenapa Alice sayang? Kau begitu syok saat melihatku. Apa aku terlihat keren?" tanya Aldric sembari berjalan mendekat. Sementara Edric langsung pasang badan di depan Alice.


"Ck, ck, ck. Kakakku benar-benar posesif."


"Apa maumu, Al?"


Pria itu menatap adiknya yang sangat berubah. Masih ia ingat dengan jelas setahun lebih yang lalu hubungan keduanya masih terbilang sangat baik. Pria itu juga masih merupakan Aldric yang bertindak sesuai anak seusianya.


Namun sekarang mereka seperti terpisah oleh sebuah lautan luas yang tidak akan pernah kembali bersama apabila keduanya tidak ada berusaha.


'Dalam satu tahun dia bisa menjadi orang nomor dua di komunitas itu. Aku harus berhati-hati.'


"Kak, bagaimana kalau kita bertarung sebentar. Aku ingin melihat siapa yang akan menang antara Tigle dan Lidra."


"Cukup bermain-mainnya, Al. Sadarlah, dan biarkan aku membawa kekasihku pergi!"


"Hahaha." Aldric tertawa. "Kekasihmu? Dia adalah tunanganku!"


"Jangan lupa pertunangan kita sudah batal." Kali ini Alice yang berbicara, gadis itu keluar dari punggung sang kekasih dan berbicara dengan sinis.


"Oh, Sayang. Ada apa dengan tubuhmu? Kenapa banyak sekali lukanya?" tanya Aldric sembari menatap tubuh Alice.


"Banyak luka pun disebabkan oleh mu."


"Aduh ... galak sekali. Tapi kamu semakin galak malah semakin menggemaskan. Aku jadi ingin memelukmu dalam dekapan ku." Aldric menatap Alice penuh damba.


Pria itu lantas mengangkat tangan kirinya kemudian mengayunkannya ke depan.


Para anak buah yang mengikutinya di belakang pun maju sepuluh orang. Perkelahian pun lagi-lagi terjadi. Alice yang masih terluka pun harus ikut turun tangan.


"Hahaha, aku tidak mengira seorang Lidra akan seceroboh itu. Pergi tanpa persiapan dan hanya membawa beberapa orang bawahan," ejek Aldric dengan suara lantang, agar Edric yang masih sibuk bertarung bisa mendengar.


Sementara Edric tidak acuh, pria itu memilih untuk tetap fokus pada lawan hingga ketiganya bisa mengalahkan sepuluh orang itu.


"Lanjut!" titah Aldric dengan santai.


Edric pun memberi kode pada Veen. Inilah saatnya anggota bayangan mereka muncul.


"Jangan gegabah Kakak," pekik Aldric sembari tersenyum penuh arti.


"Tahan dulu dan perlihatkan pada mereka hadiah apa yang sudah kusiapkan!"


Barisan pertama bawahannya pun menyingkir ke samping. Dan terlihatlah empat orang anak remaja yang kedua tangan mereka terbelenggu oleh anak buah Aldric.


"Teman-teman," lirih Alice.


Keempat temannya itu pun hanya bisa memasang wajah senang. Karena bisa melihat wajah Alice lagi walau entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Bagaimana? Nyawa mereka ada di tanganmu, Kakak."


Edric menghela napasnya kasar, perlahan ia meluruskan telapak tangannya untuk mengurungkan perintahnya pada Veen.


"Keputusan yang bagus, Kak. Sekarang bersiap-siaplah untuk menerima serangan lagi."


Perkelahian pun kembali terjadi. Saat semuanya sibuk, Lucy memberi kode pada teman-temannya. Dalam kedipan matanya yang ketiga, keempat remaja itu kompak menginjak kaki orang yang membelenggu tangan mereka dengan keras.


"Argh," pekik para penjahat itu tertahan. Hingga berhamburlah semuanya, dan Edric segera memberi kode agar anggota bayangannya muncul.


Dalam sekejap anggota itu muncul entah darimana, ada yang melompat naik dari bawah, ada yang turun dari atas bahkan ada yang datang dengan berayun pada tali tambang.


Perkelahian pun semakin memanas dengan anggota Edric yang tidak seimbang. Meski ditambah anggota bayangan, jumlah mereka masih terbilang lebih sedikit. Namun walau kalah jumlah, mereka tidak kalah unggul sebab mereka semua adalah anggota terlatih milik Armstrong.


Lucy dan Yosua pun ikut bertarung sementara Darier berdiri di tepi gedung. Pria itu akan menarik perhatian para penjahat dari sana.


Berdiri disana ia memiliki tiga kemungkinan, yang pertama berhasil membuat penjahat tak bisa menyeimbangkan diri dan terjun ke bawah, yang ke-dua dia sendiri yang akan dibuat terjun. Dan kemungkinan ke-tiga adalah tidak ada yang jatuh, namun itu mengharuskannya untuk kabur.


'Nasib tidak bisa berkelahi,' batinnya.


"Hey, Om Botak. Kita bertemu lagi," pekik pria itu sembari memasang wajah menyebalkan.


"Kau? Tidak akan kubiarkan kau lepas lagi sekarang!"


"Tidak usah banyak bicara, ayo kesini!"


Pria berbadan besar itu pun mendekat, sementara di sisi lain Kiara terus melempar bola-bola semen yang membuat pria itu oleng dan jatuh tertelungkup namun tidak sampai terjun ke bawah.


"Sialan kalian! Aku tidak akan melepas mu!"


Namun saat bangkit kedua anak muda itu telah pergi entah kemana. "Argh," geramnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼