
Pria berbadan besar itu pun mendekat, sementara di sisi lain Kiara terus melempar bola-bola semen yang membuat pria itu oleng dan jatuh tertelungkup namun tidak sampai terjun ke bawah.
"Sialan kalian! Aku tidak akan melepas mu!"
Hanya kalimat itu yang selalu ia katakan, namun pada akhirnya ia selalu melepaskan dua anak muda itu. Dan saat ia berhasil bangkit, kedua orang itu telah pergi entah kemana. "Argh," geramnya.
.
.
.
Bugh. Bugh. Bugh.
Melihat kondisi yang tidak sekondusif tadi, Aldric pun berjalan dengan santai ke arah Alice. Pria itu memberi kode agar para bawahannya mengepung gadis itu hingga Alice kewalahan, terlebih kekuatan gadis itu terkuras sejak sore tadi.
"Emmm." Alice memberontak ketika Aldric membungkam mulutnya dengan satu tangan pria itu. Sementara tangan satunya membelenggu kedua tangan Alice.
Namun Alice tetap kalah tenaga. Kedua netra biru safir nya menatap pada Edric yang masih sibuk melawan dan tidak menyadari dirinya yang dibawa pergi.
"Emmm ... emmm." Gadis terus memberontak dengan menggerakkan seluruh badannya dan menendang, namun Aldric sangat sigap menghindar. Bahkan pria itu berhasil membawa Alice keluar dari kerumunan.
"Hehe, kau tidak bisa kabur lagi, Sayang."
Bugh.
"Argh." Aldric refleks melepaskan belenggunya pada Alice ketika sesuatu yang keras mengenai punggungnya.
"Ara," pekik Alice meraih tangan gadis itu dan menariknya berlari bersama dari sana.
"Sial," geram Aldric, terlebih ketika ia melihat Edric yang bela-belain berlari ke arah Alice tanpa peduli dihadang dan dipukul oleh para bawahannya.
Di ujung lantai yang gelap, seseorang sedang tersenyum sinis sembari mengepalkan tangannya. Gadis itu menggenggam sebilah pisau yang Alice jatuhkan sebelumnya dengan erat.
'Jaalang! Bahkan dia bisa membuat dua pria memperebutkan nya dalam keadaan kacau seperti ini.'
'Sepupu saja sudah tidak peduli lagi,' lanjutnya membatin sembari mengingat Melysa yang tergeletak tak berdaya di lantai lima.
'Tapi itu bagus, kau membantuku membalasnya, Alice Lawrence.'
'Dan aku akan membantunya membalasmu!'
Gadis itu berseringai menyeramkan. Melihat Alice yang kembali ikut menyerang, ia belum boleh gegabah. Ia akan menunggu waktu yang pas terlebih dahulu.
...
Di sisi lain, Haven bersama bibi Bella telah sampai di tempat itu. Keduanya langsung berjalan naik, semakin tinggi semakin jelas suara pertarungan yang terdengar.
Fajar pun telah menyingsing, sehingga mereka tidak lagi membutuhkan pencahayaan meski penglihatan mereka masih agak-agak remang.
"Argh!" pekik bibi Bella tertahan ketika Haven membungkam mulut wanita itu.
"Sstt, kita harus hati-hati, Bi!" bisik Haven setelah bibi Bella agak tenang.
Tubuh wanita paruh baya itu terlihat bergetar ketika melihat keadaan di depannya.
Dua kubu yang saling berkelahi dengan banyak korban yang tergeletak tak berdaya di lantai. 'Apa ini perbuatan anakku?'
Di tempatnya berdiam, Oliv merasa tidak aman lagi karena pagi akan datang. Gadis itu mulai terlihat keberadaannya meski belum ada yang menyadari.
Namun kesempatan untuknya datang begitu cepat, Alice sedang disudutkan oleh beberapa pria ke arahnya berdiri. Tanpa mengurung waktu lagi, Oliv berlari dan menusuk pisau yang ia genggam dengan kuat.
Jleb.
"Akh."
Alice tergugu di tempat. Waktu seolah berhenti di saat itu, semua orang terfokus pada kejadian itu dan menghentikan sejenak perkelahian yang terjadi.
"Ara," gumam Alice sembari jatuh berlutut, dengan tangan bergetar ia raih tubuh gadis yang telah menjadi tameng untuknya.
"ARAAA!" pekik Darier sembari memberontak dari belenggu om botak. Ya, pria itu berhasil om botak tahan setelah beberapa kali gagal.
"Lepaskan aku! ARAAA!" teriaknya histeris sembari bergerak gila hingga belenggu om botak itu terlepas.
"Hahaha, dia pantas mendapatkannya. Dia pantas mendapatkannya, dia sudah mengkhianatiku. Dia pantas mendapatkannya." Oliv tertawa seperti orang gila.
"Nak!" pekik bibi Bella keluar dari persembunyiannya diikuti Haven.
"Ma-mama, kenapa mama kesini?" gumam Oliv dengan panik.
Sementara dalam pangkuannya Alice, Kiara terlihat sangat lemah. Gadis itu sampai memuntahkan darah.
"Bertahanlah, Ara," mohon Alice sembari menangis.
"Ara, Ara bangun. Jangan tidur! Jangan memejamkan matamu!" pekik Darier panik, baru saja ia merasakan cinta. Apakah secepat ini sudah mau pergi?
"Ma-maaf kan, a-ku," lirih Kiara dengan terbata-bata sebelum akhirnya memejamkan mata untuk selamanya.
"ARAAA!" teriak Darier menggila, sementara semua teman-temannya terpaku shock. Mereka bahkan tidak menyadari lagi bahwa mereka telah berhasil terbelenggu oleh pihak lawan.
"Kau! Wanita gila," pekik Darier ingin menyerang Oliv, namun bibi Bella duluan berlutut di depan mereka.
"Putri Anda telah membunuh kekasihku!" pekik Darier.
"Ya, saya tahu. Saya tahu kekasih Anda tidak akan kembali. Karena itulah, perempuan ini juga harus membayarnya," sahut bibi Bella sembari mencabut pisau yang masih tertancap di tubuh Kiara.
"Dia juga akan kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya."
Jleb.
"MAMAA!" pekik Oliv. Wanita itu meraih tubuh sang ibu dengan tubuh bergetar.
"Mama, maafkan aku. Maafkan aku." Oliv menangis pilu, tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Ambisi dan obsesinya telah membutakan dirinya.
"Ber-hentilah, Nak!" ucap bibi Bella sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
"MAMAAA!"
"ARGHHHH." Oliv bangkit dan merebut sebuah senjata api dari salah satu anak buah Aldric.
Beberapa dari mereka memang membawa senjata jenis itu, tapi prinsip mereka adalah jika lawan tidak mengeluarkan senjata maka mereka juga tidak akan. Dan Edric mengetahuinya, sehingga pria itu juga tidak mengeluarkan pistol kesayangannya dari saku.
"Hey!"
"Berani kalian kemari, aku habisi dia!" pekik Oliv sembari mengarahkan pistolnya tepat di kepala Haven. Wanita itu masih menangis, namun semua telah terjadi. Untuk menyesal pun tak ada gunanya lagi. Karena sang ibu tidak akan pernah bisa kembali.
Haven hanya bisa menatap nanar wanita yang masih menjadi kekasihnya ini. Pria itu tak menyangka gadis yang sangat ia cintai akan berubah menjadi monster dalam waktu yang singkat.
Melihat itu wajah sembab Alice kembali mendatar, gadis itu perlahan memindahkan kepala Kiara ke dalam pangkuan Darier. "Lice," panggil Darier merasa ada yang tidak beres.
Alice tidak mengatakan apapun, hanya kedua matanya yang kelam menatap pada Darier. Gadis itu lalu bangkit dan menatap pada Oliv.
"Lepaskan dia!" pintanya dengan nada datar.
"Hahaha, memangnya aku bodoh sampai mau mendengarkan kata-kata mu?"
"Yang kamu inginkan adalah aku. Lepaskan dia! Gantilah aku dengannya."
"Alice!" geram Edric dengan suara tajam. Pria itu langsung ingin mendekat namun Alice mengangkat satu tangannya. Isyarat bahwa ia tidak ingin sang kekasih mengganggu.
'Aku tidak ingin ada kak Lio, Ara maupun bibi itu yang lain. Aku tidak mau lagi melihat orang kukasihi pergi untuk menjamin kehidupan ku.'
"Lepaskan dia, aku akan mendekat padamu!"
"Kau pikir aku bodoh? Kau pasti memiliki rencana lain kan?"
Alice menggeleng, gadis itu berjalan perlahan mendekat pada Olivia dan Haven.
"Lepaskan dia!" pinta Alice lagi setelah berjarak satu meter dari gadis itu. Gadis itu memberi kode agar bawahan Edric menarik Haven dari belenggu Oliv.
Berhasil, Haven berhasil ditarik menjauh.
Dor.
Dor.
Dua tembakan dilakukan hampir di detik yang sama. Tubuh Alice mundur selangkah ketika merasakan timah panas itu bersarang tepat di jantungnya. Dalam samar dapat ia lihat seringai dari wanita di hadapannya.
Dengan kekuatan terakhir yang ia miliki, gadis itu berlari, memeluk dan mendorong tubuh Oliv hingga keduanya terjun bebas ke bawah.
'Maafkan aku Alice, pada akhirnya aku tetap tidak bisa menyelamatkanmu.'
"ALICEEE!" teriakan pilu menggema di lantai itu.
Edric berlari dan ingin ikut melompat.
"Bos! Jangan melompat. Kita lewat dari tangga!" teriak Veen sembari menarik tangan Edric kuat.
"Kekasihku, Veen! Alice ku!" balas Edric dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Bos. Iya. Ayo kita turun lewat tangga!"
Tanpa menjawab Veen, pria itu berlari kencang ke lantai bawah diikuti Lucy, Yosua, Haven dan para anak buahnya. Meninggalkan Darier yang masih tercengang disana sembari memeluk erat tubuh Kiara.
Sementara di tempatnya berdiri Aldric terdiam bagai patung batu. Terlihat tangannya yang memegang sebuah pistol tampak bergetar.
Pagi yang cerah itu berakhir dengan tangis pilu dari semua orang yang mengasihinya. Alice tampak terkulai di dalam pelukan Edric. Sementara Oliv yang hanya tertembak di lengan seharusnya masih bisa diselamatkan, namun tidak ada yang peduli padanya.
Dalam waktu itu, terlihat deretan mobil Jeep berhenti tepat di samping mereka.
"Maaf, Tuan. Kami terlambat," ujar salah satu anak buah Edric.
"Kalian sungguh benar-benar telah terlambat!" balas Veen dingin, tatapannya tak lepas dari sang tuan yang tidak pernah menunjukkan kelemahan di depan orang lain itu, kini menangis pilu sembari memeluk erat tubuh Alice yang telah tak bernyawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼