Energy Of Love

Energy Of Love
Kilas Balik (2)



Fira melanjutkan kisahnya bersama Kirsandi. Rahline duduk di samping Fira, menatap haru mendengar kisah ini. Gadis manis itu juga menawarkan diri untuk menyuapi Fira dengan sekotak bubur yang diberikan oleh Henry.


Awalnya Fira malu dan merasa tidak enak pada Rahline yang ingin menyuapinya. Namun Rahline terus membujuk Fira, karena bagi Rahline, Fira sudah dianggap kakaknya sendiri.


"Terima kasih, ya, Lin. Aku jadi merepotkanmu," kata Fira.


"Enggak apa-apa, Kak. Aku tidak merasa direpotkan. Yuk, dilanjutkan lagi kisah Kakak dengan Mas Kirsandi. Supaya isi hati Kakak sedikit lega. Barangkali ada pelajaran yang bisa aku ambil," ucap Rahline.


"Singkat cerita dan intinya saja, ya. Di tahun kedua pernikahan kami, mulai muncul konflik. Puncaknya konflik rumah tangga itu di tahun ketiga usia pernikahan," imbuh Fira.


"Terus?" Rahline semakin penasaran.


Fira kembali hanyut dalam ingatan masa lalu. Malam itu, Kirsandi pulang dari tempat kerja. Fira melihat raut wajah Kirsandi yang linglung dan kusut. Saat itu Fira sedang bermain dengan Zayn di ruang tengah dan wanita itu dalam kondisi tidak enak badan.


Ketika Fira bercermin, kantung mata terlihat menghitam dan sayu. Fira selalu memakai daster dan jilbab di rumah, karena memang nyaman memakai daster ini.


Zayn asyik bermain mobil-mobilan, hingga kemudian Zayn merengek ingin meminum ASI dari Fira. Ibu muda ini sigap menggendong Zayn hingga ke kamar. Sedangkan Kirsandi berkutat dengan dunianya sendiri tanpa menoleh Fira sedikit pun.


"Kerjamu di rumah apa, hah? Rumah enggak tahu namanya beres. Setiap aku pulang pasti berantakan. Mbok, ya, dirapikan--- kalau ada waktu senggang!" bentak Kirsandi sambil berdiri dan menatap tajam ke arah Fira.


"Aku sudah beres-beres, Mas. Cuma Zayn main, jadinya berantakan lagi. Itu wajar kan? Masa Zayn dilarang main? Aku juga sedang sakit. Kepalaku pusing berat. Sudah dua minggu ini aku pilek. Tidak biasanya pilek seperti ini," jelas Fira parau sembari menyusui Zayn.


"Selalu alasan! Alasan terus. Aku bosan dengarnya! Aku lihat kamu pegang hp terus, itu apa?"


Fira beranjak dari rebahan dan meluapkan segala uneg-uneg. "Kenapa sih Mas selalu lihat aku pas pegang hp? Kenapa Mas selalu memandangku sebelah mata? Yang lalu-lalu, aku sudah kuliah, mengurus rumah tangga dan anak. Aku sakit bisa ditahan. Aku jarang mengeluh karena tidak mau membebani Mas. Kalau aku lapor setiap kegiatan di rumah, nanti Mas bilang, aku enggak ikhlas jadi ibu rumah tangga. Kalau aku enggak lapor, dikira aku mengganggur saja."


"Aku pegang hp karena sedang berjualan online shop dan materi kuliah. Aku perlu cari tambahan untuk kebutuhan dan keperluan. Mas hanya pegang uang sendiri. Aku diajarkan malu untuk minta-minta! Pun aku sudah atur waktunya. Tolong, hargai aku sedikit saja. Bila perlu, aku rela kok berhenti kuliah. Kalau Mas ingin rumah rapi dan bersih," lanjut Fira.


"Sakit, sakit, sakit terus! Lama-lama aku pusing sama kamu. Selalu ada saja alasannya," hardik Kirsandi membanting tubuh ke ranjang.


"Aku ingin Mas dengarkan curahan hatiku. Aku ingin Mas kerjasama denganku membantu pekerjaan rumah dan jagain Zayn. Aku ingin Mas hargai dan mengerti sedikit saja usahaku."


"Tahu gini aku cari istri yang lain saja! Kamu istri enggak becus mengurus suami. Gini saja sudah mengeluh."


Dadanya terasa sesak bak dihujam sembilu dan Fira menegaskan kepada Kirsandi. "Astaghfirullah, aku harus bagaimana? Lama kelamaan aku depresi menghadapi sikap Mas begini! Iya, maaf, kalau aku bukan istri yang baik bagi Mas. Jika aku dan Zayn hanya beban untuk Mas. Ya, sudah ikhlaskan aku saja."


"Aarrgghh!" Kirsandi beranjak pergi dari kasur sembari membawa bantal. Pria itu juga membanting pintu dengan kasar. Lagi-lagi, Fira meradang sendiri.


***


Di tahun kedua hingga ketiga usia pernikahan Fira dengan Kirsandi tiada hari tanpa debat. Visi dan misi Fira dengan Kirsandi tidak pernah sejalan. Di mata Kirsandi, Fira selalu dianggap sebelah mata. Kirsandi selalu menganggap ucapan Fira hanya angin lalu.


Setiap perdebatan memicu amarah dan isak tangis. Yang Fira inginkan, Kirsandi cukup mendengarkan curahan hati istrinya itu. Namun yang diperoleh Fira justru selalu disalahkan dan disudutkan. Yang Fira inginkan perhatian dan dihargai sebagai istri dan ibu dari putranya. Namun setiap ada masalah Kirsandi bersikap acuh tak acuh dan selalu memilih pergi dari rumah.


Rumah tangga suami-istri ini harmonis hanya dalam sementara saja. Selebihnya Fira dan Kirsandi bersitegang lagi. Fira berusaha mengalah supaya mempertahankan rumah tangganya meski hatinya tercabik-cabik. Ia bingung dengan jalan pikiran Kirsandi.


Saat usia ketiga tahun pernikahan suami-istri itu, Kirsandi semakin sering kasar, membentak dan menyakiti hati Fira. Tak jarang pria bertubuh gagah itu melontarkan kata-kata yang merendahkan Fira.


Nafkah hanya akan diberikan jika Fira melayani Kirsandi hingga puas. Kirsandi melakukan pisah ranjang kepada Fira tanpa alasan. Ironisnya, kadang Kirsandi pergi berhari-hari tanpa sepengetahuan Fira. Semakin terkoyak hati Fira dibuatnya. Sudah mati rasa dengan suaminya tersebut.


Fira semakin bingung kepada siapa ia ingin mencurahkan isi hati yang rapuh ini. Fira benar-benar di puncak frustrasi menghadapi Kirsandi. Ingin bercerita kepada orangtuanya, Fira tidak tega membebani orangtuanya lagi, karena belum lama, Fira bercerita kepada bapak-ibu. Alhasil tidak ada satupun yang mengerti perasaannya.


Orangtua Fira ingin putrinya tetap mempertahankan rumah tangga demi Zayn, putra semata wayang. Ingin dipendam saja rasanya tidak baik, justru akan membuat Fira semakin tertekan dengan keadaan. Fira terpaksa hanya bercerita kepada Khalifah, sahabat yang ia percayai selama ini.


"Ya Allah, sabar dan kuat, Fira. Aduh gimana, ya? Aku bingung memberi saran apa? Takut salah. Ya, sudah kamu salat tahajud dan taubat saja. Minta petunjuk kepada Allah. Banyak berdoa, ya. Sebenarnya aku enggak tega kamu seperti ini. Aku juga doakan kamu supaya selalu kuat," ucap Khalifah.


"Rasanya aku tidak bergairah untuk hidup. Aku ini istri yang tidak berguna, ya, Fah. Sudah mati rasa semuanya."


"Hei, astaghfirullah, Fir. Istighfar, Fir! Kamu punya Allah dan Zayn. Jangan ngomong gitu, ah! Lebih baik kamu salat minta pertolongan kepada Allah."


Suara Fira jadi serak basah karena saking lelah menjalani pahit prahara rumah tangga. "Aku menikah karena ingin mendapat ridho Allah dan suami, tapi bukan berarti aku ingin dipoligami. Aku enggak sanggup, Fah!"


Fira menutup percakapan dengan Khalifah melalui telepon. Wanita berwajah sayu itu melihat Kirsandi sibuk menelepon seseorang. Setelah menelepon seseorang dari luar rumah, Kirsandi mengemasi barang-barang, kemudian memasukkan ke dalam tas. Dada Fira jadi sesak dibuat Kirsandi, hanya bisa berdiri mematung memandang Kirsandi di kamar.


"Mas mau ke mana?" tanya Fira hati-hati.


"Ya, kerjalah. Bawel banget!" jawab Kirsandi dengan ketus.


"Akukan cuma tanya."


"Aku merasa kita ini enggak cocok. Selalu berselisih dan berdebat. Aku hendak menikah lagi dengan wanita yang cocok untukku," dalih Kirsandi itu menusuk hati Fira, bagai banyak pisau yang menancap di hati. Sakit dan perih sekali tapi tidak berdarah.


"Aku rela berhenti kuliah, Mas. Yang penting aku jadi istri yang bisa menyenangkanmu. Biar kita ada kecocokkan dan keharmonisan lagi. Aku mohon, jangan berkata menikah lagi dengan wanita lain. Aku bukan ingin menentang poligami, tapi aku tidak sanggup berbagi suami dengan wanita lain," pinta Fira mengiba. Isak tangis itu mengucur di pipi, kemudian Fira bersimpuh di hadapan Kirsandi.


"Lanjutkan saja kuliahmu. Aku ingin kamu sukses," ucap Kirsandi dengan santai.


Tatapan Fira mengembun seakan ada harapan supaya Kirsandi luluh padanya. "Untuk apa aku sukses? Kalau melihat suamiku bahagia dengan wanita lain. Mas, aku mohon jangan tinggalkan aku. Ingat kata Mas untuk menjadikan aku istri satu-satunya. Apa cinta Mas untukku sudah tidak ada lagi?"


"Jangan melarang suami untuk menikah lagi. Daripada suami berzina kan?"


"Aku kurangnya apa, Mas? Tolong jelaskan dan nasihati aku, biar aku perbaiki," ucap Fira lantas menyeka air mata dengan tangan. "Oke, kalau Mas ingin menikah lagi, tapi ikhlaskan aku. Aku enggak sanggup, Mas! Untuk menggapai surga masih ada jalan dan cara lain."


Zayn menangis kencang di atas kasur sehingga menyulutkan emosi Kirsandi, kemudian Kirsandi menghampiri Zayn dan hendak melemparkan gelas kaca ke arah putranya itu.


Fira sigap melindungi Zayn dan berhasil menangkis gelas itu ke lain arah. Amarah Fira kali ini tak tertahan lagi. Sungguh Kirsandi telah melampaui batas yang nyaris menyakiti darah dagingnya sendiri.


"Mas silakan sakiti aku. Tapi jangan sakiti Zayn! Sekali saja melukai anakku, aku enggak segan-segan menuntut cerai darimu! Yang begini mau menikah lagi? Aku malah kasihan dengan wanita lain yang ingin menikah dengan Mas. Sedangkan Mas Kirsandi saja mendzolimi aku dan Zayn!" gertak Fira menatap berang di hadapan Kirsandi.


"Maafkan aku, ya Allah. Aku hanya ingin melindungi anakku. Persetan dengan Mas Kirsandi. Lelaki yang di hadapanku ini bukan seperti suami yang aku kenal dulu," batin Fira hingga sekujur tubuh kurus itu gemetar.


"Aarrgghh!" Kirsandi hanya bisa meraung bak orang tertekan. Pria berbalut kemeja itu lantas melengos tanpa mempunyai rasa kasih terhadap istri dan anak.


Suara tangis Zayn semakin keras. Fira melihat wajah anak laki-lakinya penuh ketakutan setelah melihat ayahnya yang menyeramkan. Naluri seorang ibunya langsung memeluk erat Zayn sembari membelai rambut.


Sebenarnya dalam benak Fira sudah tidak kuat lagi, bisa saja ia pergi dari rumah bersama Zayn. Namun pesan ibunya selalu terlintas dari pikiran Fira.


"Masalah apapun yang terjadi pada rumah tanggamu. Jangan pernah meninggalkan rumahmu. Tetaplah di rumahmu," ucap Ratih dalam bayangan Fira, "tunjukkan kesetiaanmu pada Kirsandi. Suatu saat Kirsandi akan menyadari kalau kamu istri yang baik dan setia."


"Kamu kemasi barang-barang sana! Aku antarkan kamu ke Semarang. Kamu dan Zayn menginap di rumah Bapak dan Ibu. Soalnya aku akan pergi ke luar kota selama seminggu," ujar pria bertinggi 179 sentimeter itu membelakangi Fira dan dengan santainya pergi ke luar kamar.


"Aku sudah tidak tahan lagi! Aku harus menyelesaikan semuanya," gumam Fira penuh amarah hingga kemudian bergegas mengemasi barang-barang. Fira juga langsung menggendong Zayn.


Saat Zayn sudah tertidur pulas, Fira meletakkan putranya secara perlahan di kasur. Kali ini Fira tidak tahan lagi, ingin melampiaskan kekesalan dan rasa sakit hatinya kepada Kirsandi. Dua mata yang cantik itu kini berubah jadi berang penuh amarah dan luka batin.