Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 52 ~ Kakak Rindu Padaku?



Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, gadis itu segera menggesek tali yang membelenggu tangannya di sudut tiang yang belum terbentuk sempurna.


.


.


.


Malam semakin larut. Dua gadis gila kini tengah berjalan menuju ruangan dimana Alice disekap. Berbekal senter dan emergency mereka menyusuri lantai demi lantai dari bangunan mangkrak nan tua itu.


"Sylvia sialan, wajah buruk menakutkan, mulut besar, tapi tidak ada beraninya sama sekali," gerutu Oliv merasa lelah harus naik tangga dari satu lantai ke lantai berikutnya. Untung saja Alice bukan disekap di lantai paling atas, jika tidak setelah sampai mereka tidak akan punya tenaga untuk membunuh gadis itu.


"Bukankah bagus? Jadi kita sendiri yang akan membalaskan dendam pribadi kita."


"Benar juga, tapi kenapa juga harus disekap di lantai tengah. Lelah sekali harus naik ke atas sana."


"Bodoh! Jika kita sekap di lantai bawah akan mudah ditemukan orang nantinya."


"Kau yang bodoh!"


"Hah, aku tidak mau berdebat denganmu! Sekarang tujuan kita sama, jangan melupakan itu dan membuat rencana kita berantakan hanya karena emosi tidak jelas mu."


Oliv terdiam, dalam hati ia tidak terima. 'Setelah Alice, akan ku habisi gadis penghianat ini.'


Setelah perjuangan kurang lebih sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di lantai Alice disekap.


Perlahan mereka menyusuri lorong dan membuka pintu ruangan itu. Ini termasuk ruangan terbaik, dinding yang telah tertutup meski tidak rapat sempurna, juga pintu telah terpasang meski lantai masih bergelombang belum dipoles.


Dengan pelan dua perempuan itu masuk ke dalam dan mencari keberadaan Alice yang tidak terlihat. "Kemana dia?" bisik Oliv sembari mengarahkan senter ke segala arah.


"Itu," sahut Melysa sembari mengarahkan cahaya emergency nya ke sudut ruangan dimana Alice terlihat terlelap dengan bersandar pada sebuah tiang.


"Apa dia sudah mati?"


"Ssttt, dia sedang tidur. Jangan arahkan senter mu, nanti dia terbangun. Cukup pakai emergency saja."


Oliv pun mematikan senternya dan keduanya berjalan ke arah Alice berada. "Enak sekali dia bisa tidur nyenyak seperti ini."


"Sudah! Kita lakukan saja sebelum dia terbangun."


"Kau duluan, dendam mu padanya jauh lebih besar." Melysa menatap Oliv, jujur saja gadis itu merasa sedikit takut. Walau sejahat apapun ia belum pernah membunuh seseorang sebelumnya.


"Siapa takut." Oliv pun mengeluarkan sebuah pisau dapur yang ia bawa dari rumah. Ia angkat tinggi-tinggi pisau itu dan dengan tenaga penuh ia arahkan mata pisau tepat di jantung Alice.


"Akh."


Oliv terperanjat ketika tiba-tiba Alice membuka kedua matanya dan menahan tangannya yang memegang pisau.


"Ka-kau tidak tidur?"


Alice tersenyum miring, dengan santai ia merebut pisau dari tangan Oliv dan bangkit kemudian menendang gadis itu hingga terbentur tembok dan pingsan.


Alice berbalik, kedua netra safir itu kemudian menatap nyalang Melysa.


"Li-lice, akhirnya aku menemukanmu. Ini aku Melysa, kakak sepupu mu," ujar Melysa dengan suara bergetar, gadis itu harus berpura-pura agar selamat. Terlebih ia tidak memiliki persiapan senjata seperti Oliv.


"Kakak sepupu? Jadi Kakak mencariku?" tanya Alice tersenyum hangat. Gadis itu lantas berjalan mendekati Melysa dengan pisau yang masih berada di tangan.


Melysa mengangguk, ia membalas senyuman Alice dengan takut terlebih ketika mata pisau yang Alice pegang mengarah padanya.


"Lice, bisakah kau buang dulu pisau itu?"


"Kenapa kak? Kakak takut? Aku tidak akan menyakiti Kakak. Ini hanya bentuk perlindungan diri saja," jawab Alice sembari mengangkat pisau itu dan mempermainkan nya.


Sementara Melysa hanya dapat menelan ludahnya kasar. Alice yang seperti ini benar-benar menyeramkan. Bisa saja niatnya yang ingin membunuh malah terbunuh nantinya.


"Kenapa diam saja, Kak? Kakak tidak mau memelukku? Katanya mencariku, bukankah karena rindu?"


"Hah? Oh, i-iya. Aku memang rin-du padamu," ujar Melysa, dengan langkah bergetar ia mendekati Alice kemudian memeluknya dengan kaku.


Selama beberapa saat keduanya terdiam. "Jika rencana kalian berhasil, Kakak pasti tidak akan bisa memelukku sekarang," bisik Alice tepat di samping telinga Melysa.


"Kenapa Kak? Bukankah kamu merindukanku? Kenapa mendorongku?" tanya Alice memasang wajah sedih.


"Ti-tidak kenapa-napa. A-aku, aku duluan saja ya Lice. Sepertinya ibu sudah menungguku untuk pulang."


Setelah berkata seperti itu, Melysa berbalik dan berniat pergi. "Kakak, kenapa buru-buru? Kita pulang bersama saja."


"Eh, em. Ti-tidak perlu, aku sudah sangat senang dengan menemukanmu dalam keadaan baik. Jadi aku duluan saja ya."


"Mau kemana Kakak. Ayo bersama saja, aku juga mau pulang. Lagian gedung ini sangat besar, bagaimana kalau aku tersesat. Kalau Kakak kan pasti tahu arah jalan keluarnya lewat mana."


"Ma-mana aku tahu. A-aku tadi kesini juga mengikuti Oliv secara diam-diam."


"Tidak masalah, kalau begitu kita cari sama-sama saja jalan keluarnya."


Melysa menarik napasnya kasar, percuma menolak keinginan Alice toh gadis itu tetap akan memaksa. "Baiklah."


Alice tersenyum miring, gadis itu sengaja merangkul bahu Melysa dengan pisau yang masih setia ia genggam disana. "Lice ... bisa enggak pisaunya ditaruh dulu. Aku takut jika kau tidak erat pegangnya."


"Kenapa? Kakak takut aku akan melukai leher Kakak ya? Tapi ... saat Oliv ingin menusukku Kakak malah diam saja. Padahal dia mengarahkannya tepat pada jantungku loh."


'Aku harus kabur!' batin Melysa merasa tidak aman. Alice seperti penjahat ulung yang memainkan trik manipulasi kata. Kadang berbicara hangat, sedih, kadang juga tajam penuh ancaman.


"Argh," teriak Melysa sembari mendorong Alice kearah tangga dan ia berlari dari sana.


"Huft." Alice bernapas lega ketika tangannya berhasil meraih sebuah besi yang menonjol hingga dapat menahannya agar tidak terjatuh.


"Siapa itu?" gumamnya ketika mendengar suara berisik yang terpendam. "Sepertinya dari lantai bawah."


Lantas gadis itu berlari dan bersembunyi di balik salah satu pilar. Kebetulan lantai ini tidak memiliki ruangan utuh. Semuanya masih mentah hanya ada lantai dan pilar yang bergelombang.


"Dimana dia? Apa masih jauh?" tanya salah satu dari sekelompok manusia itu.


"Kata bos ada di lantai 8. Tidak jauh lagi, ini sudah lantai 5."


"Kudengar gadis yang ditahan memiliki paras yang sangat cantik. Apa kita boleh mencicipinya?"


"Hey, jangan gila! Dia adalah wanita milik bos."


Alice berputar mengelilingi pilar ketika salah satu dari mereka menyorot lampu senter kearahnya. 'Siapa mereka?'


Gedebuk.


"Siapa?" teriak seorang pria ketika mendengar ada benda yang jatuh.


"Oh, shiit!" umpat Alice ketika lampu senter berhasil mengenainya.


Tanpa pikir panjang gadis itu mengambil langkah seribu, sementara para pria itu mengejar. "Jangan kabur!"


Di balik pilar lain Melysa sedang tersenyum miring. "Rasain, beraninya kau mengancam ku."


"Sial, aku harus kemana?" gumam Alice ketika dihadapkan pada situasi kacau. Terus berlari ia akan terjun bebas, kalau berbalik tentu akan kembali dihadapkan pada kelompok penjahat tadi. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya.


...


"Hey, kemana dia? Tidak mungkin dia terjun ke bawah kan?" tanya salah satu pria setelah berhasil sampai di tempat Alice berdiri tadi.


"Lihat! Bukankah itu kaos yang gadis itu pakai?" ujar yang lain sembari menyorot sebuah sobekan kaos yang tersangkut di besi lantai empat.


"Benar, apa dia terjun bebas? Benar-benar tidak takut mati."


"Ayo kita periksa saja."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼