
Padahal tanpa ia ketahui, kecupan itu Aldric lakukan karena kalah taruhan dari teman-temannya, tidak lebih dari itu. Bahkan saat mereka bertemu kembali pria itu tidak mengingat Olivia sama sekali.
"Uwekk, kalian membuatku ingin muntah karena mengecup anak jelek itu!" protes Aldric pada teman-temannya setelah ia berhasil menjalani tantangan tak masuk akal itu.
.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah kafe. Alice sedang berkumpul bersama Lucy, Kiara dan Darier. Keempatnya saling bercanda dan tertawa riang.
"Ternyata usaha kita selama ini seakan tidak ada artinya. Sudah capek-capek kita bersandiwara tidak menghasilkan apapun, sedangkan saat kita diam malah dengan sendirinya apa yang kita inginkan tercapai begitu saja," ujar Lucy sembari tertawa konyol.
Alice mengangguk, ia pun tidak menyangka akan semudah ini lepas dari ikatan seorang Aldric.
"Kalian masih tidak seberapa, aku yang paling menderita. Harus berpakaian dan berpenampilan seperti om om tapi pada akhirnya tetap ketahuan," timpal Darier dengan wajah yang dibuat-buat cemberut.
Seketika tiga gadis itu menyerangnya. Alice menoyor dahinya, Lucy mencubit gemas pipinya, sementara Kiara mencapit hidungnya.
"Aduh-aduh, ampun. Tolong! Aku dikeroyok tiga gadis," teriaknya dengan suara full. Namun penghuni kafe itu sama sekali tidak menolong, mereka malah tertawa merasa lucu. Bahkan ada yang merekam momen tersebut.
"Hey-hey. Kalian rekam apa? Hah?" tanya pria itu marah sembari bangkit berdiri. Sedangkan tiga orang gadis yang bersamanya terus terkikik, benar-benar terlihat seperti momen yang sangat bahagia.
Namun dalam wajah yang terus tertawa, Kiara malah merasa bersalah dalam hati. 'Maafkan aku,' batinnya sedih, entah apa yang ia perbuat.
.
.
.
"Bos!" pekik Malvin setelah menemukan keberadaan sang tuan yang ia cari kemana-mana.
Tadi saat bangun tidur ia langsung dikejutkan dengan foto-foto sang bos. Dengan cepat ia keluar dan mencari Aldric, namun mobil pria itu tidak lagi terlihat. Mengira Aldric telah kembali ke mansion, ia pun masuk ke mobilnya dan ingin menyusul.
Namun niatnya urung ketika melihat mobil Aldric kembali masuk ke parkiran. Pria itu pun segera keluar sembari memekik menghentikan langkah Aldric yang terlihat terburu-buru.
"Bos, kau dalam masalah!" ujar Malvin ngos-ngosan setelah sampai di hadapan Aldric.
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Ia juga merasa aneh ketika ia berbelanja tadi, banyak orang yang memandang sinis ke arah nya.
"Ada apa?"
"Kau belum tahu?"
Aldric mengedikkan bahunya membuat Malvin langsung merogoh ponsel. "Ini, lihatlah!"
Kedua bola mata Aldric seketika akan melompat keluar saking besarnya ia melotot. "Sialan!" umpatnya dan dengan emosi ia berjalan masuk.
Berani sekali gadis itu mempermainkannya? Akan ia perlihatkan apa akibatnya mempermainkan seorang Aldric.
"Bos, Bos mau kemana?" tanya Malvin sembari mengikuti langkah sang majikan yang terlihat emosi. Namun Aldric tidak menjawab. Tangannya meremas sebuah paper bag yang ia bawa.
"OLIVIA!" teriaknya menggema setelah masuk ke dalam kamar yang beberapa saat lalu ia tinggalkan. Oliv yang mendengar teriakan itu tersentak, tangannya memegang kimono dengan erat. Wajahnya pucat dan memasang ekspresi ketakutan.
"Wanita murahan! Kau menjebak ku? Hah?" Aldric mencekik leher Olivia dengan kuat. Tampak sekali pancaran kemarahan dari kedua netranya yang semakin tajam dan kelam.
"Uggh. A-apa maksud-mu?" tanya Oliv dengan terbata-bata. Tangisnya telah pecah, wajahnya memerah kehabisan napas.
"Bo-Bos, apa yang kau lakukan? Kau bisa membunuhnya," pekik Malvin memperingati majikan sekaligus sahabatnya itu. Entah kerasukan apa Aldric sampai bertindak seperti ini. Ia bahkan seperti tidak mengenali siapa pria dihadapannya ini.
"Uhuk ... uhukk."
Oliv terbatuk-batuk, mulutnya terbuka lebar untuk mengambil napas sebanyak-banyaknya. Gadis itu bahkan langsung lemas dan terduduk di lantai.
"Lihat! Apa ini! Jangan berpura-pura tidak tahu atau aku akan membunuhmu!" tekan Aldric sembari melempar ponsel Malvin ke lantai.
'Ponselku 😭,' batin Malvin pedih. Untung saja layar ponselnya kuat seperti sang pemilik sehingga tidak retak sedikitpun.
Olivia menatap layar ponsel yang menunjukkan foto mesra Aldric dengan seorang gadis, yang dapat dipastikan adalah dirinya sendiri.
"A-aku tidak tahu apa-apa. Aku sama sekali tidak tahu kapan foto ini diambil. A-aku benar-benar tidak tahu apapun," ujar Oliv masih terbata, wajahnya terlihat frustasi, air matanya tak lagi terbendung.
Benar-benar seperti seorang wanita yang terpedaya, padahal ia sendirilah yang penuh tipu daya.
"Bohong!" Aldric berjongkok, menatap Oliv dan menjambak rambutnya membuat wajah Oliv mendongak ke atas.
"Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga!"
"Akhh, aku sungguh tidak tahu apapun. Hiks, a-aku hanya disuruh ke sini oleh A-alice."
"Jangan membawa-bawa nama tunanganku!"
'Cih, tunangan?' batin Oliv sembari menahan sakit.
"A-aku tidak bohong! A-aku diundang oleh Alice ke sini. Di-dia bilang Lucy ulang tahun, dan ingin kami merayakannya bersama. Dia bahkan minta a-aku jangan bilang ke Haven karena ini pesta khusus untuk wanita."
"Lucy ulang tahun?" tanya Malvin yang sejak tadi diam.
"Ulang tahun Lucy sudah lewat beberapa bulan lalu, aku bahkan masih memberinya hadiah," tambahnya dengan ekspresi bingung.
Aldric menatap tajam wanita dihadapannya, mencari sedikit saja kebohongan dari kedua mata wanita itu. Namun tidak ada yang ia temukan selain tatapan pedih yang menggambarkan seberapa frustasinya Olivia.
Cengkraman nya seketika mengendur. "Jika kau berbohong ...."
"Aku ada buktinya!"
"I-ini lihatlah! Ini riwayat chat Alice kepadaku. Dia yang memintaku kemari." Olivia menunjukkan ponselnya, Aldric yang melihat benar itu adalah pesan dari Alice masih tidak begitu percaya.
Hingga tatapan mereka beralih pada ponsel Malvin yang masih tergeletak di lantai. Sebuah notifikasi bahwa Lucy sedang melakukan siaran langsung. Aldric langsung mengambil dan menekan notifikasi tersebut.
Tangannya meremas ponsel Malvin dengan sangat kuat. Di siaran itu terlihat betapa cerianya mereka berempat bersama, Alice bahkan tersenyum sangat manis. Namun senyuman manis itu membuat Aldric yakin bahwa sungguh Alice yang menjadi dalang masalah ini. Mereka seperti sedang merayakan sebuah kemenangan.
'Ya Tuhan, selamatkan lah ponselku,' mohon Malvin sembari menatap sedih ponsel kesayangannya.
"Arggghhh!"
PRANG...
Pada akhirnya Malvin hanya bisa menatap nanar ponselnya yang kini benar-benar hancur. Tangannya refleks memegang dada yang terasa ngilu. Mau marah tapi tidak berani, itulah nasibnya selama ini.
Sementara Aldric meremas rambutnya sendiri, pria itu terlihat sangat marah bahkan lebih dari saat ia mencekik Oliv tadi. Oliv yang baru pertama kali melihat sisi lain Aldric merasa sedikit takut, tapi tidak masalah. Justru kebencian inilah yang ia harapkan.
'Segitunya kau ingin lepas dariku? Sampai menjebak ku dengan cara seperti ini? Hebat sekali kau Alice Lawrence,' batin Aldric, kedua matanya terlihat merah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼