Energy Of Love

Energy Of Love
Trauma



Cukup pikiranku yang bercabang-cabang. Hatiku cukup ada Yang Maha Penyayang. Soalnya kalau menaruh hati pada seseorang, malah aku yang jadi malang.


***


Seorang wanita berparas ayu sedang membuka gorden jendela kamar. Mata bulat itu sontak menyipit sebab silau cahaya matahari. Ia mengedarkan pandang melihat pemandangan gedung-gedung tinggi dan para pejalan kaki di Kota Singapura.


Angkasa biru muda dan burung-burung yang berterbangan untuk berkelana hingga menembus gumpalan awan. Dahan-dahan pohon bergoyang sebab tiupan angin yang sepoi-sepoi.


Wanita dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter itu berdiri termenung sembari bersandar di sisi jendela.


"Zayn ingin punya Papa baru."


Jika mengingat bayang-bayang ucapan Zayn membuat Fira merinding. Matanya terpejam sembari menikmati embusan angin pagi yang merasuk hingga ke jendela.


"Masa sih aku harus menikah lagi? Mana ada yang mau denganku-- seorang janda anak dua, emm," gumam Fira merendah diri. "Huuff, aku sudah tidak bisa menangis lagi karena patah hati. Namun rasa trauma mencintai masih menghantuiku."


Fira larut dalam lamunan sambil mengingat peristiwa yang telah lampau. Ada beberapa hal yang menyebabkan hatinya rapuh. Pada akhirnya membuat Fira trauma mencintai seorang laki-laki.


Bunyi piring pecah sangat nyaring, sengaja dibanting oleh Fira. Suasana seisi rumah jadi mengharu biru hingga puing-puing pecahan piring berserakan di lantai dapur. Sama seperti hati Fira yang telah jadi puing-puing sebab dipatahkan oleh suaminya sendiri.


"Aku bukan mainan, Mas! Yang seenaknya Mas permainkan. Kadang Mas mencintaiku, kasar padaku, menghinaku dan menyakiti aku terus. Terus, Mas berbicara ingin menikah lagi! Aku ini kamu anggap apa, hah? Aku ingin cerai darimu. Aku bisa depresi bersamamu! Aarrgg!" hardik Fira. Sepasang mata indah itu sontak terbelalak merah menatap pria sepuluh tahun lebih tua darinya.


"Aku bilang padamu, aku tidak akan menceraikanmu. Jangan ikuti egomu dong. Terserah aku ingin menikah lagi!" gertak Kirsandi.


"Jangan ikuti ego katamu, Mas? Hatiku sudah hancur dan terluka. Aku sudah tidak kuat lagi! Aku berusaha mempertahankan rumah tangga, demi Zayn, bukan demi kita. Ingat itu!" geram Fira hingga sekujur tubuh gemetaran. "Silakan, kalau Mas ingin menikah lagi tapi ceraikan aku dulu! Aku enggak kuat atas perilaku kasarmu. Enggak sanggup, kalau harus berbagi cinta. Jangan paksa aku!"


Fira tidak dapat menahan isak tangis yang menusuk relung hati. Dadanya tersengal-sengal sebab luka batin atas perilaku suaminya yang kasar dan menyayat hati. Pertengkaran mereka selalu sengit tanpa ada ujungnya.


"Lama kelamaan aku jenuh dan muak sama kelakuanmu. Kau ini istri keras kepala!" gertak laki-laki yang berusia genap tiga puluh lima tahun itu.


"Kenapa aku terus dipandang sebelah mata oleh Mas? Aku melakukan ini salah, melakukan itu salah juga? Aku harus bagaimana? Ya sudah, kalau Mas jenuh dan muak, kita sampai di sini saja. Aku enggak kuat lagi menghadapi sikap kasarmu!" geram Fira.


"Sekali lagi berani bicara seperti itu! Aku akan ..."


Kirsandi dengan kasar melemparkan mangkuk besar berbahan stainless hingga mangkuk itu bengkok. Menimbulkan suara yang membuat telinga sakit. Pria bertubuh gagah perkasa itu bergegas hendak ke luar dari rumah.


Pintu rumah lantas dibanting oleh Kirsandi dan pergi meninggalkan Fira. Sementara wanita muda itu terhuyung-huyung sembari menangis menuju ke kamarnya. Ia melihat Zayn, balita itu masih tertidur pulas. Fira bingung dengan suasana hati yang meracau.


"Ya Allah, apa aku ini istri durhaka? Tapi, aku sudah tidak tahan! Aku enggak sanggup berbagi suami dengan madu. Aku juga tidak kuat dikasari dan disakiti Mas Kirsandi! Berikan aku keadilanMu, ya Allah." Isak tangis Fira kian memekik sambil meremas kepala yang terbalut jilbab. Hatinya tercabik-cabik oleh luka pada hubungan yang sudah tidak sehat tersebut.


Perlahan Fira duduk di dekat ranjang yang ditiduri oleh Zayn. Ia membenamkan wajah di bantal. Wanita muda beranak satu itu menangis sejadi-jadinya. Benaknya selalu bergumam menyesali pernikahannya dengan Kirsandi. Begitu rumit prahara rumah tangga yang di hadapinya.


Raga Fira sudah lelah diperlakukan kasar oleh Kirsandi. Ia hanya wanita biasa yang punya perasaan yang lembut. Hati Fira sudah dipuncak mati rasa sebab selalu dihujam luka oleh suaminya. Tiada seorang pun yang tahu hatinya yang sedang koyak itu. Tiada seorang pun yang memeluk dirinya sedang lemah tidak berdaya.


***


Selanjutnya, Fira mengingat kembali di masa SMA, jauh sebelum ia menikah dengan Kirsandi. Saat itu Fira sedang berlibur ke Lumajang dan bertemu kembali dengan sahabat kecilnya, Rafi. Dua insan itu bersahabat dari kecil pada saat usianya mereka tujuh tahun. Namun, berjalannya waktu, diam-diam Fira menaruh hati pada sosok Rafi.


Bunyi bel sekolah menengah atas di Lumajang itu pertanda waktunya para siswa istirahat. Para siswa-siswi berseragam putih abu-abu di sekolah tersebut berhamburan keluar kelas. Namun di depan pagar sekolah yang terbuka lebar, Fira berdiri seraya menunggu kehadiran Rafi.


Penampilan Fira hari ini sangat cantik dan modis. Ia mengenakan kaos putih lengkap dengan blazer hitam. Gadis ayu itu senantiasa berbalut kerudung pashmina. Penampilan gadis muda berkerudung dari perkotaan pada masanya.


"Nona muda menunggu siapa? Sepertinya Nona bukan orang sini, ya?" tanya penjaga sekolah lantas menghampiri Fira.


"Abang Rafi, Pak. Dia sahabat saya. Iya, saya dari Semarang dan sedang berlibur di Lumajang," jawab Fira tersenyum simpul.


"Oh, Nak Rafi, to. Silakan masuk saja."


Fira sesekali menundukkan kepala. "Terima kasih, Pak."


Fira tiba di sebuah taman sekolah dan sangat antusias ingin bertemu dengan Rafi. Dilihatnya sahabat sekaligus dambaan hatinya itu dari kejauhan. Namun dari arah yang lain, Rafi sedang berbicara serius kepada seorang gadis berambut dibiarkan terurai. Fira bergegas untuk bersembunyi di balik semak-semak. Ia ingin mendengar pembicaraan Rafi dengan seorang gadis itu.


"Maafkan aku, Putri. Maaf sekali. Aku sudah punya kekasih saat ini. Hanya dia yang aku cintai. Aku menganggap gadis lain sebatas teman biasa," ungkap Rafi dengan rasa tidak enak kepada seorang gadis itu. Ungkapan itu menyebabkan gadis yang menyatakan perasaan kepada Rafi tadi menangis dan pergi meninggalkan pemuda itu.


"Abang sudah punya kekasih? Percuma, aku membujuk Bapak untuk berlibur ke mari. Kalau kejadiannya seperti ini," gumam Fira yang masih bersembunyi kemudian menggerutu kesal. "Bodoh kamu, Fira! Bodoh! Laki-laki yang kamu cintai sudah punya kekasih. Eerrgg, aku benci Bang Rafi!"


Fira terus menggerutu lantas berlari kencang sembari menyembunyikan tangis dengan dua telapak tangan. Pulang-pulang bukannya membawa kegembiraan hati, tapi justru kerapuhan hati.


Setelah membayangkan itu semua, perlahan Fira membuka mata lantas tersadar dari lamunan. Sekujur tubuhnya jadi gemetaran jika mengingat dua kejadian yang membuatnya patah hati.


"Mengapa dikala aku jatuh cinta, datang pula luka? Cukup pikiranku yang bercabang-cabang. Hatiku cukup ada Yang Maha Penyayang. Soalnya kalau menaruh hati pada seseorang, malah aku yang jadi malang," ucap Fira kembali memejamkan mata. "Oh iya, tepat hari ini, aku sudah genap sebulan menetap di Singapura. Aku belum sempat keliling Singapura, emm. Sepertinya aku butuh piknik, biar pikiran segar dan ceria."


***


Terdengar suara bel dari luar flat apartemen Fira, menandakan ada tamu. Wanita berparas teduh itu seketika terkesiap, kemudian bercermin untuk memperbaiki riasan wajah. Ia ingin menampilkan wajah yang ceria seolah tidak ada beban berat yang sedang dipikul.


Fira memoles wajah dengan bedak padat supaya tidak terlihat sedang merana. Wanita bertubuh jenjang itu bergegas dan hati-hati membuka pintu flat apartemen. Ia terkejut dengan kehadiran sosok pemuda rupawan yang datang di hadapannya. Pemuda bermata sipit itu sangat trendi mengenakan kaos hitam dipadukan blazer cokelat muda.


"Assalamu'alaikum, Mbak Fira," sapa Henry ramah dengan pesona yang memukau.


"Wa'alaikumsalam, Henry. Ada apa, ya?" kata Fira terheran-heran.


"Ya Allah, kenapa dia tampak cantik sekali?" gumam Henry terkesima oleh paras ayu Fira.


"Hei, Hen, ada perlu apa ke mari?" tegur Fira mengejutkan lamunan Henry.


"Eng-nganu Mbak cantik, eh, salah, maksudku Mbak Fira, hari ini Mbak ada acarakah?"


"Enggak ada, sih. Hari ini aku sedang libur kerja, kenapa?"


"Aku ingin mengajak Mbak ke kafe. Ada sebuah kafe yang kata orang kopinya tuh enak banget."


"Mereka sedang bekerja, Mbak. Lagi pula aku berhasil memenangkan giveaway yang di akun Enstagram kafe itu. Aku punya dua voucher gratis minum kopi varian apa saja," jelas Henry sembari menunjukkan dua voucher minum kopi gratis di kafe kekinian tersebut.


"Oh, oke, aku ambil tas dulu, ya," ucap Fira lantas berbalik arah dan hendak mengambil tas di meja.


"Iya, Mbak. Karena Mbak Fira wanita pertama yang aku ajak minum kopi di kafe," celetuk Henry.


"Gimana, Hen?" tanya Fira yang samar-samar mendengar ucapan Henry.


"Oh, maksudku, aku baru pertama kali minum di kafe terkenal itu, hehehe," ujar Henry. Ia lantas menggaruk rambut ikal yang tidak gatal sambil menggerutu dan menepuk-nepuk mulutnya. "Bodoh kau, Henry! Hampir keceplosan kan? Sabar-sabar, belum saatnya."


"Sudah. Ayo berangkat!" seru Fira semringah.


"Oke, siap!" ucap Henry juga semringah.


Henry dan Fira bergegas pergi menuju ke lift sampai di lobi apartemen. Hanya butuh waktu beberapa menit, dua insan itu tiba di lobi apartemen dan disambut ramah pula oleh pegawai apartemen. Henry dan Fira membalas sambutan hangat mereka.


Henry sigap membukakan pintu taksi untuk Fira. Ternyata Henry sudah memesan taksi untuk diantar ke kafe kekinian. Henry sudah duduk di dekat supir taksi dan Fira duduk di belakang. Supir taksi itu lantas mengemudi mobil dan memulai perjalanan mengarah ke kafe yang ditujukkan Henry melalui peta ponsel.


***


Henry dan Fira telah tiba di kafe kekinian yang cukup terkenal di Singapura. Tentunya kafe ini sudah terjamin kehalalannya. Henry pandai memilih kehalalan pada setiap kafe agar tetap nyaman dikonsumsi. Ternyata pengunjung kafe mulai banyak nongkrong bersama teman-teman, kekasih maupun keluarga.


Henry dan Fira lantas duduk secara berlawanan arah. Seorang pegawai kafe menyambut mereka dengan ramah dan santun, kemudian menyodorkan daftar menu makanan dan minuman yang tersedia di kafe.


Henry segera merogoh saku blazer dan memberikan dua voucher itu kepada pegawai kafe. Lelaki yang berprofesi sebagai pegawai kafe paham dan memberikan daftar menu yang sesuai dengan giveaway voucher.


"Mau kopi yang mana, Mbak?" tanya Henry.


"Apa, ya? Enak-enak semua ini. Aku sampai bingung pilih yang mana?" jawab Fira bingung. Lirikan mata Fira ke sana ke mari melihat daftar menu beragam varian kopi.


"Ya sudah, pilih aku saja, hahaha," kelakar Henry.


"Bisa saja kamu, hahaha. Oh, iya, aku pilih yang latte coffee aja," kata Fira sembari menujukkan salah satu pilihan varian kopi.


"Ok," ujar Henry, "I want macchiato coffee and she wants latte coffee." (Saya ingin kopi maccchiato dan dia ingin kopi latte.)


"Okay Sir, please wait," kata pelayan itu. Ia pergi sambil membawa voucher giveaway milik Henry. (Baik, Pak, mohon ditunggu.)


Henry merasa salah tingkah dan berdebar, pasalnya pertama kali mengajak Fira di kafe, hanya berdua. Wanita tiga tahun lebih tua darinya itu tampak cantik dan manis. Henry memutuskan untuk setengah menunduk.


"Mbak Fira sepertinya sedang punya beban, ya?" tanya Henry sekilas menatap Fira.


"Eh kok, ini anak tahu saja? Memangnya wajahku terlihat seperti punya beban apa?" batin Fira jadi terperanjat dan canggung.


"Kelihatan kok raut wajah Mbak lagi punya masalah. Maaf, ya, Mbak kalau aku keliru," kata Henry.


Fira justru berbalik tanya, "setiap manusia pasti punya masalah kan?"


"Iya sih, tapi masalahnya yang Mbak alami sepertinya berbeda. Cuma sulit ditebak, hehehe."


"Iya, ada sih."


"Oh, begitu," kata Henry singkat, kemudian menggerutu, "cari materi obrolan apa lagi ini? Jangan bisanya kaku dong, Henry! Katanya mau ikhtiar pedekate."


"Tempatnya nyaman juga, ya. Nuansanya vintage gitu, aku suka," puji Fira terpukau oleh nuansa kafe ala tahun 80 hingga 90-an.


"Alhamdulillah, kalau Mbak Fira suka. Aku enggak sia-sia mengajak Mbak Fira di sini."


Cukup memakan waktu setengah jam, kopi yang dipesan oleh Henry dan Fira sudah dihidangkan tepat di meja. Henry mempersilakan Fira untuk minum kopi bersama.


Sebelum minum kopi, Fira berdoa kemudian mengambil ponsel karena tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk memotret dua cangkir kopi yang di meja. Jemari Fira berselancar di akun Enstagram, mengunggah foto dua cangkir kopi untuk memperindah feed akun Enstagram miliknya. Fira juga menuliskan sebuah kutipan di bawah foto tersebut.


[Pahitnya kopi akan terasa nikmat, bila ditambah dengan air hangat dan gula. Pahitnya ujian hidup akan terasa nikmat, bila kita mendekatkan diri kepada Allah. #coffelovers #firlovers #firannisdiary #ngopisiklur]


Henry yang melihat tingkah Fira langsung membuka akun Enstagram miliknya di ponsel. Pemuda itu tersenyum melihat foto yang baru saja diunggah oleh Fira. Unggahan foto baru tersebut langsung dibanjiri suka oleh pengikut Fira di Enstagram. Jemari Henry cekatan untuk mengomentari foto dua cangkir kopi itu.


@hey.lee7


[Pahitnya hati yang terluka akan pulih, bila di dalamnya tumbuh benih cinta yang tulus.]


Komentar Henry diunggahan foto Fira berhasil terkirim. Seketika foto dua cangkir kopi yang diunggah oleh Fira disukai oleh tujuh ribu tujuh ratus pengguna Enstagram. Komentar Henry menjadi paling unggul dan mendapat suka yang banyak dari warganet.


Fira tercengang melihat pemberitahuan komentar Henry. Wanita itu jadi malu-malu, enggan untuk menatap Henry. Namun Henry justru bersikap biasa saja sembari meminum kopi maccchiato hangat. Sederet komentar dari akun-akun Enstagram warganet membalas komentar Henry. Termasuk akun Enstagram para sahabat Fira.


@khalifaahh.almira


[Cielah @hey.lee7 dan @firannis07 ada apa gerangan?]


@oliveliavia23


[Apa ini, Fir? Masyaallah, dikomentari cowok ganteng @hey.lee7.]


@medinaazhra


[Loh, sudah nemu yang baru, ya, Fira @firannis07?]


Ternyata masih banyak warganet yang membanjiri komentar diunggahan foto Fira. Saking penasarannya, beberapa pengikut Enstagram Fira lantas menanyakan siapa sosok Henry tersebut.


Fira kian malu hingga pipi merah merona. Seketika menundukkan kepalanya karena salah tingkah dibuat oleh Henry. Ia membatin, "apa-apaan sih, Henry? Postinganku jadi seramai ini. Aduh, Ya Allah, gawat ini!"