
Kini hanya ada satu nama yang berada di pikirannya.
EDRIC.
.
.
.
"Sebenarnya apa kerja kalian, hah? Apa saya terlalu lunak sehingga kalian bekerja sesuka hati?" tanya Edric dengan emosi. Pria itu kini terlihat sangat marah, matanya menatap tajam hingga serasa bisa membelah tubuh para bawahannya menjadi potongan-potongan kecil.
Pria itu lantas menarik senjata kesayangannya, kemudian mengarahkan tepat pada kepala salah satu dari mereka. Kali ini ia benar-benar telah berubah menjadi monster berdarah dingin.
Ketika jari telunjuk pria itu akan menarik pelatuk, para bawahannya segera berlutut. "Ma-maaf kan kami, Tuan. Ka-kami akan berusaha mencari keberadaan nona Alice sampai ketemu," ujar salah satu dari mereka dengan terbata-bata.
"Sudah dua kali kalian membuat saya kecewa. Sebenarnya kalian mengira saya sesabar apa? Harus berapa kali saya beri kalian kesempatan?" sahut Edric dengan tetap mengarahkan senjata pada mereka.
"Akan saya habisi kalian satu per satu," lanjutnya sembari berseringai iblis.
"Bos, ini bukanlah saat yang tepat untuk menghabisi mereka. Yang terpenting adalah mencari keberadaan nona Alice," sanggah Veen.
Edric menarik napasnya kasar. "Cepat cari! Jika dalam dua puluh empat jam masih belum ketemu maka kalian sungguh akan ku habisi tanpa belas kasih."
Mereka pun langsung beranjak tanpa aba-aba. Belum pernah mereka lihat Edric semarah ini, maka mereka juga harus menjalankan tugas dengan baik atau kepala mereka akan menjadi taruhan.
Bugh.
Edric memukul meja kerjanya dengan resah. Ia tidak bisa tinggal diam, kekasihnya sedang berada di tangan orang lain dan tidak diketahui dimana dan bagaimana keadaannya sekarang.
Pria itu lantas beranjak dari posisi dan keluar menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Baru saja ingin membuka pintu mobil, tiba-tiba ada yang menarik bahunya dan langsung memberinya sebuah bogem mentah di wajah.
Bugh.
"Hey, apa-apaan kau?" tanya Edric marah.
Namun Darier tidak menjawab, ia terus melayangkan kepalan tangannya hingga membuat Edric balik melawan. Berani sekali bocah ini memperpendek waktunya untuk mencari sang kekasih.
"Hey, lepaskan aku!" pekik Darier setelah Edric berhasil menahan kedua tangannya di belakang tubuh. Wajahnya telah tak berbentuk, sementara Edric hanya ada sebuah luka sobek di sudut bibir.
"Berani sekali kau mengganggu waktuku!" ujar Edric dengan tatapan dingin nan menusuk. Walau Darier tak dapat melihat, namun pria itu dapat merasakan hawa dingin itu.
"Maksudmu waktu untuk menghancurkan Alice? Dasar bedebah, kau pikir aku akan membiarkan kau menyentuh sahabat baikku. Sekarang katakan dimana Alice!" ujar Darier memberanikan diri.
Edric mengerutkan kening, pria ini tak habis pikir. Bagaimana mungkin ia mencelakai kekasihnya sendiri.
"Benar-benar membuang waktu!" kesalnya sembari melepaskan tangan dan mendorong Darier untuk menjauh dari mobilnya.
"Hey, kau belum menjawab ku dimana keberadaan Alice!"
"Apa kau pikir saya akan menyakiti kekasih saya sendiri."
"Haha." Darier tertawa sinis.
"Tanda. Tanda 'a' di dahi mu itu. Aku tahu pasti orang yang memiliki tanda itulah yang akan menyakiti Alice."
Edric tak menjawab, tangannya refleks memegang tanda yang Darier maksud. Tanpa kata ia masuk ke dalam mobil. "Cepat masuk!" titahnya pada Darier.
.
.
.
Sore sudah menjelang malam, namun cahaya oranye sang surya masih bisa menembus sebuah ruangan di gedung tua yang mangkrak. Alice menggeliat namun seluruh tubuhnya terasa tak dapat digerakkan. Perlahan gadis itu membuka kedua matanya. Dua netra biru safir itu kemudian berputar, meneliti seluruh sudut ruang yang terasa sangat asing.
"Sial, dimana ini," umpatnya sembari menggerakkan tubuhnya yang terikat dan terbaring di lantai yang kotor.
"Sayang, kau sudah sadar rupanya." Seorang pria masuk ke sana sembari menenteng sebungkus makanan.
"Makan dulu ya, agar kau kuat untuk kegiatan yang menguras tenaga nanti."
"Teruslah berteriak, Sayang! Semakin kau marah, wajahmu itu semakin cantik," ujar Aldric sembari mengelus lembut wajah Alice di hadapannya.
Cih.
Alice meludah tepat di wajah pria itu. "Kau!" geram Aldric.
Pria itu lantas langsung memindahkan gerak tangannya langsung ke leher Alice.
"Akh." Alice seperti kehabisan napas, wajahnya memerah namun gadis itu tak gentar. Sama sekali ia tidak memohon untuk dilepaskan.
"Kau tahan sekali, Sayang. Apa itu artinya kau juga akan tahan atas semua yang kulakukan nanti?"
"Ba-jingan! Mati-pun aku tidak akan mau disentuh olehmu."
"Benarkah? Kalau begitu kita lihat apa kau bisa menolak ku atau tidak."
Aldric langsung menangkup kedua sisi wajah Alice, pria itu hendak membungkam mulut pedas gadis itu dengan ciumannya.
"Al," pekik seseorang yang baru masuk.
"Ck, mengganggu saja."
.
.
.
BRAKKK.
Keributan terdengar hingga ke kamar utama mansion keluarga Nelson. Valerie yang saat itu sedang tertidur terpaksa harus terjaga.
"Maaf Nyonya, kami sudah berusaha menahan tapi mereka tetap memaksa masuk."
Kulit wajah Valerie mengeras, bagaimana tidak? Saat ia sedang nyaman bermimpi, sang anak tiri tidak tahu diri itu malah masuk dan membuat keributan dengan beberapa orang yang tidak jelas.
"Apa-apaan ini? ... Edric? Kenapa kesini malam-malam? Dan kenapa mereka main nyelonong kedalam mansion?" tanya Valerie dengan mengembangkan senyuman terpaksa. Meski marah tapi ia harus menunjukkan keramahan pada penyelamat Perusahaan Nelson ini.
"Dimana putra Anda berada?" tanya Edric balik tanpa menjawab pertanyaan sang ibu tiri.
"Aldric? Oh, anak nakal itu sedang tidak di rumah. Bahkan dari kemarin ponselnya tidak aktif."
"Anda tidak tahu dimana keberadaannya?"
Valerie menggeleng, wanita itu bahkan sudah meminta orang suruhan untuk mencari keberadaan sang anak. Namun hasilnya nihil.
"Kalau dad?"
"Daddy mu masih belum pulang, akhir-akhir ini dia selalu lembur," jawab Valerie kembali melayangkan senyum. Padahal dalam hati ia sudah sangat malas untuk menjawab pertanyaan anak tirinya itu.
Terlebih sejak tadi ia sedang menahan emosi ketika melihat anak buah Edric yang seenak jidat keluar masuk semua ruangan mansion, termasuk kamarnya yang berada di lantai dua.
"Bos, kami tidak menemukan siapapun selain dia dan beberapa pelayan," lapor Veen sembari melirik Valerie, sementara Edric mengangguk.
"Sampaikan pada daddy, saya tidak pernah bermain-main dengan perkataan yang pernah saya lontarkan," ujar Edric dengan dingin dan hendak berlalu pergi.
Mendengar kalimat ancaman itu, habis sudah kepura-puraan Valerie.
"Dasar anak tidak tahu diri! Kau pikir siapa dirimu? Mentang-mentang sudah kaya jadi kau pikir bisa melakukan apa saja? Berani sekali mengancam ku. Kalau bukan menjadi antek keluarga Armstrong, kau hanyalah seorang anak buangan keluarga Nelson," sarkas nya dengan tatapan remeh, senyum palsu yang sejak tadi terpasang kini hilang bak ditelan bumi.
Sedangkan Edric tidak terpengaruh sedikitpun. Wajah pria itu tetap datar dan kembali melanjutkan langkah untuk keluar.
"Hey! Anak buangan! Kau tidak mendengar apa kataku? Hahaha, baguslah. Sepertinya kau sadar diri bahwa tidak tepat bagimu untuk berdiri di mansion ini. Pergilah, sana pergi sejauh mungkin!" Wanita itu berteriak sekuat tenaga. Bahkan setelah keluar mansion pun Edric masih dapat mendengar tawa menggema Valerie yang seperti orang gila.
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼