Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 46 ~ Bermain Mobil-mobilan



Tak lama berselang keluar dua orang yang langsung membuat hati Aldric bergemuruh. "Bagus sekali ya. Setelah menghancurkan ku, kalian sekarang bersenang-senang tanpa beban," gumamnya marah.


'Alice Lawrence, kalau aku tidak bisa memilikimu. Jangan harap orang lain bisa.'


.


.


.


"Kenapa kau kesini? Bukankah sudah kubilang, aku akan membantumu dalam diam!" tekan Sylvia.


"Kenapa kau memakai masker saat di dalam rumah?" Bukannya menjawab, Oliv lebih penasaran mengenai penampilan gadis ini.


"Ck, suka-suka aku lah! Sekarang katakan untuk apa kau kemari!"


"Rencana kita sudah ketahuan, posisi ku di apartemen tidak aman lagi. Ini semua karena gadis cupu itu, awas saja dia."


"Hah, kau memang tidak becus menekan suruhan mu."


"Haha, seharusnya kau juga ngaca. Suruhan mu juga berkhianat kan? Jika dia tidak mengirim bukti bahwa Alice berpura-pura pada Aldric, masalahnya tidak akan serumit ini."


"Yang pasti kau lah yang paling bersalah, kau terlalu berambisi pada Aldric."


Oliv tersenyum mengejek, gadis ini tahu pasti siapa Sylvia. Sebelum menghilang bak ditelan bumi, gadis ini juga terobsesi pada Aldric hingga selalu memanfaatkan Alice untuk berbuat jahat.


Sungguh lebih licik darinya, berbuat jahat tanpa harus mengotori tangan nya sendiri.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Sylvia sedikit cemas, pasalnya Oliv terus menatap wajahnya sembari tersenyum sinis.


"Aku hanya penasaran apa yang kau sembunyikan dalam masker itu," ujar Oliv dengan tatapan menyelidik.


Sylvia refleks mengeratkan maskernya membuat kecurigaan Oliv semakin menjadi. Padahal Oliv pada awalnya hanya berniat sedikit menggertak nya saja.


'Sepertinya aku bisa memanfaatkan rahasia ini,' batin Oliv sembari tersenyum licik.


.


.


.


"Bos, sampai kapan kita disini?" tanya Malvin sembari menguap. Pasalnya dari siang tadi sampai sekarang sudah hampir jam delapan malam bosnya masih betah berdiam di dalam mobil. Padahal ia sudah lapar sekali.


Aldric tidak menjawab, begitu terus sedari tadi. Pria itu bagai mayat hidup yang duduk diam, mata melotot pada satu arah seakan jika berkedip sekali saja maka objek incarannya akan menghilang.


"Cy," lirih Malvin sendu. Jujur saja ia sangat rindu dengan gadis itu. Lucunya, omelannya, bahkan pertengkaran mereka. Terlebih beberapa hari ini ia sibuk dengan masalah sang tuan yang seperti tidak ada ujungnya.


"Kau hampiri saja kekasihmu itu!" Setelah sekian jam akhirnya patung itu bersuara.


"Bos serius?"


Aldric mengangguk, membuat Malvin senang bukan main. "Tapi jangan bilang kalau aku ada di depan!"


"Siap, Bos."


Pria itu lantas langsung keluar dari mobil dan menepuk pundak Lucy yang membelakangi nya. "Akh ... Malvin!" Lucy tertegun sejenak.


Namun di detik selanjutnya Malvin memeluknya dengan erat. "Aku rindu suaramu, omelanmu, pertengkaran kita. Inti aku sangat merindukan mu," ungkapnya masih dengan memeluk Lucy erat.


Dalam dekapan itu Lucy tersenyum kecil. Wajahnya seketika bersemu merah. Selama ini belum pernah Malvin mengungkapkan apapun padanya. Setiap bertemu mereka bagai anjing dan kucing yang selalu ujuk gigi.


Namun tak dapat dipungkiri bahwa dibalik pertengkaran itu, rasa sayang muncul di tengah-tengah keduanya.


"Malvin?" panggil Alice yang saat itu baru keluar dari butik.


"Nona," sapa Malvin sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Kalian pulanglah bersama!"


"Tapi ...."


"Ssstt, tidak papa. Bukankah kalian ingin melepas kangen?" Alice tersenyum mengejek.


"Terima kasih, Nona," ucap Malvin dan tanpa basa basi langsung menarik tangan Lucy. Alice hanya bisa menggeleng melihat tingkah dua remaja itu.


"Semakin lama berdiam di tubuh ini, semakin juga aku terciprat aura remaja mereka," gumamnya tertawa kecil memikirkan tingkahnya selama ini yang memang seperti remaja kasmaran pada Edric.


Gadis itu pun masuk ke mobil dan melaju. Tanpa sadar ada mobil lain yang sedang mengintainya dari belakang.


Sembari mendengarkan musik dan bernyanyi kecil, Alice tak merasa waspada sama sekali. Ia kemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Saat melewati jalanan yang agak renggang dan sepi baru Alice menyadari bahwa ada orang lain yang sejak tadi selalu mengekorinya.


"Ck, siapa lagi yang mau bermain-main denganku?" gumamnya sembari menekan pedal gas membuat laju yang lebih cepat.


Aldric pun tidak mau kalah, pria itu melakukan hal yang sama hingga kecepatan mobilnya hampir menyamai mobil milik sang mantan tunangan.


Kejar mengejar tak dapat dihindarkan, untung saja hari memang sudah malam sehingga tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang, jadi Alice tidak takut akan melukai orang lain.


Melihat mobil yang bergerak asal-asalan, Alice yakin pengendara ini belum begitu ahli dalam mengemudi. Namun ia tidak dapat menebak siapa itu, karena jujur saja ia merasa memiliki banyak musuh meski ia sendiri tidak mencari perselisihan.


Sementara Aldric terus mempercepat laju mobilnya, namun sungguh Alice begitu pandai dalam hal mengendarai. Gadis itu pandai menghindar, mempermainkan laju dan berbelok dengan lihai.


"Heh, aku tidak tahu sejak kapan gadis ini menjadi sangat menarik. Tapi tentu saja semua tentangmu hanya aku yang boleh memilikinya. Jika tidak, maka kau harus mati!" gumam Aldric tersenyum iblis.


Pria itu menekan pedal gas semakin dalam, tidak peduli bahwa ia akan membahayakan diri dan orang lain, terlebih di depan ada tikungan tajam yang menanjak.


"Tikungan!" pekik Alice sedikit kaget, pasalnya hari sudah malam nan gelap dan ia tidak bisa melihat jelas seperti apa jalan akan yang ia lalui.


Namun bukan Ayla namanya jika tidak bisa mengendalikan benda bernama mobil ini. Meski berada dalam tubuh gadis muda yang ringkih, tapi keahlian jiwa lebih mendominasi.


Dengan mahir gadis itu memutar setir hingga bisa menyeimbangkan posisi. Namun tikungan yang menanjak membuat mobil Alice menjadi melambung karena bergerak terlalu cepat.


CITTT ...


BRAKKK ...


Lagi-lagi Alice keluar dari bahaya setelah mobilnya dengan selamat mendarat di arah yang berlawanan. Untung saja tidak ada kendaraan lain yang lewat.


"Tidak sia-sia aku bermain banyak film thriller dan laga," gumamnya sembari tersenyum sombong.


Sedangkan Aldric yang masih amatir naas harus menabrak pembatas jalan sebelum melalui tikungan maut itu. Kap mobilnya hancur, namun ia berhasil selamat. Untung saja ia masih sempat mengerem dan menabrakkan diri pada pembatas jalan saat menyadari ada tikungan tajam di depan.


Pria itu keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya tampak bergetar karena kejadian tadi.


Tin ...


Sebuah klakson berhasil mengembalikan kesadarannya.


"Rupanya kamu?" Alice membuka jendela mobil dan menyembulkan kepalanya. Gadis itu memasang wajah jenaka.


Aldric mendelik, apa gadis itu sedang tertawa mengejeknya? "Kau!" geramnya.


"Haha, lanjutkan bermain mobil-mobilan nya. Aku duluan ya, bye." Setelah mengatakan itu, Alice berlalu dari sana meninggalkan Aldric yang terpaku.


"Sial, seharusnya dia yang celaka. Kenapa jadi aku yang kena getahnya," gerutunya sembari menatap luka-luka lecet kemudian beralih pada mobilnya yang hancur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼