
Kuala lumpur, Malaysia
Langit-langit jingga terlihat indah, dihiasi dengan warna-warni pelangi. Gumpalan awan berjalan mengikuti kawanan burung berterbangan, menandakan waktu magrib akan segera tiba. Sepertinya di negeri Jiran Malaysia ini usai diguyur hujan. Meninggalkan bekas air di setiap jalan, pohon dan bangunan.
Sebuah rumah bertingkat dua yang terletak di pertengahan kota. Rumah mewah bercat abu-abu terdapat garasi lengkap dengan dua mobil di samping rumah. Rahline, Fira dan Naomi sementara singgah di rumah teman dekat Rafi. Teman dekat Rafi adalah seorang pria pengusaha pakaian muslim dan muslimah di Malaysia.
Buktinya, ruang tengah rumahnya banyak stok pakaian yang dikerjakan beberapa pegawai. Beruntung, teman dekat Rafi ini mempunyai istri yang baik menyambut ketiga tamunya, sehingga ia meminjamkan pakaian muslimah khas Malaysia kepada Rahline, Fira dan Naomi.
Tiga perempuan itu anggun memakai pakaian muslimah khas Malaysia. Sekarang mereka sedang berkumpul di ruang makan, berkenalan satu sama lain dan berbincang hangat. Mereka juga berbicara tentang masalah yang terjadi saat ini. Suasana hati Fira begitu tenang dan damai mendengar wejangan dari dua suami-istri itu.
"Serahkan semua hanya kepada Allah," tutur wanita berparas cantik nan lembut. Ia mengenakan gamis dan jilbab syar'i.
"Ujian di dunia ini datang silih berganti. Untuk itu, kita berpegang ketakwaan kepada Allah," ucap pria bersahaja. Kulitnya putih terbalut jubah putih. Terdapat jenggot lebat di dagunya.
Rahline, Fira dan Naomi mengangguk. Mereka tidak perlu lagi panik dan khawatir akan ujian. Memang tidak mudah saat nanti menghadapi Rafi dalam kondisi genting. Namun mereka jadi ada bekal untuk kekuatan sabar dan tenang.
"Nasib baik tiga puan ini singgah dahulu di rumah saya. Kalau sibuk mencari Rafi saja, kalian mesti penat. Rafi menyempatkan diri singgah kat sini. Dia cakap akan berjumpa dengan kawan business. Lepas itu, dia cakap nak berkunjung ke Menara Petronas guna menenangkan diri," jelas pria itu.
"Abang Rafi tak ada cakap lain ke, Bang Nasrul?" ucap Rahline.
"Ada, dia cakap cintanya ditolak oleh Puan Fira ini," ujar Nasrul lantas melirik ke arah Fira, kemudian melanjutkan minum seteguk teh hangat dan berkata, "dia menangis dan marah. Saya sempat peluk dia erat sangat. Tetapi dia merasa tak tenang. Rafi kata, tak guna menjalani alur hidup macam ini. Merasa tambatan hatinya telah pergi."
"Astaghfirullah," lirih Fira lantas memejamkan mata.
Fira merasa bersalah telah melukai perasaan sahabat kecilnya itu. Namun, apa mau dikata? Jalannya sudah seperti ini. Fira berpikir, jika maaf saja tentu tidaklah cukup, karena ini urusan hati.
"Ya, sudah, mari kita salat magrib dulu di sini. Kalau salat terlebih dahulu, barangkali dimudahkan urusan ini. Kita doakan Rafi semoga baik-baik saja dan hatinya bisa ikhlas. Setelah salat magrib, kita langsung ke Menara Petronas," ucap Naomi.
"Sila, bawa salah satu kereta saya yang ada di depan rumah. Saya pinjamkan untuk kalian. Agar memudahkan kalian berkunjung ke Menara," usul Nasrul.
"Terima kasih, Tuan." Naomi semringah.
Mereka kembali melanjutkan makan malam, hingga tidak terasa waktu magrib sudah tiba. Suara bedug menggema dan adzan magrib telah berkumandang hingga ke komplek perumahan. Usai menyantap hidangan makan malam, Fira, Rahline dan Naomi bersiap diri hendak salat magrib sebelum pergi ke Menara Petronas.
***
Malam ini angin berembus kencang hingga menusuk tulang. Untung saja, Fira, Naomi dan Rahline mengenakan sweater panjang supaya tubuh tetap hangat. Mereka sudah tiba di Menara Petronas. Fira celingak-celinguk, tengah sibuk mencari Rafi, berharap bisa menemukan Rafi. Lalu-lalang pengunjung Menara Petronas membuat Fira sulit mencari Rafi.
Sebelum mencari Rafi, Fira melirik ke arah Naomi kemudian Rahline. Pandangan Naomi dan Rahline terlihat meyakinkan Fira. Mereka bertiga sama-sama mengangguk lantas harus melewati kerumunan pengunjung supaya bisa tiba Menara Petronas.
Belum ada setengah perjalanan, gawai milik Fira bergetar di dalam tas. Fira menghentikan langkah kemudian merogoh tas untuk mengambil gawai. Dilihatnya layar gawai, ada panggilan masuk dari ibunya. Naomi juga turut melihat layar gawai Fira.
Fira memberi isyarat kepada Naomi dan Rahline untuk menghentikan langkah perjalanan. Secepat mungkin ia angkat telepon dari Ratih. Panggilan masuk itu volumenya dibuat nyaring lantaran keadaan di sini sulit untuk mendengar percakapan melalui telepon.
"Assalamu'alaikum, Fira. Kamu di mana, Nak?" tanya Ratih.
"Wa'alaikumsalam, halo, Bu. Fira ada di Menara Petronas, Bu!" ucap Fira dengan suara lantang.
"Biarkan Nak Rafi memiliki waktu untuk sendiri dan tenang, Fir. Ibu, Bapak dan keluarga menyusulmu di Malaysia. Ibu juga bertemu dengan Ibu Catherine dan Pak Firman. Ibunya Rafi bilang biar ..." jelas Ratih namun sambungan telepon terputus-putus.
"Ibu ada di sini? Ya Allah! Halo Bu, gimana? Suaranya terputus-putus."
Tiba-tiba saja sinyal seluler menurun. Fira bingung atas percakapan Ratih. Suara ibunya dari balik telepon itu seketika terputus-putus, hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya. Sinyal hilang begitu saja. Untuk menelepon balik ke ibunya sangat sulit, kemudian Fira memutuskan untuk meneruskan perjalanan bersama Naomi dan Rahline menuju ke Menara Petronas.
"Ibumu bilang apa?" tanya Naomi.
"Kata Ibu, mereka ada di sini. Mereka juga bertemu dengan keluarga Rafi. Tapi, seterusnya aku enggak tahu, suara di telepon putus-putus," jawab Fira.
"Ayo, kita segera menyusul Bang Rafi!" ajak Rahline.
Hampir memakan waktu dua puluh menit mencari Rafi, mereka akhirnya menemukan Rafi. Fira hati-hati berusaha mendekati Rafi yang tidak tahu dengan kehadiran Fira. Posisi pria itu membelakangi Fira. Rafi berdiri tegap seraya menatap gemerlap lampu di Menara Petronas. Dua tangan kekar itu dikantongi dalam saku.
Fira sangat gugup tetapi berusaha berpikir positif. Naomi dan Rahline menyusul Fira dari belakang. Raut wajah dua wanita itu gelisah, seolah malam ini akan terjadi sesuatu di luar dugaan.
Semakin malam, di sana juga semakin ramai pengunjung. Fira persetan dengan sekitar. Malam ini juga persoalan harus dituntaskan. Ia harus meminta maaf kepada Rafi. Walau dirinya sudah menduga Rafi akan menolak maafnya. Itu sudah menjadi risiko.
Jarak Fira dengan Rafi hanya sejengkal. Lagi-lagi Rafi tidak tahu siapa yang datang menghampirinya malam ini. Fira menghentikan langkah dan berdiri terpaku. Sebelum mengucapkan sesuatu yang lain, ia membaca basmalah terlebih dahulu. Berharap Allah melindungi semuanya dari persoalan yang cukup menyakitkan hati.
"Assalamu'alaikum, Bang," sapa Fira dengan lirih.
Rafi sontak terkesiap dengan suara Fira yang berada di belakang. Pria itu membalikkan badan kemudian menghadap Fira. Keduanya saling berhadapan dan menatap.
Kusut sudah wajah Rafi seakan tidak ada harapan untuk hidup, putus asa dari kehidupan yang telah redup tanpa cinta. Dua matanya merah sebab banyak menguras air mata. Rafi menatap nanar kepada Fira. Sementara Fira menghirup udara kemudian mengembuskan napas. Sesekali ia memejamkan mata karena tidak tega melihat kondisi Rafi saat ini, kemudian membuka mata menatap Rafi lagi.
"Masih ingat aku, ya?" tanya Rafi menyeringai sinis.
"Aku di sini karena permintaan Rahline, supaya dapat membujuk Bang Rafi pulang," jawab Fira dengan hati-hati.
"Hei, kau siapanya aku? Kau bukan siapa-siapaku, Fira! Atau kamu belum puas melukai perasaanku, emm?"
"Aku tahu, aku bukan siapa-siapamu. Aku hanya menuruti permintaan Rahline. Aku tidak bermaksud melukai perasaanmu lagi. Mungkin ini pertemuan kita terakhir kalinya dan maaf atas segalanya." Fira menunduk lesu.
Fira bergeming kemudian mendongak. Benaknya mulai terpancing emosi saat berhadapan dengan Rafi. Ingin sekali menjelaskan semua supaya Rafi dapat menerima pilihan yang tepat itu. Namun ia berusaha menahan emosi. Mau tak mau harus menerima risikonya. Fira harus kuat menghadapi Rafi yang telah berubah drastis.
"Jangan-jangan kamu menyusulku di sini karena kamu ingin mengemis cinta dariku, iya? Hahaha," cerca Rafi.
"Jangan asal kau, ya! Aku hanya menuruti permintaan Rahline, supaya kamu pulang! Rahline khawatir sama kamu," gertak Fira yang tidak bisa lagi menahan emosi.
Fira mengepal erat tangan di hadapan Rafi. Gertakan itu menimbulkan rahang Fira gemetar. Ingin rasanya baku hantam dengan Rafi. Namun sekuat tenaga Fira menahan amarah.
"Apa kau tahu, aku yang sekarang, hah? Sekarang hidupku menjadi suram! Kau puaskan. Persahabatan kita berakhir sampai di sini. Pergilah dari hidupku. Melihatmu sekarang jadi tambah melukai perasaanku!" Bentakan Rafi kali ini sangat keras sehingga membuat Fira tercengang.
Mata Rafi terbuka lebar menatap wanita yang dicintainya sejak kecil. Tatapan yang menakutkan itu membuat Fira bergidik. Naomi dan Rahline hendak melindungi Fira. Namun Fira mencegah mereka. Orang-orang di sekitar juga turut terkejut menyaksikan perseteruan antara Rafi dan Fira.
"Baiklah, aku berjanji tidak akan menemuimu lagi. Aku tahu risiko persahabatan kita renggang. Mungkin ini sudah jalannya. Aku tahu kamu sulit menerima kenyataan. Tidak mengapa--- jika kamu enggan memaafkanku. Semoga kedepannya kamu menemukan kebahagiaan, Rafi. Aku pamit!" tegas Fira.
Fira membalikkan badan dan pergi meninggalkan Rafi. Ia melewati Naomi dan Rahline. Sekarang Fira butuh waktu untuk sendiri. Sebenarnya hatinya sedih karena persahabatan dengan Rafi yang terjalin sejak kecil harus kandas. Fira teringat kembali masa-masa kecil mereka penuh kegembiraan. Bermain bersama dan saling berbagi cerita. Fira juga ingat atas kebaikan Rafi yang begitu banyak. Pikiran Fira berkecamuk sehingga membutakan langkahnya sepanjang jalan.
"Rafi pernah menjadi laki-laki yang aku dambakan dalam hatiku. Aku pernah mencintaimu, Rafi, tapi itu dulu. Aku pernah menunggumu untuk menyatakan cinta padaku, tapi itu dulu. Aku juga pernah berharap padamu, supaya persahabatan kita menjadi pernikahan. Namun itu semua sudah berlalu. Sekarang, Allah telah menunjukkan jalan cinta. Tapi, jalan cintaku bukan bersamamu. Maafkan aku, Rafi." Fira menggurutu pilu sekaligus menyesakkan dada.
Fira terus berjalan tanpa peduli dengan sekitar dan menangis sejadi-jadinya. Begitu rumitnya kisah cinta segitiga ini. Ujian yang baru kali ini yang ia alami. Ia memang bersahabat dengan Rafi, tapi Fira sudah menjatuhkan pilihan pada Henry. Hatinya mantap memilih Henry yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Fira juga sadar telah menyakiti hati Rafi dan merasa bersalah. Ia berdoa supaya berjalannya waktu Rafi dapat mengikhlaskan kenyataan.
Di tengah kerumunan orang, Fira berjalan tergesa-gesa sembari menunduk. Ia menyeka air mata yang membahasi pipi dan membelah jalan di setiap orang yang ia lewati. Fira berlari kencang dan tanpa disadari, ia berada di tengah jalan.
Suara rem dadakan dari sebuah mobil yang melaju kencang. Suaranya menggema hingga jadi pusat perhatian orang sekitar dan menimbulkan suara benturan keras seperti menabrak sesuatu. Mobil itu sontak terhenti, otomatis empunya mobil ikut terkejut. Orang-orang yang di dekat itu teriak histeris melihat peristiwa nahas.
Ternyata Fira tertabrak mobil itu. Wanita itu tersungkur di atas aspal. Darahnya bercucuran menutupi jalanan. Fira tidak sadarkan diri dan tubuhnya terbujur kaku. Banyak orang menyaksikan peristiwa tragis tersebut. Namun, di antara kerumunan orang, Rafi selalu membuntuti Fira dari belakang. Rafi memilah orang-orang supaya ia ada jalan menyusul Fira. Naomi dan Rahline ikut terkejut dan langsung berlari menyusul mereka.
"Fiirraa!!!" Rafi meraung hingga mengejutkan sekitarnya.
Tubuhnya bergetar melihat pujaan hati terbujur kaku di atas aspal. Tanpa berpikir panjang, Rafi menggendong Fira. Dan berlari kencang menuju parkir mobil untuk membawa Fira ke rumah sakit.
***
Naomi dan Rahline turut berlari ke parkiran mobil untuk naik mobil. Mereka sudah berada di mobil. Naomi melaju kencang mengikuti mobil Rafi. Jantung Naomi berdebar kencang dan keringatnya bercucuran. Naomi cemas, jika sampai sesuatu malang terjadi pada Fira. Rahline bergumam mendoakan keselamatan bagi Fira. Ia terpukul dan merasa bersalah telah menuntut permintaan kepada Fira. Keduanya menangis tiada henti di dalam mobil itu.
Dering gawai milik Naomi berbunyi. Ada panggilan masuk dari Fatih. Naomi bergetar mengambil gawainya seraya mengemudi mobil tersebut. Rahline melihat kecemasan yang terlukis di wajah Naomi, kemudian Rahlinelah yang menanggapi dan mengangkat telepon dari Fatih.
"Assalamu'alaikum, Om Fatih," sapa Rahline sesenggukan.
"Wa'alaikumsalam, Naomi," ucap Fatih.
"Maaf, Om ini bukan Kak Naomi tapi Rahline."
"Oh, iya Rahline, kenapa kamu sesenggukan seperti itu? Oh, iya, keluarga saya dan keluargamu sudah ada di Menara Petronas loh. Kata orang-orang sini baru saja terjadi tabrakan. Apa Fira bersamamu?"
"Om dan keluarga sekarang ke rumah sakit saja. Nanti saya kabari lagi."
"Maksudnya bagaimana, ya?"
"Om Fatih, orang yang ditabrak mobil tadi itu adalah---Ka-kak Fira, Om. Dan sekarang Kak Fira dibawa oleh Bang Rafi ke rumah sakit," jelas Rahline gemetaran.
Kini wajah Rahline yang manis dicucuri air mata dan keringat. Sementara Naomi kian pilu mendengar semua itu. Namun, sebisa mungkin ia harus fokus mengemudi mobil sepanjang perjalanan.
"Innalilahi, putriku! Baiklah Om dan keluarga segera ke sana!"
Percakapan di antara Rahline dan Fatih melalui telepon telah berakhir. Beberapa detik kemudian giliran panggilan masuk dari Henry. Rahline menyodorkan gawai itu kepada Naomi. Sejenak Naomi menghentikan kemudinya di pinggir jalan. Disituasi genting seperti ini, Naomi tidak bisa menelpon sambil mengemudi. Naomi bingung harus berkata bagaimana? Kenapa Henry bisa telepon di waktu seperti ini? Mau tak mau, perlahan ia angkat telepon dari adiknya itu.
"Assalamu'alaikum, Kak. Bagaimana kabar Kak Naomi dengan Fira?" sapa Henry sembari menanyakan kabar.
"Wa'alaikumsalam, alhamdulilah aku baik, tapi Fira ..." Naomi memotong percakapannya karena tidak sanggup mengatakan sebenarnya kepada Henry.
"Fira kenapa? Dari tadi perasaanku tidak enak. Aku juga bermimpi buruk tentang Fira, Kak."
"Ceritanya panjang. Intinya, Fira ketabrak mobil dan sekarang Rafi membawanya ke rumah sakit. Kami sedang berada di Kuala lumpur, Malaysia," timpal Naomi, rasanya tidak tega mengabarkan Henry berita sedih tentang Fira ini.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un! Apa aku harus menyusul kalian ke sana? Aku ingin melihat kondisi Fira." Dari suara Henry jelas ia sangat mencemaskan wanita pujaannya itu.
"Jangan! Aku mohon kamu tetap di Korea. Fokus pada pekerjaan dan kuliahmu saja. Ada aku di sini. Kamu cukup jaga amanah Papi dulu. Dan kamu perlu tahu situasi di sini tidak nyaman. Pokoknya, jangan dulu ke sini!"
"Ta-tapi, Kak! Aku sakit, kalau Fira juga sakit, Kak. Aku tidak tenang!" Henry semakin mengotot.
"Tolong kamu turuti aku! Ingat, kamu itu anak lelaki satu-satunya Papi! Yang utama itu menjaga amanah dari Papi. Fira juga belum resmi bagimu. Jadi, kamu belum ada kewajiban untuk menemui Fira. Kecuali, jika Fira sudah menjadi istrimu, itu beda lagi ceritanya!" bentak Naomi berusaha memberi pengertian kepada adiknya.
"Baiklah, Kak. Aku selalu mendoakan cintaku dari sini. Kak, aku mohon beritahu aku soal kondisi Fira, ya," pinta Henry tersedu-sedu.
"Ya, aku selalu memberi kabarmu tentang Fira nanti."
Naomi mengakhiri percakapannya dengan Henry. Ia tidak punya waktu bercerita panjang lebar kepada Henry. Ia meneruskan kemudi mobil menuju ke rumah sakit. Malam ini hujan terus mengguyur Kota Kuala Lumpur. Jendela mobil pun berembun karena rintikan hujan. Naomi harus berhati-hati lagi dalam mengemudikan mobil.