Fake Antagonist

Fake Antagonist
Bab 42 ~ Kamu Calon Cucu Menantuku?



"Kirimkan posisinya!" Belum Nico menyelesaikan kalimatnya, Edric telah berjalan pergi dan masuk ke mobil.


"Dasar bos cemburuan," gerutu Nico namun sambil tersenyum lucu.


.


.


.


Sore datang menyapa, langit tidak menunjukkan keceriaannya. Awan-awan berwarna abu berkumpul di atas sana. Menurunkan rintik-rintik hujan yang kecil namun lebat. Gerimis mewarnai sore itu.


Alice dan teman-temannya keluar dari kafe, keempatnya ingin pulang setelah hampir setengah hari bertemu dan bercerita bersama.


"Ikut aku!" titah Edric sembari mencekal lengan Alice yang baru akan masuk ke dalam mobil.


"Eh, eh ... Lice, mau kemana?"


"Kamu pulang duluan saja ya!" pekik Alice yang telah ditarik masuk Edric ke mobilnya.


Lucy berkedip-kedip, kejadian tadi terlalu cepat hingga ia jadi bingung. "Tadi itu apa? Itu pak Edric ya?" gumamnya sendiri masih linglung.


"LICE!" pekiknya namun mobil Edric dan teman-temannya telah pergi.


"Jadi aku di tinggalin sendiri? ... Malvin pasti sedang sibuk, deh," gumamnya kembali sembari menatap ponselnya sedih.


"Paman, ke butik saja ya!" mintanya pada paman Yos.


"Siap, Cy."


.


.


.


"Ayo," ucap Edric yang telah membuka pintu mobil untuk sang kekasih.


Alice keluar dengan cemberut, sedari tadi mereka tidak terlibat obrolan apapun. Pria ini bahkan tidak memberi penjelasan padanya. Hanya menyetir dan fokus pada jalan seperti sebuah robot yang mengikuti kata sistem.


Edric merangkul bahu sang kekasih. Alice hanya diam, membiarkan Edric menuntunnya masuk ke dalam rumah mewah milik pria itu.


"Sekarang jelaskan padaku, apa yang terjadi!" pinta Alice memulai interogasi, gadis itu duduk di sofa sementara Edric berdiri di hadapannya.


Edric menelan ludahnya kasar, Alice terlihat seperti macam betina yang bisa melahapnya hidup-hidup.


"Bagaimana Kakak bisa tiba-tiba menjadi cucu dari keluarga Armstrong. Mereka keluarga berbahaya Kak, bisnis mereka tidak hanya ada di dunia terang tapi juga sebagian di dunia gelap."


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Edric dengan tatapan menyelidik.


Kini giliran Alice yang harus menelan ludahnya kasar. Ia tahu informasi ini karena dalam novel, keluarga Armstrong ini pernah dibahas, walau keberadaan mereka hanya menjadi figuran yang jarang disebut.


"A-aku, apa penting aku tahu dari mana? Yang paling penting adalah keselamatan Kakak, jika Kakak menjadi pewaris di sana bukankah juga harus terjun ke dunia gelap?"


"Aku memang sudah melakukannya, bahkan sudah bertahun-tahun yang lalu. Kau tenang saja, aku pandai menjaga diri, Sayang," jelas Edric lembut sembari duduk di sebelah sang kekasih dan menatapnya dalam.


Alice membalas tatapan itu, "Ceritakan padaku apa yang terjadi!"


"Lima tahun yang lalu saat aku lulus kuliah, aku memutuskan untuk keluar dari keluarga Nelson. Aku hidup mandiri dengan menyewa sebuah kontrakan sembari menjalani kuliah S2. Aku bekerja paruh waktu entah itu mengajar les, pelatih tembak dan lainnya." Edric menghentikan ceritanya sejenak, pria itu mengecup bibir Alice sekilas yang membuat gadis itu mendelik.


"Jangan sedih dulu, aku bahkan belum selesai bercerita," ucap pria itu sembari tertawa kecil sementara Alice semakin mendelik.


"Baiklah-baiklah. Akan ku lanjutkan ... Suatu hari ada beberapa orang berpakaian hitam yang menemui ku. Mereka memintaku untuk ikut dengannya. Aku tidak mau tapi mereka memaksa. Yah, pada akhirnya walaupun aku kuat dan hebat berkelahi, tapi aku tetap kalah jumlah. Akhirnya aku dibawa dengan paksa." Pria kembali menghentikan ceritanya, ia kembali menatap reaksi sang kekasih yang terlihat serius namun lucu di matanya membuat ia gemas dan kembali memberi kecupan di pipi Alice.


"Ish, Kak! Cepatlah ceritakan saja!" gerutu Alice yang merasa kesal.


Edric kembali tertawa lucu, menganggu Alice membuatnya merasa bahagia di hari yang lelah ini.


"Dan aku dibawa untuk bertemu seorang kakek tua ...."


"Siapa yang kau bilang kakek tua?" Sebuah suara bariton menginterupsi. Alice dan Edric pun sama-sama menoleh.


"Tuan Armstrong?" gumam Alice.


"Panggil saja aku kakek, sama seperti anak nakal ini!" pinta kakek Armstrong sembari memukul tongkatnya pada Edric.


"Aduh, Kek. Ampun!" pekik Edric membuat Alice tertawa karena ia belum pernah melihat Edric memohon lucu seperti itu.


Kakek kemudian duduk di tengah-tengah sang cucu dan kekasihnya. Membuat Edric memasang wajah kesal. 'Mengganggu saja,' batinnya.


"Kamu calon cucu menantuku?" tanya Kakek sembari menatap Alice lekat.


Alice terdiam, tentang hubungannya dengan Edric gadis ini pun belum memikirkannya lebih jauh. Sementara Edric menatap Alice intens, pria itu ingin mendengar jawaban apa yang gadis itu berikan.


Setelah beberapa saat diam, dengan sedikit ragu Alice menganggukkan kepalanya sembari tersenyum malu-malu. Edric yang melihatnya tak dapat menyembunyikan kebahagiaan, akhirnya gadis ini bisa menerimanya. Pria itu tersenyum lebar sekali.


.


.


.


Pranggg.


Pranggg.


Terdengar suara jatuh berbagai barang saling bersahutan. Valerie yang berdiri di luar ruang kerja sang suami seketika menerobos masuk.


"Al!" pekik Valerie ketika melihat sang putra tersungkur di sisi meja kerja sang ayah. Sementara barang-barang yang biasanya tertata rapi di meja sang suami telah berserakan di samping Aldric.


Melihat wajah putranya yang saat pulang tadi telah bonyok kini semakin bonyok membuat wanita itu menatap suaminya tajam.


"Apa yang kau lakukan pada putra ku?" teriaknya pada Bastian.


"Aku sedang mengajarinya untuk tidak menjadi seorang bajingan. Kau tau? Gara-gara skandal putra kesayangan mu ini Barnett membatalkan rencana pernikahan. Dan dapat dipastikan kondisi perusahaan kita akan semakin memburuk tanpa keluarga Lawrence yang menyokong."


"Apa? Pernikahan dibatalkan?" tanya Aldric dengan suara bergetar.


Bastian tidak menjawab, pria paruh baya itu bahkan menoleh ke arah lain, tidak ingin semakin emosi jika terus melihat wajah sang anak.


Valerie menghampiri suaminya. "Bukankah putra pertama mu telah berubah dari itik menjadi angsa? Kenapa kita tidak mencoba untuk meminta bantuannya?" ujar Valerie tak tahu malu.


Bastian mengepalkan tangannya. "Apa kau pikir dia akan membantu kita setelah apa yang kita perbuat padanya selama ini?"


"Setidaknya dia adalah putra yang kau besarkan. Dia pasti akan membantu jika kau ingatkan bahwa kau yang membesarkannya."


Bastian menggeleng. Tentang jasanya membesarkan Edric bukankah itu adalah kewajiban setiap orangtua? Bahkan hal itu tidak dapat disebut sebagai jasa, karena tidak ada orangtua manapun yang mengharapkan balas jasa anak-anaknya.


"Aku yang bodoh telah menikahi wanita seperti mu," ujar Bastian sebelum keluar dari ruangan.


.


.


.


Sementara di tempat lain, yakni di sebuah apartemen mewah Oliv sedang menyeruput teh hijau kesukaannya sembari tersenyum tipis.


Drttt ... Drttt ...


Terdengar bunyi ponsel yang entah letaknya dimana. Wanita itu segera bangkit dan membuka laci nakas. Terlihat sebuah ponsel sedang menyala menampilkan sebuah panggilan yang bertuliskan 'Wanita Bodoh'.


Dengan tersenyum sinis ia menggeser tombol hijau.


"Kerja bagus!" ucapnya setelah panggilan terhubung.


"...."


"Siap kan semuanya! Kita ledakkan bom untuk gadis jaalang itu."


"...."


"Hmm ... dimana perginya dia setelah merusak rencana ku?"


"...."


"Pastikan dia tidak melakukan apapun yang akan merugikan kita!" Oliv mematikan panggilan itu kemudian kembali memasukkan ponsel itu ke dalam laci dan menguncinya.


Sementara di tempat lain seorang gadis tengah mengepalkan tangannya erat, siapa dia tak terlihat jelas karena sebelah wajah di perban.


"Haha ...."


"Hahaha ...." Gadis itu tertawa histeris.


"Hah? Apa aku menjadi pesuruh seorang gadis miskin sekarang?" gumamnya seolah tak percaya.


"Arghh, ini semua karena gadis sialan itu."


"Karena dia aku jadi tidak bisa keluar kemanapun dengan penampilan seperti ini." Gadis itu merobek perban di wajahnya dengan kasar.


Tampak luka bakar yang menyeramkan bersemayam di sana. "Aku Sylvia Foster tidak akan melepas mu, Alice Lawrence!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tbc.


🌼🌼🌼🌼🌼