
Rafi menepati janji untuk mengajak mereka liburan di akhir pekan ini. Ia menekan tombol bel flat apartemen yang dihuni oleh Fira. Rafi dan Fira tinggal di apartemen yang sama. Pria kuning langsat itu tidak sendirian, ia ditemani seorang gadis sawo matang dengan paras yang manis. Gadis itu mengenakan jilbab coklat muda dan gamis krem.
Rafi berkali-kali menekan tombol bel flat apartemen Fira. Ia sejenak melihat jam tangan, hampir sepuluh menit Fira tidak kunjung membuka pintu flat apartemennya. Merasa tidak ada jawaban dari Fira, Rafi mencoba buka pintu flat apartemen Fira.
"Eh, Bang, enggak sopan tahu!" tegur gadis yang berdiri di samping Rafi. Ia sontak mendelik ke Rafi.
"Ya, gimana? Dia lama sekali! Ke mana sih anak itu?" geram Rafi.
"Coba ketuk pintu aja. Abang juga enggak ngucap salam dulu tadi," ucap gadis itu.
"Oh, iya-iya, hehehe," ucap Rafi hendak mengetuk pintu. "Assalam ..."
Tiba-tiba Fira membuka pintu flat dengan menampilkan wajah semringah. Bola mata wanita itu bak biji kelengkeng saat melihat kehadiran pria yang merupakan sahabat kecilnya.
Rafi sontak menelan ludah karena terpana dengan wajah ayu Fira. Pria itu terbelalak di hadapan Fira dengan balutan gamis merah muda dan jilbab segitiga motif bunga. Meski riasan wajah Fira natural tapi berhasil membuat hati Rafi terpikat.
"Ya Allah, mimpi apa aku tadi malam? Inikah yang dinamakan godaan iman?" batin Rafi.
Fira melambaikan tangan di hadapan wajah Rafi sembari berkata, "wa'alaikumsalam, hei, Bang! Biasa aja melihatku. Awas pikirannya mesum!"
"Eh-eh, su'udzon aja kamu. Dari tadi Abang nungguin kamu. Kamu ke mana aja? Lama banget bukain pintu," kilah Rafi.
"Aku beres-beres kamar dulu sebelum pergi, itu udah jadi kebiasaanku. Terus, aku harus pilih gamis dan jilbab yang matching buat bersantai. Setelah itu aku dandan. Pakai pelembab, sunscreen, BB cream, eyeliner, pensil alis dan liptint, cuma ngacanya yang lama. Khawatir ada yang masih berantakan. Ya Allah, aku bisa enggak percaya diri, Bang!" jelas Fira.
"Perempuan itu kalau mau pergi ribet, ya. Kamu mau seperti apapun tetap cantik dari sananya. Ayo buruan pergi! Belum pula jemput Henry dan teman-temannya," ujar Rafi.
"Sebentar, Bang. Ini siapa?" tanya Fira sambil menunjuk ke seorang gadis yang di samping Rafi.
Rafi menyeringai sambil berbalik tanya, "lupakah sama dia?"
"Kak Fira lupa, ya, sama aku?" tanya gadis sembari mencolek siku Fira.
Fira mengernyit kening-- berusaha mengingat seseorang. "Emm, Rahline bukan? Yang dulu imut banget? Sukanya heboh kalau aku datang liburan ke Lumajang?"
"Thats right! Hahaha." Rahline mengedipkan satu mata seraya semringah.
Fira menilik Rahline, anak perempuan kecil yang dulu pernah jadi teman bermain Fira menjelma jadi gadis dewasa dan manis.
"MasyaAllah, aku bukan lupa, tapi pangling sama kamu yang sekarang, udah dewasa dan cantik banget," puji Fira.
"Siapa dulu adik sepupunya Abang Rafi hahaha," kelakar Rahline.
"Udah selesai bincang-bincang cantiknya?" tanya Rafi menyela pembicaraan Fira dengan Rahline.
"Sebentar, Bang." Fira menujukkan lima jari mengisyaratkan dikasih waktu lagi.
Rafi berkacak pinggang di hadapan Fira. "Apa lagi?"
"Aku belum ambil sepatu yang ada di rak. Belum pakai kaos kaki juga, hehehe."
"Fira punya palu, enggak? Abang ingin pukul kepala sendiri ini. Pusing lihat kamu!" Rafi kesal tapi senyum-senyum terbayang saat berhadapan dengan Fira tadi. Ia lantas membatin, "huuff! Jantungku pengen copot, ditambah dia cari sepatu bikin repot. Bye the way, meski Fira udah punya dua anak tetap cantik juga, masih seperti dulu."
***
Rafi bergegas mengendalikan kemudi menuju ke apartemen Lucky Plaza. Fira dan Rahline duduk di bangku bagian tengah. Rafi sejenak melihat cermin kecil yang bertengger di dalam mobil supaya bisa melihat Fira yang sedang asyik mengobrol dengan Rahline. Bagai kakak-beradik yang lama tidak berjumpa, sehingga obrolan antara Fira dan Rahline jadi seru.
Rafi tersenyum sembari menyetir mobil. Dalam hatinya terasa sejuk melihat keakraban Fira dengan Rahline. Ia berpikir Fira cocok jadi pendamping hidupnya karena sudah kenal keluarga Rafi. Ingin rasanya ikut mengobrol di antara kedua wanita itu. Namun Rafi tidak tega mengganggu suasana keakraban keduanya. Disela-sela percakapan Fira dengan Rahline, Fira juga mengajak ngobrol Rafi.
"Bang, kata Bapakku waktu itu, Pak Lukman bilang kalau aku kerja di sini, ada teman yang nemenin. Siapa?" kata Fira penasaran.
"Itu Rahline yang bakal nemenin kamu," ucap Rafi.
"Rahline? Emang Rahline kerja di restoran juga?" Fira lantas menoleh ke Rahline.
"Emm, enggak dong, Kak. Kita tinggal di apartemen yang sama. Jadi, nanti aku nemenin Kak Fira. Kakak juga orang baru di sini. Nah, aku bakal bantu Kakak kalau ada kesulitan di Singapura," jelas Rahline.
"Ta-tapi, kamarmu jadi kosong dong?"
"Kosong udah biasa kali, Kak, hehehe. Kamar apartemenku ibarat tempat singgah aja. Selama di Singapura, aku selalu tidur ke rumah sahabat perempuanku. Kalau ke kamarku sih cuma ambil buku-buku atau seperlunya aja," imbuh Rahline.
"Aku sempat berpikir kalian berdua satu kamar apartemen. Tapi aku mencoba husnuzon, ah, iya, paling juga beda kamar."
"Heh? Abang udah tahu kali kalau sepupu itu bukan mahram! Mana mungkin Abang jadi satu dengan Rahline? Kamu itu nethink aja," sanggah Rafi.
Fira mencebik. "iya 'kan aku enggak tahu, maaf."
"Enggak, Kak. Kalaupun kamarku terbiasa kosong, nanti keluarga dari Lumajang ke sini, mereka bisa menginap ke kamarku," sela Rahline.
"Oh, iya, Bang, omong-omong, gimana kabar Bunda Catherine dan Ayah Firman?" tanya Fira.
"Alhamdulillah, Ayah dan Bunda Abang sehat. Pernah sih nanyain kabarmu. Mereka udah tahu kabar dukamu waktu itu," jawab Rafi.
"Alhamdulillah, salam aja buat orang tua Abang, ya."
"Keluargamu gimana kabar? Termasuk dua anakmu."
"Alhamdulillah, sehat semua. Zayn udah sekolah di taman kanak-kanak dan Zema masih satu tahun, lagi lucu-lucunya. Sebenarnya enggak tega ninggalin mereka masih kecil-kecil gitu. Tapi mau gimana lagi? Aku sekarang berperan sebagai Ibu sekaligus Ayah untuk mereka."
"Gimana kalau Kak Fira menikah lagi aja? Kalau ada suami, kan bisa nafkahi keluarga. Kak Fira bisa sepenuhnya jadi ibu untuk anak-anak," usul Rahline.
Sungguh mencengangkan ucapan Rahline yang jelas di telinga Fira. Rafi jadi tidak enak pada sahabat kecilnya itu. Harusnya, Rahline tahu posisi Fira yang masih di selimuti duka.
"Huuss, Rahline! Apa sih pakai ngomong kayak gitu?" tegur Rafi.
"Eh, enggak apa-apa kok. Aku enggak keberatan, Bang. Sebenarnya aku belum ada pikiran menikah lagi. Aku masih diambang masa lalu dan trauma. Selagi aku mampu menggapai masa depan untuk anak-anakku, aku bisa lakuin," ucap Fira tersenyum.
"Trauma seperti apa, Kak? Kakak masih mencintai mendiang suami Kakakkah?" tanya Rahline.
"Rahline cukup! Jangan terlalu kepo. Kasihan Fira," tegur Rafi lagi.
Rahline menunduk sembari berujar, "iya, Bang. Maaf, ya, Kak Fira."
"Eh, entahlah susah buat jelasinnya." Fira hanya tersenyum. Seketika suasana di dalam mobil menjadi hening.
Mobil yang dikemudi Rafi tiba di apartemen Lucky Plaza. Pria berbalut kemeja hitam itu meminggirkan mobil hampir tersentuh bibir trotoar. Henry dan dua temannya sudah menunggu di depan apartemen Lucky Plaza. Rafi lantas memberikan tanda dengan membunyikan klakson mobil. Rafi membuka jendela mobil untuk melambaikan tangan ke arah Henry.
Tidak jauh dari jarak ke mobil Rafi, Henry lekas tanggap dan mengajak dua temannya menghampiri mobil itu. Rafi bergegas membuka kunci pintu mobil, menyuruh Rahline keluar sebentar supaya Hardi dan Tommy bisa masuk mobil di jok belakang. Setalah formasi siap, Rafi melanjutkan kemudi mobil di sepanjang Kota Singapura.
***
Henry diam-diam terpana dengan penampilan Fira melalui cermin kecil yang bertengger di dalam mobil. Meskipun Henry sedang berbicara dengan Rafi, tapi mata sipit itu curi-curi pandang ke arah Fira.
Di sisi lain, Hardi memperhatikan tingkah aneh sahabatnya. Melihat raut wajah Henry seperti tengah kasmaran menilik wanita yang didambakannya. Hardi yang saat itu sedang mengunyah permen karet, dengan sengaja melemparkan plastik bekas permen karet mengenai wajah Henry.
"Apa sih, Tom? Kalau main lempar-lemparan jangan di dalam mobil!" hardik Hardi sengaja mengkambing hitamkan Tommy.
"Loh, aku salah apa? Kok aku dimarahi? Siapa yang main lempar? Dari tadi aku fokus ke HP dan main EG kok," sanggah Tommy yang tidak terima dituduh oleh Hardi.
Hardi tiba-tiba menginjak kaki Tommy. "Jangan lihat Enstagram melulu, Tom! Nanti jadi zina mata."
"Hei, apa hubungannya dengan zina mata? Tadi nuduh aku lempar dan kakiku diinjak pula. Ah, stres ini bocah!"
Sadar terhadap sindiran dari Hardi, Henry menjadi malu dan gugup. Ia mengalihkan pandangan ke arah jalan raya dan melanjutkan percakapannya dengan Rafi.
***
Rafi dan kawan-kawan berada di Garden By The Bay seraya berkeliling di area sana. Betapa estetik suasana yang ditumbuhi berbagai macam tanaman. Saking menarik, Garden By The Bay membuat Rahline, Hardi dan Tommy berpencar untuk mengabadikan momen. Mereka sudah menyiapkan ponsel dan tongkat khusus memotret.
Rafi, Fira dan Henry justru tetap pada posisi. Suasana menjadi senyap dan canggung, mereka bertiga kebingungan. Momen menggemaskan saat Rafi dan Henry bertatapan tajam dan lawan arah. Sementara Fira berada di tengah dua pria berbeda usia.
"Ngapain Mas Rafi tatap aku kayak gitu? Rasanya aku pengen ngajak Mbak Fira keliling tapi ..." Henry membatin sembari menerka-nerka. "Masa sih Mas Rafi juga suka sama Mbak Fira?"
"Eh, si cowok sipit ini enggak sama dua temannya ajakah? Aku kan pengen sama Fira. Kenapa dia masih di sini sih? Jangan-jangan Henry suka sama Fira? Ah, Henry 'kan lebih muda dariku dan Fira. Mana mungkin?" batin Rafi sambil menatap sinis ke Henry.
"Ya Allah, ini Abang Rafi sama Henry pada tatapan dan kaku, ada apa sih? Perasaanku jadi enggak enak," batin Fira mengkerut dahi.
Tiga insan itu masih terdiam kaku. Rafi dan Henry masih berperang pandangan. Fira mengalihkan pandangan ke pemandangan Garden By The Bay.
"Hai, kalian lihat orang bertiga itu. Salah satunya kayak Oppa Korea, he is handsome! Oh, awesome, kita izin minta foto bareng, yuk!" Seorang gadis remaja berasal dari Indonesia mengenakan pakaian seksi mengajak empat temannya. Ia kagum melihat paras Henry.
"Hai, Kakak-kakak, bolehkah kami bergabung?" tanya seorang gadis remaja. Kehadiran mereka membuyarkan keheningan di antara Rafi, Fira dan Henry.
"Ada perlu apa, ya?" tanya Fira.
"Kami izin foto bareng kalian termasuk Oppa ganteng ini. Kakak bertiga ini kayak selebriti, ya? Aura kalian ada yang menarik," ungkap salah satu gadis remaja dengan antusias.
"Apa? Selebriti? Mimpi apa aku?" ucap Rafi, Fira dan Henry dengan serentak.
Tatapan gadis remaja itu ada sekelumit harapan dengan ekspresi antusias. "Aaaa, Kakak-kakak membuat kami terbawa perasaan sampai kompak gini. Kami mohon-- minta izin foto bareng, terutama dengan Oppa ini."
Lima gadis remaja lantas berfoto secara bergilir dengan Henry. Giliran Rafi, Fira dan Henry yang difotokan oleh gadis remaja itu dengan kamera ponselnya. Henry, Fira dan Rafi menjaga jarak tapi tidak mengurangi apik foto berlatar belakang tanaman hijau yang menjulang tinggi. Mereka saling berkenalan dan berterima kasih.
Lima gadis remaja itu menanyakan akun Enstagram milik Henry, Fira dan Rafi supaya bisa diikuti. Hari ini tiga insan seketika bergeming seolah mendapat rezeki nomplok, karena disangka selebriti oleh lima gadis remaja. Di dunia ini juga panggung sandiwara. Memainkan peran dengan apik sesuai karakter masing-masing.