
Keesokan harinya ...
"Alhamdulillah, pagi gini ada warga Indonesia yang jual bubur di Singapura. Semoga saja Mbak Fira suka bubur ini," ucap Henry menenteng paper bag yang berisi kotak makanan. Ia terus berjalan di sepanjang koridor rumah sakit Mount Elizabeth Singapura.
"Hey, you!" panggil Alexander, seorang dokter rumah sakit Mount Elizabeth. Namanya tercantum ditanda pengenal pada baju dinasnya. (Hei, kamu!)
Alex bergegas menghampiri Henry yang berlawanan arah. Pria bule itu tidak kalah tinggi dengan Henry. Langkah Henry pun terhenti. Henry tahu Alex itu dokter yang memeriksa Fira sakit.
"Ya, doc. What happened? How is Fira now?" tanya Henry. (Ya, dok. Apa yang terjadi? Bagaimana Fira sekarang?)
"I want to convey the current condition of Fira," jawab Alex. Sejenak ia merapikan seragam dokternya. "Are you husband of Fira?" (Saya ingin menyampaikan keadaan Fira.) (Apa kamu suami Fira?)
"Oh, no. We are friends, hehehe," ucap Henry tersipu. Ditambah wajahnya putih membuat pipinya yang kemerahan terlihat jelas. (Oh, tidak. Kami berteman, hehehe.)
"Oh, hahaha. I thought you were the husband of Fira. Because last night you looked worried. And I see love on your face and eyes," kelakar Alex.(Oh, hahaha. Saya pikir Anda adalah suami dari Fira. Karena tadi malam Anda terlihat khawatir. Dan saya melihat cinta di wajah dan matamu.)
Henry menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ah, doctor makes me shy, hehehe." (Ah, dokter membuat saya malu, hehehe.)
"Really, you and Fira like a great couple," imbuh Alex. (Sungguh, Anda dan Fira seperti pasangan serasi.)
"Let's just go back to the discussion about the condition of Fira. What disease did Fira suffer?" (Mari langsung saja kita kembali ke pembahasan mengenai kondisi Fira. Penyakit apa yang diderita Fira?)
"Mrs. Maghfira Annisa has stomach acid and anemia. I suggest keeping a diet for Fira. And we have put in a blood donor infusion for her," jelas Alex. (Nyonya Maghfira Annisa menderita asam lambung dan anemia. Saya sarankan menjaga pola makan untuk Fira. Dan kami telah memasukkan infus donor darah untuknya.)
"I will convey your advice to Fira. Thank you so much, doctor," kata Henry. (Nasehat anda akan saya sampaikan kepada Fira. Terima kasih banyak, dokter.)
"Your welcome. I believe in you. May God bless you both." Alex menepuk bahu Henry. Kemudian ia pergi berlalu meninggalkan Henry. (Sama-sama. Saya percaya pada Anda. Semoga Tuhan memberkati kalian.)
"Aamiin. Thank you." Henry membalikkan badannya. Dengan penuh semangat, ia menuju kamar inap, tempat Fira dirawat. (Aamiin. Terima kasih.)
***
Sebuah kamar inap VIP bak hotel, tempat Fira dirawat khusus. Wanita itu sudah siuman dari pingsan. Walaupun ia masih terbaring lemas di kasur, wajahnya masih terlihat pucat. Ia tetap senantiasa mengenakan jilbab.
Dua suster memantau kondisi Fira saat ini. Suster pertama sedang memperbaiki infus donor darah yang terpasang pada tangan kanan Fira. Suster kedua sedang memantau suhu badan dan tekanan darah Fira.
Setelah merawat dan memantau kondisi Fira, dua suster itu pamit dengan ramah kepada Fira. Ia pun membalas sikap ramah mereka dengan senyuman, karena ia masih berat untuk berbicara.
Selang beberapa menit dari kepergian dua suster, Rahline datang menemui Fira. Gadis manis itu duduk di samping kasur Fira. Rahline juga membawa berbagai macam buah, kemudian menaruh buah-buahan itu di atas meja.
"Assalamu'alaikum, Kak Fira. Bagaimana kondisi Kakak?" sapa Rahline dengan senyuman.
"Wa'alaikumsalam, alhamdulilah agak mendingan, Lin," lirih Fira masih parau.
"Kakak dikasih donor darah, ya?" tanyanya lagi.
Fira berdehem sejenak. Lalu berkata, "Iya, kata susternya sih, harus donor. Kakak kan punya anemia. Supaya Kakak bisa kembali sehat. Kakak juga sakit asam lambung."
"Lekas sembuh, ya, Kak. Biar Kakak bisa kembali ceria dan ada teman cerita bersamaku, hehehe. Maka dari itu Kak, jaga pola makannya. Malam kemarin, Kakak nggak makan," ujar Rahline.
"Aamiin. Iya sih, hehehe. Terima kasih juga karena kamu sudah menemani Kakak di rumah sakit."
"Oh, sebenarnya bukan Rahline yang menemani Kakak di rumah sakit," ungkap Rahline sejenak memperbaiki posisi duduknya. "Kemarin gini ceritanya. Setelah mengantar Kak Fira ke rumah sakit, aku minta diantar Abang ke tempat diskusi. Abang juga tidak bisa menemani Kakak karena ada jadwal dengan dosen pembimbingnya."
"Jadi yang menemani Kakak di rumah sakit siapa?"
"Assalamu'alaikum, wah, Mbak Fira sudah siuman, ya," sapa Henry hadir di tengah-tengah Fira dan Rahline.
"Wa'alaikumsalam. Nah, Henrylah yang menemani Kak Fira di rumah sakit," jawab Rahline melirik ke arah Henry.
Fira bergeming dengan tatapan yang membidik ke Henry. Pemuda itu terus melangkah mendekati Fira. Keduanya saling bertatapan. Seketika ruangan jadi hening. Rahline terpaku menyaksikan pemandangan Fira dengan Henry. Henry yang menyadari hal itu, langsung menundukkan pandangannya.
"Oh, iya, Mbak. Ini aku belikan bubur untukmu," kata Henry menyodorkan kantong plastik berisi satu kotak bubur. "Aku sempat telepon Bryan. Kata Bryan, kalau Mbak Fira sakit itu makannya bubur. Oh, dan aku ingin menyampaikan, jika Mbak Fira sudah siuman, mereka ingin video call dengan Mbak. Maksudku, keluarga Mbak Fira."
"Sejak kapan kamu kenal Bryan?" tanya Fira agak ketus.
"Oh, itu kami memang sudah kenal lama kok. Waktu ada lomba antar SMA sekota Semarang. Walaupun aku dan Bryan beda SMA. Aku dan Bryan saling mengenal tapi tidak begitu akrab. Kami bertemu lagi di grup WhatsApp komunitas gamers dan bola. Aku juga belum lama ini tahu, kalau Bryan itu adiknya Mbak Fira," jawab Henry secara gamblang.
"Oh, begitu, terima kasih, sudah menemaniku di rumah sakit," ucap Fira.
"Sama-sama. Mbak tenang saja, aku menunggu di luar ruangan kok. Bukan di dalam ruangan ini. Aku tahu batasannya," ucap Henry, "kalau begitu, aku kembali ke flat apartemen, ya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kan Mbak Fira sudah ada Rahline. Insyaallah, aku akan menjenguk Mbak lagi ke mari."
Fira mengukir senyuman manis kepada Henry. "Ya, semangat kerjanya. Sekali lagi, terima kasih, Henry."
"Insyaallah, pasti semangat, hehehe," ujar Henry membalas senyuman lantas bergumam, "semangat pejuang halal untuk segera menikahimu. Kamu sudah tahu, aku mencintaimu dalam doa. Aku sebagai laki-laki harus membuktikan cintaku padamu." Henry berbalik badan dan pergi ke luar dari ruangan.
Ketika Henry sudah pergi, Fira meminta Rahline untuk mengambil kursi roda. Ia hanya merasa pegal saja, jika selalu baring. Rahline pun mengiyakan permintaan Fira. Hati-hati Rahline membopong Fira naik kursi roda. Rahline mendorong kursi roda itu di dekat jendela kamar. Fira menatap burung-burung terbang di langit biru yang cerah. Sementara Rahline mengambil kursi supaya bisa duduk di samping Fira.
"Lantas, apakah Kakak akan memilih salah satunya?" tanya Rahline terkejut.
"Aku itu sudah menutup hati untuk laki-laki lain. Sebenarnya aku punya masa lalu yang membuatku trauma mencintai. Termasuk dulu pernah mencintai Bang Rafi. Kalau untuk menikah lagi, aku masih takut," timpal Fira.
"Memang masa lalu seperti apa hingga membuat Kakak trauma mencintai dan takut menikah lagi?"
"Kakak cerita masa lalu ini supaya bisa diambil hikmahnya. Jujur saja, lukaku masih membekas hingga trauma itu masih menghantui. Maksudnya, luka sewaktu masih bersama Mas Kirsandi. Awalnya waktu usia pernikahanku dengan Mas Kirsandi masih seumur jagung."
***
Sebelum memulai cerita, Fira menahan napas kemudian dihembuskannya. Baru setelah itu, Fira memulai cerita bersama Kirsandi lampau lalu. Fira bercerita masa lalunya--- supaya Rahline tahu selengkapnya. Tidak sembarang orang, Fira menceritakan masa lalunya. Hanya orang-orang terdekat yang Fira percayai. Sebenarnya Fira sudah mengikhlaskan kepergian mendiang Kirsandi. Namun, tidak dengan bekas luka itu. Fira masih terngiang hingga memiliki trauma.
Pada waktu itu, Fira berusia delapan belas tahun, menikah dengan Kirsandi yang usianya terpaut jauh sepuluh tahun lebih tua dari Fira. Meski masih belia, dimana masa ini anak muda masih ingin bersenang-senang dengan teman-temannya. Sedangkan Fira memilih menikah muda karena merasa sudah siap. Dipertemukan dengan Kirsandi tanpa pacaran. Namun, adanya ta'aruf berlangsung lamaran hingga lima bulan kemudian Fira menikah dengan Kirsandi.
Suatu hari Fira aktif di akun Facebooknya untuk sekadar melihat status di beranda. Wanita muda itu merebahkan diri di kasur karena sedang tidak enak badan. Fira tidak sengaja menemukan beberapa status dari akun Facebook Kirsandi. Walau Fira pernah mengelola akun Facebook Kirsandi, tapi Fira acuh tak acuh dengan komentar dari teman-teman Kirsandi.
Kali ini keingintahuan Fira sedang bergairah. Ia penasaran dengan komentar di setiap status akun Facebook suaminya itu. Salah satu unggahan Kirsandi dengan memajang foto Fira dengan dirinya. Terdapat komentar dari salah satu teman Kirsandi.
Cah Enom
[Mantap Pak Kirs dapat daun muda. Nikah lagi saja, biar dapat daun muda lagi, hahaha.]
Komentar itu menohok sekali. Ini bukan pertama kalinya Fira menemukan komentar seperti itu. Bahkan ia pernah menemukan isi pesan dari teman Kirsandi dengan kalimat yang sama. Yakni membahas menikah lagi atau poligami. Di sana Kirsandi juga membalas komentar dari temannya.
Suasana hati Fira menjadi ciut, karena seringkali menemukan komentar bahkan pesan dari teman Kirsandi. Bukan satu orang yang menyebut kalimat itu, sudah ada beberapa orang teman dekatnya Kirsandi menyebutkan kalimat yang sama.
Kirsandi
[Satu saja repot, apalagi banyak. Lebih baik banyak ibadah. Nanti istriku muncul tanduknya, hahaha.]
Walaupun komentar itu terkesan candaan, bagi Fira adalah keterlaluan. Karena perkara menikah lagi atau poligami itu bukan jadi bahan candaan. Fira yang geram akan hal itu, akhirnya membalas komentar teman Kirsandi tersebut.
Maghfira Annisa
[Masnya saja yang menikah lagi biar istrinya banyak. Jangan beraninya bujuk Mas Kirsandi dong!]
Tak lama kemudian, teman Kirsandi juga membalas komentar Fira.
Cah Enom
[Saya ini apa, Mbak? Pak Kirs kan rezekinya makin makmur. Kalau pria yang rezekinya makmur itu bagi-bagi ke istri. Semakin banyak istri, semakin sukses. Bener enggak, Pak? Hehehe, bercanda, Mbak Fir.]
"Bercandamu keterlaluan!" gerutu Fira kesal seraya mematikan gawai. Ia lantas tidur miring kiri.
"Dik, sarapan yuk," ajak Kirsandi membawa sarapan yang baru saja dibelinya.
Kebiasaan Fira dengan Kirsandi itu makan dalam satu nampan berdua. Meski Kirsandi sudah berpenghasilan yang terbilang lumayan, tapi Kirsandi dan Fira tetap menjalani hidup sederhana.
Saat itu mereka masih tinggal di kost. Kirsandi juga belum lama ini mendapatkan kerja di perusahaan menjadi bagian pemasaran produk di dalam kota maupun luar kota.
"Iya, Mas." Fira agak malas-malasan menghampiri Kirsandi. Fira menyiapkan nampan, gelas dan teko air seraya berkata, "Mas, aku ingin hamil secepatnya! Aku mau membuatmu bahagia dengan kehadiran buah hati kita."
"Kenapa cepat sekali? Bagaimana dengan kuliahmu? Kita juga masih di masa merintis begini. Sebaiknya kita santai saja dulu," ujar Kirsandi sedikit terkejut.
"Bagaimana bisa santai? Kita sudah menikah enam bulan, aku tak kunjung ada tanda-tanda kehamilan. Aku takut, kalau belum kunjung hamil pasti jadi bahan omongan. Aku enggak mau seperti kisah orang lain. Gara-gara istrinya belum hamil, suaminya nikah lagi supaya mendapat keturunan," jelas Fira dengan segala uneg-unegnya.
"Kamu mikirnya kejauhan. Jangan berpikir seperti itu, Dik! Aku juga tidak ada niat menikah lagi. Aku hanya mencintaimu. Kamu adalah istri satu-satunya. Kita nikmati masa berdua dulu. Aku juga tidak ingin menunda. Kita juga sudah ikhtiar dan selebihnya, Allah yang berkehendak," jelas Kirsandi memeluk Fira seraya membelai jilbab Fira.
"Mas, jangan tinggalkan aku, ya," lirih Fira menyandarkan kepala di dada Kirsandi.
"Mana mungkin aku meninggalkan istriku yang secantik ini, hehehe," kelakar Kirsandi mencubit pipi Fira.
"Ah, gombal," cibir Fira geli. "Mas, jujur, aku sebal dan risih dengan perkataan teman-teman Mas. Yang kasih saran ke Mas untuk menikah lagi."
"Jangan diambil hati dan jangan dipikirin! Hanya bercanda itu."
"Mas, tolong ingatkan teman-teman Mas itu, soal poligami bukan jadi bahan candaan. Aku tidak setuju. Kita menikah usianya belum genap setahun saja sudah dapat perkataan begitu. Aku juga enggak sanggup jika di poligami!" geram Fira.
"Ah, sudah dibilangkan? Jangan diambil hati dan jangan dipikirin. Nanti benar-benar terjadi, bagaimana?" hardik Kirsandi kesal. Ia beranjak pergi ke luar kamar seraya menutup pintu kamar dengan kasar.
Fira tercengang dengan sikap suaminya seperti itu. Ia ke luar kamar untuk menyusul Kirsandi. Namun, pria bertubuh atletis itu berjalan cepat tanpa meninggalkan jejak. Kekhawatiran Fira soal poligami dari perkataan teman-teman Kirsandi melekat dalam pikirannya. Fira berusaha menepis dengan ingat ucapan Kirsandi yang menjadikan Fira adalah istri satu-satunya.
"Kok Mas Kirsandi begitu? Apa aku salah ngomong? Aku ingin mengingatkan teman-temannya melalui Mas Kirsandi supaya tidak berkata demikian. Aku takut kehilangan Mas Kirsandi. Aku mencintai Mas Kirsandi."