Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 37 ~ Seperti Kata Pepatah



"Jika Daddy menghubungiku hanya untuk membahas itu maka akan ku tutup."


"Ed ...."


Tuttt.


...


Edric duduk di sofa balkon dan menghela napasnya kasar, pikirannya melayang ke masa kecilnya. Masa kecil yang begitu bahagia dengan kehidupan mereka yang sederhana. Mommy yang penuh kasih juga Daddy yang sangat bertanggungjawab. Namun kini, semua hanya tinggal kenangan.


Lagi-lagi hanya napas kasar yang ia keluarkan, hingga perhatiannya teralih pada sang kekasih yang telah bangun dan kini duduk disebelahnya sembari merebahkan kepalanya pada bahu kuat milik pria itu.


"Sudah bangun?" tanya Edric sembari mengecup puncak kepala sang kekasih dengan sayang.


"Aku yakin Kakak bisa lihat sendiri aku masih tidur atau sudah bangun."


Edric tertawa kecil. "Seram sekali, jangan marah-marah dong! Nanti aku beneran mengira kalau kau adalah malaikat pencabut nyawa, bukan kekasihku," ledek Edric namun dengan wajah yang datar.


"Ish, dasar kekasih kaku, datar, tua ...."


Cup....


"KAK!"


Edric terkekeh. "Katakan lagi! Sekali kau katakan kalau aku tua maka kau akan ku kecup sekali."


"Dasar pria ...."


Alice menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan ketika melihat sang kekasih mulai mendekatkan wajahnya lagi. Edric kembali tersenyum, sungguh ekspresi Alice sangat imut dan lucu di matanya.


Tapi tunggu dulu? Bukankah tadi gadis ini mengatakan kalau dia adalah kekasihnya? Apakah gadis ini telah menerimanya?


Edric semakin mengembangkan senyum, senyuman yang tampak manis di mata Alice. Hingga tanpa sadar gadis itu mengangkat tangannya dan perlahan tapi pasti jari telunjuknya kini telah menoyel pipi Edric. Pipi yang memiliki lesung pipi yang sangat jarang Edric tampakkan. Pria itu refleks terdiam, wajahnya kembali datar sembari menatap tangan gadis itu.


"Ternyata Kakak sangat manis. Apalagi dengan lesung pipi ini." Alice gemas sekali rasanya, dulu sebagai Ayla meski secuek apapun ia selalu terhipnotis dengan lesung pipi apalagi jika lesung pipi itu dimiliki balita.


Mendengar itu Edric kembali tersenyum lebar, membuat lesung pipi miliknya tampak semakin dalam saja. Dan tentunya membuat Alice gemas dan tanpa sadar mengecupnya sekilas.


Cup....


Edric melotot, ini adalah pertama kalinya Alice berinsiatif terlebih dahulu. Ia lalu menoleh dan mendapati Alice yang sudah kembali merebahkan kepalanya di bahu milik pria ini. Edric kembali menarik senyum, dapat ia lihat bahwa gadisnya sedang salah tingkah.


"Ternyata gadisku nakal juga ya."


"Kak, jangan bahas lagi!"


"Baiklah, hehe."


"Kak, jangan tertawa!"


"Sesuai keinginanmu, Sayang!"


Hening.


Lama keduanya terdiam dengan pikiran di benak masing-masing. Namun Alice sungguh tidak ingin peduli. Ia ingin hidup tenang hari ini, untuk besok maka akan ia pikirkan lagi nanti.


"Aku akan membantumu menghadapi masalah ini." Akhirnya Edric yang berbicara, memecah keheningan yang lama tercipta.


Alice mengangkat kepalanya, wajahnya mendongak demi melihat wajah tampan sang kekasih yang juga sedang menatap dirinya dalam. "Tidak perlu, Kak."


"Aku hanya ingin Kakak menjadi pendengarku saja. Aku ingin Kakak menjadi sandaran agar kekuatanku pulih dan kembali bisa melawan mereka."


Mendengar itu wajah Edric berubah masam. Kesal karena sang kekasih sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjadi pawangnya.


Melihat Edric yang kesal, Alice tersenyum kemudian menarik kedua sisi pipi sang kekasih gemas. Sontak ia dihadiahi tatapan tajam nan menusuk milik seorang Edric. Namun gadis itu tidak takut, ia justru semakin gemas sembari tertawa ringan. Kemudian dengan berani ia mengecup bibir pria itu sekilas hingga kedua mata Edric membulat penuh.


"Terima kasih atas energi yang Kakak berikan," pekiknya sembari berlari keluar kamar. Alhasil Edric hanya bisa menelan ludahnya kasar. Apalagi ketika melihat mobil Alice yang telah keluar dari pekarangan rumahnya.


Kembali menetralkan wajahnya, pria itu meraih ponsel dari meja dan menghubungi seseorang. "Aku menerima tawaran Anda," ucapnya setelah panggilan itu terhubung.


.


.


.


Di tempat lain Aldric sedang berada di sebuah klub. Awalnya ia memang merupakan anak baik-baik, tapi semenjak Alice tidak mengacuhkannya lagi, ia jadi hilang kendali.


Sedang apa?


Jangan pulang malam-malam, ya.


Jangan mabuk-mabukan.


Aku tahu kamu sedang main sama teman kamu, tadi aku lihat kamu.


Baiklah, aku tidak mengikutimu lagi. Tapi pulanglah, ini sudah malam.


Aldric menggulir satu per satu pesan yang sebelumnya rutin gadis itu kirimkan. Namun semenjak liburan kelulusan, tidak ada lagi satu pun pesan dari gadis itu. Ia tersenyum getir sembari menyesap minuman terlarang, apalagi untuk usianya yang masih belasan tahun.


"Aku rindu pesan-pesan ini, Lice," gumamnya lirih, tampak sekali pria muda ini telah mabuk.


Dulu memang terasa lega saat Alice mulai menjauh. Tidak ada lagi yang mengekangnya. Tidak ada lagi bunyi notifikasi berentet yang menyebalkan. Dan yang paling penting adalah tidak ada lagi gadis angkuh yang selalu menempel padanya.


Tapi lama-lama rasa kehilangan mulai muncul, sedikit demi sedikit mulai menggerogoti hatinya yang terasa hampa. Awalnya ia tidak acuh, membiarkan perasaan aneh itu hingga bisa menghilang dengan sendirinya.


Namun tidak semudah itu, rasa itu malah bertumbuh menjadi kecemburuan buta ketika melihat sedikit saja Alice dekat dengan pria lain. Hingga akhirnya ia menghempas semua egonya dan menyatakan perasaannya pada gadis itu.


Tetapi seperti kata pepatah, nasi telah menjadi bubur. Gadis itu tak lagi membalas perasaannya. Ia tak menyerah, ia menggantikan peran gadis itu, menjadi lintah yang selalu menempel padanya. Namun tetap saja bubur yang telah lembek tak akan mengeras lagi menjadi nasi.


Hingga ia kehilangan kendali, sering mengunjungi tempat seperti ini agar bisa melupakan gadis itu. Namun tetap saja tidak bisa, jadilah ia meminta sang ayah untuk mempercepat pernikahan mereka. Mengikat gadis itu sebagai miliknya, cinta akan kembali seiring waktu menurutnya.


Di meja yang berbeda Malvin tampak menggeleng pelan, ia tidak berani mendekati sang tuan. Maka dengan memperhatikan dari jauh adalah caranya untuk menjaga pria itu.


"Bos," pekik Malvin ketika melihat Aldric terjatuh dari tempat duduknya.


Ia mendekat kesana, meraih lengan pria itu untuk membantunya bangkit. "Pergi!" usir Aldric sembari mendorong keras tubuh Malvin.


"Bos, jangan seperti ini lagi! Jika nona Alice melihatmu seperti ini, dia akan semakin tidak menyukaimu."


Buggg.


Satu bogem mentah Aldric layangkan pada wajah sang teman. Ia bangun dengan sempoyongan dan menarik kerah Malvin.


Buggg.


"Jangan pernah menyebutnya dengan mulut kotor ini! Kau tidak pantas untuk menyebut nama indahnya."


Terjawab sudah mengapa Malvin tak berani mendekat pada sang majikan. Ia pun tak berani melawan hingga penghuni klub yang melihat keadaan Malvin yang mengenaskan akhirnya menolong dan memisahkan mereka.


Malvin pun dibawa seorang wanita ke sebuah meja untuk diobati. Wanita itu sebenarnya telah tertarik pada pria ini sejak tadi, melihat ada kesempatan maka tentu akan ia lahap.


Dengan segala cara ia mengambil perhatian Malvin hingga fokus pria terbagi dan kecolongan dengan keberadaan sang tuan. Saat menoleh tak lagi terlihat Aldric di sana, mejanya telah kosong. Sontak pria itu berdiri dan segera berlalu mencari.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼