Energy Of Love

Energy Of Love
Nasihat Bapak dan Ibu



Malam ini Kota Semarang diselimuti suhu udara yang cukup dingin. Hembusan angin membuat dedaunan di setiap dahan bergoyang. Di komplek perumahan daerah Ngaliyan. Terpancar kilauan lampu-lampu di setiap sudut jalan. Beberapa motor masih melewati jalan yang agak menanjak.


Ada pula bapak-bapak yang berjalan menelusuri setiap gang untuk ronda malam. Namun, ada salah satu rumah kecil sederhana berdekatan dengan rumah lainnya. Ada pagar yang terpampang di depan rumah itu. Halaman depannya tampak begitu nyaman dipandang. Ada hamparan rumput hijau. Pun bunga-bunga disetiap potnya. Sepertinya penghuni rumah ini menyukai tanaman. Bersih dan asri. Dan sorotan lampu terang menandakan penghuni rumah itu masih terbangun.


Di ruang tengah Fira sedang asyik bermain dengan Zayn dan Zema. Mereka duduk lesehan di atas tikar bambu yang lembut. Namun, wajah Fira terlihat gelisah. Ia sedang memikirkan sesuatu. Sementara kedua anaknya tampak akur bermain bersama. Apalagi Zema, putra bungsunya tampak imut saat tersenyum digoda sang Kakak. Zayn.


"Ya Allah, aku harus bagaimana mengatakannya?" gumam Fira kebingungan.


"Mama, tadi Ibu guru bilang bayar SPP bulan ini," kata Zayn membuat Fira terkejut dari lamunannya.


"Oh, a-apa, Nak? SPP, ya? InsyaAllah, uangnya Mama kasih ke Nenek nanti," ujar Fira gagap.


"Kamu ini kenapa sih, Fir? Lagi banyak pikiran, ya? Daritadi Ibu perhatikan kamu main sama anak-anak malah banyak melamunnya," ujar Ratih datang di tengah-tengah mereka. Beliau ikut duduk bergabung bersama anak dan cucu-cucunya.


"Bu, Bapak mana?" tanya Fira sedikit gugup.


"Ada di kamar lagi istirahat. Memang ada apa?"


"Fira ingin musyawarah sama Bapak dan Ibu."


Fatih beranjak ke dapur. Beliau hendak membuat teh hangat itu tidak sengaja mendengar ucapan Fira. Kemudian Fatih mengurungkan niatnya untuk membuat teh hangat di dapur. Di ruang tengah, Fatih duduk di sofa. Beliau ingin tahu apa yang akan dimusyawarahkan putri sulungnya tersebut.


"Sepertinya serius. Bicaralah, Nak!" tutur Fatih. Beliau mengambil beberapa butir kacang goreng di toples untuk cemilan.


"Aduh! Bagaimana, ya? Hehehe," ucap Fira berdebar sembari menggaruk jilbabnya. Padahal tidak ada yang membuatnya gatal, kemudian berkata, "jadi begini, Pak, Bu. Tadi pagi, Mbak Ani menyampaikan pesan Pak Lukman bahwa aku tidak akan bekerja lagi di restoran."


"Loh, memang ada apa? Apa Pak Lukman tidak suka cara kerjamu?" tanya Fatih sedikit terkejut.


"Suka sekali. Oke, Fira to the point saja, ya. Jadi, besok jam sepuluh pagi itu sudah terhitung dua puluh empat jam. Fira harus menjawab, antara iya atau tidak untuk bekerja di restoran Singapura. Kalau jawaban Fira iya, besok lusa akan langsung berangkat ke Singapura. Namun, kalau jawaban Fira tidak, ya, tidak jadi. Tapi, Fira meminta pendapat dahulu sama Bapak dan Ibu. Satu lagi, karena di sana masih masa training selama dua atau tiga bulan. Jadi, belum boleh mengajak anak-anak." Fira menjelaskan secara gamblang.


Walaupun raut wajahnya resah bercucuran keringat. Agak takut Fira ingin memandang wajah Bapaknya yang begitu tegang. Namun, dalam hati Fira, apapun keputusan Bapak dan Ibu itu yang terbaik. Fira ingin menurutinya. Karena bagi Fira ridho orang tua itu ridho Allah juga.


"Jauh sekali, ya? Bekerja di restoran sebagai?" tanya Fatih memandang langit-langit rumah sembari merenung.


"Sebagai manajer, Pak," jawab Fira lirih.


"Oh, alhamdulillah jadi Ibu manajer."


"Hah? Maksudnya gimana, Pak?" Fira terkejut dengan sebutan dari Fatih tadi.


"Itu rezekimu, Nak. Iyakan, Bu?" ucap beliau seraya memandang istrinya. Ratih.


"Iya, itu rezekimu," tutur Ratih sembari menyentuh bahu Fira.


"Fira enggak mengerti maksud Bapak dan Ibu?" Fira menjadi tegang melihat kedua orang tuanya.


"Bapak dan Ibu izinkan kamu bekerja di Singapura. Sebenarnya Pak Lukman sudah telepon Bapak. Awalnya, Bapak keberatan tapi mengingat kamu pontang-panting menafkahi dua anakmu sendiri. Bapak jadi berpikir lagi. Toh, kata Pak Lukman di sana kamu bakal ada temannya. Pak Lukman juga ternyata memikirkan teman untukmu. Tenang saja, ada seorang yang bakal menemanimu di sana dan itu wanita," imbuh Fatih.


"Oh, iyakah, Pak? Alhamdulillah, terima kasih, Pak."


Fira beranjak dari duduknya. Bersimpuh dan sungkeman kepada Bapaknya. Ia terenyuh mendapatkan izin kerja dari Bapak dan Ibunya.


"Maafkan Bapakmu ini, tidak bisa membantu banyak. Karena energi Bapak juga tidak muda lagi. Di sana kamu harus fokus bekerja, ya. Untuk masa depan anak-anakmu. Bapak percaya padamu, kamu putri Bapak yang bisa menjaga diri," ujar Fatih sembari membelai kepala putrinya yang dibalut jilbab.


Fira bangkit dari sungkeman kepada orangtuanya. "InsyaAllah Pak. Lantas, bagaimana dengan Zayn dan Zema?"


"Tenang saja, ada Ibu, Bryan, Ressa dan Nina yang akan merawat mereka," ucap Ratih tersenyum teduh.


Fira terharu. Ia beranjak memeluk Ratih kemudian bersungkeman dengan Ibunya. Ratih pun membalas pelukan putri pertamanya.


"MasyaAllah Ibu. Maafkan Fira, justru merepotkan Ibu."


"InsyaAllah, Fira akan mengingat nasihat Bapak dan Ibu. Ya Allah, terima kasih. Puji syukur atas karunia-Mu, karena aku memiliki orang tua yang mendukungku," ungkap Fira terharu hingga matanya mengembun.


"Di Singapura, kamu juga harus pandai memilih pergaulan yang baik, ya, Nak! Kamu harus cari teman yang baik dalam agama," kata Fatih.


"InsyaAllah, Pak." Fira mengangguk.


"Singapura itu mana, Kakek?" tanya Zayn polos. Ia masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Ia penasaran yang dimaksud Kakek, Nenek dan Mamanya.


"Itu luar negeri. Di luar negara Indonesia. Jauh sekali," jawab sang Kakek.


"Berarti Zayn dan Zema enggak bisa ketemu Mama dong? Dan Mama enggak bakal pulang, ya?" kata Zayn mengecurut bibirnya. Kepalanya menunduk sedih seperti berat jauh dari sang Mama.


Fira beranjak dari duduknya. Ia menghampiri kedua putranya. Dipangkunya, Zayn dan Zema seraya memberikan pelukan hangat kepada mereka.


"Zayn dan Zema anak Mama sayang. InsyaAllah, kalau sudah tiga bulan masa pelatihan Mama selesai. Kalian bisa tinggal di sana. Singapura itu negara yang ada patung singa ituloh. Zayn pernah lihat kan di buku dunia?" jelas Fira.


"Oh, yang itu, ya, Ma. Terus, kalau Zayn dan Zema kangen sama Mama gimana dong?"


"Oke, Mama besok bakal belikan ponsel pintar yang bisa video call. Supaya Zayn dan Zema bisa kangen-kangenan sama Mama. Eh, tapi ponselnya dipegang Nenek aja, ya! Zaynkan masih kecil," imbuh Fira.


"Hehehe, oke, Mama."


"Kamu enggak telepon Ani malam ini untuk memberi jawaban?" tanya Fatih.


"Enggak apa-apa nih, Pak?" tanya balik Fira.


"Ya, tidak apa-apa. Jawabannya sudah yes kok hehehe." Fatih meyakinkan seraya tertawa kecil.


***


Fira berdiri dan berlari menuju ke kamarnya. Ia begitu girang dan bersyukur diberi izin oleh Bapak dan Ibu. Tangannya sigap mengambil gawai diatas meja kecil dekat kasurnya. Kemudian jemarinya menekan kontak nomor telepon Stefani untuk meneleponnya.


Seraya menunggu panggilan telepon diangkat oleh Stefani. Sorotan mata Fira melihat foto Zayn dan Zema yang menggemaskan terpajang di pigura. Tepat di atas nakas. Meskipun hatinya senang tapi batin seorang Ibu juga berat untuk meninggalkan anak-anak yang masih kecil. Apalagi Zema yang usianya satu tahun sedang dekat-dekatnya dengan dirinya. Rasa haru yang menyentuh hatinya membuat air matanya berderai.


Fira bergumam sejenak, mempunyai tekad untuk membuat bahagia anak-anaknya. Beginilah rasanya menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk anak-anak. Jika membayangkan ucapan Kirsandi supaya Fira menikah lagi. Fira sama sekali belum ada keinginan untuk menikah lagi. Menurut Fira, belum tentu ada yang mau menjadi suaminya apalagi dirinya sangat sadar dengan statusnya sebagai janda beranak dua itu.


"Assalamu'alaikum, Fir. Ada apa malam-malam meneleponku?" kata Stefani memecah lamunan Fira dari balik telepon.


Fira menjawab, "Wa'alaikumsalam, oh, Mbak Ani. Eee, aku mau kasih jawaban malam ini."


"Waw, cepat sekali, hahaha. Oke, aku siap mendengarkan."


"Alhamdulillah, atas izin Allah lewat Bapak dan Ibu telah mengizinkan aku bekerja di Singapura. InsyaAllah, besok lusa aku siap berangkat ke sana," imbuh Fira.


"Alhamdulilah, oke siap! Aku akan mengatur keberangkatanmu ke Singapura. Semangat berjuang wonder Mom! InsyaAllah, masa depanmu akan sukses bersama anak-anakmu," ujar Ani antusias.


"Eh, jangan terlalu tinggi, ah, Mbak! Hehehe," ucap Fira tersipu.


"Eh, enggak apa-apa dong! Aku doakan juga bila perlu suatu saat kamu jadi Bos besar. Kamu itu cocok jadi sosok pemimpin perusahaan," imbuh Stefani.


"Aduh, ada-ada saja. Mana mungkinlah, Mbak."


"Kalau Allah berkehendak, bagaimana? Ya, sudah aku istirahat dulu, ya. Kamu juga istirahat, jaga stamina. See you next time Ibu manajer. Assalamu'alaikum."


"Eh, MasyaAllah memujinya terlalu deh, Mbak. Wa'alaikumsalam."


Fira dan Stefani menutup percakapan melalui telepon. Tidak lama setelah menelepon itu, datang Zayn dan Zema di dalam kamar. Kedua anak yang lucu nan menggemaskan ini langsung mendekati Mamanya. Zayn, si Kakak meminta Mamanya untuk dibacakan kisah sahabat Nabi dan sholawat sebagai pengantar tidur. Fira mengangguk sambil tersenyum.


Fira menggendong Zema sembari mengambil buku kisah para sahabat Nabi di atas meja kecil. Sementara Zayn naik ke kasur memeluk guling kesayangannya. Fira juga naik ke kasur dan menaruh Zema dalam keadaan tidur. Akhirnya Fira membacakan kisah para sahabat. Setelah itu membaca doa maupun sholawat di dua ubun-ubun anaknya. Hingga Zayn dan Zema tertidur pulas.