
"Mbak Fira ada di sini, to?" tanya Henry membalikkan badan.
"Eh, iya, aku bersama Theolona di sini," jawab Fira malu-malu.
"Silakan duduk, Mbak. Kebetulan aku bawa karpet nih. Biar aku saja yang berdiri," ucap Henry.
Fira menunjukkan jari telunjuk ke arah kursi panjang. "Duduk di sana saja. Ada kursi panjang di dekat pohon dan tanaman anggrek itu."
Henry melipat karpet kecil, kemudian berdiri sambil menggendong Isver. Fira lantas menggendong Theolona. Mereka berjalan menuju kursi panjang di bawah pohon yang teduh. Posisi duduk antara Henry dan Fira berjauhan. Fira jadi salah tingkah saat bersama Henry. Mungkin karena sudah tahu perasaan tertulis dari Henry. Fira berusaha mengalihkan pandangan menikmati taman anggrek.
"Perasaan tertulis dari Henry itu masih terngiang di benakku," gumam Fira merinding.
Henry memulai pembicaraan. "Aku seperti hantu, ya, Mbak. Bikin Mbak Fira merinding."
"Loh, kok dia tahu sih, kalau aku merinding?" gumam Fira semakin gugup. Saking salah tingkah, ia tidak sadar mencabuti bulu-bulu Theolona.
"Mbak Fira mau cari kutu Theolona atau mau gunduli Theolona? Dari tadi dicabuti melulu bulunya, hahaha," canda Henry.
"Oh, ini, hehehe," kata Fira.
"Santai saja sama aku. Ya, walaupun Mbak Fira sudah tahu perasaanku, aku akan menunggu jawaban pilihan itu kok," ujar Henry tersenyum. Ia mendongak lantas memandang langit biru nan cerah dihiasi awan putih.
"Bagaimana aku bisa santai denganmu? Aku enggak menyangka kamu mencintaiku. Aku akui saja, kamu tampan dan---ah, aku mengingkari pendirianku sendiri. Kalau pria yang lebih muda dariku bukan kriteriaku," gumam Fira lagi seraya memejamkan mata.
"Mbak Fira masih simpan foto Mbak yang ada perasaan tertulis dariku?" tanya Henry.
"Aku masih menyimpannya dong! Masa fotoku sendiri dibuang?" jawab Fira dengan spontan.
"Tapikan di sana ada perasaan tertulis dariku. Ada kemungkinan dong," canda Henry.
"Kemungkinan apa?" tanya Fira. Dua matanya sontak mendelik.
"Ehem, forget it hehe," ujar Henry berdehem kemudian bergumam, "ingat Henry. Sabar Henry, Mbak Fira belum memilih di antara kamu dan Mas Rafi."
Suasana jadi hening dan bungkam. Sesekali Henry dan Fira curi-curi pandang kemudian saling memalingkan wajah. Silir angin berembus agar tetap menenangkan suasana, hingga dedaunan jatuh dari dahannya. Di sisi lain, Isver tidur di pangkuan Henry dan Theolona tidur di tas ransel. Mata sipit Henry justru terpatri pada bunga anggrek.
"Cukup sedetik jika hati kagum menjadi cinta. Sebaliknya, butuh waktu lama jika hati harus merelakan dan mengikhlaskan," ungkap Henry.
"Maksudmu?" tanya Fira.
"Ya, jika hati kagum dengan seorang itu cukup sedetik tanpa berkedip saja bisa berubah menjadi cinta. Sedangkan merelakan dan mengikhlaskan butuh waktu bertahun-tahun, sampai hati benar-benar ikhlas dan legowo. Kalau hati yang pernah terluka, akan pulih jika menemukan tambatan hati baru dan tepat. Buka hati kembali untuk cinta yang baru," jelas Henry.
"Kamu menyuruhku untuk buka hati nih? Biar aku dapat menerimamu, gitu?" tanya Fira.
"Haha, begini, aku hanya ingin bukalah sedikit hati Mbak, agar terjawab siapa pilihan hati Mbak. Mbak Fira mau memilih aku atau Mas Rafi, aku tetap nerima apapun yang jadi keputusan Mbak Fira. Kalau Mbak Fira bisa membuka celah sedikit di hati, jadi memilih sesuai kata hati bukan karena keterpaksaan. Petunjuk dari Allah itu akan muncul secara murni. Satu lagi, tidak semua laki-laki sama seperti yang Mbak takutkan," imbuh Henry.
"Oh, begitu."
"Emm, maaf, kalau aku terkesan menggurui Mbak Fira, hehehe."
"Enggak kok. Aku sedikit tercerahkan." Fira tersenyum manis.
"Apa Mbak Fira masih ingat? Pernah marah-marah ke aku, gara-gara aku menendang bola hingga mengenai Zayn." Henry mulai basa-basi mengingat masa yang terkesan baginya.
"Ingat! Kamu itu, ya, kalau menendang bola enggak hati-hati," canda Fira.
"Hahaha, sorry, aku benar-benar tidak sengaja waktu itu. Aku terlalu bersemangat untuk mengikuti pertandingan sepak bola antar SMA sekota Semarang."
"Kamu suka main bola, ya, Hen?" tanya Fira yang tidak lagi canggung mengobrol dengan Henry.
Henry menjawab, "Bukan sekadar suka, tapi memang hobiku dari kecil."
"Aku galak banget, ya, Hen," lirih Fira merendahkan diri.
"Iya, galak banget, hehehe. Sampai aku kaget kalau Mbak Fira itu sudah punya anak. Aku pikir Mbak Fira masih jumlo." Henry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Setelah kamu tahu aku punya anak, waktu itu kamu mundur dong."
"Ya, itu dulu, mundur alon-alon tapi sekarang maju tak gentar, hehehe."
"Ada-ada saja."
"Aku tidak sengaja bertemu dengan Henry, Bang!" sanggah Fira, "Abang sendiri katanya jaga jarak tapi kenapa ada di sini? Abang mengikutiku, ya?"
"Iya, jelas. Abang ingin menjagamu dari Henry. Khawatir dia macam-macam sama kamu," dalih Rafi seraya mendelik ke Henry.
"Heh, memangnya aku penjahat apa? Iya juga sih, tidak boleh berduaan nanti tiba-tiba ada ..." bentak Henry sembari meletakkan kucingnya di dalam kandang.
"Astaghfirullah, aku pusing! Lebih baik aku pergi saja. Aku malu, ada keributan di sini!" hardik Fira lantas berlari meninggalkan Henry dan Rafi
"Maksudmu apa, Hen? Aku setan gitu." Rafi yang merasa disindir oleh Henry mulai tersulut emosi. Ia ingin mengejar Fira tapi juga ingin menghajar Henry. "Eh, Fir-Fir, Fira, tunggu Abang!"
"Dasar Mas Rafi merusak pemandangan!" pekik Henry.
"Hei, kau! Kau juga merusak di tengah persahabatanku sama Fira. Sudah tahu menjaga jarak, masih saja dekati Fira," bentak Rafi yang berjarak setengah langkah dari Henry.
"Aku tidak sengaja. Sekali lagi, tidak sengaja bertemu Mbak Fira! Mas Rafi ituloh yang menguntit Mbak Fira. Jadi cowok posesif banget!" bantah Henry hingga tersengal-sengal sebab tersulut emosi.
***
Fira berhenti sejenak, jaraknya sudah jauh dari Henry dan Rafi. Napasnya tersengal-sengal dan mengatur napas supaya stabil kembali. Wanita itu masih bisa melihat perselisihan antara Rafi dan Henry. Maksud hati ingin melerai Rafi dan Henry, ia memutuskan kembali ke tempat kejadian.
Namun, belum ada selangkah Fira berjalan untuk melerai Henry dan Rafi. Tiba-tiba datang seorang gadis berpakaian seksi yang terlihat dua bahunya yang putih. Gadis mencolok itu mengenakan celana pendek hingga terlihat pahanya yang mulus. Rambut hitamnya itu dibiarkan terurai.
Gadis itu dengan lancangnya langsung merangkul tangan Henry dengan manja. Namun seorang laki-laki berambut cokelat dengan mimik wajah kesal bergegas menyusul gadis itu. Seketika perdebatan antara Henry dan Rafi mendadak tertunda.
"Lo cuma mantan! Jangan mengejar gue lagi! Gue di Singapura sudah punya pacar seganteng dia! Iya kan sayang," hardik gadis itu kepada laki-laki berambut cokelat. Ia lantas mengedipkan mata kepada Henry.
"Heh! Kurang ajar, kamu siapa, hah! Aku enggak kenal sama kamu. Dasar cewek enggak tahu malu!" Henry terbelalak kesal. Ia gerah dengan sikap gadis yang sama sekali tidak dikenalinya.
"Oh, jadi ini pacar baru lo," ujar lelaki itu nanar menatap Henry, kemudian menepuk pundak Henry dengan kasar.
"Cih! Jangan sentuh pacar gue dong! Tangan lo kotor untuk menyentuh pacar gue. Sakit, ya, sayang," ucap gadis itu tidak hentinya berdebat dengan lelaki yang menjadi mantan pacarnya. Laki-laki berambut cokelat tadi geram, meninggalkan Henry dengan gadis itu.
"Henry sudah pacar, ya? Aku pikir Henry laki-laki yang tidak suka pacaran. Jadi, kata-katamu yang tadi cuma angin lalu saja? Maaf, aku pergi saja," ujar Fira agak kesal.
"Eh, Mbak Fira, aku enggak pernah mau namanya pacaran! Aduh, aku enggak kenal cewek ini, sumpah. Mbak Fira tunggu!" teriak Henry dari kejauhan. Ingin menyusul Fira, tapi tangan gadis itu begitu erat merangkul tangannya.
"Fir, tunggu!" pekik Rafi berlari mengikuti Fira.
Rafi melihat Fira bersedih hingga meneteskan air mata. Ia pun geram, "Kurang ajar kau, Henry!"
Rafi jadi tersulut emosi dengan Henry hingga kembali lagi, memberi pelajaran untuk Henry. Langkah Rafi berlagak bagai serigala yang ingin menghantam musuhnya.
"Terima kasih, ya, Kak sudah membantu saya jadi pacar pura-pura saya. Soalnya saya sebal dengan mantan saya tadi itu, sukanya ngejar-ngejar saya. Saya jadi spontan mengakui Kakak itu pacar saya," ujar gadis itu tanpa rasa bersalah karena kelancangannya.
"Terima kasih palamu peyang! Gara-gara kau nih! Calon jodohku jadi pergikan. Sudah sedikit demi sedikit aku meyakinkan dia. Malah kau datang. Aku juga enggak kenal kau!" Henry meluapkan emosi kepada gadis itu.
"Aduh Kak, maaf sekali, saya tidak tahu, hehehe."
"Sudah sana! Daripada aku makin emosi lihat kelakuanmu, mending pergi deh! Enggak tahu malu, main nyosor saja."
"Sekali lagi, maaf."
Akhirnya gadis itu pergi. Henry kebingungan atas kejadian barusan. Namun tidak bagi Rafi, ia bergegas menghampiri Henry. Wajahnya merah padam menunjukkan kekesalan pada Henry. Rafi tidak bisa melihat Fira menangis, terluka dan kecewa. Itulah sebabnya, Rafi tidak jarang protektif dengan Fira.
Kepalan tangan Rafi melayang begitu keras tepat di pipi Henry. Tanpa terasa mengalir darah dari mulut Henry. Pemuda bermata sipit itu menatap Rafi dengan bengis dan tersulut emosi. Orang-orang sekitar menjadi terkejut melihat kejadian memanas di antara dua pria itu.
"Kau apakan Fira? Ini alasannya kenapa aku harus menjaga Fira darimu. Aku enggak mau Fira tersakiti. Fira nangis gara-gara kau!" gertak Rafi menarik baju Henry secara kasar.
"Apa? Mbak Fira nangis?" tanya Henry terbelalak keheranan.
"Kau makan ini! Aku tidak terima, kalau Fira sampai terluka!" geram Rafi sambil melayangkan tangan menghantam pipi Henry. Persetan dengan sekitar, Rafi terus memukuli Henry.
"Stop, Mas Rafi! Stop! Aku tidak kenal cewek tadi. Aku tidak pernah ingin pacaran. Tolong beri aku penjelasan dulu. Jangan asal main hakim sendiri!" Henry membalas menarik kerah baju Rafi secara paksa.
"You don't fight here! This flower garden. Please, if you want to fight. You guys get out of this place!" tegas salah satu petugas keamanan datang untuk melerai Henry dan Rafi. (Kalian jangan bertengkar di sini. Ini taman bunga. Silakan, jika ingin bertengkar. Kalian keluar dari tempat ini.)
Henry dan Rafi berhasil dilerai. Henry berjalan tergopoh-gopoh seraya menatap sinis ke arah Rafi. Wajah orientalnya mulai muncul beberapa memar. Darah terus mengalir dari mulutnya. Ia tidak lupa membawa kandang yang di dalamnya ada Isver.
Di arah yang berbeda, Rafi berlagak memakai kacamata hitam untuk menutupi mata, memalingkan wajah dengan angkuh dan berlari dari tempat kejadian perkara.