
Deg.
Kriettt...
Darier mengerem mendadak mobil yang tengah ia kemudikan.
Tin, tin.
Belum keluar dari rasa terkejutnya, pria itu sudah di klakson oleh mobil-mobil yang berada di belakangnya.
"Shiit," umpatnya kemudian menepikan mobilnya agar yang lain bisa lewat.
"Kalau tidak bisa mengemudi maka jangan lakukan!" pekik seorang pria tua sebelum melewati Darier.
"Sial, kenapa juga saat kembali harus langsung berada di dalam mobil," gerutunya seorang diri. Lupa bahwa waktu 10 menit terus berjalan.
Ya, dia memilih pilihan kedua walau ada konsekuensinya. Yaitu ia harus kehilangan satu nyawa lagi, hingga kini hanya tinggal satu nyawa yang bisa menjamin hidupnya di dunia ini maupun di dunia nyata.
"Astaga, jam berapa ini?" gumamnya sembari mengecek ponselnya.
"OMG, sisa delapan menit lagi," teriaknya dengan panik.
"Tenang, Rier. Tenang. Tenang." Pria itu menarik napas dalam kemudian menghembuskannya, berulang kali hingga dirasa lebih baik.
"Untukku sampai di sana pasti sudah terlambat ... Ya, aku harus menghubunginya."
Pria itu menekan sebuah nomor dengan nama 'Tuan Kanebo'.
Telepon pertama tidak diangkat.
Kedua juga sama.
Telepon ketiga ditolak, hingga membuat pria itu merasa frustasi.
"Aku ingin membicarakan sesuatu tentang Alice. Penting, atau kau akan menyesal."
Kirim.
Terkirim.
Tidak sampai lima detik, ponselnya telah berdering. Pria itu tersenyum dibalik wajah pucat nya yang takut akan terlambat lagi.
"Minta anak buah yang Kakak utus untuk menjaga Alice agar mengawasi gang belakang butik. Suruh mereka mengikuti Alice, jangan sampai dia diculik." Pria itu langsung mengatakan tujuannya tanpa basa-basi atau menyapa terlebih dahulu.
Di sebrang sana Edric mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan ucapan sang sepupu yang memang dari dulunya sudah aneh.
"Kau jangan coba main-main ya."
"Aku tidak main-main, Kak. Cepatlah, sisa lima menit lagi atau kita akan terlambat."
Darier menutup teleponnya sepihak, kemudian menghubungi Lucy. Sementara Edric menatap bingung ponselnya. Tapi percaya atau tidak, pria itu tetap memberikan perintah sesuai yang Darier katakan.
Pria itu bahkan langsung mengambil kunci mobil dan menyusul dengan cepat.
.
.
.
Di sisi lain, Alice sedang berjalan sembari menenteng sebuah kantong plastik. Mata gadis itu nampak berkaca-kaca.
'Ada apa ini? Bukankah aku sudah mati?' batinnya bingung.
Terlebih ia seperti tidak dapat mengendalikan tubuhnya. Langkahnya bergerak sendiri, menuntunnya menyusuri sepanjang gang yang sangat ia kenali.
'Apa aku kembali pada saat sebelum kejadian itu? Maka aku harus kabur, tapi kenapa aku tidak bisa mengendalikan gerak tubuhku,' pikirnya terus membatin. Bahkan untuk membuka mulut nya sekedar menggumam pun ia tidak bisa ia lakukan.
Langkahnya terus berjalan hingga membawanya ke ujung gang dan terlihat keadaan yang sama. Segerombol kucing langsung berlari menghampiri, menyambut kedatangannya.
Secara tidak bisa dicegah ia melakukan hal yang sama. Gadis itu mengembangkan senyum dan membuka mulutnya.
"Hi ... Argh."
'Untuk apa aku kembali jika kejadiannya tetap sama,' batinnya sembari menatap nyalang Aldric yang sedang tersenyum miring.
Tubuh gadis lunglai, kantong kresek yang ia bawa juga terlepas begitu saja. Sebelum gadis itu menutup matanya, samar-samar ia melihat beberapa pria sedang berlari ke arahnya.
Darier bernapas lega ketika melihat anak buah Edric berhasil melumpuhkan Aldric yang seorang diri. Bahkan mobil yang menunggunya malah memilih kabur begitu saja.
Sehingga Aldric yang dikeroyok tidak hanya oleh manusia, tapi juga oleh kucing itu hanya bisa menerima kekalahannya.
'Sial, dua wanita itu memang tidak bisa diandalkan. Seandainya aku membawa bawahanku pasti akan berhasil,' batin Aldric kesal ketika melihat Edric membawa Alice pergi begitu saja. Meninggalkan dirinya yang penuh luka di tubuh dan wajah.
.
.
.
"Ngg...."
Alice mengerutkan keningnya dalam. Rasa sakit di bahu bekas dibius masih terasa. Kepalanya pun masih terasa pening.
Perlahan gadis membuka pelan kedua matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit bernuansa putih. Asing namun seperti pernah melihat.
'Ini dimana?' batinnya.
'Bukankah aku diculik?'
Merasa ada pergerakan di samping, gadis itu pun menoleh.
"Astaga," pekik Alice sembari langsung terbangun.
"Kak? Ini beneran kamu?" tanya Alice sembari mengangkat tangannya untuk meraba wajah sang kekasih.
Perlahan kedua mata Edric memejam. Merasakan lembutnya sentuhan sang kekasih. "Hiks...."
"Ada apa?" panik Edric seketika membuka kedua matanya.
Alice menggeleng, gadis itu bukan sedang menangis sedih. Tapi sedang menangis bahagia.
"Aku tidak menyangka bisa melihat mu lagi. A-aku kira kita akan berpisah selamanya."
"Sstt, kau ini sedang bicara apa? Kita tidak akan pernah berpisah."
Tangan kanan Edric terangkat, perlahan menyentuh dan mengusap air mata sang kekasih. Sungguh, ia tidak pernah suka melihat gadisnya ini menangis.
"Berhentilah menangis! Atau aku akan mencium mu."
"Huaaa."
"Eh, kenapa semakin menjadi?"
"Kata Kakak akan menciumku kalau aku menangis terus," sahut Alice di antara sesenggukan nya.
Edric tersenyum penuh arti. "Kau sudah mulai nakal ya," ujar Edric sembari memasang wajah meledek.
'Tapi tentu saja aku suka,' lanjutnya di dalam hati.
Pria itu lantas mendekat, menarik tengkuk gadisnya dan menatapnya dalam.
"Sesuai keinginan mu, Sayang."
Alice memejamkan kedua netranya, menikmati ciuman sang kekasih yang dalam, hangat dan penuh kelembutan.
.
.
.
Ding dong.
Ding dong.
Darier menekan bel sebuah rumah dengan tidak sabaran.
"Tunggu sebentar!" pekik Kiara dari dalam rumah.
Ding dong.
"Ish, siapa sih malam-malam begini."
Gadis itu membuka pintu rumahnya dengan kesal.
"Siapa sih? Darier? Ada apa? Eh,"
Kiara hanya dapat terpaku saat Darier menarik dan memeluknya erat. Sangat erat hingga gadis itu merasa sulit untuk bernapas.
"Hey, lepaskan aku!" pekik Kiara di dalam pelukan pria aneh itu.
"Tidak mau! Biarkan begini saja dulu!"
"A-aku tidak bisa bernapas."
Darier langsung tersadar, pria itu lantas merenggangkan pelukannya namun tidak sampai melerai.
Ia rasakan kehangatan tubuh Kiara, wangi vanilla pada rambut gadis itu berhasil menghipnotis Darier untuk memeluknya lebih lama.
"Hey, kamu mau mesum ya?" pekik Kiara refleks mendorong Darier. Gadis itu tampak waspada, apalagi tadi pria ini mencium dan menghirup rambutnya dalam.
"Eh, kenapa kamu menangis?" tanya gadis itu ketika melihat kedua mata Darier tampak berkaca-kaca.
"HUAAAAA."
"Eh, kamu kenapa? Kenapa tangismu semakin menjadi?" Gadis itu berusaha menenangkan.
Sementara kepalanya menoleh dan ke kanan dan ke kiri. Begitu beberapa kali karena takut suara tangis Darier yang tidak terkontrol itu akan mengganggu tetangganya.
"Ah, ya udah deh. Ayo masuk dulu!" ujar Kiara sembari menarik tangan Darier untuk masuk kerumahnya. Diam-diam Darier tersenyum, namun saat Kiara menoleh padanya pria itu langsung berteriak menangis lagi.
Kiara memang tinggal sendiri, kedua orangtuanya tinggal di luar kota. Kota yang sama dengan kerabat Haven. Sehingga gadis itu bisa mengenal Olivia.
Sebenarnya ada seorang pelayan yang menemani gadis itu, namun sang pelayan sedang izin karena ada anggota keluarganya yang sakit.
'Ck, pria menyebalkan,' batin Kiara gusar.
Bagaimana tidak? Saat ia mengintip, Darier dengan santai duduk di sofa sembari menonton tv dan memakan stok camilan nya.
Sedangkan saat ia berjalan menghampiri pria itu, terdengar lagi suara sesenggukan dengan kedua mata sayu yang menatap padanya.
'Sepertinya bukan pria menyebalkan, tapi ini adalah bayi besar.'
Geram sekali Kiara hingga rasanya ingin mencekik pria itu.
Othor juga geram Ra ๐๐๐๐๐.
Tbc.
Happy new year semuanya๐ฅณ๐ฅณ๐ฅณ. Semoga tahun ini akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ