
Bryan terengah-engah saat tiba di depan flat apartemen. Rahline terkejut dengan kehadiran Bryan. Sementara Fira berdiri sembari menangis tersedu-sedu di balkon. Bryan tidak bisa melihat Kakaknya menangis. Ia banting kedua koper itu di sofa. Lalu berlari menghampiri Fira.
Emosi Bryan memuncak. Antara marah kepada Henry dan prihatin dengan kondisi Fira. Tangan kanannya masih mengepal erat tiga buku milik Henry. Pelupuk matanya berkaca-kaca melihat wajah Fira menjadi sendu. Rahline tak mau ketinggalan tentang kejadian hari ini. Ia turut menghampiri Kakak beradik itu.
"Maaf, Bry, apa terjadi sama Kak Fira?" tanya Rahline dengan hati-hati.
"Kamu mau tahu apa yang terjadi tadi? Sungguh ironis! Dia maunya apa sih? Apa cuma mau mempermainkan Kakakku?" hardik Bryan. Posisinya membelakangi Rahline.
"Yang dimaksud ini siapa, ya?" tanya Rahline lagi.
"Haahh!" desah Bryan dengan senyuman sinis. Lantas wajahnya melengos, "keluarga kami sudah menentukan pilihan yang tepat. Seseorang yang akan menjadi suami untuk Kak Fira. Sekaligus Ayah untuk dua keponakanku. Dan pilihan yang tepat jatuh pada Henry!" Lantangnya lagi.
"Terus, kenapa kamu seperti orang marah, Bry? Kenapa Kak Fira menangis begitu?"
"Henry bilang supaya Kak Fira melupakannya dan enggak perlu memilih dia. Henry malah menyuruh Kak Fira bahagia dengan Bang Rafi. Dan Henry pergi begitu saja!"
"Apa kalian sudah memberitahu Henry soal ini?"
"Belum, Kak Fira hanya diam saja sih. Bukannya segera mengungkapkan."
Amarah Fira sontak bangkit setelah mendengar ucapan Bryan. Tanpa mengurangi rasa tega, Fira menarik kasar kerah jaket Bryan. Matanya memerah dan nanar menatap Bryan. Fira tidak bisa menahan luapan emosional.
"Aku masih belum siap kalau mendadak seperti ini! Kenapa enggak dari kemarin kamu bilang ke Kakak? Kenapa harus mendadak seperti ini?" bentak Fira.
Bryan lantas bertekuk lutut dihadapan Fira. "Maaf, Kak. Aku juga tidak tahu kalau kejadiannya seperti ini."
"Sabar, Kak, sabar," ucap Rahline berusaha melerai keduanya.
"Sebenarnya Kakak juga dari kemarin belum menemukan jawaban istikharah yang tepat. Tapi ..." Fira menjeda ucapannya.
"Tapi apa, Kak?" tanya Rahline penasaran.
"AKU BINGUNG!" pekik Fira meremas jilbabnya.
"KAK!" pekik Bryan mencengkeram erat kedua bahu Fira, "barangkali ada kesempatan, ayo kita ke tempat Henry! Tiga bukunya tadi jatuh di tanah. Kita kembalikan ini." Bryan menimpali seraya menunjukkan tiga buku milik Henry.
"Kakak rasa sudah pupus." Fira melirih dan lunglai.
Tanpa persetujuan dari Fira, Bryan menarik tangan Fira lalu membawa Fira pergi. Tangan Bryan juga masih menenteng tiga buku milik Henry. Rahline mengikuti dari belakang. Tatkala Bryan, Fira dan Rahline ke luar dari kamar apartemen. Rafi hadir di tengah-tengah mereka. Ia tercengang melihat mata Fira sembab. Fira menundukkan kepala karena masih memiliki rasa malu menangis dihadapan orang lain.
"Ada apa dengan Fira?" tanya Rafi.
"Enggak ada waktu untuk bertanya. Sekarang, aku ingin Bang Rafi antarkan kami ke tempat Henry!" perintah Bryan.
"Okelah, ayo aku antarkan!" ajak Rafi tergesa-gesa.
Secepat mungkin Rahline mengunci pintu flat apartemen. Mereka berempat bergegas menuju ke lobi kemudian ke tempat parkir. Rafi bergerak cepat masuk ke dalam mobil. Disusul oleh Bryan, Fira dan Rahline. Rafi langsung menancapkan gas kemudinya menuju apartemen yang di tempati Henry.
***
"Ya Allah, apakah aku mulai mencintai Henry?" gumam Fira pilu, "mendengar ucapannya yang tadi cukup menyesakkan dada."
Fira menyandarkan kepala di jendela mobil. Ia bersama Rahline duduk di tengah. Sementara Bryan duduk di depan bersama Rafi. Setetes air mata membasahi pipi Fira. Namun, Rafi yang sedang mengemudi mobil, diam-diam melirik Fira dari kaca spion yang bergelantungan di dalam mobil.
"Apa yang terjadi hari ini? Kenapa harus menyusul Henry? Apakah Fira sudah memilih di antara aku dan Henry? Perasaanku jadi tidak enak," gumam Rafi gelisah tak menentu.
"Bang Rafi, buruan! Kalau nyetir itu harus fokus!" tegur Bryan.
"Eh, iya-iya, maaf," ujar Rafi gugup.
Rafi kembali fokus mengemudikan mobil. Sementara Bryan sedari tadi gelisah. Ia celingak-celinguk mencari sosok Henry. Rahline hanya bisa bersedih dengan kejadian ini. Dirinya sudah mengetahui bahwa pilihan yang tepat adalah Henry bukan Rafi. Apapun yang menjadi keputusan keluarga Fira. Rahline berusaha berlapang dada.
***
Saat itu Fira benar-benar nekat. Yang penting, Fira ingin ada seorang yang mengerti perasaannya. Di dalam mobil, Fira meradang sendirian. Ada hasrat ingin pergi jauh bahkan ada keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, Fira masih mengingat Zayn. Persetan dengan sepanjang perjalanan, ia terus melaju kencang menuju ke SMA Negeri 3 Kota Semarang.
"NGGAK ADA SATUPUN YANG MENGERTI AKU! KENAPA SEMUA MEMIHAK MAS KIRSANDI! AARRGGHH!" pekik Fira seraya membanting setir.
Setibanya di sekolah Henry, Fira membanting pintu mobil. Ia berlari masuk ke halaman sekolah. Dua satpam yang sedang berjaga bersikap ramah menyambut kehadirannya. Namun, Fira tidak peduli dengan itu. Ia terus berlari hingga bertemu dengan salah satu siswa sekolah berkacamata. Siswa itu berperawakan tinggi darinya, kulitnya sawo matang dan usianya masih sebaya dengan Henry.
"Kamu kenal dengan Henry?" tanya Fira bersuara parau.
"Kenal Mbak. Mbaknya siapa?" ujar pemuda berkacamata itu.
"Tolong panggilkan dia ke mari. Aku ingin bicara padanya. Bilang saja, aku ini temannya," perintah Fira terisak-isak.
"Oh, iya-ya, tunggu sebentar, ya, Mbak," kata pemuda itu. Ia membalikkan badan dan berlari menuju ke kelas.
Sepuluh menit kemudian, Henry tiba di belakang Fira. Sementara Fira masih membelakangi Henry. Langit dan cuaca saat itu sedang tidak bersahabat. Awan hitam pekat telah menyelimuti langit. Seakan mengerti kondisi hatinya yang lebur ini. Tampaknya akan ada badai hujan yang mengguyur Kota Semarang. Seperti air mata Fira yang terus berderai membasahi pipi.
"Mbak Fira," sapa Henry hingga Fira membalikkan badan dihadapan Henry, "loh matanya kok bengkak? Seperti habis menangis."
Fira duduk bersimpuh seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, segala rintihan hatinya menimbulkan derai air mata.
"Ada apa, Mbak? Apa ada masalah?" tanya Henry juga turut duduk bersimpuh.
"Aku harus bagaimana, Henry?" tanya Fira lirih.
"Maksudnya?" Henry berbalik tanya kepada Fira.
"A-aku sudah tidak kuat lagi! Aku ingin menyerah! Aku lelah dengan situasi seperti ini!" Fira merasakan pilu ini hingga gemetar. Ia mengepal kedua tangannya. Terasa penuh sesak dalam dada.
"Ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"
"Suamiku, dia semakin berlaku kasar padaku dan ingin menikah lagi. Di matanya, aku selalu salah. Aku mencoba bertahan untuk anakku, Zayn. Tapi kenyataannya seperti ini. Aku sakit dan lelah!" Fira menimpali dengan penuh amarah.
"Istighfar, Mbak."
"Henry, aku mohon bantu aku!" Mata Fira terus bercucuran air mata. Mengiba memandang Henry.
"Maaf, Mbak. Dalam urusan seperti ini aku tidak ingin ikut campur. Itu urusan rumah tangga kalian." Begitulah yang diucapkan Henry.
Fira terus mengiba kepada Henry. Namun, Henry terus menolak dan meninggalkan Fira sendirian di sana. Fira semakin tertekan dan terpukul. Ia merasa sudah tidak ada gunanya lagi untuk hidup. Hingga hujan deras mengguyur kota ini. Dan akhirnya Fira memutuskan untuk pergi dari sana.
***
"Kak! Kita sudah sampai di apartemennya Henry loh. Ayo turun!" ajak Bryan membuyarkan lamunan Fira.
"Hah? Oh, iya. Turunlah dulu. Aku segera menyusul," ucap Fira tersadar dari lamunannya.
"Ini tiga buku milik Henry. Kakak aja yang mengembalikannya. Sekalian ngomong soal pilihan yang tepat," kata Bryan menyodorkan tiga buku itu kepada Fira.
"Pilihan yang tepat? Jadi sudah ada jawaban?" tanya Rafi membuat rasa penasarannya menggebu-gebu.
"Apapun yang menjadi keputusan pilihan yang tepat. Harus ikhlas dan legowo, ya. Begitupun Bang Rafi," ungkap Bryan.
"Ya, insyaAllah," ucap Rafi dengan rasa berdebar-debar.
Setelah Bryan menyerahkan tiga buku milik Henry. Fira terdiam. Dalam benaknya, tiba-tiba timbul sejuta tanda tanya. Pun semakin membuatnya penasaran siapa sosok Henry itu. Karena tiga buku milik Henry di antaranya buku tentang CEO, Father dan buku harian Henry yang pernah dipegang oleh Fira.
"CEO? Father? Apa semua ini? Siapa sebenarnya sosok Henry ini?" Fira bergumam seraya mengerutkan kening.