
"Tuan Malvin, ada yang mencari mu," lapor seorang pelayan.
Malvin yang saat itu sedang duduk di taman belakang terlihat mengerutkan kening. "Siapa?"
"Dia bilang namanya Lucy Wright, Tuan."
"Lucy," gumam Malvin, dan seketika pria itu tersenyum senang. Ini adalah pertama kalinya Lucy mengunjungi dirinya di mansion itu.
Di sisi lain Valerie sedang berjalan menuruni tangga, terlihat seorang gadis duduk di ruang tamu. Penasaran, ia pun menghampiri Lucy.
Lucy yang melihat kedatangan sang nyonya rumah pun langsung berdiri dengan hormat. "Nyonya," panggilnya dengan sopan.
Saat menyadari bahwa ini adalah pelayan pribadi Alice, wanita itu hanya mendengus dan berjalan pergi tanpa membalas sapaan gadis itu.
Sementara Lucy hanya dapat menatap punggung Valerie dengan perasaan tak menentu.
Dengan berlari Malvin menemui Lucy, dan dapat ia lihat gadis itu sedang berdiri di ruang tengah dengan membelakanginya.
Perlahan pria itu mendekat, mengangkat kedua tangan dan meletakkannya di kedua mata gadis itu.
"Apa yang kamu lakukan? Aku sudah tahu itu pasti kamu," ujar Lucy sembari tertawa lucu.
Bibir Malvin mengerucut. "Kenapa kamu tidak kaget sih?"
"Memangnya di mansion ini siapa lagi selain kamu yang berhubungan baik denganku?"
"Benar juga ya."
"Eh, katakan kenapa kamu kemari?" tanya Malvin sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Memangnya aku tidak boleh berkunjung. Kebetulan hari ini Alice memberiku waktu libur, karena tidak ada tempat yang bisa dituju, aku ke sini saja."
"Tidak ada tempat dituju apanya? Bilang saja, kamu pasti rindu padaku." Malvin memasang senyuman mengejek membuat Lucy mencebik dan memutar bola matanya malas.
Lama mereka mengobrol, namun Aldric sama sekali tidak menampakkan diri.
"Ngomong-ngomong bos mu kemana? Dari tadi kok tidak kelihatan?" tanya Lucy penasaran, ia memang rindu pada Malvin tapi ia tidak lupa apa misinya datang kemari.
"Bos? Masih ada di kamar. Sejak putus dengan nona mu, dia jadi pemalas. Kadang keluar tidak jelas dan pulangnya tengah malam. Tuan Bastian juga memintaku untuk tidak mengikutinya lagi, dia tidak peduli lagi pada anaknya."
"Jadi kamu tidak menjadi ekornya lagi?" tanya Kiara sembari tertawa mengejek.
"Hey, sejak kapan aku menjadi ekornya? Tapi walau disuruh tidak perlu, aku tetap mengikutinya sih. Walau bagaimanapun aku tetap merasa khawatir pada pria menyebalkan itu."
Lucy tertawa kecil. "Lalu apa yang kamu dapat ketika mengikutinya?"
"Setiap hari selalu ke klub," jawab Malvin singkat, tidak mungkin ia mengatakan kelanjutannya. Lucy pasti bisa membayangkannya sendiri, buktinya sekarang gadis itu sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, bukti bahwa ia kaget.
"Apa dia jadi sebebas itu?" tanya dengan tatapan tidak percaya. Terlihat senormal mungkin, padahal ia memanfaatkan Malvin sebagai sumber informasi.
Malvin mengangguk, pria itu seperti ingin menceritakan sesuatu namun wajahnya terlihat ragu. "Ada apa?" bisik Lucy yang sudah berada di sampingnya.
"Bos sering bertemu Olivia di sana," cerita Malvin pula dengan tidak kalah berbisiknya.
Lucy membulatkan kedua matanya, itu artinya Aldric memiliki hubungan spesial dengan Olivia.
"Eh, kamu mau minum apa? Aku sampai lupa menawarkannya padamu."
"Tidak perlu, ... Eh, boleh deh. Aku kebetulan sangat haus," jawab Lucy ketika melihat Aldric yang keluar dari kamarnya.
"Baiklah, tunggu sebentar ya." Lucy mengangguk. Melihat Aldric yang sudah menuruni tangga, gadis itu terburu-buru mengikuti langkah Malvin hingga tidak sengaja menubruk tubuh Aldric.
"Aduh. Kalau jalan lihat-lihat dong!" marah Aldric merasa kesal.
"Ma-maaf, Tuan. A-aku tidak sengaja."
"Lucy?"
"Bos, maafkan Lucy. Dia tidak sengaja tadi," timpal Malvin yang sudah ikut berjongkok membantu Lucy berdiri.
"Ck, urus saja dia!" titah Aldric dengan dingin, setelah itu ia berjalan pergi dari sana.
"Tidak papa, lagian kan kamu tidak sengaja," balas Malvin sembari mengelus kepala Lucy sayang.
"Aku pulang duluan saja ya. Lagian kamu harus mengikuti kemana bos mu itu pergi kan?"
Melihat Lucy yang seperti segan dan takut, Malvin pun menganggukkan kepalanya.
.
.
.
"Ra, kira-kira dia mau kemana ya?"
"Mana aku tahu. Memangnya aku cenayang," ketus Kiara yang masih kesal pada Darier. Karena pria inilah ia menjadi bulan-bulanan Lucy dan Yosua tadi, dan ia yakin hal ini akan berlanjut.
"Jangan galak-galak, tapi enggak papa deh, kamu makin galak makin cantik. Nanti aku jadi makin cintah," balas Darier sengaja menambahkan huruf H. Pikirnya agar semakin seksi didengar. Namun nyatanya malah membuat Kiara semakin kesal.
"Itu taksinya masuk ke mall," ketus Kiara.
"Iya, Sayang. Aku melihatnya kok."
"Kamu! Sejak kapan aku mengizinkanmu memanggilku seperti itu?"
"Sstt, lebih baik kamu turun dan ikuti dia. Aku mau cari parkiran terlebih dahulu."
Kiara pun dengan sebal turun dari mobil Darier. Kemudian masuk ke mall itu dan mengikuti langkah Melysa.
Gadis ini tidak perlu takut ketahuan, karena ia sudah melakukan penyamaran hingga ia sendiri pun tidak mengenalinya. Bahkan kacamata yang biasanya bertengger di kedua telinganya kini tak ia pakai lagi.
Dengan langkah anggun dan sedikit arogan ia berhasil menarik perhatian pria-pria yang berpas-pasan dengannya. Melysa yang sempat melirik hanya dapat berdecih.
'Caper sekali dia.'
Merasa kesal, gadis itu berjalan sembari menghentakkan kakinya. Ia lalu masuk ke sebuah outlet dengan merek ternama Louis Vuitton.
Sebenarnya ia hanya berniat berjalan-jalan dan melihat-lihat saja. Tapi saat melihat gadis cantik yang tadi berjalan dibelakangnya juga masuk kesana membuat dia kesal.
Dengan asal gadis itu meraih sebuah jaket yang saat itu sedang Kiara lihat-lihat. "Aku mau ini," ketusnya kemudian memberikan jaket itu pada seorang SPG.
"Harganya 25 juta, Nona," ujar sang SPG membuat Melysa membulatkan kedua matanya.
"Kenapa mahal sekali? Bukankah ini hanya sebuah jaket?" pekik gadis itu dengan wajah tidak percaya.
Seketika senyum di wajah SPG itu sirna, dengan wajah datar ia menjawab, "kebetulan jaket ini keluaran terbaru, Nona. Selain itu jaket ini memiliki beberapa keunggulan, salah satunya memiliki desain yang sangat unik." SPG itu kembali tersenyum walau kecut, bagaimanapun ia harus profesional.
Kiara yang melihat betapa kesalnya Melysa jadi punya cara untuk bermain sebentar, gadis itu jadi tersenyum penuh arti. "Mbak, bisa jelaskan tentang produk ini?"
SPG itu dengan senang hati memulas senyuman terbaiknya, melihat penampilan saja ia sudah tahu Kiara pasti bukan orang sembarang.
"Ini adalah Striped Monogram Workwear Denim Shirt. Kemeja ini adalah koleksi musim panas tahun ini. Mengambil warna dasar putih yang dipadukan garis-garis biru membuat daya tarik tersendiri dari produk. Selain itu sapuan seperti cat tumpah ini tentu membuat kemeja ini semakin terlihat unik karena memiliki gaya klasik. Saya rasa kemeja ini sangat cocok untuk dihadiahkan pada seseorang yang spesial," jelas SPG itu panjang lebar.
"Kalau begitu aku ambil ...."
"Ini, aku juga mau kemeja itu. Cepat hitung totalnya berapa!" sanggah Melysa dengan ketus.
"Tapi, Nona."
"Tidak papa, aku akan mencari yang lain saja," sahut Kiara sembari menyembunyikan seringainya.
Di luar Darier melihat semua itu. 'Bagus, aku bangga padamu. Tidak salah kalau kau berhasil mengambil hatiku.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tbc.
🌼🌼🌼🌼🌼