
Lelah dan pegal mengusik sekujur tubuh Fira. Baru saja ia selesai mandi. Namun, masih terasa lelah. Dua hari berturut-turut perjalanan jauh. Bisa dibilang Fira jarang istirahat. Bersyukur, asam lambungnya tak lagi kambuh. Fira sudah menjaga pola makannya dengan baik.
Kemudian ia rebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Kepalanya senantiasa tertutup jilbab itu disandarkan pada bantal besar. Fira melirik sebentar jam dinding yang bertengger di dinding. Ia kaget, sudah pukul sebelas malam. Namun, matanya belum ada keinginan untuk terpejam. Fira memutuskan untuk mengambil remote televisi di atas meja tepat dihadapannya. Siapa tahu dengan menonton sinetron, ia bisa tidur.
"Naomi ke mana, ya? Lama sekali dia mandi. Biarlah, paling dia sedang luluran di sana," ucapnya.
Sementara itu, Fira menyalakan televisi dengan remote. Ia terkejut dengan siaran televisi kali ini. Seperti bukan siaran televisi Indonesia. Ini siaran televisi Korea. Sudah ia duga pasti Naomi yang melakukan alih televisi dari sana. Bisa saja, Naomi meminta pihak hotel untuk menyetel televisi di sana. Atau Naomi sengaja supaya Fira dapat menonton Henry dari televisi?
"Ah, entahlah! Aku nikmati saja tontonan ini," kata Fira.
"Ya Allah, apa ini? Jujur saja, aku tidak begitu tertarik dengan drama Korea. Apakah ini kesukaan Naomi? Aku juga tidak mengerti bahasanya," imbuhnya.
Fira menatap lekat tontonan itu. Laki-laki dan perempuan di Korea itu rupawan, putih dan mulus. Ia melongo menonton drama Korea bukan karena alur ceritanya tapi tokohnya. Fira memijat pipi kanan yang timbul dua jerawat kecil. Minder menghampiri dirinya.
"Bagaimana bisa Henry mencintai perempuan seperti aku? Padahal di negaranya, perempuan di sana lebih cantik daripada aku," lirihnya.
Nyut! Fira jadi kepikiran Henry. Lama kelamaan nonton ini membuat matanya sayu. Seketika Fira menguap sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan. Drama tadi terjeda dilanjutkan dengan iklan. Fira sontak terperanjat dari rebahan. Ia terperangah. Matanya melotot saat menonton iklan baru ini tayang. Kedua tangannya lantas mendekap bantal.
Tak menyangka di dalam iklan merek sabun krim dan pencukur kumis itu adalah Henry. Ya, Henry menjadi bintang iklannya. Ia di dalam kamar mandi mengambil sabun krim dibalurkan pada bawah hidung dan dagunya. Kemudian mengambil alat cukur kumis. Henry bercermin sembari mencukur di area bawah hidung hingga dagunya.
"Memang Henry ada kumis dan brewok, ya?" tanya Fira terheran-heran.
"Ada dong!" Sahut Naomi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Masa ada? Setahuku Henry wajahnya mulus gitu," pikir Fira.
"Makanya lebih dekat lagi perhatikan wajahnya. Ada kumis, brewok dan pastinya ada pori-pori juga. Yang dekat lagi gitu," canda Naomi hingga tertawa terkekeh.
"Ih, enggak mau!" Fira mengangkat kedua bahunya karena geli. Jika membayangkan wajah Henry lebih dekat.
"Sepertinya kamu menikmati sekali, ya, nonton televisi ini," ucap Naomi menyeringai.
"Enggak juga. Aku heran kok siaran televisinya dari Korea. Lah, siaran televisi Indonesia mana? Apa kamu mengatur alihnya?"
"Iya, aku minta tolong pihak hotel supaya teralih ke siaran televisi dari sana."
"Sudah kuduga!" Fira kembali menatap layar televisi namun iklan Henry sudah lewat.
Kini, Fira segera mematikan televisi dengan remote. Ia beranjak dari sofa. Jalannya terhuyung-huyung. Rasa kantuk ini sudah tidak tertahan lagi. Fira membanting tubuhnya di atas kasur. Kasur yang kecil dan terpisah dari Naomi. Kasur di hotel ini terpisah menjadi dua.
"Enggak nonton lagi, nih? Siapa tahu melihat iklannya Henry mengobati rasa rindumu," kelakar Naomi justru menyalakan televisi lagi.
"Enggak, terima kasih! Aku malah minder menonton itu. Aktornya tampan dan aktrisnya cantik. Pasti wanita di sana cantik-cantik. Tapi, kenapa Henry justru melirikku?" Seketika tubuh Fira kian lesu berkata seperti ini.
"Henry enggak memandang wajahmu, Fira. Cintanya untukmu itu murni dari hatinya. Ya, tanyakan ke orangnya sendirilah untuk selengkapnya." Naomi menimpali.
"Malu!" kata Fira segera menutup wajahnya dengan bantal.
"Fir, alangkah baiknya besok kamu ungkapkan ke Rafi. Kalau dia bukan pilihan. Aku menduga sejak di acara para pengusaha kemarin, dia keluar dari ruangan. Dia terlihat cemburu saat melihat kamu memandang Henry," jelas Naomi.
"Aku masih belum sanggup. Kalau pada akhirnya melukai perasaan Bang Rafi. Aku tahu, setelah ini persahabatanku dengannya sejak kecil akan renggang dewasa ini. Abang Rafi juga banyak berbuat baik kepadaku," ucap Fira sambil duduk lesu bersandar di penyangga ranjang.
"Aku enggak bermaksud menghasutmu dengan Henry. Aku tetap mendukung apapun pilihanmu. Bahkan Henry sempat bilang padaku, jika pilihanmu itu Rafi, dia ikhlas."
Mendengar seperti itu, hati Fira semakin pilu. Seperti tidak rela Henry begitu ikhlasnya jika ia dengan Rafi. Henry mencintai Fira. Harusnya Henry memperjuangkan cintanya untuk mendapatkan cinta Fira. Atau sepertinya tanpa Fira sadari, ia memang sudah mencintai Henry.
"Persahabatan di antara laki-laki dan perempuan walaupun terjalin lama, pasti salah satunya ada yang berharap cinta. Kalau takdirnya berjodoh akan berakhir indah di pernikahan. Akan tetapi, jika nasibnya tidak berjodoh, ya, siap-siap saja. Bukan hanya hati yang akan terluka, tapi persahabatan itu akan runtuh," jelas Naomi.
"Nah, semakin kamu menggantung seperti ini. Semakin Rafi kegeeran sama kamu. Rafi pasti mengira kamu berpihak padanya. Akan bertambah pula luka di hatinya," imbuhnya.
"Aku paham itu Naomi. Ibuku juga berkata demikian."
Fira mengangguk dan percaya begitu saja dengan ucapan Naomi. Ia sudah kehabisan kata-kata. Yang Fira rasakan saat ini hanya ingin tidur. Barangkali akan ada petunjuk dari Allah melalui mimpinya. Begitu rumitnya dunia karena urusan cinta yang tak bertepi ini. Sejenak Fira melihat Naomi masih semangat menonton drama Korea di layar televisi. Kemudian Fira berharap besok tetap baik-baik saja.
***
Setibanya di apartemen The Ritz Carlton Singapura. Fira langsung turun dari taksi. Disusul oleh Rafi dan Naomi. Supir taksi cekatan menurunkan tiga koper dan lima tas dari bagasi taksi. Fira mendorong koper miliknya dan menenteng dua tas. Ia berlari ingin segera bertemu dengan dua anaknya. Pun tidak sabar ingin memberikan mobil mainan kepada Zayn dan Zema.
Jika membayangkan tingkah laku Zayn dan Zema. Rindu bermekaran pada dua bocah lucu nan menggemaskan itu. Rafi dan Naomi mengikuti Fira dari belakang. Mereka sembari membawa koper masing-masing. Naomi melirik senyuman Rafi yang merekah melihat Fira berlari dan riang gembira. Ia merasa cemas dengan hari ini. Akan datang badai di kisah percintaan segitiga ini.
"Berharap Fira masih ingat saranku tadi malam. Aku yakin Fira orangnya tegar." Naomi bergumam.
Fira tiba di depan flat apartemennya. Pintu flat terbuka lebar. Rafi dan Naomi sedari tadi selalu mengikuti Fira dari belakang. Sontak sekujur tubuh Fira kaku di mulut pintu. Koper dan tas yang digenggamannya lepas begitu saja. Sehingga tas terjatuh dari tangannya. Fira tertegun dengan pemandangan di ruang tamu. Di sana Adnan, Sarah dan Carissa sedang berbincang dengan Fatih, Ratih dan Zayn. Melihat sang Mama sudah tiba. Zayn berlari dan merengek. Ia langsung memeluk erat Mamanya. Perasaan Fira jadi tidak enak. Tiba-tiba Fira terusik dengan kecemasan berlebihan. Ujian apalagi ini? Namun, sebisa mungkin ia menepisnya dengan prasangka baik.
"Zayn enggak mau Om Adnan jadi Papa Zayn! Enggak mau!" Rengek Zayn meronta-ronta dipelukan Fira.
Fira semakin kalut dengan kejadian hari ini. Ada apa dengan hari ini? Apakah akan muncul prahara baru? Batinnya.
"Papa? Ada apa sebenarnya?" Rafi terkejut dan bertanya-tanya.
Adnan, Sarah dan Carissa mendekati Fira. Adnan dan Fira beradu pandangan. Meski Adnan mengenakan kacamata bening. Fira penasaran dengan kedatangan Adnan.
"Kedatangan saya di sini karena ingin melamar kamu, Fira. Saya berniat menikahimu. Jujur saya jatuh cinta padamu, Fira," ucap Adnan dengan hati-hati.
DEG!
Tiada hujan dan tiada petir di siang yang cerah seperti ini. Di sisi lain, Rafi remuk dan terpuruk bak tersambar petir. Pupus, marah dan hancur sudah hatinya saat mendengar ucapan Adnan. Pujaan hatinya bernama Fira, hari ini dilamar oleh seorang pria berstatus duda anak satu itu. Tubuh Rafi kaku dan tangannya mengepal erat. Dua matanya sontak memerah menahan rasa sakit.
Fira bungkam dan semakin bingung. Ia berpikir pasti ada banyak hati yang tersakiti karenanya. Ini bukan lagi tentang cinta segitiga namun cinta segiempat. Walau Fira sudah mantap menambatkan hatinya kepada Henry.
Fira pusing bukan kepalang. Cara menolak secara halus supaya tidak tersakiti. Lagi-lagi, pasti resikonya ada sakit hati. Fira menahan napasnya dalam beberapa detik. Kemudian mengembuskan napasnya dengan kasar. Dua matanya mulai mengembun seperti ada genangan air mata yang tertahan. Ia merasa sangat berdosa, jika hari ini dua hati ditolaknya. Hati Rafi dan Adnan yang jatuh cinta padanya. Sekujur tubuh Fira gemetaran dan tegang. Bibirnya bergumam bak kedinginan. Keringat dingin bercucuran membasahi dahinya.
"Aku minta maaf," tutur Fira.
"Selesaikan hari ini juga Fira! Aku juga tidak ingin gantung seperti ini!" gertak Rafi yang berada di belakang Fira.
"Apa semua ini?" tanya Adnan mengerenyitkan dahi.
"Bu, tolong bawa Zayn ke kamar saja. Sarah, aku mohon bawa Carissa ke kamar bersama Zayn. Ini urusan orang dewasa, anak-anak tidak layak menyaksikannya," perintah Fira kepada Ratih dan Sarah.
Mereka menyanggupinya. Keduanya membawa Zayn dan Carissa menuju ke kamar. Namun, Fatih yang maju mendekati Adnan. Sebelum Fira mengungkapkan semua. Ia terlebih dahulu membaca doa. Benar, semuanya harus diselesaikan hari ini! Tegasnya.
"Fira dan anak-anak sudah mantap memilih Henry!" tegas Fira.
"Bapak tidak setuju kamu dengan Henry! Apa yang kamu kagumi dari sosok Henry? Adnan ini baik, dewasa dan sudah mapan. Kalian sama-sama berstatus single parent yang sebelumnya pernah menikah. Apalagi yang kurang?" hardik Pak Fatih.
Naomi sudah menduga hari ini pasti ada perseteruan tentang cinta yang rumit ini. Lain halnya dengan Rafi, hatinya semakin tercabik-cabik saat Fira mengucapkan seperti itu. Tanpa terasa air mata Rafi jatuh hingga di pipi. Matanya kian memerah dan hangat. Kedua kaki Rafi terkulai lemas hingga duduk bersimpuh di lantai. Naomi tercengang melihat Rafi yang tidak berdaya itu. Naomi paham pasti hati Rafi lebur dan cintanya kepada Fira bertepuk sebelah tangan.
"Maaf, Pak, Mas Adnan dan Bang Rafi. Ma-maaf, maaf," ucap Fira terisak hingga matanya pun memerah. "Fira tidak gegabah memilih Henry. Fira sudah istikharah, jawabannya tetap Henry. Yang menguatkan Fira yakin pada Henry adalah Maminya yang pernah Fira jumpai di kereta. Serta Kakaknya, yakni Naomi di belakang Fira ini."
"AARRGGHH!" teriak Rafi lantas berlari sekencang-kencangnya dan pergi berlalu.
Fira tertegun dengan teriakkan Rafi. Ia menoleh sebentar lalu tidak mempedulikannya lagi. Adnan tampaknya kesal dan kecewa tapi berusaha ia tahan. Fira merasa tambah merasa bersalah. Ia sadar telah menyakiti Rafi sahabat kecilnya dan juga Adnan. Matanya terpejam karena tidak sanggup melihat hati yang tertolak karenanya.
"Sarah! Carissa! Ayo kita pulang! Kita enggak perlu lagi menginjakkan kaki di sini!" teriak Adnan.
Sarah dan Carissa bergegas ke luar. Mereka mengikuti Adnan. Bahu Adnan menyenggol kasar bahu Fira. Adnan sangat kecewa dengan Fira. Tentunya hati Adnan juga sakit karena Fira menolak cintanya. Fira diam, tidak melawan. Inilah risiko yang harus ia hadapi. Pahit dan menyakitkan. Fira sesenggukan seraya menelan saliva di tenggorokannya. Fatih juga tak kalah marah dan kecewa. Beliau pergi berlalu dari kamar. Dua lutut Fira gemetaran hingga ia tersungkur di lantai. Ia menangis terisak. Naomi merengkuh Fira sembari menenangkannya.
"Maafkan aku, Ya Rabb. Maafkan aku semua!" Fira berteriak dan meradang sendirian.