
Suhu udara subuh di Singapura hari ini cukup menusuk tulang. Pasalnya di luar sana hujan sangat deras. Angin kencang menembus jendela flat Rafi. Hingga tirai gorden terbuka dengan lebar. Setiap pagi buta, Rafi membuka jendela supaya udara segar dapat masuk ke dalam flat.
Seperti biasa, usai sholat subuh, Rafi membaca kalam Illahi pada mushaf Al-Qur'an. Kini ia membaca salah satu surah. Yakni surah Yaasiin. Karena pada waktu subuh ini, jika baca Al-Qur'an, insyaallah menentramkan hati dan jiwa. Malaikat juga turut menyaksikan. Apalagi jika seusai sholat subuh memilih mengerjakan amalan lainnya daripada tidur lagi.
"Subhaanal lazii kholaqol azwaaja kullahaa mimmaa tumbitul ardu wa min anfusihim wa mimmaa laa ya'lamuun," ucap Rafi sejenak menjeda bacaan kemudian bergumam, "ya Allah, jika Engkau berkehendak bukalah hati Fira untuk hamba kembali. Semoga Fira bisa kembali mencintai hamba. Jika hamba dan Fira berjodoh, dekatkan kami dengan cara yang baik. Namun, jika sebaliknya, Fira bukan jodohku, Fira tidak mencintaiku, lapangkan dada ini untuk menerima kenyataan."
Kedatangan Rahline mengejutkan, ia membanting pintu flat hingga Rafi terperanjat. Rafi melihat wajah adik sepupunya itu tampak cemas bagai orang yang sedang kehilangan sesuatu yang berharga. Mata bulat itu memerah akibat menangis tersedu-sedu. Dan gadis muda ini masih berdiri kaku di pintu flatku.
"BANG RAFI!" pekik Rahline.
Rafi mengernyitkan dahi. Ia segera mengakhiri bacaan Al-Qur'an. Dengan hati-hati, menutup mushaf Al-Qur'an itu. Kemudian Rafi beranjak menghampiri adik sepupunya. Ia juga penasaran dengan tingkah Rahline yang begitu tegang.
"Astaghfirullah, ada apa, Lin?" tanya Rafi penasaran.
"Ka-kak Fi-Fi-ra," ucap Rahline dengan gagap hingga napasnya tersengal-sengal.
"Tenangkan dirimu dulu. Tarik napas, kemudian hembuskan," usul Rafi.
"Huuff! Bismillah," kata Rahline mengembuskan napasnya dengan kasar. "Kak Fira pergi!"
"Hah! Kenapa begitu?" Sontak Rafi terkejut bukan main.
"Tapi ini ada suratnya. Aku menemukannya di atas meja," ujar Rahline menyodorkan selembar kertas yang berisikan pesan dari Fira.
Pelan-pelan Rafi membuka pucuk surat dari Fira. Ketika surat itu sudah terbuka semua. Rafi membaca pesan dari Fira dengan saksama. Hatinya jadi tak karuan. Melihat kekasih hati malah pergi dari sini. Rafi merasakan ada sesuatu yang hangat di pelupuk matanya.
Assalamu'alaikum Bang Rafi, aku tulis surat ini untukmu. Aku tahu Abang tidak suka baca tulisan panjang. Tapi, untuk kali ini saja baca surat dariku. Abang enggak perlu tahu aku ke mana dan enggak perlu menghubungiku. Aku butuh waktu untuk merenungkan diri. Dan karena kita bersahabat, aku biasa cerita ke Abang. Baru kali ini, aku menangis, kemarin pun menangis bukan karena Henry. Namun, karena aku merasa tidak pantas diperebutkan! Aku tahu Abang mencintaiku dan ingin menjagaku. Tapi tolong, jangan berlebihan. Aku sulit berada di posisi seperti ini. Aku ini hanya siapa sih? Hanya wanita biasa yang masih dihantui rasa trauma. Aku adalah wanita yang berdebukan luka. Itu saja dariku, wassalamu'alaikum.
"Fira, justru Abang ingin membuatmu bahagia. Abang ingin memulihkan lukamu, jikalau kamu memilih diri ini. Kamu adalah cinta pandangan pertamaku," desis Rafi seketika meringkuk lemas di lantai.
"Haruskah kita mencari Kak Fira?" tanya Rahline turut meringkuk.
Rafi menjawab sembari termangu. "Fira butuh waktu untuk sendiri. Biarkan saja. Abang sudah paham."
Lutut Rafi terkulai lemas. Tak sanggup untuk berdiri. Pandangannya sayu. Nyeri hatinya bila wanita pujaannya pergi. Maksud Rafi ingin sekali menjaganya. Ia paham Fira butuh waktu untuk menyendiri.
"Fira, apakah kamu tahu? Jika jauh darimu. Aku kian pilu. Dirundung rindu yang tak mengenal waktu. Aku berdoa Allah selalu menjagamu." Harap Rafi dalam doanya.
***
Bandara Soekarno-Hatta
Sepanjang koridor bandara, Fira mempercepat langkahnya. Ia menenteng tas selempang seraya menggeret koper. Setelah pesawat yang ditumpanginya dari Singapura itu mendarat. Ia bergegas menuju ke stasiun kereta. Bandara dan stasiun Soekarno Hatta menjadi satu. Sebelumnya Fira juga sudah memesan tiket kereta menjadi satu dengan tiket pesawat. Jadwal keberangkatan kereta pada satu waktu itu juga. Kerumunan orang di bandara tak dihiraukannya. Yang dipikiran Fira adalah ia ingin lekas tiba di rumah Khalifah di daerah Cakung Jakarta timur.
Beruntung, Fira datang tepat waktu. Kereta yang hendak ditumpanginya masih menunggu penumpang lainnya. Fira merasa lega. Ia bergegas masuk ke dalam kereta. Dalam kereta itu suasananya sejuk dan terkesan mewah. Pun nyaris tak ada manusia yang berdesakan. Membuat Fira mudah menemukan kursi yang sudah ditentukan.
Fira menaruh koper di sela-sela dekat bangkunya. Ia bisa bernapas lega, duduk di kereta yang terkesan mewah ini. Setiap bangku di dalam kereta itu hanya tersedia dua bangku saja. Di samping Fira, ada seorang wanita yang usianya sepantaran dengan Ibunya. Fira menyapa dengan ramah dan memberi ruang yang luas untuk wanita itu. Wanita tua itu wajahnya masih awet muda dan cantik. Ditambah dengan baju muslimah dan jilbab langsungan yang dikenakan. Kemudian wanita tua itu dengan leganya duduk di bangku dekat Fira sembari melepas penatnya.
"Ibu mau minum? Saya ada air minum gelas," kata Fira dengan sopan menawarkan minum kepada wanita tersebut.
"Oh, enggak perlu, terima kasih, ya, Nak. Saya sudah minum tadi. Saya hanya ingin bersandar di kursi saja," ucap wanita tua dengan ramah.
"Oh, begitu. Baik, Bu." Sesekali Fira menunduk.
"Kamu berhenti di stasiun mana? Oh, iya, perkenalkan nama saya Intan," tutur Intan mengulurkan tangannya kepada Fira.
"Saya berhenti di stasiun Manggarai, Bu. Perkenalkan nama saya Fira," ujar Fira berjabat tangan dengan Intan.
"Oh, tujuannya sama dengan saya. Tapi setelah itu saya ganti kereta lagi untuk meneruskan perjalanan ke Semarang," imbuh Intan.
"Oh, Ibu orang Semarang juga."
"Iya, kamu juga, ya? Apakah kamu mau pulang ke Semarang juga?" tanya Intan.
"MasyaAllah, ketemu sedulur Semarang iki hehehe."
"Hehe iya, Bu," kata Fira tersipu, "ngomong-ngomong, Ibu sebelumnya berkunjung dari mana?"
"Oh, sebelum ini saya baru saja pulang dari Korea Selatan. Suami saya asli orang sana. Perusahaannya juga ada di sana. Saya ke sana hanya ingin melepas rindu kepada suami saya. Kalau kamu?" timpal Intan.
"Sebelumnya saya dari Singapura. Saya kerja di sana, Bu. Cuma ke Jakarta hanya ingin silaturahim ke sahabat saya," jelas Fira.
"Wah, Singapura, ya. Anak Ibu juga ada kerja di sana. Itupun saya tahu dari sahabat anak saya. Saya sudah lama tidak komunikasi lagi dengan anak saya. Entah, seperti apa dia sekarang? Sepertinya dia sudah mandiri."
"Memang anak Ibu itu sudah melupakan Ibu, ya? Maaf, kalau saya lancang."
"Tidak, dia sebenarnya anak yang baik. Hanya saja, saya tidak diperbolehkan suami saya untuk komunikasi dengan anak saya. Padahal itu anak kandung kami sendiri. Ya, kami ada suatu konflik yang tidak bisa diberi tahu."
"Oh, begitu."
Intan membenarkan posisi duduknya supaya terasa nyaman dan tidak menimbulkan pegal pada tubuhnya. Fira tampak begitu nyaman dan mudah akrab dengan wanita yang usianya berkepala empat lebih itu. Kemudian Intan meneruskan ceritanya tentang anaknya tadi.
"Anak saya itu orangnya baik dan tulus dari kecil. Saya sebagai Ibu sudah tahu wataknya dari lahir. Saya dengar-dengar dari sahabatnya sih, katanya anak saya sudah menemukan tambatan hatinya. Saya senang mendengarnya, kalau tambatan hatinya itu baik untuk dirinya, keluarga dan agama. Pasti saya dukung dan restui dia dengan pujaan hatinya itu," jelas beliau.
"Oh, alhamdulilah. Sepertinya wanita yang menjadi pujaan hati anak Ibu itu beruntung sekali. Jika memiliki Ibu mertua seperti Anda," ucap Fira.
"Hehehe, insyaAllah. Saya saja belum komunikasi dengan anak saya. Bagaimana saya tahu seperti apa pujaan hatinya? Tapi kata sahabatnya sih, wanita pujaan hatinya itu usianya lebih tua tiga tahun dari anak saya. Enggak menyangka, anak saya seleranya wanita dewasa." Intan menimpali.
"Oh, begitu ya, Bu," ucap Fira cengar-cengir kemudian bergumam, "kok sama dengan sosok Henry, ya, anak Ibu ini? Ah, mikir apa kamu, Fir?"
Fira dan Intan terus mengobrol hangat hingga kereta yang ditumpangi sudah jalan. Kereta juga sudah terisi oleh banyaknya penumpang. Mereka begitu menikmati perjalanan. Di tengah obrolan mereka yang tampak akrab. Intan menawarkan kue khas Korea Selatan kepada Fira. Malu-malu, Fira mengambil sembari mencicipinya. Kemudian giliran Fira yang cerita tentang dirinya dan anak-anaknya kepada Intan.
"Loh, sudah punya anak, to?" tanya Intan terkejut.
"Saya memiliki dua putra, Bu. Saya janda anak dua. Suami saya sudah wafat, sudah lama," jawab Fira.
"Innalilahi. Semoga Allah memberi kekuatan untuk kamu menjadi wonder Mom."
"Aamiin. InsyaAllah, Bu."
***
The Palm Spring adalah perumahan yang terletak di daerah Cakung Jakarta timur. Tempat tinggal para sahabat Fira. Yakni Khalifah, Velia dan Medina. Mereka juga bertetangga di satu perumahan tersebut. Untuk itu, Fira ingin cepat-cepat menemui sahabatnya.
Cuaca kian terik. Tepat di gardu perumahan. Sebuah taksi mengantar Fira hingga ke rumah Khalifah. Sopir taksi membuka sedikit jendela untuk bertegur sapa dengan satpam perumahan. Sementara Fira termangu melihat foto dirinya dengan Kirsandi. Pilu dan merinding. Sekelumit rindu kepada Kirsandi itu mengusik relung hati Fira.
"Kenapa permintaan terakhir Mas ingin aku menikah lagi? Masa hanya karena menembus rasa bersalah kepadaku? Pasti ada sesuatukan dibalik permintaan terakhir waktu itu? Aku merasa ada mengganjal." Fira bergumam.
Fira sudah berada di depan pintu rumah Khalifah. Ia menekan tombol bel rumah. Dengan sabar, ia menunggu. Fira mengirimkan pesan kepada Khalifah melalui WhatsApp. Tidak lama kemudian, penghuni rumah membuka pintunya. Ternyata Khalifah tepat dihadapan Fira. Namun, kepala Khalifah menunduk. Matanya sedang sibuk dengan gawai.
"Aduh, Kang kurir ini, ya! Sudah eike duga pasti datang paketannya telat terus, telat terus! Itu barang branded pakai jasa pengiriman kilat. Kenapa bisa telat melulu sih, sampainya?" hardik Khalifah terus mencerocos.
"Kang kurir? Jahat pisan, ya, sahabat sendiri dianggap Kang kurir huhuhu. Assalamu'alaikum, aku Fira loh," ujar Fira berlagak seperti anak kecil yang sedang merengek.
Seketika Khalifah mendongakkan kepalanya. Ia terkejut dengan kehadiran Fira. Khalifah antusias memeluk erat sahabatnya itu. Kemudian melepas pelukannya. Mempersilahkan Fira masuk ke dalam rumahnya.
"Eh, astaghfirullah, si Ibuk! Kirain Kang kurir hahaha. Maaf, ya, maaf banget, kebiasaan debat sama Kang kurir, ya, begini. Aduh, mendadak banget ke Jakartanya," dalih Khalifah.
"Sedih, jauh-jauh dari Singapura malah dianggap Kang kurir," keluh Fira.
"Eh, enggak! Ini tadi aku selalu berhadapan sama Kang kurir yang lelet gitu. Ih, maaf atuh. Mangga masuk, sini aku bawakan kopernya," ucap Khalifah merasa tidak enak kemudian ia berteriak, "Velia! Ada Fira datang nih! Tolong bantuin dong."
"MasyaAllah, aaaaa kangen, ih! Sebentar, aku segera ke sana," pekik Velia dari ruang tengah.
Ketiga sahabat itu saling berpelukan melepas kerinduan. Kemudian Khalifah mempersilahkan Fira duduk di sofa ruang tamu. Sementara Velia langsung menjalankan tugasnya membereskan kamar untuk Fira. Tidak ingin membuang-buang waktu, Fira membanting tubuhnya di sofa yang empuk. Ia ingin melepas penat selama dalam perjalanan.