
Untuk saat ini, aku membatasi hati. Biarkan hati pulih dari cinta yang kemarin. Dan belum ada pikiran akan menyambut cinta yang baru.
***
Dua hari kemudian ...
Cuaca hari ini cerah di Bandara Ahmad Yani Semarang. Lalu-lalang pengunjung bandara mengejar waktu keberangkatan pesawat ke tujuan masing-masing. Di depan teras bandara, dua taksi berhenti dengan berurutan.
Di sana Fira dan keluarganya turun dari taksi. Seorang sopir taksi mengangkut koper milik Fira dari bagasi. Ia mengambil koper dan membayar ongkos dua taksi tadi. Fira dan keluarganya bergegas masuk ke dalam bandara.
Fira tampak cantik dan segar, mengenakan gamis abu-abu dengan jilbab pashmina hitam hingga menjulur dada. Parasnya yang kuning langsat itu cerah dan bersih jadi tidak perlu lagi memakai polesan bedak. Eyeliner yang terukir di kelopak matanya tampak tajam.
Senyum yang periang adalah ciri khas dari seorang Fira. Cukup dipoles dengan lipstik coklat natural, bibirnya tampak begitu manis. Bisa saja, jika ada seorang laki-laki yang melihat senyumnya akan jatuh hati padanya. Bahkan orang lain mengira Fira masih cocok seperti gadis.
Terdengar suara dari penyiar bandara memberi tahukan kepada penumpang pesawat Singapore Airlines tujuan Singapura bahwa pesawat akan landas lima belas menit lagi. Fira hanya butuh waktu lima menit saja untuk berpamitan dengan keluarganya, begitu pula dengan dua putranya. Wanita itu bersalaman sembari berpelukan dengan bapak-ibunya, kemudian berpelukan dengan tiga adiknya. Setelah itu, mencium dan memeluk hangat Zayn dan Zema, buah hatinya.
Si kecil Zema merengek seakan mengerti bahwa sang mama akan pergi jauh. Sebelumnya, mama muda ini sangat berat meninggalkan dua anaknya, apalagi Zema yang masih berusia satu tahun. Sudah pasti sedang dekat-dekatnya dengan sang mama. Wanita berhidung mancung itu menjongkok di hadapan anak-anaknya. Melihat wajah polos Zayn dan Zema yang berdiri di hadapannya, tidak terasa ada kehangatan dalam matanya. Tetesan air mata Fira nyaris jatuh di pipi.
"Maafkan Mama, ya, Nak," lirih Fira menunduk, tidak tega melihat dua anaknya.
"Tidak apa-apa, Ma. Zayn akan jaga Zema kok. Mama bekerja juga buat Zayn dan Zema biar bisa beli susu dan kue, hehehe," ucap Zayn memberi semangat mamanya.
"Zayn dan Zema manut sama Nenek dan Kakek, ya. Zayn juga rajin belajar dan mengaji."
"Iya, Ma. Zayn akan ingat pesan Mama. Oh, iya, Ma, kalau Zayn sudah dewasa, giliran Zayn yang kerja buat bantu Mama. Oh, iya, tapi Ma ..."
"Tapi, apa, Nak?" Fira bertanya balik sembari menyentuh dua pipi Zayn.
"Mama jangan marah, ya, kalau Zayn ngomong ini. Kalau boleh minta sesuatu ..." Sejenak Zayn mengigit bibirnya. "Zayn ingin Mama sama Zayn dan Zema setiap hari di rumah. Dan Zayn ingin punya Papa baru, supaya Papa baru saja yang bekerja. Jadi, Mama enggak capek dan enggak jauh lagi sama Zayn dan Zema."
Sontak Fira terkejut mendengar yang dikatakan Zayn barusan. Ia memalingkan wajah dan hanya bisa diam. Bocah lima tahun sepolos itu punya keinginan papa baru, padahal Fira saat ini tidak ada pikiran untuk menikah lagi.
"Mama marah, ya? Maaf, Ma," kata Zayn murung hingga menunduk. Ia merasa bersalah pada Fira.
"Enggak kok, sayang. Mama hanya bingung saja." Fira membelai rambut Zayn dan mengalihkan pandangannya ke Fatih dan Ratih.
"Bukan Bapak dan Ibuloh yang mengajari," ucap Fatih mengangkat kedua tangan. Fira lantas memandang tiga adiknya.
"Eh, apa? Kok lihat kami begitu? Bukan aku, Ressa dan Nina, ya. Itu murni dari hati Zayn kok," dalih Bryan.
"Memang Zayn yang ingin, Ma. Zayn kalau di sekolah juga iri dengan teman-teman bisa bermain dengan Papanya. Di antar dan jemput sekolah oleh Papanya. Papanya yang kerja dan Mamanya di rumah, begitu," jelas Zayn.
"Huuff." Fira menarik napas kemudian menghembuskannya. "Jujur, untuk saat ini, Mama belum ada pikiran soal Papa baru. Selagi Mama mampu untuk membahagiakan kalian, Mama akan lakukan. Sudah, ya, Zayn cukup memikirkan belajar saja, oke!"
Fira berusaha meyakinkan anaknya supaya tidak memikirkan papa baru. Ia lantas mencium satu per satu kening dua anak laki-lakinya, dan mereka berpelukan dengan hangat.
"Iya, Ma. Mama semangat, ya! Jangan lupa telepon atau video call. Karena pasti Zayn dan Zema akan kangen Mama setiap hari."
"Insyaallah, sayang. Kamu video call atau telepon Mama juga enggak apa-apa. Insyaallah, setelah dua atau tiga bulan, Mama akan membawa kalian ke Singapura," kata Fira.
"Siap, Mama! Hati-hati, ya, Mama sayang," ujar Zayn kembali memeluk Fira dengan erat disusul dengan Zema.
"Ya, sudah semua, Fira berangkat, ya. Kalian selalu aku rindukan. Assalamu'alaikum." Perlahan Fira berdiri. Ia mulai meninggalkan keluarganya sembari membawa koper dan tas.
Semua keluarga melambaikan tangan kepada Fira. Sejenak ia membalikkan arah dan membalas lambaian tangan keluarganya. Wajah polos Zayn dan Zema masih tampak sedih. Zema yang masih balita itu akhirnya menangis kemudian digendong oleh sang nenek. Dengan langkah sedikit berat, Fira mulai meyakinkan diri untuk membangun masa depan bersama anak-anaknya.
Fira membatin, "Untuk saat ini, aku membatasi hati. Biarkan hati pulih dari cinta yang kemarin. Dan belum ada pikiran akan menyambut cinta yang baru."
***
Ketika Fira berada di dalam pesawat, ia duduk di kursi pesawat yang telah ditentukan. Sejenak ia mengambil gawai dari dalam tas untuk mematikan gawai. Wanita itu memasang sabuk pengaman yang tersedia di kursi pesawat, lalu mengalihkan pandangan ke jendela pesawat melihat sekitar bandara seraya berdoa.
"Bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi lagafururrahim," lirihnya kemudian dilanjutkan dengan berdzikir.
"Akhirnya, ya, kita bisa berangkat ke Singapura!" ucap seorang pemuda tampak semangat bersama dua temannya.
Pemuda itu menaruh tas di tempat penyimpanan tas, tepat di atas kepala penumpang. Setelah menyimpan tasnya, sorotan mata pemuda itu terkejut saat melihat Fira.
"Loh, Mbak Fira?" tanyanya.
"Hei, Henry! Kamu hari ini berangkat ke Singapura juga?" sapa Fira ramah.
Henry menggaruk kepala yang tidak gatal. Ia merasa salah tingkah berhadapan dengan Fira. "Eh, iya Mbak, hehehe. Kok bisa secara bersamaan begini sih?"
"Alhamdulillah, aku ada temannya dong. By the way, kamu sendiri saja?"
"Enggak, lah ini ada Hardi dan Tommy. Kamikan kerja juga ke sana."
"Oh, begitu, hai Hardi, hai Tommy," sapa Fira kepada dua sahabat Henry sambil melambaikan tangan.
"Ngomong apa sih kamu?" tanya Tommy kebingungan.
"Huuss! Ada-ada saja. Enggak usah didengarkan Mbak. Hardi bercanda doang itu," kilah Henry. Wajah oriental itu berubah menjadi merah merona.
Fira tertawa kecil sambil berkata, "Hahaha, iya, aku tahu hanya bercanda. Ya, sudah kalian siap-siap, gih! Sudah ada intruksi tuh dari pihak pesawat."
"Oke-oke." Henry duduk yang kebetulan di samping Fira.
Pemuda berbalut hoodie abu-abu itu semakin salah tingkah saat berdekatan dengan Fira. Hatinya membuncah tidak menentu dan bergumam seolah ini hanya mimpi belaka.
"Ya Allah, rezeki apa yang aku dapat hari ini? Apakah Engkau mengabulkan salah satu doaku? Engkau Penguasa hati, tolong jaga hati ini. Cukup Engkau saja yang tahu isi hati ini."
Selama di dalam pesawat, Henry hanya bisa berbicara sekadarnya, karena setiap kali diajak Fira mengobrol, hatinya semakin berdebar tidak menentu. Apalagi jika Fira tersenyum, sebisa mungkin Henry memalingkan wajah dari Fira. Saking salah tingkahnya, Henry dapat menghabiskan makanan dan minuman dengan cepat yang telah disediakan pramugari tadi.
"Ternyata Mbak Fira masih sama seperti yang aku kenal. Cerewet dan periang." Henry bergumam lagi dan tersenyum karena terkesima melihat Fira.
***
Sesampainya di Bandara Internasional Changi Singapura. Semua penumpang pesawat turun dari dalam pesawat, kemudian bergegas ke tujuan masing-masing. Fira yang ditemani oleh Henry dan kawan-kawan juga bergegas mencari taksi. Selama bercerita di dalam pesawat, ternyata tujuan Fira, Henry dan kawan-kawan itu sama. Apartemen yang difasilitasi oleh restoran tempat Fira bekerja itu cukup dekat dengan apartemen Henry.
Betapa beruntungnya Fira saat itu, karena tidak khawatir lagi di Singapura sendirian. Ketika Fira, Henry dan kawan-kawan hendak keluar dari bandara mencari taksi, tiba-tiba seorang laki-laki berperawakan tinggi hendak menghampiri Fira. Tubuhnya yang berbalut kaos hitam, lengkap dengan topi dan kacamata hitam itu datang di tengah-tengah mereka.
"Fira!" sapanya melambaikan tangan kanannya.
"Eh? Salam Bang!" tegur Fira menoleh ke arah suara laki-laki tadi.
"Eh, iya, assalamu'alaikum! Hah ... Hah ... Hah ..." Laki-laki itu seakan kepayahan bernapas setelah keletihan berlari hingga keringatnya bercucuran.
"Wa'alaikumsalam, Abang Rafi. Kok ngos-ngosan begitu sih?"
"Abang ke sini buat jemput kamu!"
"Jemput? Aku masih enggak paham?" tanya Fira mengernyit heran.
"Hei, kita ini satu pekerjaan! Begitu Abang tahu kalau kamu bekerja di sini. Abang izin si Bos untuk jemput kamu," jawab Rafi.
"Oh, begitu," kata Fira masih terkejut dengan kehadiran Rafi begitu mendadak. "Oh, iya Bang, perkenalkan ini teman-teman aku dari Semarang. Namanya Henry, Hardi dan Tommy. Emm, teman-teman, perkenalkan ini Abang Rafi, sahabat aku dari kecil."
Fira saling memperkenalkan mereka satu sama lain. Sementara Rafi yang terlebih dahulu menjabat tangan kepada mereka.
"Apa? Sahabat dari kecil? Aku pikir saudaranya," gumam Henry tercengang.
"Hi, I'm Rafi Jensen," (Hai, saya Rafi Jensen.) sapa Rafi mengulurkan tangan kepada Henry seraya mengejutkan Henry. "Hei? Apa kamu mendengarkanku?"
"Oh, hi, I'm Henry Lee," (Oh, hai, saya Henry Lee.) ujar Henry membalas jabatan tangan kepada Rafi agak terpaksa.
"Subhanallah, nama yang keren! Nama asli?"
"Kamu tidak perlu tahu itu. Kalau begitu aku memanggilmu apa? Mas, Abang atau nama saja?"
"Sesukamu aja. Oh, iya, kalau begitu, bagaimana aku saja yang mengantarkan kalian ke tempat masing-masing?" imbuh Rafi.
"Boleh, Mas Rafi. Kami jadi bisa menghemat tidak naik taksi," ujar Tommy semringah.
"Huuss! Kamu itu kebiasaan," tegur Hardi menyubit siku Tommy.
"No problem, Bro! Enjoy with me, oke," (Enggak masalah, Bro. Santai denganku, oke.) ucap Rafi kemudian menawarkan bantuan kepada Fira sembari berkata, "Ayo Fir, Abang bantu bawa kopermu!"
"Oh, terima kasih, Bang." Fira menyetujui.
***
Sepanjang perjalanan, Fira duduk di bagian depan bersama Rafi yang sedang mengemudi mobil. Keduanya saling bercerita. Keseruan percakapan antara Rafi dan Fira, membuat Henry yang berada duduk di tengah tidak tahan mendengarnya. Pemuda itu harus menutup telinganya dengan earphone sambil mendengarkan lagu.
Hardi melihat tingkah aneh kepada Henry itu jadi penasaran. Ternyata Hardi juga diam-diam melihat tingkah sahabatnya itu. Pemuda berpipi tambam itu juga menoleh ke arah Fira dan Rafi hanyut dalam keakraban.
"Maafkan kami, ya, jika tidak mengajak ngobrol kalian. Maklum saja, aku sudah lama tidak berbicara seseru seperti ini kepada Fira," ujar Rafi kepada Henry dan kawan-kawan.
"Oh, enggak masalah Mas Rafi. Wajarlah kalau sahabat dari kecil lama tidak bertemu terus kalau ketemu mengobrol seru. Iya, enggak, Hen?" ucap Hardi sembari menggoda Henry.
"Dari tadi Henry diam saja. Mari kita berbagi cerita atau mumpung besok libur kita bisa berkunjung ke Garden by The Bay," usul Rafi.
"Ide bagus! Sekalian cari jodoh, hehehe," sela Tommy semringah mendengar ajakan Rafi.
"Tommy!" gertak Hardi menatap sinis kepada Tommy.
Henry membatin sembari menyemangati dirinya. "Bagaimana aku bisa senang di Singapura? Kalau melihat Mbak Fira dekat dengan sahabatnya, si Rafi itu. Sepertinya, mulai sekarang aku harus berjuang! Sabar Henry, jaga hatimu. Cukup cinta dalam doa yang kamu bisa lakukan saat ini."