Energy Of Love

Energy Of Love
It's About Us!



Fira, Rafi dan Naomi di gedung aula. Acara kumpulan pengusaha sore itu tampak ramai. Sebelumnya, ketiganya sudah tiba siang tadi. Mereka juga sudah berganti pakaian secara formal. Kalangan di acara ini mulai dari pengusaha menengah bawah hingga atas.


Tidak hanya dari daerah setempat saja, para hadirin yang diudang ini seluruh Indonesia. Adapun sebagian dari mancanegara. Wajar saja, jika banyak kerumunan manusia di sana. Gedung aula yang luas terkesan mewah itu hanya ada di Hotel JW Marriott Surabaya. Untung saja, pihak penyelenggara sudah menentukan tempat khusus Rafi, Fira dan Naomi. Meja dan kursi pas untuk tiga orang. Tepat di depan dan dekat dengan panggung.


Fira takjub melihat kilaunya aula tersebut. Baru kali ini, ia menapaki ruangan yang ada kumpulan pengusaha. Minder dan ciut menyelimuti diri Fira, merasa tidak bisa berbuat apa-apa saat di acara tersebut. Jika bertemu dengan pengusaha sesama wanita, ia bersalaman dan menyapa dengan ramah. Fira perlu belajar berinteraksi dengan kalangan seperti ini.


Lain halnya dengan Naomi, sedari tadi ia piawai berbicara kepada pengusaha lainnya. Elegan dan berwibawa sekali. Naomi fasih berbahasa Inggris saat bertemu pengusaha dari mancanegara.


Fira memangut. Hanya Naomi yang bisa mewakili dirinya. Sementara Rafi sibuk mengobrol dengan beberapa pengusaha pria. Fira melihat Rafi dari kejauhan. Baru ini, ia melihat wajah Rafi tampak serius dan berwibawa. Rafi memancarkan aura pria dewasa. Diam-diam Fira kagum, jika sahabat kecilnya sudah tumbuh menjadi pria dewasa.


Acara akan dimulai. Pembawa acara mengenggam mikrofon, lalu mempersilakan para hadirin untuk duduk di kursi yang sudah ditentukan. Rafi, Fira dan Naomi duduk paling depan. Tepat di deretan pengusaha menengah atas.


Gugup dan minder masih melekat pada Fira. Lebih baik diam daripada salah bicara. Ia memilih menunduk saat sudah duduk di kursi. Padahal di atas meja sudah tersedia roti, teh hijau hangat dan air mineral. Namun belum diliriknya juga.


Tepat di belakang Fira, dua orang pemuda dan seorang pria setengah baya. Di sisi lain, seorang lelaki muda memakai kacamata hitam hingga menutupi dua matanya. Sebagian wajahnya juga tertutup oleh masker hitam. Saat itu juga mereka berjumpa dengan salah satu pengusaha tersohor di Surabaya. Mereka saling bersalaman dan tertawa lepas.


Disela-sela pembicaraan, seorang pemuda bermata bulat semringah mencolek bahu Naomi. Naomi terperanjat seraya menatap sinis ke arah pemuda itu justru mengangkat dua alisnya.


Naomi melirik ke arah seorang yang mengenakan kacamata dan masker hitam. Wanita cantik itu paham maksud pemuda yang jadi sepupunya itu. Ia memberi isyarat dengan mengepal tangan supaya pemuda itu tidak lagi menjailinya. Pemuda bermata bulat agak sipit jadi tertawa seringai.


Lelaki muda berkacamata dan masker hitam membelakangi punggung Fira. Ia terus mengobrol dengan pengusaha yang tersohor di Surabaya. Mereka berdua seperti lama tak berjumpa, sehingga tercipta keakraban pada keduanya.


"Sudah berapa tahun, ya, kita tidak bertemu? Kamu mulai beranjak menjadi pria dewasa. Jarak jauh sangat menghalangi kita untuk bertemu," ucap seorang pengusaha yang usianya sudah di atas lima puluh tahun.


"Yang jauh raga kita. Bukan hati kita. Hati yang saling mendoakan. Benar? Hahaha," kelakar pemuda berkacamata dan masker hitam. Suaranya terdengar parau.


Fira tiba-tiba merasakan getaran dalam hati. Ia menyentuh dada, hangat dalam aliran darahnya. Wanita itu seketika merinding karena terdengar jelas ucapan lelaki bersuara parau itu. Namun Fira tidak berani menoleh ke arah suara lelaki.


Fira tetap menunduk karena pemalu dan belum terbiasa hadir di acara berkelas ini. Firasatnya seperti tidak asing dengan suara lelaki tadi. Meski suaranya dibuat parau dan ucapan lelaki itu seolah mengarah kepada Fira.


Seorang pembawa acara itu menggenggam mikrofon. Ia juga mengedarkan pandangan seraya berkata, "Selamat sore para hadirin sekalian. Perkenalkan, saya Faruq Alfarisi selaku pembawa acara di sini. Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Karena kita semua bisa berkumpul di sini dan suatu kehormatan bagi kami pihak penyelenggara acara."


"Di sini saya juga tidak sendiri. Bukan berarti saya ngenes karena kejomloan saya, ya," kelakar Faruq membuat para hadirin tertawa. "Saya juga bersama teman se-MC, dia adalah Aditi Rae. Kerap disapa Bang Rae. Tepuk tangan untuk kita semua."


Para hadirin antusias bertepuk tangan. Rae selaku pembawa acara kedua naik ke atas panggung. Faruq menyambut ramah kepada Rae. Rae dan Faruq duduk bersebrangan di sofa. Karena sofa tengah khusus bintang tamu di acara tersebut.


"Acara ini penting sekali untuk para pengusaha seperti kita, ya. Di sini akan ada sharing dari dua pengusaha tersohor. Agar kita semua bisa memetik ilmu dari mereka," jelas Rae.


"Betul sekali, Bang Rae. Siapa tahu kita bisa menular kesuksesan dari mereka, ya. Aminkan!" seru Faruq. Para hadirin sangat antusias mengaminkan ucapan Faruq.


Rae menambahkan. "Baiklah, hari ini kita juga kedatangan dua tamu spesial. Tentunya menginspirasi bagi para pengusaha di sini. Dua tamu ini telah sukses menjadi pengusaha. Salah satunya ada yang masih muda banget, ya. Dia adalah seorang anak pengusaha termasyhur. Meneruskan usaha Ayahnya. Karena saat ini Ayahanda sedang sakit, mari kita berdoa untuk kesembuhan Bapak Lee Hyun Joong. Doa dimulai."


Semua orang menunduk dan khusyu dalam berdoa untuk kesembuhan seorang pengusaha termasyhur. Namun berbeda dengan Fira, sontak memangguk saat pembawa acara tersebut menyebutkan nama Lee Hyun Joong. Nama itu pernah disebut oleh Hardi. Tak lain dan tak salah lagi adalah nama papinya Henry. Fira kembali menunduk untuk mendoakan papinya Henry. Pikirannya berkecamuk oleh bayangan Henry. Firasat Fira mengatakan pasti Henry juga ada di sini.


***


"Mari kita sambut dengan hormat Bapak Gunawan Tereza dan Oppa, eh, Hyung saja manggilnya. Karena dia masih terlalu muda hehe. Ya, Hyung Lee Hyun Ki!" seru Rae.


Gunawan yang lebih dalu menaiki panggung, kemudian disusul oleh pemuda yang tadi disebut Lee Hyun Ki. Pemuda itu melepaskan kacamata dan masker hitamnya. Lee Hyun Ki yang tidak asing lagi adalah Henry sendiri. Gagah, tampah dan rupawan dengan kemeja putih yang dipadukan jas hitam.


Para hadirin takjub. Sambutan itu dengan seruan tepuk tangan. Semua mata terpanah oleh paras Henry. Dari kejauhan, Fira terbelalak tanpa berkedip. Begitu juga dengan Rafi. Mereka dibuat pangling oleh sosok Henry yang jadi pemuda berkelas. Fira menyentuh dada karena hati kian berdebar-debar. Sementara Rafi cemburu melihat ekspresi Fira terkesima dengan Henry. Rafi lantas berdiri meninggalkan kursi. Naomi merasa menang karena Fira sekarang bisa berjumpa dengan Henry.


"Ya Allah, takdirkanlah adikku Henry dengan wanita pujaan hatinya, Fira. Papi dan Mami sudah merestui mereka berdua," gumam Naomi terenyuh bahagia.


"Naomi!" desis Fira.


Sejenak ia melihat wajah Henry. Sejenak pula ia melihat wajah Naomi. Fira membandingkan wajah keduanya. Rasa penasarannya kian membuncah. Fira menilik Henry dan Naomi bak seorang detektif.


"Benarkah kamu itu saudara Henry? Kalian mirip! Jawab jujur!" tegas Fira bersuara lirih.


"Baiklah, aku jujur. Aku adalah Kakaknya Henry," jawab Naomi tersenyum.


"What? Ya Allah!" Fira terkejut. Ia tidak menyangka, kemudian pandangan itu seperti sedang mencari sesuatu. "Bang Rafi mana?"


"Dia keluar dari ruangan ini. Mungkin dia lagi ke toilet," jawab Naomi.


"Naomi, kenapa kamu malah bekerja bersamaku? Kamukan anak pengusaha besar."


"Mau tahu alasannya? Nanti, ya, setelah acara ini."


"Ini mimpi enggak sih? Itu sungguh Henry kan? Naomi please pertemukan aku dengan Henry," pinta Fira mengiba.


"Enggak lagi mimpi kok. Yeah, it really is Henry. Dan sepertinya kita sulit bertemu dengannya. Karena setelah ini, adikku akan terbang ke Korea Selatan," imbuh Naomi.


"Sepertinya enggak bisa, Fira. Ada bodyguard yang menjaga ketat Henry. Ungkapkan saja padaku."


Fira bergeming. Guratan kecewa terukir di wajahnya. Hatinya menggebu-gebu ingin mengungkapkan pilihan yang tepat itu. Fira kembali menatap ke arah Henry. Henry duduk di samping Gunawan. Henry juga membalas tatapan Fira. Mereka saling bertatapan hingga jadi sorotan di sekitarnya.


Ketika lisan sulit mengungkapkan. Hanya tatapan mata yang dapat menerawang isi hati. Biar dua hati ini bicara. Dua hati yang bersemai cinta.


Begitulah tulisan Henry dalam buku harian yang pernah dibaca oleh Fira. Tulisan itu melekat pada pikiran dan hati Fira. Rangkaian tulisan yang menyentuh sudah terjadi pada hari ini. Keraguan Fira kepada Henry seketika sirna. Hari ini juga hati kian mantap memilih Henry.


"Menurut Hyung sendiri. Adakah sedikit pengalaman selama meneruskan perusahaan Ayahanda?" tanya Faruq membuyarkan lamunan Henry.


"Bismillah, sebelumnya, panggil saya Mas saja, hehe. Saya juga orang Indonesia," jawab Henry tersipu sembari melirik ke arah wanita dambaannya. Fira.


"Baiklah Mas ..."


"Mas Henry saja."


"Dasar adik tengil! Enggak beda jauh dengan Dareen sepupu kita!" gumam Naomi meringis sembari mengingat tingkah pemuda yang sempat menjailinya tadi.


"Saya sebagai owner di dua perusahaan yang telah dibangun oleh Papi saya. Maksudnya, dua perusahaan ini sangat dipertahankan. Sebenarnya keluarga kami memiliki lima perusahaan. Hanya saja, tiga perusahaan itu harus dibeli klien besar karena untuk membiayai pengobatan Papi. Tinggallah dua perusahaan. Saya akan menjaga amanah untuk meneruskan dua perusahaan tersebut. Tentu, di sini ada yang sudah tahu perusahaan yang dikelola Papi saya. Jika ada belum tahu, nama perusahaan hiburan kami adalah Excellent. Pusatnya di Seoul Korea Selatan dan cabangnya di Indonesia, tepatnya di Semarang," jelas Henry secara gamblang.


"Memang kesehatan sangat berharga, ya. Apalagi untuk Ayahanda tercinta," ucap Rae terenyuh.


"Demi kesehatan Ayahanda tercinta, apapun kami lakukan!" Henry terdiam sebentar. "Saya juga di sini masih pemula, ya. Justru saya yang harusnya banyak belajar dari para hadirin sekalian. Belajar dari titik nol dan merintis. Belajar dari hidup sederhana dan belajar dari cinta."


Fira semakin takjub dengan Henry. Selama Henry berbicara, ia selalu tersenyum. Naomi berusaha menggoda Fira dengan menyubit sikunya. Fira tersipu malu hingga pipinya merah merona. Sedangkan Rafi masih tidak ada di bangkunya. Raganya belum kunjung kembali ke aula.


"Jika ada media yang memberitakan perusahaan kami bangkrut. Bagi saya, ini bukan bangkrut. Tapi ini adalah awal untuk bangkit kembali. Allah juga ingin saya ikhtiar dari awal lagi. Supaya saya dapat merasakan begini loh ketika Ayahmu berjuang keras untuk menafkahi keluarga," ujar Henry.


"Wow, apakah Mas Henry akan berencana menafkahi keluarga? Maksudnya, seperti memiliki istri dan anak," ucap Faruq.


"Jujur saja, iya. Selain ingin menafkahi keluarga saya sendiri. Saya juga ingin menafkahi istri dan anak-anaknya saya kelak. InsyaAllah."


Fira masih tidak percaya dengan Henry yang merupakan penerus perusahaan papinya. Seakan Henry di hadapan kini seperti dalam mimpi.


"Bagaimana Adikku? Masih ragu dengannya?"


Pertanyaan Naomi membuat Fira terkejut dan bungkam. Seakan Naomi sedang membaca isi hatinya. Fira tersenyum malu melirik Naomi.


"Eh, aduh, enggak tahu lagi harus ngomong apa?" Fira merasa salah tingkah sambil menyengir.


Naomi melanjutkan, "Asal kamu tahu, ya. Wanita yang dicintainya setelah Mami dan saudara kandung perempuannya itu adalah kamu, Fir. Henry juga enggak pernah pacaran. Kalau ada cewek yang menyatakan cinta ke dia, semua ditolak sama dia. Kamu wanita beruntung itu Fira."


Lanjut Henry dalam sesi pembicaraan. "Saya selalu ingat kutipan seseorang ini. Apa yang kita alami sekarang disyukuri saja. Kalau kamu bersyukur, Allah tambahkan nikmat itu. Jika orang itu mau sukses, berjuang dari nol dulu. Pastinya dengan tekad dan optimis. Dan yang utama itu lebih mendekatkan diri kepada Allah." Lanjut Henry dalam sesi pembicaraan.


Fira kian tercengang bukan kepalang, jadi ingat atas nasihat yang ia berikan kepada Henry. Ucapan Henry barusan adalah ucapan Fira lampau itu. Ketika Fira bertemu dengan Henry di restoran Semarang.


***


Usai acara kumpulan pengusaha, Fira berlari kencang ke luar ruangan. Berharap ada kesempatan untuk berjumpa dengan Henry. Fira ingin mengungkapkan pilihan yang tepat, yang selama ini dipilih oleh Zayn dan keluarga kecuali Fatih. Fira ingin menyelesaikan semuanya. Supaya dirinya juga lega.


Fira ingat pesan Ratih untuk tidak menggantung. Di hari itu juga, ia memantapkan hati. Dari belakang, Naomi bergegas mengejar Fira di antara kerumunan orang. Fira persetan dengan sekitarnya. Ia terus berlari sampai parkiran mobil untuk menemui Henry.


Saat tiba di parkiran mobil, Fira sedih bercampur kesal, karena di sana banyak sekali kerumunan wartawan yang mewawancarai Henry. Henry di jaga ketat oleh beberapa bodyguard. Seorang pemuda dan seorang pria setengah baya yang masih keluarganya itu juga selalu menemani Henry.


Untuk menyampaikan pilihan yang tepat, Fira lakoni dengan nekad. Fira berusaha menyelip disela-sela kerumunan wartawan. Sumpek sudah pasti. Fira tidak peduli itu. Namun saat hendak sampai di hadapan Henry, Naomi menarik lengan Fira. Menggeret Fira supaya keluar dari kerumunan wartawan.


"Can you listen to me? It's about us!" teriak Fira kepada Henry. Ironisnya pekikan Fira tidak ada gunanya. Percuma.


"Jangan nekad! Ini bahaya bagimu. Di sana banyak wartawan. Kalau kamu kekeh ingin ke sana, pasti akan di sorot media," tegur Naomi dengan penuh cemas.


"Tapi Naomi, aku ingin mengungkapkan bahwa pilihan yang tepat adalah Henry! Ini pilihan dari keluargaku. Dan dariku juga." Napas Fira tersengal-sengal. Seketika tubuhnya terkulai lemas usai berlari.


"Ada aku Kakaknya! Nanti aku bisa sampaikan langsung ke Henry. Saat ini Henry juga enggak ingin komunikasi dulu sama kamu. Henry ingin fokus dulu ke kuliah dan perusahaan," imbuh Naomi.


"Terus? Apakah Henry serius dengan ini?"


"Kamu percaya denganku. Henry orangnya serius dan tulus. Kamu perlu bersabar saja. Kita pulang ke hotel, aku akan bercerita banyak. Dan lagi, bukankah besok kamu ada acara bridal shower dua sahabatmu? Ya, sudah kita istirahat dulu di hotel."


Fira menuruti Naomi. Sejenak Fira mengatur napas yang tidak beraturan. Naomi merangkul Fira dengan sabar. Membawanya kembali ke mobil travel untuk mengantar mereka ke hotel. Sementara batang hidung Rafi tidak terlihat. Seperti hilang di telan bumi. Fira dan Naomi lupa dengan Rafi, hingga mereka sudah pergi dengan mobil travel meninggalkan Hotel JW Marriott.