
Namun merasa kondisi akan merugikannya, gadis itu perlahan mundur dan berniat kabur.
"Mau kemana kau?" bisik Veen yang telah berdiri di sampingnya.
.
.
.
Alice yang sebelumnya terkulai mulai mendongak. Rasa sakit yang sebelumnya ia rasa kini telah berkurang. "Kak," lirihnya melihat Edric yang masih memukul penjahat yang telah melukainya.
Mendengar suara sang kekasih, Edric menghentikan sejenak pukulannya. Namun sedetik kemudian Edric menendang tubuh pria itu hingga mundur beberapa langkah dan karena tak bisa menyeimbangkan posisi, pria itu berakhir terjun bebas ke bawah.
"Sayang," panggil Edric dengan lembut. Pria itu segera berjongkok dan memeluk gadisnya dengan erat.
"Akhirnya aku menemukanmu," ujarnya masih memeluk Alice dengan erat. Kedua mata Alice berkaca-kaca, meski kuat dan cerdik namun nyatanya sangat tidak mungkin untuk seorang gadis melawan begitu banyak orang.
"Aku merindukan Kakak," rengeknya dengan suara manja.
"Ya, ya. Kalau begitu peluk aku dengan erat. Puaskan kerinduan mu itu." Alice tersenyum, gadis itu mengeratkan pelukannya pada Edric dan memberikan senyuman provokasi pada Melysa yang tangannya ditahan oleh Veen.
'Sial,' batin Melysa marah dan cemburu.
"Tapi kau tidak papa kan?" tanya Edric sembari mengurai pelukan mereka dengan tatapan khawatir. Kedua netra pria itu meneliti sang kekasih dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Benar-benar memperhatikan dengan teliti agar sedikitpun luka tak akan luput dari penglihatannya.
"Tengkuk, telapak dan jari tangan, lengan, betis, jari-jari kaki bahkan telapak kaki. Hampir setiap inci tubuhmu yang terlihat terluka. Apa sakit?" Edric mengusap lembut wajah Alice.
"Tidak papa, Kak. Aku sudah baik-baik saja," sahut Alice sembari tersenyum tipis.
"Veen, berikan luka yang sama pada gadis itu! Pastikan lebih parah dari apa yang dia toreh pada gadisku!"
"Baik, Bos," jawab Veen dan tanpa kata langsung menendang kaki Melysa hingga gadis itu berlutut.
"Argh," pekik Melysa ketika Veen menginjak telapak tangan gadis itu dengan kuat.
"Kak," lirih Alice merasa sedikit tidak tega. Sementara Edric yang tidak ingin sang kekasih bersimpati pada Melysa segera meraih tubuh gadis itu masuk ke dalam gendongannya dan beranjak dari sana.
"Argh, ampun. Jangan lakukan lagi!" Jeritan Melysa tetap terdengar meski mereka telah turun ke lantai empat.
"Kak, apa itu tidak terlalu kejam?" tanya Alice merasa tidak tega. Bagaimanapun Melysa adalah sepupunya meski gadis itu berniat membunuh dirinya.
"Tidak. Jangan kasihan pada musuhmu, Sayang. Dia bahkan tidak berpikir dua kali untuk mencelakai mu." Perlahan Alice mengangguk, perkataan Edric ada benarnya.
"Hey, kembalikan dia!" teriak seorang pria di antara enam orang yang berdiri disana.
"Ck, tikus-tikus ini. Kau tunggu disini ya, akan ku bereskan dulu mereka." Edric menurunkan Alice dan membiarkan gadis itu bersandar di sebuah pilar.
Pria itu lalu menggulung lengan kemeja yang ia kenakan dan langsung melawan pria-pria itu dengan tangan kosong.
Bugh. Bugh. Bugh.
Selama lima menit pertama Alice hanya mengamati. Gadis itu ingin bangkit dan membantu, namun Edric menahan. Hingga Veen turun dari atas kemudian mereka mengalahkan enam pria itu dengan mudah.
"Bos, semakin lama jumlah mereka semakin banyak."
"Minta anggota bayangan untuk bersiap-siap apabila dibutuhkan."
"Oke, Bos," balas Veen sembari memberi gerakan aba-aba yang hanya dapat dimengerti oleh kelompok mereka.
.
.
.
Sementara di lantai lain.
"Cy, aku tidak mengira kau sehebat itu," puji Yosua yang dihadiahi sebuah senyuman bangga.
"Tentu saja, aku kan pemegang sabuk hitam taekwondo," balasnya dengan angkuh.
Yosua hanya mengangguk, menerima kesombongan itu karena Lucy memang hebat bahkan lebih dari dirinya.
"By the way, Kiara dan Darier dimana?" tanya Lucy yang baru sadar kedua orang itu menghilang. Sementara Yosua hanya bisa mengedikkan bahu, ia juga tidak menyadarinya.
"Anak itu memang selalu merepotkan saja," gerutu Yosua.
"Siapa yang merepotkan?"
"Astaga!"
"Rier! Kamu mengagetkan saja. Ara, kamu baik-baik saja kan?"
Kiara mengangguk, tapi Darier menggeleng. "Ada yang mengejar kami."
"Mana?"
Darier dan Kiara pun menyingkir, memperlihat seorang pria berbadan besar yang sedang menatap mereka nyalang.
"Rupanya semuanya anak ingusan," ujarnya dengan tawa meremehkan.
"Tapi anak ingusan ini bisa membuat mu bertekuk lutut, Om Botak," sahut Lucy membuat Darier berusaha menahan tawa.
"Cy," pekik Yosua sembari melempar sebuah tali tambang. Di bangunan mangkrak itu memang terdapat tali tambang yang dibiarkan di lantai begitu saja.
Lucy menangkapnya dan langsung melancarkan aksi selagi pria itu masih sibuk tertawa.
Bugh.
Yosua menendang perut buncit pria itu. "Kau!" geram sang pria ingin membalas.
'Kenapa kaki ku tidak bisa bergerak?' batinnya sembari menunduk.
"Shiit! Bocah sialan!"
Kini ke empat remaja itu yang tertawa.
"Awas kalian!" ujar pria itu sembari berjongkok ingin melepaskan ikatan pada kedua kakinya.
Bugh.
"Argh."
"Kami tidak sebodoh itu untuk membiarkan Om Botak bisa lepas!" ujar Darier sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat pria itu semakin geram.
"Cepat tahan tangannya!"
Keempatnya pun menahan tangan pria itu, satu tangan ditahan dua orang. Kemudian mengikatnya.
"Hey, lepaskan aku bocah sialan!"
"Sudah ku bilang Om Botak, bocah atau anak ingusan ini bisa membuat kamu bertekuk lutut kan?"
"Arghhhh. Tunggu saja saat teman-temanku datang."
"Kita tinggalkan saja! Ayo kita lanjutkan mencari Alice," usul Lucy yang diangguki oleh semua.
.
.
.
"Nak, apa kita bisa sampai tepat waktu?" tanya bibi Bella. Wanita itu tidak ingin sang putri sampai melakukan hal kriminal seperti itu.
"Tenang bibi, mungkin sekitar dua jam lagi kita akan sampai. Teman-teman ku juga sudah ada di sana, mereka pasti bisa menghentikan Oliv," sahut Haven berusaha menenangkan bibi Bella.
Tadi sebelum yang lain berangkat mencari Alice, mereka telah menghubungi Haven dan menceritakan semuanya.
Sebenarnya pun saat ini mereka sudah hampir sampai ke kota, namun untuk sampai ke gedung mangkrak tempat Alice disekap butuh waktu lagi kurang lebih dua jam.
.
.
.
Kembali ke gedung mangkrak.
"Bos, mereka sengaja mengepung kita dan tidak lagi menyerang. Dengan jumlah kita yang lebih kecil sulit untuk keluar saat ini. Apalagi hari masih gelap."
"Minta yang berada di markas untuk mengirim pesawat pribadi! Kita pergi lewat lantai teratas saja."
"Di sini tidak ada sinyal, Bos. Sama sekali tidak bisa menghubungi pihak luar untuk membantu."
"Shiit!"
"Tapi saya yakin setelah menyadari ketidakberadaan kita, mereka pasti akan segera mencari."
"Ini semua karena aku," sahut Alice lirih.
"Sstt, ini bukan salahmu. Salah kami yang terburu-buru dan kurang persiapan."
"Sebenarnya siapa mereka, Kak?"
Edric menghela napas berat. "Komunitas Black Eagles."
"Black Eagles, aku sama sekali belum pernah mendengarnya. Kenapa juga mereka mengepung kita?"
"Karena orang terpenting kedua dalam komunitas itu adalah Tigle."
"Tigle? Siapa lagi itu?" tanya Alice yang membuat Veen menajamkan pendengarannya, pria itu juga penasaran dengan sosok Tigle yang beberapa waktu lalu berhasil mengguncang daerah kekuasaan mereka.
"Tigle adalah ...."
"Tigle adalah aku," sahut sebuah suara yang sangat mereka kenali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼