Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 59 ~ Menegangkan Namun Menyenangkan



"Jadi kau mengingat semuanya?" tanya Darier melalui sambungan telepon.


Keduanya telah kembali ke rumah masing-masing.


Alice mengangguk kecil, seakan Darier bisa melihatnya.


"Lalu apa yang kau alami selama belum kembali ke tubuh Alice?"


"Entahlah, aku terkurung di suatu tempat yang sangat gelap. Bahkan lebih gelap dan kelam dari gedung mangkrak itu. Aku memeluk diriku sendiri selama berjam-jam lamanya. Aku sangat takut, aku pikir akan selamanya terkurung disana. Tapi tiba-tiba aku kembali ke tubuh Alice walau tidak bisa mengendalikan tubuh ini."


"Lalu sekarang? Apa sudah bisa mengendalikan tubuh Alice?"


"Jika tidak bisa, aku tidak akan bisa berbicara padamu sekarang," ketus Alice.


"Hahaha, kirain kan."


"Tapi, kamu juga mengingat semuanya?"


"Tentu saja. Kau harus berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan kalian. Aku bahkan menggunakan nyawaku sendiri dan mengulang permainan virtual life ku."


"Nyawa?"


"Ah, sudah lah! Kau tidak akan mengerti. Lebih baik kita mulai susun strategi untuk memberi mereka pelajaran. Terutama Olivia Bayle," ujar Darier dengan tatapan marah, sementara Alice mengangguk.


Keduanya marah ketika mengingat gadis itu menikam Kiara yang tidak tahu apa-apa. Dan tidak merasa bersalah sedikitpun bahkan ketika ibunya sendiri mengorbankan diri.


"Tapi untuk tindakan, aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak mau membahayakan kalian lagi."


"Apa yang kau bicarakan? Semuanya akan tetap sama. Kita berlima akan memulai semuanya bersama. Kau lupa sebuah peribahasa persahabatan. Susah senang selalu bersama. Kami tidak akan meninggalkanmu sendiri, dan kau juga tidak perlu merasa sungkan pada kami."


Alice menggenggam ponselnya erat, matanya berkaca-kaca. Merasa terharu dengan ucapan Darier. Jika ia masih menjadi Ayla, mana punya ia sahabat sebaik itu. Yang ada hanya haters setia yang selalu memakinya.


.


.


.


Pagi datang, jika pagi yang lalu diwarnai tangisan pilu semua orang. Pagi ini semua memulai paginya dengan senyuman.


Terlihat lima orang remaja bersiap-siap, hari ini mereka ada janji temu untuk merencanakan strategi perperangan.


.


.


.


"Sekarang kita bagi tugas. Oh iya, aku mau mencabut kembali kecurigaan ku pada kak Edric."


Darier mencabut foto Edric yang ia tempel beberapa hari yang lalu.


"Kenapa?" tanya Lucy sembari mengerutkan keningnya.


"Karena aku tidak curiga lagi padanya. Cinta nya pada Alice itu sangat tulus, seperti cintaku pada seseorang," sahutnya namun bukan melihat kepada Lucy melainkan Kiara.


Kiara yang ditatap sedalam itu hanya bisa melirik kesana-kemari. Gadis itu salah tingkah, apalagi mengingat kejadian semalam. Di saat ia sudah kelewat geram, gadis itu menendang Darier untuk menyuruhnya pulang namun malah ia sendiri yang jatuh ke pelukan pria itu.


Darier hanya terkekeh ketika melihat wajah Kiara yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Gadis berkacamata yang sangat manis pikirnya.


"Kau sudah pacaran? PJ dong, Bro." Tidak tahu sejak kapan, Yosua telah berdiri di samping pria itu. Memandang padanya dengan tatapan jenaka.


"Apaan sih, belum jadian. Masih dalam tahap PDKT."


"Wih, jangan lupa kabarin ya kalau sudah jadian." Kali ini Lucy yang heboh.


Sementara Alice hanya bisa tertawa, terlebih ketika melihat Kiara yang sedang mengipasi tubuhnya yang panas menggunakan sebuah map.


"Kenapa omongan kalian jadi ngawur sih? Ayo kita lanjutin aja!" pekik Kiara tiba-tiba, gadis ini ingin keluar dari perasaan kaku itu.


Melihat wajah Kiara yang sangat merah, Lucy dan Yosua pun ikut mengerti.


"Ohhh," batin keduanya bersamaan sembari tersenyum mengejek. Kiara pun semakin salah tingkah.


"Baiklah. Ayo kita kembali ke sini!"


"Jadi target kita ada empat orang. Target dua sampai empat sudah dipastikan berhubungan satu sama lain. Sementara target utama bisa saja berhubungan namun ia punya kekuatan yang lebih besar. Kita harus berhati-hati padanya!" jelas Darier sembari menunjuk-nunjuk foto Aldric dengan spidolnya.


"Darimana kamu tahu?" tanya Lucy penasaran.


"Kau ingat kemarin saat aku menelepon mu?" tanya Darier membuat gadis itu mengangguk.


"Saat itu dia mau menculik Alice kan?"


"Ah, iya. Untung saja anak buah pak Edric datang tepat waktu."


Darier mengangguk. "Karena itulah, dia berbahaya."


"Kalau begitu aku yang akan menyelidikinya," usul Lucy.


"Bahaya, Cy."


"Tidak papa, Lice. Lagian aku dekat dengan Malvin, mungkin itu bisa membantuku."


"Baiklah, tapi kamu harus berhati-hati. Untuk Sylvia biar aku saja."


"TIDAK BOLEH!" pekik Alice dan Darier bersamaan.


"Kenapa?" tanya Kiara bingung.


"Yosua, kau saja yang menyelidiki Oliv."


"Aku dan Kiara akan mengawasi Melysa."


"Oke," sahut Yosua. Pria itu menerima saja tugasnya. "Berteman dengan kalian aku merasa seperti sedang menaiki rollercoaster. Menegangkan namun menyenangkan," lanjutnya dengan tertawa kecil, tawa yang menular pada semuanya.


.


.


.


Hari itu juga mereka tak mengulur waktu lagi.


Alice pergi mengunjungi Sylvia dengan alasan ingin berbicara mengenai UKM.


Lucy mengunjungi mansion Nelson dengan alasan rindu pada Malvin. Malvin memang tinggal di mansion Nelson.


Kiara dan Darier mulai membuntuti kemana Melysa pergi.


Sementara Yosua, pria kaya yang seenaknya. Sampai membeli apartemen disebelah unit Oliv. Walau dengan cara sedikit memaksa pada pemilik apartemen terdahulu.


...


Tok. Tok. Tok.


"Nona, ada teman Nona yang datang berkunjung."


"Siapa?"


"Nona Alice, Nona."


'Ngapain dia kesini?'


"Suruh dia pulang saja!"


"Kenapa meminta ku pulang? Aku bahkan belum menyapa."


"Kau. Siapa yang mengizinkan mu membiarkannya masuk?" teriak Sylvia sembari membalikkan tubuhnya.


Gadis itu dengan cepat meraih masker yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Bibi tidak meminta ku untuk masuk. Aku sendiri yang mau," sahut Alice sembari berjalan menghampiri Sylvia yang sedang memasang masker di wajah.


Melihat Alice yang seenaknya duduk di tempat tidurnya, gadis itu menggeram. "Berani sekali kau duduk disini."


"Kenapa? Bukankah dulu aku bahkan pernah tidur disini."


"Itu dulu. Sekarang aku tidak mau melihat muka mu lagi. Cepat pergi dari sini!"


"Huft, kamarmu tidak banyak berubah ya?" Alice beranjak, namun bukan untuk pergi melainkan berjalan menyusuri kamar itu.


"Kau mau pergi sekarang. Atau aku minta keamanan untuk usir kamu."


"Aku ini tamu loh, bukankah tidak sopan jika kamu mengusirku begitu saja."


"Aku sama sekali tidak mengundangmu kemari. Kau bukanlah tamuku."


"Bibi, bibi," teriak gadis itu namun sang bibi telah pergi entah kemana. Jika saja tidak takut wajahnya ketahuan, maka ia sudah seret sendiri gadis ini keluar.


"Hey, kenapa terburu-buru sekali? Baiklah, aku akan mengatakan tujuan ku kemari. Sebentar lagi UKM kita akan mengadakan penerimaan anggota baru. Dan kamu sebagai sekretaris bahkan tidak menunjukkan batang hidung mu dalam beberapa bulan terakhir. Aku ingin bertanya, kemana tanggung jawab mu?" tanyanya sembari bersandar di dinding sisi nakas.


"Aku tidak peduli. Turunkan saja aku dari jabatan itu. Sekarang cepat pergi! Aku muak melihatmu."


"Baiklah, bagus jika kamu ingin turun dari jabatan ... Karena sudah mendapat jawaban, maka aku akan pergi."


Alice dengan santai berjalan keluar, hingga gadis itu sampai di dekat pintu kamar. Ia berbalik. "Aku mengenal seorang dokter kulit yang mungkin akan cocok denganmu yang memiliki kulit sensitif. Apa kamu mau coba?"


"Kau. Pergi! Atau aku akan membunuhmu." Sylvia berteriak, sudah entah seperti apa ekspresi wajah gadis itu. Untung saja ia memakai masker untuk menutupinya.


Sementara Alice mengangkat kedua tangannya. "Takut," ujarnya sembari menampilkan wajah mengejek, setelah itu beranjak pergi sebelum mendengar sebuah teriakan yang sangat menggema.


"ARGHHHH."


Teriak Sylvia, gadis itu kembali membanting apapun yang bisa ia jangkau.


Kulit sensitif. Gadis itu memang memiliki kulit sensitif yang tidak bisa sembarang memakai sebuah produk. Oleh karenanya ia belum bisa melakukan operasi terhadap wajahnya.


"ARGHHHH."


Di luar Alice mengusap dadanya.


"Kasihan sekali tenggorokannya," gumam gadis itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼